First Impression: Goblin (tvN) - Drama Korea


Oke. Sebenarnya, drama Korea ini bukan tentang bromance. But I can't help to adore those two, Lee Dong-wook dan Gong Yoo. Karakter yang mereka mainkan membuatku sangat menikmati drama Korea Goblin atau yang juga disebut Guardian: The Lonely and Great God ini. Mirip kisah cinta anak sekolah, sampai episode ke-2, mereka masih belum akur. Tapi, somehow aku yakin pada akhirnya mereka akan saling membantu.

Goblin bercerita tentang seorang goblin bernama Kim Shin (Gong Yoo). Sebelum dikutuk sebagai goblin, dia adalah seorang jenderal yang dikhianati rajanya sendiri. Dicap sebagai pengkhianat, demi menyelamatkan keluarganya, Kim Shin bunuh diri. Karena sudah membunuh banyak nyawa, dia dikutuk untuk hidup selamanya dan melihat orang-orang terdekatnya meninggal. Oleh karena itu, dia harus menemukan Goblin's Bride. Penonton pun akan diajak kembali ke masa lalu saat Kim Shin masih seorang manusia biasa.

Belanja Online Banjir Diskon Saat Black Friday


Akhir-akhir ini, tulisan Black Friday terlihat dimana-mana. Black Friday adalah sebutan hari Jumat setelah Thanksgiving, tepatnya 25 November 2016. Hari ini dikenal sebagai hari shopping karena toko-toko mengobral barangnya dalam rangka perayaan Hari Natal. Katanya, diskon Black Friday lebih besar daripada diskon last minute natal lho. Barang yang banyak diburu adalah elektronik dan mainan. Tapi, furniture dan pakaian juga tidak luput dari diskon kok.

Dulu, saat Black Friday, orang-orang di Amerika sampai rela mengantre sejak pagi di depan toko. Pemilik toko pun membuka tokonya lebih awal agar bisa menampung banyak pelanggan. Kenapa disebut "black"? Sebab, saat seperti inilah toko-toko bisa mengubah tinta merah (kerugian) menjadi tinta hitam (keuntungan). Sekarang, kebiasaan itu berubah. Orang lebih suka belanja online agar bisa mengetahui stok barang incarannya. Serunya lagi, di Indonesia pun ada beberapa toko online yang ikut mengadakan Black Friday. Yuk, cari tahu diskon apa saja yang ditawarkan untuk Black Friday besok!

5 Lagu Mood Booster Ampuh Saat Kamu Merasa Dunia Tidak Bisa Memahamimu


Baru-baru saja aku mengalami sedikit mental breakdown. Beberapa kali aku berobat ke rumah sakit, baik itu masalah kulit atau THT, ujung-ujungnya dokter selalu bilang, "Gara-gara stres ini, Mbak." It left me speechless karena sepengetahuanku, aku sama sekali tidak merasa stres. Aku bahkan tidak pernah memikirkan sesuatu sampai mogok makan atau membuat mood-ku berantakan. Tapi, harus aku akui, otakku tidak pernah berhenti berpikir. Aktif, kalau aku boleh bilang.

People don't see this coming. Aku ini dikenal galak, blak-blakan, dan suka "menggampangkan". Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan stres pada diriku. Setiap ada anggapan salah tentangku, I don't even bother to justify myself. Aku punya pemikiran seperti ini: Mereka tidak mengenalku, jadi wajar kalau mereka salah paham. Kalaupun dijelaskan, percuma karena pemikiran kami tidak sejalan. Jika dipaksakan, ceritaku mungkin cuma dijadikan bahan baru pembicaraan. Aku kira aku benar-benar tidak peduli. I didn't see this coming.

First Impression: The Legend of the Blue Sea vs Weightlifting Fairy Kim Bok-Joo - Drama Korea


Minggu ini benar-benar luar biasa. The Legend of the Blue Sea (SBS), Weightlifting Fairy Kim Bok-Joo (MBC), dan Oh My Geum Bi (KBS) tayang perdana bersamaan, bahkan pada waktu yang sama! Ketiganya pun tayang di stasiun-stasiun TV ternama. Waduh. Jelas saja perebutan rating jadi terasa panas. Tapi, berhubung Oh My Geum Bi wasn't on the buzz, kali ini saya membuat First Impression The Legend of the Blue Sea () dan Weightlifting Fairy Kim Bok-Joo saja ya. Let's start!

*******************************

The Legend of the Blue Sea
Rating sementara: 

Sudah jelas kan kenapa drama garapan sutradara Jin Hyeok ini sangat dinanti? Yap, apalagi kalau bukan karena pemain utamanya, Lee Min-ho dan Gianna Jun. Bisa dibilang Min-ho ini seperti Rain atau Jerry Yan bagi generasi 90-an. Drama yang dimainkannya pasti setia ditonton oleh ribuan gadis muda. Apalagi, sejak dikenal melalui Boys Before Flowers (2009), dia selalu mendapatkan karakter idaman. Muda, kaya, tampan. Sedangkan Jun dikenal (especially for me) berkat akting lucunya dalam My Love from the Stars (2013). Drama ini merupakan comeback mereka berdua setelah tiga tahun tidak bermain dalam drama korea.

Barang Branded (Unfortunately) Menjadi Penentu Kelas di Masyarakat

 
Dosen: ‘‘Siapa yang pernah beli barang KW?’’
*seorang perempuan mengangkat tangannya.*
Dosen: ‘‘Kenapa mau beli, Mbak?’’
Si Mbak: ‘‘Saya ngincar logonya, Mam.’’
I burst out laughing (inside) and respectfully pity her at the same time. Ya itulah realitasnya. Aku yakin tidak hanya dia yang seperti itu, khususnya di dalam kelas. The others were just being cowards. Mana ada sih yang mau mengaku kalau barang branded yang dia bawa itu KW atau palsu? It hurts their pride. Sebab, unfortunately, people have set this in mind: barang branded menentukan ‘‘kelas’’ dalam society.

Sebelum membahas lebih jauh, sebenarnya apa itu barang branded? (Note that this is purely an opinion without any scientific resource) Barang branded itu simply barang yang dikeluarkan sebuah brand. Tidak peduli apakah itu brand sekelas Prada atau brand baru seperti Olin’s Closet. All of them are branded stuffs. Tapi, entah kenapa barang branded ditempelkan pada barang-barang mahal saja. ‘‘Barang branded ini,” sambil menunjuk-nunjuk baju Zara yang dipakai. ‘‘Aku juga branded. Beli selusin cuma setengah harga.’’ Memang tidak salah sih. Meski murah, bajunya memang keluaran sebuah brand kok.

It used to be not in my concern. Perdebatan tentang perlunya barang branded itu selalu ada. Tapi, dulu aku cuma kenal barang branded di Matahari Department Store (it was the biggest apparel store in my hometown). Pindah ke Surabaya, ternyata barang branded pun ada kelasnya. Anak orang kaya belanja baju di Zara, anak hits beli baju di Pull & Bear atau Stradivarius. Anak yang biasa aja belanja baju di Matahari. Kurang lebih seperti itu hasil pengamatanku. How do I know it? Because I was one of them. ‘‘Them’’ who believe that society divides people based on the stuffs they have. Buktinya, semakin banyak anak muda pakai iPhone instead of Samsung meski tahu spesifikasinya tidak lebih bagus. ‘‘Nggak masalah iPhone 4, yang penting iPhone.’’