Book Review: Sophismata + GIVEAWAY

Monday, January 15, 2018

SOPHISMATA
Penulis: Alanda Kariza | Editor: Anastasia Aemilia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 12 Juni 2017 | Tebal: 272 halaman
Harga: Rp 52.000 [BukaBuku] | Rating: 3/5 stars

AKHIRNYA aku bisa melanjutkan salah satu hobiku, yaitu membaca buku. Kali ini, review pertama jatuh pada Sophismata karya Alanda Kariza. Aku masih ingat jelas betapa banyak teman-teman sesama pecinta buku di Instagram yang mengelu-elukan Sophismata. Thanks to Achintya Widhi, one of my best high school friends, karena sudah memberikan buku ini sebagai hadiah ulang tahun. Lalu, apakah buku ini memang seheboh kelihatannya? Sebelum melanjutkan, harap diingat kalau tulisan ini dibuat berdasarkan pendapat pribadi tanpa ada keinginan untuk menjatuhkan suatu pihak atau sebaliknya.

Cita-cita Sigi tidak muluk. Dia hanya ingin kenaikan jabatan dari posisinya sebagai staf administrasi. Sayangnya, menurut Johar Sancoyo, atasannya, itu cita-cita yang belum pantas Sigi raih, bahkan setelah lebih dari tiga tahun dia bekerja tanpa cela.

Begitulah kisah Sophismata dimulai. Kita langsung dikenalkan kepada sosok Sigi, si wanita masa kini, yang berjuang mengejar karir. Meski menjadi staf administrasi politikus di DPR bukan hal mudah, dia ingin naik jabatan menjadi Tenaga Ahli. Bukan masalah gaji atau kekuasaan, dia hanya ingin terlibat dalam proyek yang mempunyai nilai signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat. Mulia sekali kan?

Dalam mencapai impiannya, Sigi tentu mendapat banyak rintangan. Dan uniknya, Alanda mengusung rintangan yang tanpa disadari dialami banyak perempuan. Yaitu, ketidaksetaraan gender. Johar hanya memperkerjakan dua Tenaga Ahli laki-laki dan satu staf administrasi. Lewat perlakuan dan obrolan dengan rekan kerjanya serta perintah-perintah Johar, Alanda seolah ingin mengedukasi pembacanya tentang perasaan perempuan yang bekerja sebagai minoritas. Hal ini sangat perlu diketahui para fresh graduate dan job seeker. Setelah diterima bekerja, proses penyesuaian diri biasanya tidak boleh disepelekan.

Girl Power
Ilustrasi: Pinterest

Di sela hiruk-pikuk dunia kerja Sigi, datanglah sosok pria mapan bernama Timur. Berbeda dengan Sigi yang benci politik, Timur justru sedang dalam proses membentuk sebuah partai. Bagi dia, terjun ke dunia politik dan menggalang kekuatan adalah cara terbaik untuk membantu masyarakat. Lagi-lagi kita bertemu sosok yang mulia. Well, usut punya usut, Alanda ingin menyampaikan bahwa tidak semua politikus dan orang-orang yang terlibat di dalamnya itu busuk dan korup seperti yang sering kita lihat di televisi. Meski secara pribadi aku agak sanksi, sepertinya Alanda ada benarnya.

Dibalut kisah politik cukup kental, aku menyayangkan highlight moment yang kurang menonjol. Apakah saat Sigi mendapati atasan sekaligus role model-nya bermain uang untuk menyelesaikan masalah? Apakah saat Sigi harus memilih antara Tenaga Ahli dan staf kepresidenan? Kalau iya, berarti feel-nya kurang greget. Sebab, saat membaca, bukannya menggebu-gebu ingin tahu akhir ceritanya, aku justru dibuat tidak sabar dan bingung sebenarnya ceritanya mau dibawa kemana. Oh, bukan berarti Sophismata ini buku yang buruk ya. Banyak kok yang suka.

Bagiku, kekuatan buku ini ada pada sosok Sigi seorang. It's very unfortunate karakter-karakter di sekelilingnya tidak dibuat sama kuatnya. Mungkin, Alanda hanya tidak ingin karakter utamanya seperti cerita-cerita Hollywood yang karakter utama perempuannya tetap butuh sosok laki-laki. Sedangkan dalam Sophismata, Timur bahkan mengembalikan pertanyaan Sigi karena dia yakin sebenarnya wanita itu tahu keputusan apa yang harus diambil. Sungguh, kadang aku merasa sosok Timur ini too good to be true.

 

And here's what you've been waiting for,
GIVEAWAY TIME!!!

Aku akan memilih dua orang pemenang yang akan mendapatkan buku The Hate U Give karangan Angie Thomas versi terjemahan. Sejak buku ini hits di luar negeri, aku sangat ingin membacanya, tapi belum sempat. Oleh karena itu, momen ini akan aku gunakan untuk menge-push diri.

Syarat dan Ketentuan:
  • Berdomisili di Indonesia atau punya alamat kirim di Indonesia.
  • Bersedia membaca dan menulis review (tidak harus di blog, boleh di Instagram, Twitter, Facebook, or just tell me and I'll add your opinion after mine).
  • Giveaway ini berlangsung sampai 4 Februari 2018.
  • Isi form di bawah ini:

Hobi Selfie? Ini Tempat Wisata Instagramable di Surabaya

Thursday, January 11, 2018
Hey, arek Suroboyo... Apakah kalian sadar kalau sektor wisata Surabaya semakin maju? Sebagai Kota Metropolitan terpadat di Indonesia setelah Jakarta dan Medan, sepertinya hal ini sudah wajar terjadi. Setiap tahun mungkin banyak pendatang baru. Entah untuk bekerja ataupun kuliah. Alhasil, pemerintah pun sebisa mungkin mem-provide penduduknya dengan hal-hal yang entertaining. Salah satunya dengan menyediakan tempat wisata unik, menarik, dan pastinya kekinian.

Yap, kekinian sudah seperti kriteria wajib untuk semua hal. Thanks to social media, semua hal yang bertujuan untuk menarik minat anak muda harus Instagram-able. Nah, kalau tempat wisata seperti itu yang dicari, inilah tempat wisata Instagram-able di Surabaya yang recommended.

Taman Mangrove Wonorejo
Taman Mangrove Wonorejo Surabaya
Foto: dinata.my.id

Pernah menyusuri hutan bakau naik perahu motor? It's so exciting lho! Hal itu bisa dicoba di Taman Mangrove Wonorejo, Surabaya. Sensasinya seperti menyusuri hutan-hutan liar Amazon ala Discovery Channel. Selain deretan pohon bakau hijau, di sini ada banyak spot foto Instagram-able yang cocok buat mengisi feed Instagram dan update Insta Stories.

Tapi, yang paling menarik adalah biaya masuknya yang sangat murah. Yaitu, Rp 2.000 saja. Padahal, letak tempat wisata taman mangrove ini ada di pusat kota lho. Nah, kalau pengen mencoba naik perahu motor, akan ada biaya tambahan sekitar Rp 25.000 (dewasa) dan Rp 15.000 (anak-anak).

Pantai Kenjeran
Pantai Kenjeran Surabaya
Foto: KSMTour

Dulu, pantai legendaris ini terkenal sebagai kawasan kumuh yang sering dipakai sebagai lokasi mesum. Tapi, sejak beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kota Surabaya menyulap Pantai Kenjeran menjadi tempat wisata kekinian yang Instagram-able dan Path-able.

Di pantai ini ada banyak spot foto keren. Agar hasil foto lebih cantik, tunggulah sampai sunset tiba. Selfie dengan latar belakang langit merah dan oranye akan membuat feed media sosial lebih artistik dan berwarna. Untuk masuk ke kawasan Pantai Kenjeran, pengunjung harus membayar tiket seharga Rp 15.000. Sedangkan biaya parkirnya sekitar Rp 8.000 (motor) dan Rp 10.000 (mobil).

Kampung Warna-Warni Bulak
Kampung Warna-Warni Bulak Surabaya
Foto: YouTube

Tertarik dengan kampung warna-warni? Eits, bukan cuma Malang, Surabaya juga punya! Masyarakat kawasan Bulak bergotong royong mengubah kampung mereka menjadi kampung warna-warni. Deretan rumah dengan atap dan tembok beraneka warna bisa menjadi background cantik saat kita ber-selfie ria.

Tentu saja kampung ini juga punya spot foto menarik. Meski tergolong baru, Kampung Bulak banyak dikunjungi anak-anak muda yang pengen hunting foto atau sekedar hangout dengan teman.

Tuh kan. Banyak hal yang bisa di-"buru" di Kota Pahlawan ini. Yuk, liburan ke Surabaya! Untuk referensi penginapan yang nyaman, kunjungi website Airy Rooms atau akses dari aplikasi smartphone-nya.


Airy merupakan jaringan hotel terbesar dengan jumlah properti terbanyak di Indonesia. Tidak cuma praktis, memesan hotel melalui aplikasinya juga membuat pilihan tempat menginap murah lebih bervariasi saat berada di Surabaya. Tenang, hotel-hotel yang tergabung dalam jaringan Airy dipastikan punya 7 jaminan fasilitas kamar.

Setiap kamar hotel Airy dilengkapi AC, tempat tidur bersih, flat screen TV, kamar mandi dengan air hangat, serta perlengkapan mandi, Wi-Fi, dan air mineral gratis. Cukup memadai kan? Pilihan pembayarannya pun sangat banyak dan mudah. Mulai dari transfer bank sampai Indomaret terdekat.

8 Best Korean Drama 2017

Wednesday, January 3, 2018
Tidak terlalu banyak drama Korea yang aku tonton tahun lalu. Beberapa judul juga tidak aku tonton sampai habis karena...yah, kurang suka dan kurang menarik (bagiku) saja. So, please note kalau tulisan ini dibuat purely berdasarkan pendapat pribadi. Selera kita mungkin berbeda and it's okay. Toh aku yakin drama Korea terbaik 2017 versiku tidak akan sama dengan versi lain.

By the way, pada tahun 2017, kita dikenalkan untuk pertama kalinya dengan split episode (aku tidak yakin apa sebutannya). Jadi, drama yang berdurasi satu jam untuk satu kali penayangan (satu hari) akan dibagi menjadi dua episode (masing-masing 30 menit). Dengan begitu, beberapa source menulis drama 16 episode menjadi 32 episode. Kabarnya, gap dua episode itu untuk iklan. But well, let's stick to the old rule.

#8 Circle
Korean Drama Circle
Foto: tving

Mungkin banyak yang menganggap drama ini terlalu rumit. Sebab, alur ceritanya maju-mundur dengan dua timeline berbeda yang berjalan bersamaan. Biasanya, 30 menit pertama (Part 1) tentang Kim Woo-jin (Yeo Jin-goo) yang mencari kakaknya, Kim Beom-gyoon (An Woo-yeon). Sang kakak dicap orang gila karena percaya bahwa ayah mereka diculik alien.

Sedangkan pada 30 menit berikutnya (Part 2), penonton dibawa ke masa depan, tepatnya 2037. Kondisi bumi yang semakin buruk membuat beberapa pihak membangun dunia baru. Pada saat itu, Beom-gyoon diperankan Kim Kang-woo. Misinya pun terbalik, yaitu mencari Woo-jin. Well, langsung tonton sendiri saja. Kalau dijelaskan bisa spoiler he he he.

Awalnya, aku menonton Circle karena penasaran dengan Yeo Jin-goo. Aktor muda ini sering menjadi versi muda seorang karakter utama yang ganteng. Nah, kali ini dia menjadi pemeran utamanya. And he's obviously good. Menurutku sih aktingnya tanpa cela. Selain itu, Circle menawarkan kerumitan dan plot twist yang aku suka. You know, I'm a big fan of plot twist. Sayangnya, menjelang ending, ada kesan "tidak masuk akal" yang ditimbulkan. Alur ceritanya seperti agak dipaksakan. I'm not really sure apa yang membuat Circle seperti itu. Tapi, hal itu sangat minor kok. Most of k-drama lovers tidak menonton drama ini sampai habis karena kebingungan sejak awal. Well, you decide.

#7 Romantic Doctor, Teacher Kim
Korean Drama Romantic Doctor Teacher Kim
Foto: joins

Entah kenapa aku sangat menikmati drama Korea tentang dokter. [Baca juga: Review Drama Korea Doctors] Well, belum terlalu banyak yang aku tonton. Tapi, sejauh ini, Romantic Doctor, Teacher Kim adalah drama Korea terbaik. Semua istilah dan kerumitan dunia kedokteran dibawakan dengan ringan, tapi tetap berbobot. Selain itu, drama yang dibintangi aktor senior Han Suk-kyu sebagai Teacher Kim ini menyuguhkan kehidupan para dokter yang benar-benar mengabdi. Para dokter Indonesia yang terlanjur keblinger harta dan para mahasiswa kedokteran harus nonton ini nih.

Drama ini membuatku mendambakan sosok dokter seperti Teacher Kim. Dia adalah dokter yang punya prinsip. Iya, prinsip lah yang membuat dokter ingat tujuannya menjadi dokter. Dia hidup seperti rakyat jelata, sama sekali tidak bergelimang harta. Tapi, tidak ada satu pun penyakit yang tidak bisa dia sembuhkan. Karakter-karakter seperti Kang Dong-joo (Yoo Yeon-seok) dan Do In-bum (Yang Se-jong), para dokter dari rumah sakit besar, bisa kembali ke jalan yang benar berkat Teacher Kim.

#6 Weightlifting Fairy Kim Bok-joo
Korean Drama Weightlifting Fairy Kim Bok Joo

Siapa sih yang tidak mengidolakan Kim Bok-joo (Lee Sung-kyung) dan Joon Jung-hyung (Nam Joo-hyuk)? Hubungan mereka membuatku yakin menjadikan Weightlifting Fairy sebagai salah satu drama Korea terbaik 2017. Kisah cinta mereka memang cheesy. Tapi, entah kenapa tidak terasa "berlebihan". Selain itu, drama ini mengajarkan kita untuk terus memperbaiki diri. Tidak perlu takut jomblo selamanya karena tidak memenuhi standard cantik masyarakat. One day, cowok seperti Jung-hyung akan datang kok. Baca review lengkapnya di sini ya.

#5 Because This is My First Life
Korean Drama Because This is My First Life
Foto: Viki

Masih ingat betapa realistisnya hubungan mereka? Ya, rasanya susah untuk tidak memasukkan drama ini dalam daftar drama Korea terbaik 2017. Aku terlalu suka. Sebab, untuk pertama kalinya ada kisah cinta yang berbeda. Biasanya, drama Korea mengusung konsep si kaya jatuh cinta dengan si miskin dan keluarga si kaya tidak setuju. Kebanyakan pasangan pun menikah karena jatuh cinta.

Padahal, saat ini, pasangan seperti Nam Se-hee (Lee Min-ki) dan Yoon Ji-ho (Jung So-min) lebih masuk akal. Mereka menikah karena butuh. Meski akhirnya mereka benar-benar jatuh cinta, tapi penonton dibawa memahami realita dulu. Alhasil, bapernya sangat terasa! Baca review-nya di sini.

#4 Goblin
Korean Drama Goblin

[Baca dulu: First Impression Drama Korea Goblin] Sebenarnya, Goblin bisa menduduki peringkat ke-2 atau bahkan pertama! Sayangnya, ending drama ini cukup mengecewakan. I'm sure you all have watched this. Jadi, spoiler sedikit tidak apa-apa ya?

Goblin berhasil didapuk sebagai drama Korea terbaik (mungkin) sepanjang masa. Entah itu karena ide ceritanya, alur ceritanya, bumbu-bumbunya, atau para pemainnya yang berhasil membius penonton dan membuat drama ini sangat memorable. Aku pun terbius. Aku bahkan sempat yakin drama ini akan menduduki peringkat pertama drama Korea terbaik 2017 versi ratrianugrah.com. Bagaimana tidak, Gong Yoo dan Lee Dong-wook berhasil menciptakan bromance paling epik. Dengan dua aktor besar, sinar Kim Go-eun juga tidak meredup. Beberapa scene puitis yang berpotensi membosankan ternyata tetap nikmat ditonton. What's not to like kan?

Tapi, aku sangat tidak setuju dengan ending-nya. Later I found out kalau writer Kim Eun-sook memang suka membuat happy ending. Bagiku, ending yang ideal adalah saat Goblin akhirnya bisa pergi dengan tenang. Buatlah Ji Eun-tak sedih dan bangkit lagi seperti film Me Before You (2016). Menurutku, Goblin bisa kembali dan Grim Reaper bertemu lagi dengan Sunny (Yoo In-na) itu tidak masuk akal. Meskipun mereka berdua diceritakan terlahir kembali sebagai manusia biasa, tetap saja terkesan dipaksakan. Dear, Kim Eun-sook. Membuat bitter sweet ending itu boleh kok. Coba lihat 49 Days (SBS).

#3 Queen for Seven Days
Korean Drama Queen for Seven Days
Foto: Pinterest

Berawal dari coba-coba, aku akhirnya jatuh cinta dengan drama ini. Mengusung genre historical drama, Queen for Seven Days atau Seven Days Queen ini bercerita tentang perebutan takhta antarsaudara. King Lee Yoong (Lee Dong-gun) harus menyerahkan mahkotanya kepada Prince Lee Yeok (Yeon Woo-jin) saat dia cukup umur. Tapi, karena kesepian dan iri dengan perhatian orang-orang terhadap Lee Yeok, King Lee Yoong selalu mempersulit hidupnya. Semacam orang yang paranoid, padahal Lee Yeok sangat setia kepadanya.

Sesuai namanya, drama ini fokus pada Shin Chae-kyung (Park Min-young). Dia adalah putri tangan kanan King Lee Yoong. Sang raja menjodohkannya dengan Lee Yeok dan mereka benar-benar jatuh cinta. Sayangnya, suatu hari King Lee Yoong sendiri yang jatuh cinta. Plot twist dan sebenarnya bisa ditebak. Tapi, romance yang disuguhkan sama sekali tidak menye. Justru aku salut karena drama ini tetap mengusung banyak percek-cokan dua bersaudara sesuai sejarahnya, bukan mendramatisir sejarah demi kisah cinta yang akan diidolakan anak muda.

#2 Forest of Secrets
Korean Drama Forest of Secrets
Foto: YouTube

I'm sure most people will disagree drama ini berada di peringkat ke-2. Tapi, kadang menurutku Forest of Secrets ini malah lebih bagus daripada Defendant. Kekuatan utamanya pada karakterisasi dan aktor yang surprisingly bisa membawakannya dengan sangat apik.

Karakter utama drama ini adalah Hwang Shi-mok (Cho Seung-woo), seorang jaksa yang sangat bersih. Saat kecil, dia pernah menjalani operasi yang cukup serius sehingga dia tumbuh tanpa emosi. Jadi, kadang kita dibuat geregetan karena Shi-mok sangat tidak ekspresif. Akting seperti itu pasti banyak godaannya ya. Big applause untuk Seung-woo!

Meski begitu, semua karakter di sekitar Shi-mok sama sekali tidak boleh diremehkan. Semuanya penting. Saking pentingnya, Forest of Secrets membuat penonton galau. Yang tadinya si A diyakini sebagai pelaku, tiba-tiba si B lebih mencurigakan. Begitu seterusnya. Keren kan? Dengan plot seperti itu, drama produksi tvN tetap dibalut sederhana sehingga kualitas ceritanya semakin terbukti mantap.

#1 Defendant
Korean Drama Defendant

Tentu saja Defendant yang berhak berada di peringkat pertama. If you haven't noticed, cerita detektif, kriminal, dan sejenisnya memang my cup of tea. Selain karena drama ini masuk genre favoritku, permainan karakter adalah salah satu hal yang menarik. Ji Sung berperan sebagai seorang jaksa yang dituduh membunuh istri dan anaknya. Kehilangan ingatan, lagi-lagi Ji Sung harus bermain emosi "ganda". Begitu juga dengan karakter villain Uhm Ki-joon. Dia bahkan harus memerankan saudara kembar yang karakternya cukup berbeda. Drama Korea Defendant ini dijamin tidak membosankan. Yuk, baca review-nya di sini.

Itulah 8 drama Korea terbaik 2017 versiku. Luckily, daftar ini cukup bervariasi. Ada genre romantic comedy, fantasi, crime, bahkan historical drama! So you know drama apa yang menurutku paling recommended dari tiap genre. Kalau ada drama bagus yang aku lewatkan, let me know on the comment ya! Saat ini aku sedang mengikuti Hwayugi, Two Cops, dan Black Knights.



Rekomendasi Lipstik untuk Pemula

Monday, December 18, 2017

Aku dulu anti banget sama yang namanya lipstik. I kinda had a weird thought kalau lipstik bisa meracuni kita dan merusak cita rasa makanan yang masuk ke mulut. Selain itu, lipstik seolah-olah membuat bibirku yang cukup tebal ini semakin tebal ha ha ha. Alhasil, di saat ‘‘kids zaman now’’ berlomba-lomba pakai makeup flawless, apa daya aku baru bisa memakai lipstik.

I know it’s kinda too late. Tapi, aku yakin masih banyak orang di luar sana yang mungkin juga baru mengenal makeup dan baru belajar pakai lipstik. Yah, meski usianya sudah nggak setua aku, but here we go, rekomendasi lipstik buat pemula seperti aku.

Lipstik Revlon
Revlon Super Lustrous Lip Cube
Foto: Jessica Swift

My mom is a huge fan of Revlon! Entah berapa banyak lipstik Revlon-nya yang aku rusakkan saat masih kecil. Apalagi, dulu belum ada liquid lipstick (atau ibuku yang tidak tahu ya?). Well, semua lipstik Revlon milik ibuku berbentuk stick. Aku sering memutarnya sampai panjang, lalu menutupnya sambil ditekan. Selain itu, kadang aku memakai lipstik Revlon untuk menggambar di kaca. Mungkin ibu-ibu banyak yang mengalami ini nih. Maafkan anaknya ya, Bu. Sungguh, kami hanya ingin menuangkan kreativitas yang tak terbatas he he.

Dengan banyak koleksi lipstik Revlon di rumah, tentu saja produk ini yang pertama kali aku coba. Sebagai produk lawas yang berdiri sejak 1932, kualitas lipstik Revlon tidak perlu diragukan. Aku suka sekali dengan teksturnya yang padat, tapi tidak membuat bibirku terasa tebal. Sekali poles, warnanya sudah menutupi bibir. Cocok buat bibir yang agak hitam. Saat ini, aku memakai Revlon Matte Lipstick shade In The Red dan Revlon Colorburst Lipstick shade Raspberry (yang baru saja habis). Yang paling enak, lipstik Revlon ini sangat mudah ditemukan di store Matahari manapun.

Lipstik NYX
NYX Lipstick Liquid Lingerie
Foto: Natures Natural Hair

Setelah lulus SMA, teman-teman banyak yang mengelukan liquid lipstick NYX. Semua pakai brand ini. Aku pun penasaran. Setelah menonton beberapa review di YouTube, aku memutuskan membeli NYX Lingerie Lipstick warna Ruffle Trim (rekomendasi Hanggini P. Retto). Ini pertama kalinya aku pakai liquid lipstick lho! Alhasil, aku agak sulit beradaptasi dengan tekstur lembeknya.

Setelah mengering, lipstik NYX ini sebenarnya oke-oke aja kok. Terasa lembut di bibir dan surprisingly tidak membuat bibirku cepat kering. Aku bahkan tidak perlu memakai pelembab bibir terlebih dulu. Lebih light juga dibandingkan lipstik Revlon. Well, mungkin aku hanya belum terbiasa. Dan aku sering sekali salah pilih warna yang terlalu terang. Apa ada rekomendasi blog atau channel YouTube berisi swatch untuk kulit sawo matang? But still, I bought NYX Matte Lipstick just in case aku tidak cocok dengan liquid lipstick.

Lipstik Wet n Wild
Wet n Wild MegaLast Lip Color
Foto: Jessoshii

Sebelum mencoba lipstik NYX, aku sempat membeli Wet n Wild Velvet Matte Lip Color warna Toffee Frappe dan Hickory Smoked. Bisa dibilang dulu lipstik ini paling sering aku pakai karena padat dan ramping sehingga mudah dibawa. Sayangnya, lipstik Wet n Wild ini harus di-apply berkali-kali sebelum warnanya benar-benar meng-cover seluruh bibir. Alhasil, hanya warna Hickory Smoked yang aku pakai.

Dibandingkan dua lipstik sebelumnya, kualitas Wet n Wild hanya b saja. Kalau cuaca Surabaya sangat panas, lipstik ini bahkan membuat bibir cepat kering. Vaseline Petroleum Jelly pun rasanya tidak mampu menutupi kekurangan itu. But oh well, aku terlanjur jatuh cinta. Meskipun stick, aku tidak perlu memutar kembali sebelum menutupnya. Aku pun tidak malu membawa lipstik kemana-mana karena tampilannya tidak mirip lipstik. Sayang sekali, Hickory Smoked hilang sepulangku dari Thailand. Mungkin tertinggal di hostel. Duh, sedihnya.

Lipstik BLP (By Lizzie Parra)
LIP COAT BY LIZZIE PARRA
Foto: ReeSays

Siapa sih yang tidak kenal Lizzie Parra? Beauty blogger ini bukan ‘‘orang baru’’ di dunia blog dan makeup. Gara-gara interview untuk kebutuhan kerja, aku jadi stalking Lizzie dan mem-follow Instagram-nya. Dari situ aku tahu hype lipstik BLP, produk kecantikan pertamanya. It was so challenging to get one of the lipcoat (yap, ini lipcoat, bukan lipstik). Thankfully, aku berhasil mendapatkan shade Persimmon Pie yang paling banyak diincar.

Teksturnya tebal sekali lho! Like, literally lip coat. Aku tidak terlalu paham dengan tujuan pemilihan lip coat instead of lipstick. Tapi, aku agak risih karena keringnya lama. Well, mungkin aku kurang sabar karena banyak sekali orang yang suka lipstik ini. Aplikasinya cukup mudah. Aku hanya memoleskan sedikit di bagian pinggir bibir bawah dan aku ratakan manually dengan bibirku sendiri. And the result is good! Ibuku paling suka mencampur lipstik BLP dengan lipstik NYX yang matte.

Lipstik Wardah
Wardah matte lip cream
Foto: Nabilaputrik

Nah, ini produk lipstik yang aku coba baru-baru ini. Iya, teman-teman yang dulu suka NYX itu sekarang jadi mengelu-elukan lipstik Wardah. Dilihat dari harganya, lipstik Wardah memang juara! Saat ini aku memakai Wardah Intense Matte Lipstick warna Miss Terracotta. Karena agak terang, aku memakainya tipis-tipis aja.

Thank God lipstik ini tidak membuat bibirku kering (yap, bibirku jenis yang mudah sekali kering). Tapi, aku masih mengaplikasikannya dengan Vaseline Petroleum Jelly agar lebih mantap. Bentuknya juga slim sehingga mudah masuk saku. Sayangnya, desainnya kurang anak muda banget nih. Kurang Instagram-able he he he. Kalau baru pertama kali pakai lipstik, aku menyarankan pakai lipstik Wardah agar tidak terlalu menguras uang saku.

Well, itulah lipstik yang pernah aku coba dan so far I love each one of them. Sekarang aku jadi paham kenapa makeup addict punya banyak sekali koleksi lipstik. Sebab, one is never enough. Kadang mood, cuaca, kondisi bibir, dan acara yang akan kita datangi menentukan lipstik yang akan dipakai.

2018 Resolution: Love Myself More

Sunday, December 17, 2017
Foto: Unsplash

Sejak tahun lalu, aku mencoba membuat resolusi yang masuk akal. I mean, membuat resolusi yang memungkinkan dan sudah ada gambaran langkah apa yang harus diambil. Jangan membuat resolusi pergi ke bulan, tapi proses pengerjaan skripsi aja sama sekali tidak berjalan he he he. Here’s a little recap tentang hasil resolusi 2017-ku:

  • Tulisan dimuat di media lain: Alhamdulillah tulisanku sempat dimuat oleh majalah CosmoGirl Indonesia untuk edisi Januari 2017. Tulisan itu tentang bagaimana rasanya punya pacar populer. Meski hanya satu halaman, aku sangat puas karena profilku di-featured pada halaman kontributor. Penasaran? Baca di sini. Thank you @delfania and @zianuari!
  • Menyelesaikan skripsi: Aku sangat sedih karena goal paling besar malah tidak terpenuhi. Aku bahkan sampai ganti dosen pembimbing dan mengambil cuti kerja selama satu bulan. It means gajiku dipotong cukup banyak, tapi hilal sidang tidak terlihat juga. Yah, meski ada progress sedikit, I hope I could do more.
  • Liburan ke luar negeri: Saat menulis resolusi 2017, aku memang sudah dalam proses persiapan menonton konser Coldplay di Bangkok, Thailand. So of course resolusi ini terpenuhi. Surprisingly, kantor juga mengirimku ke Brisbane, Australia, selama satu minggu penuh! Perjalananku itu pun dalam rangka diundang oleh QUT (Queensland University of Technology) sehingga tidak ada kewajiban menulis berita. Too bad aku tidak membawa kamera dan kurang mengabadikan waktuku di sana. Next time maybe?
  • Semakin produktif blogging: I can’t say this goal is not accomplished. Sebab, dibandingkan tahun sebelumnya, aku menulis empat artikel lebih banyak. Tapi, karena rencana awalnya adalah menulis tiap minggu, so yeah, aku gagal. Meski begitu, Alhamdulillah banyak hal baru yang aku pelajari tentang dunia blogging tahun ini.
  • Hidup sehat lahir dan batin: Masih seperti tahun-tahun sebelumnya, aku selalu K.O saat Zetizen-Con berlangsung. Aku juga masih sering izin tidak masuk kerja karena sakit. But thankfully, akhir-akhir ini aku semakin rajin sholat. Yang biasanya hanya sholat subuh dan (kadang) isya, satu bulan terakhir hanya miss satu.

So, those are the result. Namanya manusia ya hanya bisa berencana. Tuhan yang menentukan. Banyak hal yang tanpa diduga terjadi selama 2017. Kadang ingin marah, tapi toh manusia belajar dari berbuat salah. Kali ini, goal utamaku hanya satu: menjadi pribadi yang lebih baik dengan cara lebih mencintai diri sendiri. Egois itu kadang perlu kok. Goal itu akan kucapai dengan melakukan hal-hal berikut ini:

Bisa Makeup & Rajin Merawat Kulit
As I get older, entah kenapa aku ingin bisa memakai makeup dengan benar. Maksudnya, bisa menggambar alis simetris, bisa contouring, berani menjepit bulu mata dan tahu cara memasang fake eyelashes, terbiasa memakai lipstick... Yah, pokoknya bisa makeup natural dan lebih pede setelahnya.

Aku juga semakin aware dengan kondisi kulitku yang butuh perhatian. Awal masuk kuliah, kulitku mulus tanpa bekas jerawat dan entah noda apa. Sejak bekerja sambilan, kulitku sering bermasalah. Terakhir kali ke dokter spesialis kulit didiagnosa terlalu kering. Tapi, setelah mencoba banyak produk yang hydrating, kok kulit masih bermasalah ya. Should I go to beauty clinic? Is it that necessary?

Sejauh ini aku hanya menerapkan 10 step Korean Skincare setiap malam. Yah, meski tidak benar-benar sepuluh produk, kiblatku ke arah sana. Tapi, aku masih sering lupa atau malas karena pekerjaanku selalu selesai malam hari. Alhasil, sesampainya di rumah aku ingin cepat tidur dan hanya mencuci muka. Tahun depan aku harus bisa konsisten nih!


Ingat Kebutuhan, Tidak ‘‘Gila’’ Brand
Aku pernah menulis tentang bagaimana masyarakat memandang barang branded (baca di sini). And I’m still one of those yang merasa barang branded adalah yang terbaik. Padahal, aku sudah sadar bahwa kadang kita ‘‘dihipnotis’’ brand besar. You name it. Zara, Pull &Bear, Stradivarius, H&M...

Mengikuti pemikiran seperti itu ternyata cukup melelahkan. Apalagi kalau sudah tahu bagaimana sulitnya mencari uang. Setiap gajian, ‘‘Ah, sepertinya lebih berguna kalau untuk ini saja.’’ Aku ingin belajar untuk memilah antara kebutuhan dan keinginan. Aku ingin belajar untuk tidak mempedulikan perkataan orang-orang tentang brand pakaian yang kupakai.

Menabung untuk Jalan-Jalan ke Korea
Sebenarnya, aku sangat ingin jalan-jalan ke Korea Selatan tahun depan. Tapi apa daya, selama skripsi belum terselesaikan, Apa dan Ama tidak akan mengizinkan. Jadi, tahun 2018 aku manfaatkan untuk menabung saja. Menabung itu susah lho. Aku bahkan sudah mengakali dengan membuka rekening baru di bank berbeda. Tapi, selama ATM dan internet banking ada, aku akan kesulitan menabung. Kalau ada yang punya post tentang tips dan trik menabung, boleh ditulis di kolom komentar ya.

Rencananya, aku akan ke Korea Selatan dengan Trip Bareng CK (Claudia Kaunang). Dia adalah penulis buku travelling dan membuka trip dengan mayoritas pesertanya perempuan. Jadi, aku akan merasa lebih aman. Iya, jalan-jalan sendiri memang lebih enak dan fleksibel. Tapi, Korea Selatan itu jauh dan bahasa utamanya bukan Bahasa Inggris. Aku prefer ke sana pertama kali dengan travel.


Sidang Skripsi dan Wisuda!
Oh, come on, Ratri. Seharusnya urusan ini bisa selesai tahun ini. Procrastination is killing me. Semakin banyak teman yang bekerja di luar kota. Sedangkan aku masih di sini-sini aja. Setiap ditanya, ‘‘Apa sih masalahnya?’’ Nothing. Seriously. Aku sangat aware kalau skripsiku itu, yah, lebih complicated dari yang lain, tapi sebenarnya aku bisa mengerjakan kok.

Tapi, keinginan memulainya itu lho yang sulit. Setiap membuka laptop untuk mengerjakan skripsi, aku akan mudah ter-distract mengerjakan yang lain. Entah itu blog, pekerjaan, atau bahkan streaming drama Korea. Apa aku harus meninggalkan semua gadget dan menulis manual? Aku mentargetkan wisuda Maret atau maksimal Juli! Bismillah. Kalau lebih dari itu, I don’t know what to say to Ama. Beliau bahkan sudah pernah mengancam tidak akan datang ke wisudaku kalau molor terus. HELP!

Finding ‘‘The One’’
Sorry kalau tahun ini ada resolusi yang agak cheesy. Tapi, aku benar-benar ingin segera menemukan jodohku. Dulu sih aku masih merasa sendirian lebih enak. Toh selama ini memang dituntut mandiri and I’m fine and I’m happy. Oleh karena itu, resolusi ini mungkin untuk jangka panjang karena... Well, who knows? I just broke up with someone dan rasanya masih belum bisa move on seutuhnya.


Hubungan itu membuatku sadar betapa pentingnya kita menemukan seseorang yang willing to support us fully. Hubungan itu membuatku sadar seperti apa emotional abuse in relationship. Hubungan itu juga mengajarkanku untuk tidak tergesa-gesa, khususnya dalam hal memberi kepercayaan. Dan, oh, aku juga jadi tahu how it feels like to date a narcissist seperti yang ditulis seseorang dalam surat terbuka untuk Walikota Bandung.

Tidak Sering Sakit Lagi
Setiap tahun, mungkin dua bulan sekali aku ‘‘tumbang’’. Yah, tidak selalu lama sih. Biasanya sampai izin tidak masuk kantor 3–7 hari. Belum lagi saat pekerjaan semakin intense setiap November. Pada bulan itu, aku harus pindah kantor ke SSCC Supermall Pakuwon untuk acara Zetizen Convention. Berlangsung selama 10 hari, selama itu pula aku harus bekerja di sana mulai pukul 11.00 sampai 12.00 malam atau bahkan lebih!

Mungkin aku adalah kru yang paling sering ‘‘tumbang’’ setiap acara berlangsung. Bagaimana tidak, venue acara itu luas lho. Tanpa terasa, tiap malam kaki terasa pegal. Selain itu, aku harus bekendara dengan sepeda motor, memakai jaket ala kadarnya, dan menerjang ganasnya angin malam. Ah, bayangkan saja.

Oleh karena itu, tahun depan aku harus rajin minum vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan. Dear, Ratri. Kalau sakit jangan lama-lama. Sungkan lho sama teman kerja yang lain karena terlalu sering membolos. Akhirnya, aku mulai mengkonsumsi Theragran-M, vitamin untuk mengembalikan daya tahan tubuh setelah sakit.

*Selalu bawa di dalam tas

And it works! Beberapa hari terakhir aku nekat menerjang hujan deras. Bahkan, aku pernah ganti jas hujan karena air hujan tembus saking derasnya. Alhamdulillah aku masih sehat. Dulu, si mantan sering mengingatkan minum vitamin. Tapi, aku belum menemukan yang cocok. Setelah putus, eh, malah rajin minum vitamin. Tuhan memang selalu mengganti dengan yang lebih baik ya he he.

Theragran-M mengandung multivitamin (Vit A, Vit B, Vit C, Vit D, Vit E) dan mineral esensial (seperti magnesium dan zinc). Kandungan itu berfungsi untuk meningkatkan, mengembalikan, dan menjaga daya tahan tubuh, serta mempercepat proses penyembuhan. Tuh, cocok buat tubuh lemah dan banyak aktivitas sepertiku. Theragran-M mudah ditemukan di apotek terdekat kok. Harganya Rp 20.000. Cukup minum satu kaplet dalam sehari setelah makan.

So, bagaimana resolusi 2018-mu? Bagiku sih resolusi tidak harus banyak dan muluk-muluk. Intinya, tahun depan kita harus hidup lebih baik, lebih sehat, lebih bahagia. Tidak ada yang tidak mungkin sebelum kita mencobanya. May the odd be ever in your favor!


Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M.

Belanja Tanpa Nyampah, Harus Bisa!

Friday, December 8, 2017
Foto: Inhabitat

Sampah, sampah, sampah. Masalah ini terus digaungkan, tapi seolah-olah masyarakat memilih untuk tidak peduli. Khususnya sampah plastik. Bahkan, menurut data milik Profesor Jenna Jambeck dari Teknik Lingkungan Universitas Georgia, Amerika Serikat, Indonesia adalah negara kedua penyumbang sampah plastik terbesar di dunia setelah Tiongkok (Media Indonesia). Wow! Setiap tahun, ternyata Indonesia menghasilkan 65,8 juta ton sampah. Sedih sekali kan?

Well, aku memang bukan aktivis lingkungan. Aku bukan pula seorang influencer yang tingkah lakunya ditiru orang banyak. Tapi untuk hal ini, aku akan tetap mencoba spreading the words betapa Indonesia krisis sampah. Coba diingat-ingat, berapa lama mata kita bebas dari sampah berserakan atau sampah yang dibuang sembarangan? For me, not even a day.

Oleh karena itu, aku sangat tertarik saat mendapat undangan dari Unilever dan Hypermart untuk mendiskusikan tentang Belanja Tanpa Nyampah: Pilah Sampah Itu Mudah. Apakah bisa kita belanja tanpa menghasilkan sampah? Sebenarnya, pemerintah sudah melakukan berbagai cara untuk mengatasi hal ini. Salah satunya dengan aturan pembeli harus membayar Rp 200 untuk kantong plastik. Does it work effectively? I must admit: NO. Buktinya, supermarket di kantorku tidak pernah membebani biaya tambahan untuk kantong plastik yang aku minta. Mungkin cara ini akan lebih efektif kalau harga kantong plastik menjadi Rp 20.000. What do you think?

Nah, kali ini Unilever Indonesia dan Hypermart menawarkan solusi baru. Yaitu, dropbox sampah yang diletakkan di beberapa Hypermart Pakuwon Surabaya, Hypermart Lippo Plaza Sidoarjo, dan Hypermart East Coast Surabaya. Meski masih beberapa, solusi ini patut diapresiasi. Sebab, sebagai salah satu ritel terbesar di Indonesia, Hypermart memang "menjual" banyak calon sampah dan konsumennya adalah orang-orang yang wajib diedukasi tentang cara mengelola sampah dengan tepat.


Mayoritas sampah yang dihasilkan jelas sampah plastik. Oleh karena itu, dropbox sampah ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu paper & carton, plastic bottle, dan pouch & sachet. Semua sampah yang dimasukkan ke dalam dropbox ini pasti didaur ulang kok.

Tapi, yang paling menarik adalah adanya teknologi daur ulang sachet and pouch untuk menjadi kemasan sachet dan pouch baru. Teknologi itu ada di pabrik CreaSolv, pabrik daur ulang sampah kemasan plastik yang dimiliki Unilever di Sidoarjo. Somehow I feel at ease saat tahu sachet dan pouch bisa didaur ulang menjadi bentuk yang sama. At least kedua benda itu tidak akan menciptakan sampah karena siklusnya akan terus sama (hopefully).

Sedangkan jenis sampah plastik yang lain akan menjadi seperti ini:


Yang aku sayangkan dari program ini adalah penempatan dropbox yang kurang banyak. Well, kalau di tiga tempat itu berhasil, Corporate Communications Director & Corporate Secretary PT. Matahari Putra Prima Tbk. Danny Konjongian berharap bisa menyediakan dropbox sampah lebih banyak lagi. Dia pun berharap program ini ditiru oleh ritel-ritel lain. Kalau aku sih berharap dropbox sampah ini diikutkan dalam program pemerintah dan ditempatkan di tiap RT atau RW. Pasti awareness-nya akan lebih besar karena tidak semua masyarakat Surabaya membeli keperluan rumah tangga di supermarket. But still, this is a good idea.

If you do care about our environment, please jangan ragu untuk membawa sampah plastikmu ke PTC, Lippo Plaza, ataupun East Coast. Sebelum hangout atau shopping, drop them on the dropbox. Bakal ada reward dari Hypermart lho! Tapi, aku berharap kita mengumpulkan sampah di dropbox karena kesadaran, bukan iming-iming hadiah semata.

Untuk pertama kalinya bertemu blogger Surabaya lain, Anggraeni Septi dan Florensi Mellia

Review: Because This is My First Life - Drama Korea

Friday, December 1, 2017
Because This is My First Life
Foto: Viki

PERINGATAN: JANGAN DITONTON KALAU MENCARI OPPA GANTENG

Ingin sekali tulisan itu aku tempel di setiap provider streaming drama Korea. Sebab, cukup banyak orang yang terburu-buru men-judge drama Because This is My First Life ini jelek karena pemainnya, khususnya lead male-nya, zonk. Oke, aku rasa it's a little bit harsh. It's okay kalau tidak suka karena tidak kenal pemainnya. Tapi, tolong dikurangi lah men-judge berdasarkan fisik.

So, Because This is My First Life ini adalah drama Korea garapan sutradara Park Joon-hwa dan penulis Yoon Nan-joong. Biasanya sih yang paling diperhitungkan penulis skripnya ya? Tapi, aku belum pernah menonton karya penulis Nan-joong. Sedangkan drama sutradara Joon-hwa yang pernah aku tonton adalah Bring It On, Ghost (tvN) yang saat ini ditayangkan di TV kabel.

Drama Korea dengan jumlah episode 16 ini bercerita tentang tiga kisah cinta orang dewasa. Meski bukan drama anak sekolah, ceritanya tidak terlalu tua kok. Here are those three stories:

Korean Drama - Because This is My First Life
Foto: tofuCube

1st Couple: Yoon Ji-ho & Nam Se-hee
Pintar, tapi nekat dan kekeuh menjadi penulis drama, Ji-ho (Jung So-min) akhirnya hidup pas-pasan. Dia terpaksa keluar dari studio yang dia bayar karena sang adik tiba-tiba membawa cewek yang dihamilinya. Besar di keluarga patriarki, Ji-ho pun harus mengalah.

Se-hee (Lee Min-ki) dikenal sebagai orang super kaku. Bagi dia, hal paling penting dalam hidup adalah rumah, pekerjaan, dan kucing. Dia hidup emotionless. Butuh bantuan untuk menyicil apartemen, dia mencari housemate. Dari situlah dia bertemu Ji-ho.

Berawal dari kesalahpahaman, mereka berdua akhirnya menikah. Ini bukan spoiler ya. Sebab, nanti kalian pasti juga bisa menebak dengan mudah kemana arah pertemuan Ji-ho dan Se-hee.

2nd Couple: Woo Soo-ji & Ma Sang-goo
Soo-ji (Esom) digambarkan sebagai wanita masa kini. Dia berani, tangguh, dan open minded. Bahkan, saking open minded-nya, dia jadi bahan omongan rekan-rekan kantor yang mayoritas cowok karena dia tidak pakai bra. Iya, dia ini perwakilan anak muda yang gaya hidupnya kebarat-baratan dan kadang lupa dengan budaya negaranya.

Di sisi lain, Sang-goo (Park Byung-eun) adalah cowok yang super romantis. Berbeda dengan Soo-ji, dia justru mementingkan hati. Meski begitu, dia tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada Soo-ji. Tapi, Sang-goo selalu menasehati dengan bijaksana setiap cewek keras kepala itu punya masalah.

3rd Couple: Yang Ho-rang & Sim Won-seok
Pacaran selama tujuh tahun dan tinggal satu studio, apa sih ekspektasi orang yang melihat? Of course menikah! Ho-rang (Kim Ga-eun), Soo-ji, dan Ji-ho sudah berteman sejak SMA. Di saat yang lain punya cita-cita menjadi sesuatu, Ho-rang hanya ingin m-e-n-i-k-a-h. Yap, dia tipikal cewek yang sesuai stereotype masyarakat. Dia agak manja, feminin, dan rela berhenti kerja demi rumah tangga.

Sayangnya, start-up Won-seok (Kim Min-suk) tidak kunjung sukses. Sampai akhirnya dia pindah ke start-up Sang-goo agar penghasilannya stabil dan bisa segera menikahi Ho-rang. Tapi, setelah dilamar, hubungan mereka justru makin kacau. Ho-rang berharap segera menikah, sedangkan Won-seok lama-lama kehilangan purpose karena terlalu banyak mengalah.

Because This is My First Life
Foto: Pinterest

Awalnya, aku menonton Because This is My First Life tanpa direncanakan. Well, aku tidak familiar dengan Lee Min-ki dan aku hanya tahu Jung So-min dari Playful Kiss (MBC) yang diputar di TV. Tapi, karena tidak ada drama lain yang bagus (The Package, Revolutionary Love, Black, Witch's Court, 20th Century Boy and Girl serta While You Were Sleeping dan The Temperature of Love yang semakin membosankan), aku akhirnya mencoba menontonnya.

Alur ceritanya memang terkesan sangat lambat. Tapi, entah kenapa, aku sama sekali tidak bosan! Yah, rasanya hampir sama seperti saat menonton Cheese in the Trap (tvN). Keduanya terasa slow, emotionless, tapi membuat ketagihan. Hal inilah yang membuat penonton "pemburu" oppa ganteng mudah berpaling. Sebab, memang tidak ada oppa ganteng yang bisa mereka nikmati lama-lama.

Bagiku, Because This is My First Life ini sudah merangkum lifestyle anak muda zaman sekarang. Ho-rang menggambarkan mereka yang hidupnya sesuai tuntutan masyarakat. Urutannya seperti ini: sekolah, kerja, menikah, dan punya anak. Sedangkan Soo-ji menggambarkan mereka yang mengutamakan karir dan pendidikan. Bagi orang-orang seperti Soo-ji, jodoh tidak akan kemana. Bahkan tidak menikah pun tidak apa-apa asalkan bisa mencukupi orang tua.

Nah, uniknya, kisah Ji-ho mengingatkanku pada taaruf! Sebab, dia dan Se-hee memutuskan menikah bukan karena cinta, melainkan karena benefit yang didapat. Ji-ho butuh tempat tinggal murah. Sedangkan Se-hee butuh tambahan uang untuk mencicil apartemen dan memberi makan kucingnya. Seiring waktu, bunga-bunga cinta mulai bersemi di antara mereka. Mirip taaruf kan?

Foto: 퍼블릭에프알

Meski begitu, drama ini tetap dalam koridor menyenangkan kok. Banyak jokes yang dilemparkan berkat wajah datar Se-hee dan pikirannya yang super aneh. Sang-goo yang merupakan sahabat Se-hee sekaligus CEO start-up yang dikerjakan Se-hee mengambil andil cukup banyak dalam hal ini. Begitu juga dengan teman-teman di kantornya. Kalau semua orang serius seperti lead male itu, mungkin drama ini benar-benar akan zonk.

Meski cinta adalah kisah utama yang diangkat, drama garapan tvN ini sama sekali tidak menye atau receh. Semuanya pas. Tapi hati-hati! Sekalinya ada adegan haru, kita bisa menangis sesenggukan. I swear. Khususnya saat Ji-ho dan Se-hee akan menikah. Adegan apa itu? Find out yourself!

By the way, seolah tahu apa kekurangan drama ini, sang sutradara menggandeng aktor muda Kim Min-kyu. Harus aku akui kalau dia imut dan entah kenapa terlihat "bersinar" saat bermain dalam drama ini. Ternyata, dia pernah bermain dalam Who Are You: School 2015. Well, here's your oppa!

Kim Min-kyu Because This is My First Life
Foto: imbc

4 Alasan Harus Belanja di ADA Store Grand City Surabaya

Friday, October 27, 2017
Tadi siang, aku dan temanku mampir ke grand opening ada Store di Grand City, Surabaya. Thanks to Yuniari Nukti yang mengundangku beberapa hari lalu, akhirnya aku punya pengalaman datang ke sebuah acara as a blogger. Yah, meskipun dulu cukup sering meliput acara seperti ini, ternyata tadi malam aku cukup grogi. Untungnya, sesampai di lokasi, aku terhibur dengan koleksi baju ada Store. Maklum, aku memang doyan belanja baju he he he. Apalagi ada program gratis baju tanpa bayar.


Too bad, kami kurang beruntung. Tapi, ketidakberuntungan kami membuatku memperhatikan kenapa ada Store patut dijadikan tujuan belanja warga Surabaya. Here are whys:

Lokasi Strategis Banget!
Lama-lama sepertinya Surabaya akan mendapat julukan baru: Kota Sejuta Mall. Di setiap wilayah pasti ada. Paling ujung timur ada Pakuwon City (East Coast) dan bahkan di Surabaya barat ada dua mall bertetangga, PTC dan Lenmarc! Wah, kurang kenyang apa? Tapi, mall paling startegis ya Grand City. Lokasinya tepat di tengah kota. Dekat stasiun, komplek sekolah, kampus, dan gedung pemerintahan. Oleh karena itu, acara-acara besar pun berlangsung di sini. Sebut saja Jatim Fair dan pameran otomotif GIIAS. Jadi, meski rumahmu di pinggiran, you'll have a reason to come here dan sekaligus belanja di ada Store.

Desain Interior yang Kekinian
Waktu pertama masuk, yang terbersit di kepalaku adalah: "Wah, Instagram-able nih." Bagi yang gampang bosan sepertiku sih desain interior itu mempengaruhi kenyamanan belanja. Belum lagi kalau penjaga tokonya menempel seperti perangko, Aduh, bawaannya pengin cepet keluar. Thanks God hal itu tidak terjadi di ada Store. Semoga bukan karena grand opening aja yaa...

Eh, ternyata Artha Retail Indo Perkasa memang sengaja membuat suasana ada Store di Grand City lantai 2, unit 30-32 (tepat di atas Miniso), ini cozy, comfortable, dan homey. For that purpose, you did it!


Harga Dijamin Terjangkau
Bisa dibilang Grand City (GC) adalah salah satu mall yang didominasi masyarakat kalangan menengah ke atas. Hal ini pun membuat GC identik dengan barang-barang mahal. Tapi, hal itu tidak berlaku lagi. Sebab, harga-harga baju di ada Store cukup terjangkau. Range harganya sekitar Rp 69 ribu sampai Rp 350 ribu saja! Bagi anak sekolah dan mahasiswa, harga ini dijamin tidak akan membuat dompet cepat kering.

Koleksi Lengkap & Fashionable
FYI, ada Store juga punya koleksi untuk cowok. Yah, space-nya memang lebih sempit dibandingkan space cewek sih. Tapi, menurutku koleksinya sudah cukup banyak dan penataannya enak sehingga space kecil itu bisa memuat banyak koleksi. Kalau koleksi cewek, puas-puasin belanja deh. Mulai dari t-shirt, blouse, berbagai jenis bottoms, sampai jumpsuit pun ada! Sesuai namanya nih, ada, serba ada he he he.

Tapi, yang paling penting adalah koleksinya up to date. Misalnya, floral short pants dan floral tops seperti yang pernah dipakai Nabila Gardena ada di sana. Koleksinya pun sesuai season saat ini. Aduh, aku paling suka fall season. Silahkan memborong knitwear deh sebelum hujan deras melanda Surabaya (amin!).

*Thanks, Mirtha!

So, tertarik belanja di ada Store? Dengar-dengar sih koleksinya produksi dalam negeri which is another reason why we should shop here. ada Store juga buka di Tunjungan Plaza Surabaya dan Marvell City Mall Surabaya. Happy shopping, fashionista Surabaya!

Cara Mencegah Buku Menguning

Tuesday, October 24, 2017
Foto: Bruce Dixon

Weekend kemarin akhirnya aku punya waktu luang dan niat yang cukup untuk menata ulang koleksi bukuku. Yah, meski akhirnya tetap belum bisa berjajar rapi di rak buku, at least mereka tidak menumpuk penuh debu di sudut kamarku. Satu demi satu aku catat just in case ada yang terlewat. Dan benar saja, beberapa buku yang dipinjam sejak zaman dulu belum dikembalikan! Ah, sedihnya. Tapi yang paling menyedihkan adalah halaman-halaman buku kesayangan yang mulai memperlihatkan bercak kekuningan. Oh, God. I do love old books, but I hate to see the process.

Kenapa buku menguning?
Bahan dasar pembuatan kertas adalah kayu. Sayangnya, meski lebih murah ternyata bahan dasar ini lebih mudah bereaksi dengan oksigen dan cahaya matahari. Kayu mengandung dua zat polimer utama, yaitu selulosa dan lignin. Secara teknis, selulosa ini colorless dan sangat mudah menyerap cahaya sehingga membuatnya buram. Oksidasi selulosalah yang membuat kertas jadi terlihat dull, rapuh, dan less white. Tapi, bukan ini penyebab kertas menguning.

Zat lain dalam kayu adalah lignin yang paling banyak terkandung dalam kertas koran. Bisa dibilang lignin adalah "glue" bagi kayu. Dia berfungsi untuk menguatkan dan mengeraskan kayu. Berbeda dengan selulosa, warna zat ini lebih gelap seperti paper bag cokelat atau kardus Indomie. Tapi, oksidasi lignin lebih tinggi. Oksigen mengubah struktur molekul lignin sehingga warnanya berubah menjadi yellow-brown.

Nah, kertas koran yang biaya produksinya lebih murah mengandung lebih banyak lignin. Sehingga, kertas koran lebih mudah menguning. Sedangkan kertas buku banyak yang di-bleeching sehingga kandungan ligninnya berkurang. Oleh karena itu, saat ini banyak dokumen penting yang ditulis pada kertas acid-free dengan kandungan lignin yang sangat terbatas.

Foto: Sonoma Valley Museum of Art

Cara Mencegah Buku Menguning

  1. Jauhkan dari paparan sinar matahari secara langsung. Ternyata, hal ini yang membuat bukuku menguning di bagian pinggir. Tanpa aku sadari, pada siang hari sudut kamarku tersorot sinar matahari meski jendela tertutup.
  2. Sampul semua buku! I don't know if this really help, tapi ternyata sinar UV bisa membuat cover buku memudar dan (sepertinya) cepat rapuh. Beberapa buku lamaku yang lupa disampul sudah menunjukkan tanda-tandanya.
  3. Jangan ditaruh di tempat lembab. Beberapa orang mungkin ada yang menyimpan koleksi buku lama di gudang atau langit-langit kamar. Biasanya ini juga dilakukan orang yang pernah pindah rumah dan belum sempat unpacking. Padahal, high humidity bisa merusak kertas. Begitu juga dengan low humidity yang membuat kertas kering, menguning, dan rapuh. So, lebih baik letakkan buku di udara normal saja.
  4. Beri jeda "bernapas"! Meski diletakkan berdiri (posisi yang paling direkomendasikan agar tidak merusak jilid buku), berilah sedikit jarak (kira-kira 3cm) dari dinding atau bagian belakang rak agar sirkulasi udara lancar.
  5. Bungkus dengan plastik wrap atau plastik klip. Oke, bagiku ini agak ekstrim sih. Sebab, kadang aku masih ingin membaca koleksi lamaku. Jadi, cara ini jelas tidak akan aku praktekkan dalam waktu dekat. Tapi, bagi kolektor sih silahkan dicoba.

Untungnya, aku adalah tipe pembaca yang lebih suka meminjam atau membeli e-book terlebih dulu. Kalau bagus dan worth untuk dikoleksi, baru aku membeli versi cetaknya. Maklum, aku ini tipe pembaca yang judge the book by its cover tanpa membaca sinopsis maupun review. Jadi, yaaa...sering ketipu. Oleh karena itu, banyak koleksi bukuku yang masih tersegel sehingga aman dari bercak-bercak kuning.