4 Alasan Harus Belanja di ADA Store Grand City Surabaya

Friday, October 27, 2017
Tadi siang, aku dan temanku mampir ke grand opening ada Store di Grand City, Surabaya. Thanks to Yuniari Nukti yang mengundangku beberapa hari lalu, akhirnya aku punya pengalaman datang ke sebuah acara as a blogger. Yah, meskipun dulu cukup sering meliput acara seperti ini, ternyata tadi malam aku cukup grogi. Untungnya, sesampai di lokasi, aku terhibur dengan koleksi baju ada Store. Maklum, aku memang doyan belanja baju he he he. Apalagi ada program gratis baju tanpa bayar.


Too bad, kami kurang beruntung. Tapi, ketidakberuntungan kami membuatku memperhatikan kenapa ada Store patut dijadikan tujuan belanja warga Surabaya. Here are whys:

Lokasi Strategis Banget!
Lama-lama sepertinya Surabaya akan mendapat julukan baru: Kota Sejuta Mall. Di setiap wilayah pasti ada. Paling ujung timur ada Pakuwon City (East Coast) dan bahkan di Surabaya barat ada dua mall bertetangga, PTC dan Lenmarc! Wah, kurang kenyang apa? Tapi, mall paling startegis ya Grand City. Lokasinya tepat di tengah kota. Dekat stasiun, komplek sekolah, kampus, dan gedung pemerintahan. Oleh karena itu, acara-acara besar pun berlangsung di sini. Sebut saja Jatim Fair dan pameran otomotif GIIAS. Jadi, meski rumahmu di pinggiran, you'll have a reason to come here dan sekaligus belanja di ada Store.

Desain Interior yang Kekinian
Waktu pertama masuk, yang terbersit di kepalaku adalah: "Wah, Instagram-able nih." Bagi yang gampang bosan sepertiku sih desain interior itu mempengaruhi kenyamanan belanja. Belum lagi kalau penjaga tokonya menempel seperti perangko, Aduh, bawaannya pengin cepet keluar. Thanks God hal itu tidak terjadi di ada Store. Semoga bukan karena grand opening aja yaa...

Eh, ternyata Artha Retail Indo Perkasa memang sengaja membuat suasana ada Store di Grand City lantai 2, unit 30-32 (tepat di atas Miniso), ini cozy, comfortable, dan homey. For that purpose, you did it!


Harga Dijamin Terjangkau
Bisa dibilang Grand City (GC) adalah salah satu mall yang didominasi masyarakat kalangan menengah ke atas. Hal ini pun membuat GC identik dengan barang-barang mahal. Tapi, hal itu tidak berlaku lagi. Sebab, harga-harga baju di ada Store cukup terjangkau. Range harganya sekitar Rp 69 ribu sampai Rp 350 ribu saja! Bagi anak sekolah dan mahasiswa, harga ini dijamin tidak akan membuat dompet cepat kering.

Koleksi Lengkap & Fashionable
FYI, ada Store juga punya koleksi untuk cowok. Yah, space-nya memang lebih sempit dibandingkan space cewek sih. Tapi, menurutku koleksinya sudah cukup banyak dan penataannya enak sehingga space kecil itu bisa memuat banyak koleksi. Kalau koleksi cewek, puas-puasin belanja deh. Mulai dari t-shirt, blouse, berbagai jenis bottoms, sampai jumpsuit pun ada! Sesuai namanya nih, ada, serba ada he he he.

Tapi, yang paling penting adalah koleksinya up to date. Misalnya, floral short pants dan floral tops seperti yang pernah dipakai Nabila Gardena ada di sana. Koleksinya pun sesuai season saat ini. Aduh, aku paling suka fall season. Silahkan memborong knitwear deh sebelum hujan deras melanda Surabaya (amin!).

*Thanks, Mirtha!

So, tertarik belanja di ada Store? Dengar-dengar sih koleksinya produksi dalam negeri which is another reason why we should shop here. ada Store juga buka di Tunjungan Plaza Surabaya dan Marvell City Mall Surabaya. Happy shopping, fashionista Surabaya!

Cara Mencegah Buku Menguning

Tuesday, October 24, 2017
Foto: Bruce Dixon

Weekend kemarin akhirnya aku punya waktu luang dan niat yang cukup untuk menata ulang koleksi bukuku. Yah, meski akhirnya tetap belum bisa berjajar rapi di rak buku, at least mereka tidak menumpuk penuh debu di sudut kamarku. Satu demi satu aku catat just in case ada yang terlewat. Dan benar saja, beberapa buku yang dipinjam sejak zaman dulu belum dikembalikan! Ah, sedihnya. Tapi yang paling menyedihkan adalah halaman-halaman buku kesayangan yang mulai memperlihatkan bercak kekuningan. Oh, God. I do love old books, but I hate to see the process.

Kenapa buku menguning?
Bahan dasar pembuatan kertas adalah kayu. Sayangnya, meski lebih murah ternyata bahan dasar ini lebih mudah bereaksi dengan oksigen dan cahaya matahari. Kayu mengandung dua zat polimer utama, yaitu selulosa dan lignin. Secara teknis, selulosa ini colorless dan sangat mudah menyerap cahaya sehingga membuatnya buram. Oksidasi selulosalah yang membuat kertas jadi terlihat dull, rapuh, dan less white. Tapi, bukan ini penyebab kertas menguning.

Zat lain dalam kayu adalah lignin yang paling banyak terkandung dalam kertas koran. Bisa dibilang lignin adalah "glue" bagi kayu. Dia berfungsi untuk menguatkan dan mengeraskan kayu. Berbeda dengan selulosa, warna zat ini lebih gelap seperti paper bag cokelat atau kardus Indomie. Tapi, oksidasi lignin lebih tinggi. Oksigen mengubah struktur molekul lignin sehingga warnanya berubah menjadi yellow-brown.

Nah, kertas koran yang biaya produksinya lebih murah mengandung lebih banyak lignin. Sehingga, kertas koran lebih mudah menguning. Sedangkan kertas buku banyak yang di-bleeching sehingga kandungan ligninnya berkurang. Oleh karena itu, saat ini banyak dokumen penting yang ditulis pada kertas acid-free dengan kandungan lignin yang sangat terbatas.

Foto: Sonoma Valley Museum of Art

Cara Mencegah Buku Menguning

  1. Jauhkan dari paparan sinar matahari secara langsung. Ternyata, hal ini yang membuat bukuku menguning di bagian pinggir. Tanpa aku sadari, pada siang hari sudut kamarku tersorot sinar matahari meski jendela tertutup.
  2. Sampul semua buku! I don't know if this really help, tapi ternyata sinar UV bisa membuat cover buku memudar dan (sepertinya) cepat rapuh. Beberapa buku lamaku yang lupa disampul sudah menunjukkan tanda-tandanya.
  3. Jangan ditaruh di tempat lembab. Beberapa orang mungkin ada yang menyimpan koleksi buku lama di gudang atau langit-langit kamar. Biasanya ini juga dilakukan orang yang pernah pindah rumah dan belum sempat unpacking. Padahal, high humidity bisa merusak kertas. Begitu juga dengan low humidity yang membuat kertas kering, menguning, dan rapuh. So, lebih baik letakkan buku di udara normal saja.
  4. Beri jeda "bernapas"! Meski diletakkan berdiri (posisi yang paling direkomendasikan agar tidak merusak jilid buku), berilah sedikit jarak (kira-kira 3cm) dari dinding atau bagian belakang rak agar sirkulasi udara lancar.
  5. Bungkus dengan plastik wrap atau plastik klip. Oke, bagiku ini agak ekstrim sih. Sebab, kadang aku masih ingin membaca koleksi lamaku. Jadi, cara ini jelas tidak akan aku praktekkan dalam waktu dekat. Tapi, bagi kolektor sih silahkan dicoba.

Untungnya, aku adalah tipe pembaca yang lebih suka meminjam atau membeli e-book terlebih dulu. Kalau bagus dan worth untuk dikoleksi, baru aku membeli versi cetaknya. Maklum, aku ini tipe pembaca yang judge the book by its cover tanpa membaca sinopsis maupun review. Jadi, yaaa...sering ketipu. Oleh karena itu, banyak koleksi bukuku yang masih tersegel sehingga aman dari bercak-bercak kuning.

Movie Review: Geostorm

Wednesday, October 18, 2017
Movie Review Geostrom: Starring Gerard Butler
Foto: Warner Bros

Geostorm bercerita tentang perjuangan kakak-adik menyelamatkan bumi dari bencana alam. Sang kakak, Jake Lawson (Gerard Butler) adalah inisiator alat pengontrol cuaca bumi yang diberi nama Dutch Boy. Alat itu terletak di satelit luar angkasa. Sedangkan sang adik, Max Lawson (Jim Sturgess), adalah karyawan di White House. Karena "tingkah" sang kakak yang dianggap (pemerintah) tidak bisa diatur, Max pun in charge terhadap Dutch Boy dan terpaksa memecat sang kakak.

Sayangnya, beberapa tahun kemudian, Dutch Boy bermasalah. Tiba-tiba sebuah desa di Afghanistan membeku. Kejadian itu disusul oleh meledaknya lapisan bumi di Hong Kong. Usut punya usut, alat buatan Jake ternyata disabotase untuk kepentingan sebuah kelompok yang tidak bertanggung jawab. Tapi anehnya, hal itu hanya bisa dilakukan oleh sang presiden. Lalu, bagaimana Jake dan Max menghentikannya?

Jim Sturgess in Geostorm (2017)
Foto: Warner Bros

Trailer Geostorm sudah berkali-kali aku tonton karena diputar di bioskop sebelum It dan Kingsman: The Golden Circle. Tertarik? Sudah pasti. Film ini adalah garapan sutradara Dean Devlin yang merupakan "otak" di balik Independence Day (1996). Sebenarnya, aku bukan fans berat film-film seperti itu. Tapi, ibarat dunia buku, bagiku film-film tentang bencana alam (misalnya, The Day After Tomorrow, War of the Worlds, dan 2012) itu semacam light reading. Enak dinikmati, tapi tidak menciptakan kesan yang berarti. Oleh karena itu, you should know kalau aku sama sekali tidak punya ekspektasi terhadap film ini. Aku menontonnya di bioskop untuk mengisi waktu luang.

Hasilnya? Kalau kata kids jaman now ya "B aja". Dalam film seperti ini we can't expect for plot twist. Akhir ceritanya pasti bisa ditebak. Apalagi kalau sejak awal yang dijadikan "senjata" adalah sang pemeran utama. Bodohnya, aku sempat berharap ada tragic ending di menit-menit terakhir. Ah, seorang Gerard Butler jelas tidak mudah "dimatikan". Bahkan, bagiku karakternya tidak jauh berbeda dengan Mike Banning dalam London has Fallen (2016). Jika bencana demi bencana tidak dibuat semenggelegar itu, mungkin aku akan merasa seperti menonton London has Fallen.

Yap, speaking of effect, sepertinya itu yang membuatku berhasil terjaga selama menonton Geostorm. Mirip dengan film 2012 (2009), bencana demi bencana disuguhkan. Ada sapuan ombak yang membeku di Brazil. Ada banyak tornado berpasir di India. Ada juga gulungan ombak besar di Abu Dhabi. Hampir semua negara mengalami bencana dengan skala "gila". Semua itu terjadi hampir di saat yang bersamaan menjelang badai bumi alias geostorm. Karena aku menonton di studio biasa, efeknya pun masih terasa biasa saja. I'm sure film ini akan sedikit lebih "wow" kalau ditonton di IMAX 3D. Kalau kamu punya banyak waktu dan lagi banyak rezeki, you should try the 3D version. "Kalau" ya. I'm still thinking this movie isn't that worth it.

Abbie Cornish as Secret Service Agent in Geostorm Movie (2017)
Foto: Warner Bros

Eits, ada satu karakter yang cukup menarik perhatianku nih. Dia adalah Sarah Wilson (Abbie Cornish), secret service agent di Gedung Putih. Diam-diam dia berkencan dengan Max, which againsts the rule, dan dialah "kunci" kesuksesan Max. To be honest, sosok perempuan seperti dia sangat jarang terlihat dalam film-film Hollywood. Biasanya, karakter perempuan kuat selalu mendapat bantuan dari laki-laki (meski karakter sang laki-laki sangat tidak penting). Tapi, Sarah proves otherwise. Max malah digambarkan sebagai laki-laki kantoran yang "tidak sempurna". Secara fisik dia tidak sekuat kakaknya. Eh, secara jabatan pun dia masih butuh bantuan kekasihnya. You'll see how cool she is. Bahkan, adegan action-nya pun patut diacungi jempol.

Overall, film ini biasa saja. Gerard Butler terbukti kurang bisa menciptakan kesan tersendiri. Wajah ganteng Jim Sturgess pun tidak terlalu membantu. Tapi, dibandingkan dengan One Fine Day, Mereka yang Tak Terlihat, dan film-film lain yang saat ini tayang di bioskop, Geostrom jelas lebih patut dipilih setelah Blade Runner 2049 dan mungkin The Foreigner.

Foto: Warner Bros

First Impression: While You Were Sleeping - Drama Korea

Tuesday, October 10, 2017
Foto: SBS

Oh I'm so glad to be back writing another Korean drama!

Yap, thanks to While You Were Sleeping yang apparently sudah digembar-gemborkan sejak lama. It was all thanks to Bae Suzy dan Lee Jong-suk yang sama-sama punya banyak fans. To be honest, aku selalu tertarik dengan drama yang dimainkan Suzy. Meski aku biasanya berakhir kecewa, somehow aku tetap optimis dengan drama garapan sutradara Oh Choong-hwan ini. Selain itu, sejak berperan dalam W (MBC), I keep my eyes on Jong-suk. Hopefully drama ini akan menjadi salah satu drama terbaik 2017.

While You Were Sleeping bercerita tentang Nam Hong-joo (Suzy), seorang putri tunggal dari keluarga biasa saja. Sejak kecil dia selalu bermimpi tentang hal-hal buruk yang menjadi kenyataan. Salah satunya adalah kematian sang ayah. Memiliki ibu yang sangat menyayanginya, Hong-joo selalu berusaha menghindari bahaya di dalam mimpinya. Tapi, takdir selalu punya caranya sendiri.

Sampai suatu hari, datanglah Jung Jae-chan (Jong-suk) dan adiknya, Jung Seung-won (Shin Jae-ha), yang pindah di seberang rumah Hong-joo. Sang jaksa ternyata menjadi sosok yang berhasil menghentikan maut di dalam mimpi Hong-joo. Yap, he dreams too. Meski memimpikan maut yang sama, sudut pandang yang ditampilkan selalu berubah. Oleh karena itu, mereka berdua bekerja sama untuk menghentikan semua musibah.

Foto: 배꽃마을

Selain pemain, sebenarnya aku cukup tertarik dengan ide ceritanya. Yah, entah kenapa akhir-akhir ini "bermain-main dengan waktu" menarik perhatianku. Sejauh yang kuingat, belum ada sih drama Korea bagus yang mengusung mimpi. So, this should be it.

Sayangnya, ada sesuatu yang salah dengan While You Were Sleeping. Aku tidak yakin, tapi somehow drama ini terkesan biasa saja. Bahkan, chemistry Suzy dan Jong-suk kurang greget. Koneksi di antara mereka memang diceritakan dengan cukup enak. Playful, natural, tidak menye, pokoknya nikmat diikuti. Tapi, sebagai penonton, aku merasa hampa #tsah Aku tidak bisa ikut tersenyum malu saat mereka flirting. Aku tidak bisa ikut sedih saat Hong-joo kehilangan ibunya dan memutuskan untuk bunuh diri. I just can't.


Foto: IMBC

Thankfully, ada wajah segar nih! Oke, sebenarnya aku bukan tipe penikmat drama Korea yang "gila" pemain. Aku lebih mengutamakan cerita daripada pemain. Tapi, I can't fool myself by saying that this guy is not cute. Eits, bukan hanya penampilan. Sosok Han Woo-tak (Jung Hae-in) ini ternyata cukup misterius. Di episode awal, dia seharusnya meninggal ditabrak mobil Hong-joo di malam Valentine. Memprediksi hal itu, Jae-chan menabrakkan mobilnya sehingga tabrakan sama sekali tidak mengenai Woo-tak.

Ternyata, Woo-tak juga bisa bermimpi! Somehow mimpi-mimpinya selalu tentang sang jaksa dan Hong-joo. Karena penasaran, Woo-tak pun mendekati para "pemimpi" lain. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa tiga orang yang sama sekali tidak mengenal sebelumnya memimpikan hal yang serupa? It's another mystery to solve.

4 Wisata Kuliner Kediri yang Wajib Dicicipi

Tuesday, August 22, 2017
Foto: Bola dan Kelana

Kediri. Ah, jadi ingat masa-masa KKN dua tahun lalu. Waktu itu aku ditempatkan di Nganjuk yang sangat sepi. Karena Kediri hanya berjarak 1,5 jam naik sepeda motor lewat jalan tembus, kelompok KKN-ku pun sering hangout di sana. Ada bioskop, ada TransMart, dan yang penting ada McDonald! He he he.

You might know Kediri only for bangunan ala Perancis ini. Tapi, jangan salah. Sebenarnya ada banyak hal yang wajib dicoba saat berkunjung ke Kediri. Salah satunya adalah kulinernya! If you travel with my family, culinary is always on the top of our to-do list. Apa saja kuliner Kediri yang wajib dicicipi?

Tahu Takwa

Foto: rokerkediri

The thing that I remember the most about Kediri is tahu takwa. Waktu kecil, aku selalu membawa pulang tahu ini sebagai oleh-oleh khas Kediri. Meski bentuknya mirip tahu kuning biasa, taste-nya berbeda lho. Apalagi, tahu takwa sudah melegenda sejak 1912. See, kurang bikin penasaran apa coba?

Tahu takwa pertama kali diproduksi oleh perusahaan Bah Kacung. Teksturnya kenyal dan lembut. Setelah digoreng, tahu terasa renyah di luar dan gurih tanpa rasa asam di lidah. Saking enaknya, aku yang tidak suka tahu ini doyan nyemil tahu takwa kok. Hal ini tidak lepas dari cara pembuatannya yang masih tradisional. Yaitu, dengan tangan dan sangat memperhatikan kondisi air yang digunakan. If you want to try, langsung datang saja ke pabriknya di Jalan Trunojoyo No. 59, Kediri.

Nasi Pecel Tumpang
To be honest, I don’t really like pecel. Tapi, sebagai penikmat makanan sehat dan pemakan segala, ayah dan ibuku menjadikan nasi pecel tumpang sebagai makanan wajib saat ke Kediri. Yah, semacam nasi gudeg di Yogyakarta. Rasanya tidak afdol kalau belum makan. But I have to admit kalau nasi pecel di Kediri beda dari tempat lain. Cara penyajiannya pun langsung di atas ‘‘picuk’’ daun pisang.

Nasi pecel yang paling terkenal di Kediri adalah Nasi Pecel Tumpang Bu Ani. Rumah makannya berada di dekat beberapa hotel di Kediri. Salah satunya Hotel Merdeka Kediri yang selalu ramai dan buka selama 24 jam. Nasi pecel ini disajikan saat nasi masih mengepul hangat. Lalu, di atasnya ditambahkan sayuran seperti daun pepaya, daun kenikir, daun ketela pohon, kacang panjang, buah pepaya muda, dan kecambah. Setelah itu, sambal pecel dan sambal tumpang disiramkan.

Sate Emprit

Foto: kulinerkita18

Sate ayam? Ah, sudah biasa. Sate kambing? Ah, sebentar lagi dapat banyak. Kalau mau sate anti mainstream, cobalah sate emprit di Kediri. Sate ini unik karena berbahan dasar daging burung emprit yang ternyata termasuk hewan pengganggu (hama) yang merusak tanaman petani.

Sebelum dihidangkan, daging burung emprit diberi air yang sudah dicampuri asam, gula merah, dan bawang putih sebagai penyedap rasa. Setelah itu, daging dibakar dan diolah dengan bumbu sate atau kecap yang dicampur sambal kacang. Biasanya, dalam satu sunduk terdapat dua daging burung emprit yang dipadukan dengan bumbu sate lengkap, lalapan ketimun, dan irisan bawang merah.

Sate Bekicot
This one sounds a little extreme. Tapi sebenarnya tidak kok. Buktinya, budheku suka sekali nyemil sate bekicot sambil bergosip dengan saudara-saudaranya. When she looked at my weird expression, she scolded me saying, ‘‘Sehat ini.’’ Well, oke. Ternyata sate bekicot ini cukup popular dan bahkan jadi makanan khas Kediri. Pusat pembuatannya ada di Desa Djengkol, Kecamatan Plosoklaten, Kota Kediri, atau tepatnya 10 kilometer dari kawasan Monumen Simpang Lima Gumul.

Sate ini disajikan dengan bumbu kacang dan irisan bawang merah. Bagaimana rasanya? Enak sih. Teksturnya kenyal dan bisa membuat tubuh terasa hangat. Kalau ditanya apa tidak jijik, well, setelah matang sih biasa saja. Mungkin malah lebih ekstrim escargot di Perancis yang berbahan dasar siput.

Nah, dari empat makanan khas Kediri itu, sudah pernah mencoba yang mana? Sebenarnya, masih banyak makanan lain yang tidak kalah enak. Sebut saja tahu poo dan gethuk pisang yang sangat pas dijadikan cemilan. Yuk, sekali-sekali datang dan liburan ke Kediri! It won’t disappoint you!


Bonus! Kelompok KKN-ku saat liburan tipis-tipis di Simpang Lima Gumul, Kediri

Ternyata Beli Lemari Pakaian Tidak Boleh Sembarangan!

Wednesday, July 12, 2017
Beli Lemarin Pakaian di MatahariMall.com
Foto: Pixabay

Dulu, Ama hanya punya satu syarat untuk memilih lemari pakaian: kayu jati pasti bagus. Yap, hanya kualitas saja yang dipertimbangkan. I was still a kid yang selalu manut apa kata orang tua. Dan aku baru menyesali itu sekarang. Di era dimana semua hal harus Instagram-able, lemari pakaian kayu jati yang Ama elu-elukan itu sudah ketinggalan zaman.

I know, mengutamakan kualitas memang tidak ada salahnya. Tapi, bagiku beli lemari pakaian itu juga harus disesuaikan dengan jenis kamar. I've been thinking about this a lot karena kebetulan saat ini kamarku masih kosong, tidak ada perabot sama sekali kecuali kasur. So, of course membeli lemari pakaian is on my to-do list. Nah, inilah 4 cara menentukan lemari pakaian yang pas untuk kamarmu.

Berdasarkan Tipe
Just in case you haven’t notice, orang-orang mulai suka membuat built-in wardrobe. Biasanya, tipe lemari ini diaplikasikan di rumah-rumah besar yang punya space lebih banyak. Karena dibuat berdasarkan permintaan, built-in wardrobe membebaskan pemiliknya berkreasi. Mau dibuat seperti tembok, sebagai sekat antar-ruangan, semuanya bisa. Sayangnya, pembuatan built-in wardrobe memakan banyak waktu dan biaya.

Beli built-in wardrobe
Foto: Homedit

For me, free standing wardrobe is more convenient. Tipe lemari pakaian ini lebih mudah dipindah-pindah. Pas banget buat aku yang mudah bosan dan sering pindah rumah. Sebenarnya, free standing wardrobe juga bisa dibuat sesuai permintaan. But it’ll cost more money.

Berdasarkan Ukuran
Aku pernah berkunjung ke rumah seorang relative. Dengan anggota keluarga yang cukup banyak, she needs a bigger wardrobe. Sayangnya, it ends up with ‘‘asal ada lemari besar’’ which is very annoying karena sebenarnya ruangannya tidak cukup luas. Yap, ukuran lemari pakaian juga harus diperhatikan. Jangan memaksa ukuran besar di ruangan sempit, apalagi sampai mem-blocking cahaya. Aku personally lebih suka lemari pakaian minimalis agar space bergerak lebih luas.

Berdasarkan Style
Sering lihat dekorasi kamar tidur di Tumblr? Anak kekinian pasti punya impian untuk mendekorasi kamar ala Tumblr. Mulai dari pemilihan warna, penataan furnitur, bahkan sampai cahaya lampu. Oleh karena itu, kamar tidur masa kini harus aesthetically pleasing. Pilihlah lemari pakaian yang satu tone dengan dinding kamar. It’s either white or grey for me. Untuk kesan minimalis, lemari pakaian tanpa pintu adalah pilihan paling pas!

Berdasarkan Kapasitas


Beli lemari pakaian
Foto: Zandart

Ini dia issue utama yang sedang aku alami. Surprisingly aku punya banyak pakaian yang harus digantung. Sedangkan lemari pakaianku saat ini punya banyak rak untuk folded clothes. Alhasil, bagian gantungan penuh sesak. Sampai-sampai beberapa baju harus disetrika ulang (T_T) So, make sure memilih desain lemari pakaian yang tepat. Don’t be like me!

Kalau lebih banyak pakaian yang digantung, sebaiknya beli lemari pakaian khusus gantungan. I recommend this trick untuk menghemat tempat. Sedangkan pakaian yang dilipat bisa diletakkan di rak susun. Rak susun ini pun tidak necessarily harus berisi pakaian. I put some notes and books di bagian rak paling bawah karena aku tidak ingin membeli lemari khusus buku he he.

Merasa lemari pakaianmu kurang sesuai? Eits, beli lemari pakaian itu tidak selalu mahal kok. Coba beli lemari pakaian di MatahariMall. Ada banyak pilihan lemari sesuai tipe yang dibutuhkan. Don’t worry, sellers di MatahariMall.com terpercaya kok. Sebelum lebaran kemarin aku membeli beberapa barang di sana. Meski pengiriman harus ditunda karena libur lebaran, pesananku sampai dengan selamat kok. So, who’s going to buy?

FAQ: Kenapa Suka Drama Korea?

Sunday, July 2, 2017
Foto: Charles Michael Photography

Setiap mem-posting sesuatu berbau drakor (drama Korea), pasti ada yang membalas, “Lho, kok suka Korea?” Kalau yang dimaksud negara Korea, who doesn’t like it tho? Tapi kalau K-pop (which is for me refers to Korean pop music), NO, I still don’t like it. Kecintaanku terhadap Korean culture hanya sebatas drama Korea. Itu pun tidak termasuk menghafal nama-nama aktornya.

Kecintaan ini berawal sejak aku masih tinggal di Jember, suatu kota kecil di Jawa Timur yang mungkin lebih dikenal dengan fashion carnaval-nya. Saat TV di kota besar punya channel semacam Lativi dan MTV, di rumahku hanya ada RCTI, SCTV, Indosiar, dan entah apa lagi yang sejenis. Pokoknya total tidak sampai 10 channel. Oleh karena itu, pilihan tontonanku SANGAT terbatas. Kalau tidak ada kartun, ya adanya sinetron atau berita. That’s it.

Sampai akhirnya Indosiar menayangkan drakor. Yang paling aku ingat sih Jewel in the Palace (2003) yang tidak pernah kulewatkan satu kalipun. Bahkan, Ama dan keluarga sepupuku memindahkan aktivitasnya di depan TV. Kami sampai ingat betul lho lirik theme song-nya. “Onara onara aju ona. Gadara Gadara aju gana. Nanari daryeodo mot nonani…” Hayo, siapa yang dulu juga hafal lagu itu?


Jadi, kenapa aku suka drama Korea?

Sebagai Alternatif Tontonan
Aku bersyukur tertarik drakor sejak kecil. Bayangkan saja kalau dulu aku menonton sinetron setiap hari. Waduh, bisa-bisa sekarang aku gampang baper gara-gara Ganteng-Ganteng Serigala (2014). Nah, karena serial TV Amerika juga tidak ada, drakor somehow terkesan keren dibandingkan Tersanjung (1998–2005), Jin dan Jun (1996–2001), dan Bidadari (2005).

Meski kadang cerita drakor juga receh, tapi episode-nya tidak berbelit-belit sampai ribuan. Pemainnya pun of course jauh lebih kece. Dan yang penting adalah sinematografinya yang tidak zoom-in zoom-out ala India :)) Apa sekarang masih ada anak muda yang doyan menonton sinetron?

Sudah Terbiasa dan Ketagihan!
Karena cuma ada di Indosiar, setiap drakor yang ditayangkan pasti ditonton banyak orang. Aku yakin hal itu juga mempengaruhi masuknya hallyu ke Indonesia. Aku mulai kenal Yoon Eun-hye dari Princess Hours (2006) yang sampai sekarang aku mengingatnya sebagai Shin Chae-kyung dan Han Chae-young dari My Sassy Girl Chun-hyang (2005). Kok bagus… Kok seru… Kok ganteng… Akhirnya, lama-lama aku ingin menonton lebih banyak drakor.

Foto: Cadi Cazani

Tapi, satu hal yang patut diacungi jempol dari drakor adalah cara memotong ending tiap episode. Penikmat drakor pasti sadar akan hal ini. Ending-nya itu selalu membuat kita pengen cepat-cepat menonton episode selanjutnya. Oleh karena itu, bagi mereka yang menonton secara marathon harus siap begadang. I’ve been there. It was tiring yet exciting. Sama lah seperti membaca novel Harry Potter yang baru rilis, tidak akan bisa berhenti sampai habis.

Lebih Mudah Diakses
Akhir 2006, aku mulai mengenal Disney Channel karena TV kabel mulai masuk Jember. Tontonanku dan para sepupu pun berubah, yaitu Hannah Montana (2006) dan High School Musical (2006). I know it was pathetic, tapi dari situlah aku belajar Bahasa Inggris karena harus menonton tanpa subtitle.

Pulang ke Sidoarjo (aku pindah rumah sekitar akhir 2016), aku menonton ulang dengan subtitle, both in English and Indonesia. Karena internet sudah mudah diakses, aku pun rajin mengeksplor serial TV dan film orisinal Disney Channel lain (yeah, I thought DC is kinda cool). Sejak itu aku lebih suka serial TV Amerika. Aku pun sudah bisa menonton Smallville (2001) dan Supernatural (2005) di TV (for free).

Sayangnya, at some point aku mulai malas men-download serial TV. Aku mulai merasa streaming is more convenient. Hemat listrik, hemat tenaga, dan hemat waktu (karena aku streaming di HP). Ah, aku ingin berlangganan Netflix, tapi di rumah sudah ada TV kabel yang sangat jarang aku tonton.

Streaming Drama Korea
Foto: Pixabay

Tontonan yang paling mudah diakses secara streaming adalah drakor. Banyak sekali situs yang menyediakan drakor lengkap ber-subtitle Bahasa Inggris secara gratis! Sebenarnya, ada layanan streaming gratis untuk serial TV Amerika/Inggris. Sayangnya, situs itu tidak menyediakan subtitle which is a little bit difficult for me saat menonton Criminal Minds (2005), Sherlock (2010), dan sejenisnya. Kalau ada yang tahu, please let me know. It’d be very very helpful.

Jadi Bahan Obrolan dan Bermanfaat untuk Pekerjaan
Kids these days suka sekali hal-hal berbau Korea. Lihat saja, boyband dan girlband Korea berbondong-bondong konser di Indonesia. Sedangkan konser musisi internasional bisa dihitung jari. Itu berarti masyarakat kita masih suka hallyu. Bahkan, fan meeting aktor juga ramai lho. Yang datang pun tidak hanya anak muda, tapi juga ibu-ibu yang doyan ahjussi semacam Lee Dong-wook.

Nah, karena pekerjaanku sangat dekat dengan anak muda, khususnya generasi Z, aku dituntut untuk tahu kesukaan mereka. Termasuk drama dan musik Korea. Setiap mem-publish artikel berbau Korea di Zetizen, pasti viewers-nya langsung ribuan dalam hitungan jam! Super sekali kan k-popers ini?


Dan there are some people yang dianggap “aneh” karena obrolannya seputar Korea saja. Dengan mengikuti drakor, aku bisa mudah "klik" dengan mereka. Tapi ya gitu, “Nam Joo-hyuk itu yang main apa ya?” *sambil garuk-garuk kepala* Sampai saat ini aku masih merasa nama-nama Korea itu susah dihafalkan. Is it just me?

Kenapa tidak suka k-pop juga?

Hmmm… Bagiku, musik itu bukan sekadar alunan melodi yang disusun apik. Musik itu cara alternatif untuk mengungkapkan perasaan saat kata-kata tak lagi berguna. Jadi, tentu lirik juga sangat penting bagiku. If I can’t understand the lyric, how can I like the music? As simple as that.

Bukan berarti musik Korea itu jelek lho ya. No. Kadang aku juga terobsesi dengan soundtrack drakor kok. But it lasted only days after the drama has ended. Sebab, a certain soundtrack mengingatkanku pada a certain scene. Kalau sudah lupa adegannya, ya soundtrack-nya jadi kurang gimanaaaa gitu.

So, if you like k-drama too, apa alasannya? Pernah merasa bosan tidak? And yes, aku belum tertarik dengan hal-hal berbau Jepang. Sorry to say, aku agak terganggu dengan intonasi pengisi acara di Waku Waku yang terkesan sok imut padahal ekspresinya datar.

A Year Blogging, What's Next?

Friday, June 30, 2017
First Blog Anniversary
Foto: Pixabay

Selamat tanggal 30 Juni!

Tidak terasa sudah satu tahun domain ini saya miliki. How does it feel? Pathetic. Well, lebih tepatnya melenceng jauh dari rencana. Saya membeli domain dot com dengan harapan lebih semangat blogging. Paling tidak ya menulis meski akhirnya berhenti menjadi draft. Faktanya, hal itu tidak bisa saya penuhi. Bukannya tidak ada ide, tapi tidak ada mood. Apalagi saya ini mudah ter-distract. Duduk di depan laptop, siap menulis, eh ada drama Korea baru. Selesai menonton drama, hilanglah mood menulis tadi. Ada yang punya tips untuk menghilangkan kebiasaan ini?

So, what would I do next?

Tahun depan, saya jelas ingin ada perkembangan signifikan pada blog ini. Salah satu caranya ya dengan rajin menulis at least satu minggu sekali. Agar lebih fokus, saya memutuskan untuk menelantarkan blog buku imawesomenerd.blogspot.com. Saya juga deactivate semua hidden journals agar lebih fokus. Dude, I actually have written a lot! Too bad not everything is for public.

Things you can expect on this blog:

  • Drama Korea: Setelah dipertimbangkan, menulis First Impression dan Review itu tidak efektif. Sebab, kadang saya ingin menulis review drama yang sudah saya tulis first impression-nya. Selain akhirnya menulis hal yang serupa, saya takut pembaca bosan karena blog ini terlalu banyak drama Korea-nya he he. So, I'll only write first impression dan review recap.
  • Movie & Music: I love movies and I'm kinda addicted to Spotify. Sayangnya, saya tidak expert dalam dua hal ini. Referensi saya kurang banyak. Alhasil, saya sering tidak mood menulis review. Blog post tentang film akan fokus pada rekomendasi. Sedangkan untuk kategori musik akan saya isi musician I'm currently obsessed with dan rekomendasi seperti ini.
  • Food & Travel: Saya bukan traveler, tapi tahun ini saya cukup beruntung bisa jalan-jalan lumayan jauh (dan belum saya tulis!). Oleh karena itu, saya semangat jalan-jalan jauh lagi. Who knows kesempatan apa yang diberikan tahun depan. Saya pun ingin belajar menulis ala travel blog. Kalau ada referensi travel blog kece, boleh dong share di kolom komentar :)
  • Opini: Nah, ini jenis tulisan yang sebenarnya sangat saya suka. Tapi, menulis satu post yang memuaskan (bagi saya) butuh waktu lumayan lama. Itulah yang membuat tulisan-tulisan opini saya terbengkalai, berhenti di tengah-tengah.
  • Book: YES! Saya akan mulai menulis review buku di blog ini. Tentu saja review saya tidak akan terbaca di agregator BBI. But well, demi kenyamanan dan demi traffic juga, saya harus melepas salah satu. And of course you can expect book giveaway too!!

Well, memang tidak banyak yang berubah. Tapi saya sangat berharap saya bisa lebih commit menulis tentang 5 kategori di atas. Wish me luck?

First Impression: Ruler: Master of the Mask - Drama Korea

Saturday, May 20, 2017

Sebenarnya, beberapa minggu ini aku mengalami semacam k-drama slump. Rasanya malas sekali menonton drama Korea yang sedang tayang. Tidak ada yang bikin bergairah. Sampai akhirnya Ruler: Master of the Mask ini tayang. Tidak semenggairahkan itu sih, tapi paling tidak drama produksi MBC ini membuat jari tanganku membuka dramacool setiap Kamis dan Jumat pagi he he.

Ruler: Master of the Mask bercerita tentang seorang Putera Mahkota (PM) bernama Lee Sun (Yoo Seung-ho). Dia tampan, pintar, polos, dan baik hati. Sayangnya, tidak semua orang tahu hal itu. Sebab, sejak kecil wajahnya ditutupi topeng. Hanya Raja (Kim Myung-soo), Selir Lee yang merupakan ibu Lee Sun (Choi Ji-na), dan kepala penjaga keamanan yang tahu wajah asli PM. Selain itu, mereka akan langsung dibunuh.

Yoo Seung-Ho in Ruler: Master of the Mask (MBC)

Gara-gara itu, kabar yang beredar pun mengatakan kalau PM Lee Sun penyakitan. Dia jugalah yang membuat rakyat menderita (tidak diridhoi dewa). Padahal, itu semua ulang kelompok Pyunsoo yang diketuai Dae Mok (Heo Jun-ho). Dialah yang meracuni PM saat masih bayi. Demi mendapatkan obat penawar, Raja harus memberikan hak mengatur saluran air kepada Pyunsoo. Alhasil, sumber mata air dimonopoli. Rakyat harus membayar sejumlah uang untuk mendapatkan air.

Dari situlah Han Ga-eun (Kim So-hyun), seorang putri pejabat, Lee Sun (Kim Myung-soo alias L boyband Infinite), seorang rakyat jelata, dan PM Lee Sun bertemu dan saling membantu (kind of). Ditemani sahabat sekaligus pengawalnya, Lee Chung-woon (Shin Hyun-soo), PM Lee Sun keluar istana. Posisinya di kerajaan digantikan oleh Lee Sun si rakyat jelata. Too bad, rencana itu diketahui Dae Mok. Kelompok Pyunsoo pun menyerbu istana dan membunuh Raja.

Kim So-Hyun Yoo Seung-ho Couple

First of all, let's talk about the episode yang awalnya 20, tapi jadi 40 episode. Kenapa sepanjang itu? Tenang, drama ini sama seperti drama 20 episode kok. Kalau biasanya satu episode berdurasi 60 menit, satu episode Ruler: Master of the Mask hanya 30 menit. Sekali tayang langsung dua episode. Jadi, kalau dihitung-hitung ya sama saja. Kenapa di-part? Dengar-dengar sih untuk kebutuhan slot iklan. Well, drama Korea ini memang berpotensi besar sih. Lihat saja rating-nya terus naik.

Karena belum terbiasa, kadang-kadang aku merasa sebal. Lagi enak-enak klimaks, eh to be continued. Rasanya aneh. Sebab, feel penasarannya beda dengan feel penasaran akhir episode. Sistem durasi ini pun juga diterapkan pada Suspicious Partner produksi SBS. I'm not going to write its first impression karena jelek sekali. Tapi, you should know kalau pemotongan part dalam drama yang dibintangi Ji Chang-wook itu sangat aneh! Fortunately, ada beberapa layanan streaming yang menggabungkan dua part yang tayang setiap hari. It might feel better.

L Infinite Ruler Master of the Mask

Now let's talk about the actors.

Pada episode pertama, aku merasa sedikit awkward terhadap karakter yang dimainkan Seung-ho. Maklum, bagiku dia masih Seo Jin-woo dari Remember (SBS-2015) dan bahkan Harry dari I Miss You (MBC-2012). Kedua karakter itu sama-sama melow. Jadi, aku kaget saat mengetahui betapa polos dan bahkan childish-nya PM Lee Sun. Tapi, lama-lama aku bisa menerima kok :) He did a great job karena pada dasarnya dia akan menjadi PM yang pintar dan bijaksana.

Akting yang aku nantikan adalah L Infinite dan Yoon So-hee (pemain Kim Hwa-goon, cucu Dae Mok yang jatuh cinta pada PM Lee Sun). Aku belum familiar dengan kiprah akting mereka dan sepertinya scriptwriter Park Hye-jin akan membuat cerita mereka menarik. Entahlah. Sejauh ini prediksiku tentang alur cerita Ruler: Master of the Mask ini selalu salah. Selalu ada plot twist tak terduga.

Oh, Kim So-hyun? Not a fan. Bagiku dia masih the same old Kim So-hyun. Perannya itu-itu saja. Tapi ya silahkan tidak setuju karena aku memang tidak mengikuti semua drama yang dimainkannya.


I will definitely watch this drama 'til the end. As I said, selalu ada plot twist yang tidak terduga. Selain itu, pada dasarnya aku memang suka historical drama. Aku yakin drama ini jauh lebih baik dari Rebel Thief Who Stole The People.