Movie Review: XOXO - A Netflix Original Movie


Rooster mengklaim XOXO sebagai tandingan We Are Your Friends (2015) [Baca di sini]. Sebagai penikmat EDM dan fans Zac Efron, tentu aku tidak bisa melewatkannya. Mengetahui film garapan sutradara Christopher Louie ini adalah film orisinal Netflix (alias FTV kalau di Indonesia), aku tidak berharap banyak. Tapi, aku tetap berekspektasi tinggi terhadap musik yang disuguhkan. Apalagi, aku tidak pernah mendengar tentang para pemainnya. Waktu itu, pikir saya, mungkin mereka lebih ekspert. Toh bisa dibilang ini film indie. Seharusnya mereka tidak punya keharusan untuk membawa nama-nama besar.

Film berdurasi 92 menit ini dibuka dengan adegan Ethan Shaw (Graham Phillips) berkutat dengan DJ kit-nya. Dia hanyalah seorang bocah dari keluarga biasa yang kebetulan mencintai dunia musik. Dia punya seorang manager bernama Tariq (Brett DelBuono). Manager yang juga teman dekat Ethan itu berhasil memasukkan nama Ethan Shaw dalam line up festival musik terbesar. Dari situlah penonton akan diajak memasuki dunia festival musik ala Choachella yang sebenarnya.


TV Series Review: Doctors - Drama Korea


Wow. Sampai sekarang aku masih tidak menyangka bisa menghabiskan seluruh episode Doctors. Sebab, seperti yang sudah aku tulis pada First Impression: Uncontrollably Fond vs Doctors, aku tidak suka akting Park Shin-hye. Tapi, entah kenapa, aku tidak pernah sekalipun mempercepat episode Doctors yang aku tonton (seperti yang biasa aku lakukan saat ada episode yang sangat membosankan). Setelah dipikir cukup lama sehingga tulisan ini baru di-post, inilah alasan Doctors menjadi drama Korea yang wajib ditonton pada 2016.

Current Obsession: A Great Big World

Picture by artsfon
This is a bit surprising for me. Sebab, jujur saja, aku baru mengenal A Great Big World saat single Say Something ramai diputar. Selain melodinya yang indah dan menyentuh, perlu diakui kalau lagu itu sukses berkat Christina Aguilera yang turut menyanyikannya. Sejak lagu itu mulai dilupakan, aku pun turut lupa dengan duo asal New York ini. Tapi, entah kenapa, baru-baru saja aku iseng mencari nama mereka di Spotify. Surprise surprise, album When the Morning Comes tidak bisa berhenti aku dengarkan.


Duo yang digawangi Chad King dan Ian Axel ini mengusung musik pop yang kental dengan musik akustik. Suara dentingan piano dan petikan gitar sering terdengar dan hampir mendominasi semua lagu. Tidak heran, Ian memang jago bermain piano. Hentakan drumnya pun cukup simpel. Bagiku, musik seperti ini semacam a sweet escape di tengah EDM dan R&B yang merajalela.

Selain genre, bagiku, When the Morning Comes menonjol dalam hal lirik. Sebab, kalau diperhatikan, semuanya berisi pesan-pesan positif. Meski beberapa lagu mengusung tempo yang cukup lambat dan ide ceritanya sedih, tidak ada perasaan galau yang ditimbulkan. Jadi, jika Anda adalah "generasi galau," tidak perlu memaksakan diri mendengarkan album ini. So, here are my top 5 favorite songs:

image by gottastudyffs || edited by me

Halo! Senang sekali akhirnya bisa menulis sesuatu di blog. Sedih sekali melihat peringkat blog setiap hari semakin turun :( Tapi, bagaimana lagi. Agustus ternyata menjadi bulan paling sibuk sepanjang 2016. Aku pindah divisi dari on print ke off print. Tentu saja aku harus beradaptasi dengan job desc dan rutinitas baru. Selain itu, ayah mendadak mengajak berlibur ke Bali. Otomatis akulah yang harus menyiapkan segala keperluan sebelum perjalanan. Masih dadakan, aku tiba-tiba dikirim dinas ke Semarang dan Solo selama sembilan hari menjelang hari pertama kuliah *sigh*

Tapi, tentu semua kesibukan itu akan menjadi materi untuk blogku sebulan ke depan. Just keep waiting ya! Aku bakal share banyak tentang dunia penulisan yang aku geluti. Aku juga bakal share tips untuk kalian yang pengin bekerja sambil kuliah. I know it too well. Selain itu, banyak drama Korea yang harus aku tulis review-nya segera dan of course, first impression!! See you soon.

Love,
Ratri Anugrah

Movie Review: Sing Street

Picture by singstreetmovie

Sayang sekali film sebagus ini nggak ditayangkan di bioskop Indonesia. Padahal, Sing Street (2016) banyak mendapat pujian loh. Film garapan sutradara John Carney ini diputar pertama kali di Sundance Film Festival pada Januari 2016. Sing Street baru dirilis di Amerika pada April dan di Inggris pada Mei. Pada 26 Juli, akhirnya Sing Street bisa dinikmati dalam bentuk DVD. Sepertinya kurun waktu enam bulan itu cukup singkat ya untuk merilis DVD suatu film (kalau dibandingkan dengan film blockbuster)? Well, tetap saja, bagiku, penantianku untuk menonton film ini sangatlah lama.

Genre musikal adalah genre film yang paling aku suka. Setelah musikal, baru aku memilih action. Tapi, karena film musikal sangat jarang, aku lebih sering menonton film action. Meski begitu, aku yakin masih banyak sekali film-film musikal yang belum aku tonton. Jadi, kalau kamu cukup expert di bidang ini, spare me a little ya. Mungkin review-ku bakal terkesan dangkal. But I'll do my best.