Foto: Bruce Dixon

Weekend kemarin akhirnya aku punya waktu luang dan niat yang cukup untuk menata ulang koleksi bukuku. Yah, meski akhirnya tetap belum bisa berjajar rapi di rak buku, at least mereka tidak menumpuk penuh debu di sudut kamarku. Satu demi satu aku catat just in case ada yang terlewat. Dan benar saja, beberapa buku yang dipinjam sejak zaman dulu belum dikembalikan! Ah, sedihnya. Tapi yang paling menyedihkan adalah halaman-halaman buku kesayangan yang mulai memperlihatkan bercak kekuningan. Oh, God. I do love old books, but I hate to see the process.

Kenapa buku menguning?
Bahan dasar pembuatan kertas adalah kayu. Sayangnya, meski lebih murah ternyata bahan dasar ini lebih mudah bereaksi dengan oksigen dan cahaya matahari. Kayu mengandung dua zat polimer utama, yaitu selulosa dan lignin. Secara teknis, selulosa ini colorless dan sangat mudah menyerap cahaya sehingga membuatnya buram. Oksidasi selulosalah yang membuat kertas jadi terlihat dull, rapuh, dan less white. Tapi, bukan ini penyebab kertas menguning.

Zat lain dalam kayu adalah lignin yang paling banyak terkandung dalam kertas koran. Bisa dibilang lignin adalah "glue" bagi kayu. Dia berfungsi untuk menguatkan dan mengeraskan kayu. Berbeda dengan selulosa, warna zat ini lebih gelap seperti paper bag cokelat atau kardus Indomie. Tapi, oksidasi lignin lebih tinggi. Oksigen mengubah struktur molekul lignin sehingga warnanya berubah menjadi yellow-brown.

Nah, kertas koran yang biaya produksinya lebih murah mengandung lebih banyak lignin. Sehingga, kertas koran lebih mudah menguning. Sedangkan kertas buku banyak yang di-bleeching sehingga kandungan ligninnya berkurang. Oleh karena itu, saat ini banyak dokumen penting yang ditulis pada kertas acid-free dengan kandungan lignin yang sangat terbatas.

Foto: Sonoma Valley Museum of Art

Cara Mencegah Buku Menguning

  1. Jauhkan dari paparan sinar matahari secara langsung. Ternyata, hal ini yang membuat bukuku menguning di bagian pinggir. Tanpa aku sadari, pada siang hari sudut kamarku tersorot sinar matahari meski jendela tertutup.
  2. Sampul semua buku! I don't know if this really help, tapi ternyata sinar UV bisa membuat cover buku memudar dan (sepertinya) cepat rapuh. Beberapa buku lamaku yang lupa disampul sudah menunjukkan tanda-tandanya.
  3. Jangan ditaruh di tempat lembab. Beberapa orang mungkin ada yang menyimpan koleksi buku lama di gudang atau langit-langit kamar. Biasanya ini juga dilakukan orang yang pernah pindah rumah dan belum sempat unpacking. Padahal, high humidity bisa merusak kertas. Begitu juga dengan low humidity yang membuat kertas kering, menguning, dan rapuh. So, lebih baik letakkan buku di udara normal saja.
  4. Beri jeda "bernapas"! Meski diletakkan berdiri (posisi yang paling direkomendasikan agar tidak merusak jilid buku), berilah sedikit jarak (kira-kira 3cm) dari dinding atau bagian belakang rak agar sirkulasi udara lancar.
  5. Bungkus dengan plastik wrap atau plastik klip. Oke, bagiku ini agak ekstrim sih. Sebab, kadang aku masih ingin membaca koleksi lamaku. Jadi, cara ini jelas tidak akan aku praktekkan dalam waktu dekat. Tapi, bagi kolektor sih silahkan dicoba.

Untungnya, aku adalah tipe pembaca yang lebih suka meminjam atau membeli e-book terlebih dulu. Kalau bagus dan worth untuk dikoleksi, baru aku membeli versi cetaknya. Maklum, aku ini tipe pembaca yang judge the book by its cover tanpa membaca sinopsis maupun review. Jadi, yaaa...sering ketipu. Oleh karena itu, banyak koleksi bukuku yang masih tersegel sehingga aman dari bercak-bercak kuning.