Rekomendasi Hotel Murah di Nusa Dua Bali

Monday, September 3, 2018
Mahogany Boutique Hotel Rekomendasi Hotel Nusa Dua Bali
 Foto: Traveloka
‘‘Bulan ini masih bisa cuti?’’ tanya Bapak pagi ini.
‘‘Kenapa?’’
‘‘Yuk, liburan ke Bali,’’ jawabnya.
Entah kenapa akhir-akhir ini si bapak pengen banget liburan ke Bali. Selain mengunjungi rumah baru kakak di Denpasar, sepertinya beliau iri April lalu aku dan ibu liburan berdua ke sana. Nah, rencananya kami ingin explore Nusa Dua dan mencoba hotel-hotel di sana (yap, keluargaku suka sekali pindah-pindah hotel demi mencari tahu mana hotel terbaik).

Setelah mengubek-ubek hotel Traveloka, aku memutuskan ada lima hotel paling recommended yang wajib aku coba tiap liburan ke Nusa Dua, Bali. Harga menginap semalam di hotel-hotel berikut ini nggak lebih dari Rp 500 ribu kok dan pastinya ada kolam renang yang mana jadi fasilitas favorit orangtuaku. Let’s check this out!

Avisara Villa and Guesthouse
Avisara Villa and Guesthouse Hotel Murah Nusa Dua Bali
Foto: Traveloka

Terletak di dekat Puja Mandala dan Veteran’s Monument, guesthouse ini terbilang sangat murah. Harga per malamnya hanya sekitar Rp 350 ribu dan Rp 400 ribu untuk kamar pool view dengan sarapan. Yang aku suka dari Avisara Villa and Guesthouse ini adalah suasananya yang asri menentramkan hati. Kolam renangnya pun cukup luas dan bersih. Most recommended kalau nggak datang saat peak season sih.

Imah Kita Homestay
Imah Kita Homestay Hotel Murah Nusa Dua Bali
Foto: Traveloka

Hampir mirip dengan Avisara Villa. Imah Kita Homestay didesain seperti rumah sendiri. Space taman yang cukup banyak dan luas bikin homestay ini cocok buat menginap dengan keluarga besar. Sebenarnya, harga satu kamar Imah Kita Homestay sekitar Rp 500 ribu-an. Tapi, selalu ada diskon dong di Traveloka sehingga rate per kamar hanya Rp 400 ribu! Oh iya, homestay ini berjarak tiga kilometer dari GWK (Garuda Wisnu Kencana) lho. Siapa yang belum ke sana?

The Lerina Hotel Nusa Dua
The Lerina Hotel Nusa Dua Hotel Murah Nusa Dua Bali
Foto: Traveloka

Mewah! Itu first impression-ku dari hotel ini. But don’t worry, harga per malamnya nggak sampai Rp 500 ribu kok. Yang paling aku suka dari The Lerina Hotel Nusa Dua adalah lokasinya yang berada di Jalan Bypass Ngurah Rai. Gampang dicari, cuy! Dibanding tempat-tempat sebelumnya, kolam renang di sini lebih luas dan sepertinya ada area untuk anak-anak. And I really love its outdoor restaurant. Waktu sarapan, bisa sambil menghirup udara segar. Ah, jadi nggak sabar!

Mahogany Hotel
Mahogany Hotel Bar Cafe and Lounge Hotel Murah Nusa Dua Bali
Foto: Traveloka

Hotel yang satu ini juga nggak jauh dari Bypass Ngurah Rai. Dengan desain interior mewah minimal, rasanya aku nggak bakal bisa berhenti berburu foto Instagram-able deh he he. Kolam renangnya cukup simpel, tapi tetap bikin geregetan pengen nyebur. Kalau menginap di Mahogany Hotel, jangan lupa foto-foto di area rooftop-nya ya. Mirip café hotel hits di Malang itu lho. Cantik banget pemandangannya!

Langon Bali Resort
Langon Bali Resort Hotel Murah Nusa Dua Bali
Foto: Traveloka

Pengen renang sambil lihat pemandangan alam? Coba menginap di sini deh! I really love the pool meski kelihatannya dingin banget dan berharap mereka pakai air panas aja ha ha. Hotel ini paling banyak direkomendasikan gara-gara pemandangannya sih. Suasananya juga cukup sepi sehingga cocok buat yang nggak suka keramaian. Harga kamar per malamnya cuma Rp 470 ribu dan tinggal tambah Rp 100 ribu buat kamar dengan pool view. Favorit deh!

Nah, when the time comes aku bakal booking salah satu hotel di atas lewat Traveloka. Yap, harga hotel-hotel tersebut bisa lebih dari Rp 500 ribu per malam di luar Traveloka. As always, Traveloka gives you the best deal. Mulai dari hostel, guesthouse, hotel, dan bahkan apartemen pun ada di sana!

  

Yang aku suka dari fitur aplikasi Traveloka adalah cheapest dates to stay. Jadi, tanggal yang dilingkari warna hijau adalah harga termurah dari hotel-hotel di Nusa Dua, Bali. Hal ini membantu banget buat menentukan tanggal liburan. And please see the latest picture, superior room di The Lerina Hotel Nusa Dua diskon lebih dari 50 persen! Beda dengan aplikasi booking hotel lain, harga yang tertera di Traveloka sudah termasuk pajak dan bisa bayar tanpa kartu kredit. Itu sih keunggulan yang bikin aku akhirnya selalu booking hotel di Traveloka.

Well, hotel mana nih yang bikin pengen liburan ke Nusa Dua? My mom would go to Langon Bali Resort. Tapi, si bapak lebih suka suasana homey seperti Avisara Villa and Guesthouse. Sedangkan aku lebih suka Mahogany Hotel buat foto-foto he he. Let’s see keinginan siapa yang bakal terwujud nanti ya.

Movie Review: Pacific Rim Uprising Mengecewakan

Friday, March 23, 2018
Foto: WallpaperSite

PACIFIC RIM: UPRISING adalah salah satu film yang paling aku tunggu tahun ini. Sebab, aku merupakan fans film pertamanya, Pacific Rim, yang dirilis lima tahun lalu. It was cool, emotional, and awesome. Pemain utamanya ganteng pula (faktor ini tetap diperhitungkan ya he he). Sayangnya, penantianku seperti nggak terbayar. Sia-sia lah aku menonton di hari pertama penayangan Pacific Rim: Uprising di Indonesia. Why? Keep on reading!


Important Characters
  • Jake Pantecost (John Boyega): Putra Stacker Pantecost, ranger yang mengorbankan dirinya untuk menutup Breach pada film pertama. Hidup dalam bayang-bayang sang ayah yang dianggap pahlawan dunia, Jake justru memilih menjadi pemburu suku cadang jaeger ilegal.
  • Amara Namani (Cailee Spaeny): Seorang anak yatim yang kehilangan keluarganya karena serangan kaiju. Percaya bahwa suatu hari kaiju akan menyerang lagi, dia mengumpulkan rongsokan jaeger untuk membuat jaeger mini baru bernama Scrapper.
  • Liwen Shao (Tian Jing): Pengusaha ambisius di balik Shao Industries. Dia membuat jaeger baru yang dilengkapi drone untuk dikendalikan jarak jauh. Dr Newton Geiszler (Charlie Day) alias Newt, researcher berjasa di film pertama, menjadi penasehatnya.
***********

Setelah ketahuan mencuri suku cadang jaeger dan menjalankannya secara ilegal, Jake dan Amara dibawa ke Pan Pacific Defense Corps (PPDC) di Hong Kong. Jake kembali menjadi ranger (pilot jaeger) sedangkan Amara menjadi kadet (calon pilot jaeger). Di sana, Jake bertemu Nate Lambert (Scott Eastwood), mantan co-pilot-nya sekaligus teman satu tim saat masa training. Meski kurang akur, mereka akhirnya tetap menjalankan jaeger yang sama, Gipsy Avenger.

Pada suatu hari di Sydney, Australia, sebuah jaeger tak bertuan menyerang. Sejak itu keadaan semakin chaos. Drone milik Liwen yang akhirnya disetujui untuk disebar ke seluruh dunia menjadi senjata makan tuan. Yap, drone itu berisi kaiju! Bagaimana bisa kaiju berkembang sebanyak itu padahal Breach (jalur di dasar laut yang menghubungkan dunia manusia dan kaiju) sudah ditutup?

Foto: Comingsoon

Dilihat dari segi cerita, bagiku Pacific Rim: Uprising ini biasa saja. Nggak ada yang spesial. Nggak ada yang membuatku ingin merekomendasikannya. Sutradara Steven S. DeKnight terkesan hanya ingin menyuguhkan pertarungan jaeger dan kaiju. Katanya ‘‘bigger is better’’. Oleh karena itu, kaiju-nya lebih besar dan jaeger yang menyerang lebih banyak.

Ya kali. Aku tuh suka Pacific Rim karena film tersebut nggak sekedar tentang adu jotos melawan monsternya Ultraman. Sutradara Guillermo del Toro banyak menyuguhkan hal-hal emosional. Mulai dari Stacker yang super protektif terhadap Mako Mori (Rinko Kikuchi), Raleigh Becket (Charlie Hunnam) yang ikut merasakan ketakutan kakaknya, Yancy, saat diserang kaiju, sampai hubungan ayah dan anak antara Herc dan Chuck Hansen.

Sungguh disayangkan. Pacific Rim: Uprising sebenarnya bisa membahas lebih dalam kenapa Jake terbebani dengan nama sang ayah. Scene emosional antara dia dan Mako, kakak angkatnya, pun terasa ala kadarnya. Yap, Mako hadir lagi di film ini dengan jabatan cukup tinggi di PPDC. Apparently, dia hanya berfungsi sebagai pengirim clue lokasi jaeger tak bertuan. Sedih.

Benar-benar nggak ada pesan moralnya nih? Ada. Pacific Rim: Uprising lebih menekankan pada ‘‘berbeda itu nggak masalah’’. Buktinya, pemilihan John Boyega sebagai tokoh utama menunjukkan kalau film ini ingin seperti Black Panther, dipuja karena menampilkan aksi heroik karakter kulit hitam. Selain itu, Amara juga diceritakan berbeda dari kadet lain karena dia ‘‘dipungut’’ dari tempat kumuh. It’s good tho. Tapi kok pesannya nggak sampai ke hati ya?

Ternyata bukan hanya aku yang kecewa dengan film berdurasi 100 menit ini.
Perlu digaris bawahi: ‘‘lacked of heart”. Aku bahkan menonton ulang Pacific Rim sebelum menulis review ini hanya untuk memastikan.

Well, aku nggak mau mengomentari CGI-nya sih. Selama itu nggak terlalu kentara dan mengganggu my experience in watching the movie, bagiku masih bisa ditoleransi (dasarnya memang nggak terlalu paham dan memperhatikan he he). And yes, no more sequels please!!!

Hal lain yang membuatku cukup kecewa dengan Pacific Rim: Uprising adalah absennya my beloved Raleigh. Aku paham kok kalau film kedua ini sudah beda generasi. Tapi, bisakah dia muncul meski hanya menjadi Marshall seperti Stacker? Kok malah semua serba orang Asia ya? "Ah, mungkin DeKnight benar-benar ingin menonjolkan diversity," pikirku. But still...


Aku cukup excited saat melihat karakter Newt dan partner research-nya, Herman Gottlieb (Burn Gorman), ada lagi. Aku sangat mengharapkan aksi eksentrik dan love-hate relationship di antara mereka yang entertaining itu. Eh, kok malah kerja sendiri-sendiri. Kecewa lagi deh. Bahkan, mereka nggak lucu lagi! Can we just forget this movie and ask del Toro to do it?

Anehnya lagi, John Boyega kan sudah punya nama besar since he is well-known for playing Finn di film Star Wars. Lalu, kenapa harus ada Scott Eastwood yang karakternya sangat kurang greget sehingga terkesan hanya untuk ‘‘sokongan’’ nama dan penampilan? Sebagai co-pilot sekaligus ranger yang melatih tim kadet yang sama, hubungannya dengan Jake sebenarnya bisa dikemas lebih emosional. ...or at least bikin penonton rooting for their bromance. Lha ini, nggak sama sekali. Dear, Steven S. DeKnight, apakah anda kurang yakin Boyega bisa mengangkat Pacific Rim: Uprising?

Ah, kenapa tulisan ini jadi panjang ya ha ha. Pokoknya, bagi yang menanti film ini karena suka dengan Pacific Rim (2013), siap-siap dikecewakan. Silahkan menonton, tapi sebaiknya menunggu Ready Player One yang akan rilis di Indonesia minggu depan (28 Maret 2018). Buat yang penasaran dan mungkin penikmat film Transformer, film ini bakal menghibur kok. Tapi ingat, jangan berekspektasi terlalu tinggi!

Book Review: Resign by Almira Bastari (Metropop)

Wednesday, February 21, 2018

RESIGN
Penulis: Almira Bastari | Editor: Claudia Von Nasution
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 29 Januari 2018| Tebal: 288 halaman
Harga: Rp 44.250 (Google Play Book) | Rating: 3,5/5 stars

OH MY GOD! Buku ini benar-benar bikin baper dan membuatku tidak rela bangun padahal ada janji jam 09.00. Yap, pagi itu aku membaca tweet @fiksimetropop tentang Resign yang katanya banyak diborong. Jelas aja, Google Play Book sedang mengadakan diskon buku 90% spesial imlek (berlaku sampai 22 Februari lho! Yuk, buruan!). Penasaran dengan koleksi buku di sana dan sudah lama pengin membaca Resign, aku pun ikut mencoba beli. Lha kok harga Rp 44.250 setelah diskon jadi cuma Rp 4.425! Dibayar pakai memotong pulsa pula. Praktis!

Jam menunjukkan pukul 06.30. Daripada scrolling timeline yang entah kenapa sedang tidak ada topik menarik, aku memutuskan membaca Resign. Hitung-hitung mencoba baca e-book dari aplikasi Play Books (so far belum menemukan aplikasi sekece iBook he he, any idea?). Eh, tidak terasa, aku sudah membaca lebih dari separuh halaman! Gercep banget. Tumben lho. Posisiku pun masih gulung-gulung di atas kasur, ketawa-ketiwi menyimak tingkah para cungpret bergosip tentang Si Bos Tigran. "Kok tumben suka baca buku beginian, Rat?" Well, I don't know. I love fantasy and crime for sure. Tapi tidak bisa kupungkiri kalau otakku kadang butuh light reading seperti ini.


Resign universe ini banyak mengambil setting di kantor konsultan di Jakarta. Ada empat orang karyawan yang menyebut diri mereka The Cungpret. Mereka adalah Carlo, Mbak Karen, Mas Andre, dan Alranita alisa Rara. Selain kerja sampai lembur, sebenarnya kerjaan mereka paling banyak bergosip tentang si bos, Tigran. Dalam bayanganku sih dia seperti Mr. Grey di Fifty Shades of Grey. Ganteng, stylish, sikapnya dingin, dan memang tajir melintir. Ah, sungguh, Resign ini mirip drama Korea yang membuat pembacanya hanya bisa berharap dalam mimpi.
"Mungkin kita harus nyariin Tigran cewek. Biar dia beristri lalu punya anak, terus dia jadi punya sedikit rasa perikemanusiaan dan perikeadilan." (halaman 192)
Sayang, tidak cuma dingin, Tigran ini super duper menyebalkan. Sebagai bos, dia sering terkesan semena-mena dan bikin karyawannya banyak lembur. And of course yang diceritakan banyak sial sih si Alranita. Buku ini pun dibuka dengan adegan KZL Rara yang dibuat bingung Tigran. Serius deh, adegan itu dikemas lucu banget. Bikin aku ikut geregetan dengan sosok Tigran.

Kejadian-kejadian serupa terus terjadi. Yah, mirip hubungan Miiko dan Tapei gitu deh. Tigran perhatian tapi salah kaprah, Rara sering dibikin sebal tapi tidak peka. Sederhana, yes I know. Tapi penulis Almira Bastari sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk merasa bosan. "Bikin ulah apa lagi nih, Tigran." "Duh, Alranita ini apes banget." Kata-kata seperti itulah yang selalu ada di pikiranku selama membaca Resign. Terus, kenapa diberi judul Resign?
Setelah Mbak Karen dan Rara presentasi.
  • Karen: "Lo tahu nggak sih, tiap kali Tigran nyebut 'saya tanya sekali lagi', rasanya gue pengin jambak dia!"
  • Rara: "Gue mau nangis."
  • Karen: "Lo itu sekarang kayak zombi! Resign deh! Perempuan seumur lo itu harusnya cantik, haha-hihi, bergaul di mal. Bukannya rambut digulung dan muka pucat kecapekan nggak jelas gini."
  • Rara: "Gue merasa idiot tiap kali dia ngomong gitu. Gue lama-lama tertekan, terus jadi berasa kok kayaknya gue nggak ada bagusnya jadi analis. Intonasi dia itu lho... ngeremehin banget! Kepercayaan gue sudah drop ke level basemen."
Pintu ruangan terbuka, Tigran kembali ke ruang rapat.
  • Tigran: "Handphone gue ketinggalan nggak?"
  • ....
  • Tigran: "Gue pikir mati, gelap gitu, tapi ternyata terekam video. Kepencet kali ya pas duduk tadi?" *Sambil berjalan keluar*

SIAPA YANG TIDAK PENGIN RESIGN KALAU KEPERGOK NGOMONGIN BOS?

Duh, tingkah The Cungpret memang selalu bikin gedek kepala. Jadi, empat orang dengan karakter yang berbeda-beda itu taruhan siapa yang akan resign lebih dulu. Apakah Mas Andre, satu-satunya orang yang disegani Tigran, yang ingin pekerjaan santai demi fokus mengurus anak? Apakah Mbak Karen yang paling tua dan sering merasa kurang dihargai? Apakah Carlo yang sebenarnya anggota tim Bu Sinta tapi kadang dibutuhkan tim Tigran? Atau apakah Alranita yang sering dijadikan sasaran perintah si bos dan sesi interview-nya dengan perusahaan lain selalu ketahuan? The result is pretty UNEXPECTED!! Sudah, beli aja mumpung diskon 90%.

Satu hal yang aku sayangkan adalah absennya karakter kuat dalam buku ini. Misalnya, Sigi di Sophismata yang sama-sama struggling bekerja tapi cukup menonjol sisi feminismenya. Semua karakter dalam buku ini rasanya seperti dikenalkan seperlunya, B aja. Bisa dimaklumi sih karena ini bacaan ringan dan tidak tebal. But still, I want to know Alranita di mata keluarganya. Jadi analis ternyata tidak gampang lho! Aku pengin tahu lebih banyak tentang kehidupan The Cungpret lain di luar kantor. Bahkan aku pengin tahu tuh Tigran kenapa putus sama mantannya #kecewa.

But overall ini bacaan yang sangat sangat menyenangkan. Aku merekomendasikan beli versi e-book sih karena selain lebih murah, bacaan seperti ini cocok buat menghabiskan waktu di jalan saat macet, komuter, atau mungkin menunggu kedatangan sang dosen pembimbing huehe.

Review: Just Between Lovers - Korean Drama

Sunday, February 18, 2018
Just Between Lovers Korean Drama
Foto: AsianWiki

Drama Korea Just Between Lovers menyuguhkan cerita yang realistis (selain Because This is My First Life yang berhasil mencuri hatiku #tsah). Uniknya lagi, drama yang dibintangi para pendatang baru ini tidak mengikuti konsep Cinderella. Tidak ada tuh cerita cewek atau cowok miskin yang sangat malang dan jatuh cinta dengan orang kaya. Inilah 5 hal menarik dari Just Between Lovers.

Status Ekonomi yang Seimbang

Biasanya, drama Korea menampilkan sosok pemeran utama lemah tak berdaya yang akhirnya jatuh cinta dengan seseorang kaya raya. Bagiku, karakterisasi seperti itu sudah so yesterday. Berbeda dengan Just Between Lovers. Lee Gang-doo (Lee Joon-ho) dan Ha Moon-soo (Won Jin-a) digambarkan sebagai golongan ekonomi menengah. Ayah Gang-doo bekerja di kontraktor bangunan (dengan jabatan jelas). Sedangkan ayah Moon-soo adalah supir yang selalu jauh dari rumah. Adiknya adalah bintang cilik dan ibunya membuka usaha salon plus pemandian air panas di rumah.

Status ekonomi itulah yang membuat drama ini terkesan lebih realistis. Coba bayangkan, ada berapa orang sekaya Kim Tan (Lee Min-ho) dan Choi Young-do (Kim Woo-bin) yang memperebutkan orang seperti Cha Eun-sang (Park Shin-hye) di kehidupan nyata? Meski tidak menutup kemungkinan, biasanya kita cenderung bergaul dan bertemu orang-orang satu kelas. Terlalu sering berkhayal itu tidak baik, guys.

Saat sudah dewasa pun status ekonomi mereka tidak banyak berubah. Moon-soo bekerja di kantor arsitektur milik Seo Joo-won (Lee Ki-woo) yang lama-lama menyukainya. Pemandian air panas dan salon ibunya masih buka, tapi sepi. Sang ayah tinggal terpisah dan membuka restauran mie kecil tidak jauh dari rumah. Sedangkan Gang-doo bekerja serabutan, tapi cukup untuk menghidupi dirinya dengan layak, membayar hutang orang tuanya, dan uang saku adiknya yang seorang dokter.

Just Between Lovers Korean Drama - 2PM Junho Lee Ki-woo
Foto: Soompi

Mengusung Dunia Arsitektur

Di awal episode, penonton disuguhi kejadian runtuhnya S Mall dari kaca mata Moon-soo kecil. Saat itu, dia diutus sang ibu untuk mengantar adiknya syuting. Namanya masih remaja, dia kabur sebentar untuk menemui gebetannya. Nah, saat itulah S Mall runtuh dan merenggut nyawa sang adik. Di sisi lain, Gang-doo remaja menunggu ayahnya yang terlibat dalam pembangunan S Mall selesai bekerja. Saat menunggu itulah dia melihat Moon-soo. Semacam takdir yang agak tragis ya?

Runtuhnya S Mall menjadi core cerita Just Between Lovers. Bagaimana nasib keluarga korban. Bagaimana perasaan traumatis mereka yang selamat. Bahkan bagaimana anak sang penanggungjawab berusaha tidak mengulang kesalahan yang sama. Iya, kesannya mbulet karena semua karakter tampak saling berhubungan. But trust me, drama ini sama sekali tidak membosankan.

To be honest, ini pertama kalinya aku menonton drama Korea tentang arsitektur. Yah, biasanya ada kejadian bangunan runtuh and that's it. Kalau di sini, kita benar-benar diajak mengulik dari penyebabnya, apa yang harus dilakukan agar tidak terjadi lagi, sampai sisi bisnis dari proyek pembangunan.

The Struggle is REAL!

Just Between Lovers Korea Drama Lee Joon-Ho 2PM
Foto: DramaPanda

Baru kali ini aku merasa benar-benar kasihan terhadap suatu karakter. Mungkin karena ini menimpa lead male ya, bukan karakter-karakter macam Park Shin-hye #nyinyirmodeON. Dan masalah-masalah itu dimunculkan dengan pas, tanpa "drama" (meskipun ini juga drama ya :"")) ). Mulai dari kerja serabutan dan dealing with preman, trauma tempat tertutup dan gelap karena sempat terjebak di reruntuhan S Mall, sampai penyakit mematikan yang diderita.

Iya, awalnya aku merasa masalah yang terakhir ini cliche. Tapi, thankfully, penulis Yoo Bo-ra tidak menjadikannya just-like-another-story-tentang-pemeran-utama-yang-terserang-penyakit-kronis. Percayalah, inti ceritanya bukan di situ. Pay attention to the others karena drama ini sebenarnya kompleks dengan tampilan sederhana nan manis.

Cowok Butuh Dukungan Cewek

Nggak bermaksud membanding-bandingkan. Tapi, kebanyakan drama Korea memposisikan karakter cewek sebagai tokoh yang lemah, menunggu diselamatkan seorang pangeran nan tajir melintir. Nah, Just Between Lovers malah kebalikannya. Bukan kebalikan juga sih karena taraf ekonomi mereka tidak jauh berbeda. Sejak awal, penonton dibuat kasihan dengan nasib Gang Doo (as stated on my previous point). Orang-orang yang akan menolongnya justru cewek-cewek!

Sebut saja Grandma penjual obat-obatan, Ma-ri si pemilik klub malam, Jung Yoo-jin (Kang Han-na), Lee Jae-young (Kim Hye-jun) sang adik, dan of course Moon-soo. Gara-gara drama ini, aku semakin yakin kalau cowok (in general) tidak akan bisa hidup tanpa dukungan cewek. Eits, bukan berarti Gang Doo adalah cowok lemah ya. Dia justru digambarkan sebagai seorang gentleman. Meski miskin, dia punya pride yang tidak kebablasan.

Yoon Se-ah Just Between Lovers Korean Drama

Na Moon-hee Just Between Lovers Korean Drama

Bikin Kita Lebih Bersyukur

Kalau biasanya drama Korea membuat kita "berkhayal", Just Between Lovers malah menarik kita ke realita. Apakah hidup kita sesulit Gang Doo? Apakah kita punya kisah traumatis seperti dia dan Moon-soo? Apakah kita pernah disalahkan akan sesuatu yang di luar kendala kita? Lalu, apakah karena masalah-masalah itu lantas kita terpuruk dan ingin mengakhiri hidup?

Aku percaya kalau Tuhan tidak akan memberi cobaan yang di luar kemampuan hamba-Nya. Dan aku percaya kalau kebaikan akan dibalas kebaikan juga. Hal itu persis seperti apa yang ingin disampaikan drama ini. Gang-doo bukanlah siapa-siapa. Uang aja tidak punya. Tapi kebaikannya membuat orang lain rela berkorban untuk dia. Carilah suami seperti Gang-doo. Jangan cari seperti Dilan. Hidup itu berat. Tidak cukup dibayar gombalan.

P.S. Entah kenapa oppa ini ada lagi setelah aku lihat dia di Because This is My First Life. The thing is, kesannya seperti diada-adakan :)) Jadi annoying juga lama-lama.
Kim Min-gyu Just Between Lovers Korean Drama
Foto: AHJUMMAMSHIES

Movie Review: Black Panther

Wednesday, February 14, 2018
Black Panther Killmonger Michael B Jordan
Foto: Screenrant

BLACK PANTHER. Oh. My. God. It’s so deep.

Seharusnya hari ini aku mau nonton The Greatest Showman untuk terakhir kalinya. Waktu ngecek website Cinema21 pagi tadi masih ada di Ciputra World. Lumayan lah, deket rumah. Sesampainya di sana... Lha kok studionya (hampir) Black Panther semua euy! Terlanjur di TKP, aku pun memutuskan nonton Black Panther. Was it great? I’d say good, not great.

Overall, film Black Panther terasa flat. Membosankan. Tidak heboh. Dan ternyata hal ini banyak dirasakan teman-temanku yang keluar studio menggerutu karena Black Panther tidak sesuai ekspektasi mereka. Personally, mereka ada benarnya. Film-film superhero Marvel biasanya penuh boom boom boom dan hal bombastis lain. Bahkan Thor: Ragnarok kemarin sukses mengguncang perut penonton. Sedangkan ini... Guyonannya garing -___-

For some people, guyonan antara T’Challa a.k.a Black Panther (Chadwick Boseman) dan adiknya, Shuri (Letitia Wright), dianggap lebih pas. Bikin tertawa, tapi tidak kebablasan (mengingat mereka adalah kakak-beradik keluarga kerajaan). Sayangnya, guyonan itu cuma berhasil membuatku tertawa kecil. Kalau tidak salah, hanya 1-2 kali saja penonton di Studio 1 Ciputra World tertawa terbahak-bahak. Itu pun karena ulah Okoye (Danai Gurira) dan Nakia (Lupita Nyong’o).

Movie Review Black Panther
Foto: SuperHeroHype

Siapakah Okoye dan Nakia? Okoye adalah jendral yang memimpin pasukan wanita. Sedangkan Nakia adalah petinggi salah satu suku di Wakanda. Wah, karakter mereka berdua patut mendapat standing ovation. Kuat banget! Saking kuatnya, aku merasa Black Panther ini bukan tentang T’Challa, melainkan Okoye dan Nakia (dan mungkin Shuri). Yap, girl power, baby. Aku yang awalnya menilai Black Panther tidak sesuai ekspektasi malah dibuat kagum.

Nakia (yang juga mantan T’Challa) digambarkan sebagai wanita yang punya jiwa sosial tinggi. Di awal film dia diperlihatkan sedang menyamar sebagai refugee untuk menolong mereka. Ternyata, selama ini dia ingin Wakanda open up to the world. Vibranium (yang diklaim sebagai the strongest metal on earth) yang berlimpah di sana bisa membantu perdamaian dunia. Sayangnya, para raja sebelum T’Challa menentang karena khawatir keselamatan masyarakatnya terancam.


Well, tanpa membuka diri pun, vibranium ternyata diselundupkan ke luar oleh keluarga kerajaan sendiri. Dari sinilah masalah muncul. Klaue (Andy Serkis) yang dikenal sebagai pedagang senjata ilegal akan menjual sebongkah vibranium kepada CIA (diwakili Agent Ross yang diperankan Martin Freeman). T’Challa, Okoye, dan Nakia mengetahui transaksi itu dan berniat menangkap Klaue. Penangkapan tersebut mempertemukan T’Challa dengan Erik Killmonger (Michael B Jordan), the soon-to-be villain.

Long story short, Killmonger merebut takhta Wakanda dan berencana mengirim vibranium ke dunia luar agar menjadi senjata perang. Maksudnya sih baik, yaitu mempersenjatai mereka yang lemah. Sayangnya, Killmonger dibutakan amarah. Dia tidak bijak seperti T’Challa. But surprisingly, aku suka Killmonger. Aku suka villain ini. Baru kali ini ada karakter villain yang membuatku bersimpati. Dia tidak menjadi monster karena serakah. Dia tidak menjadi monster karena ingin kekuasaan. Dia hanya ingin keadilan. Keadilan bagi mereka yang tidak punya suara seperti yang selama ini dia rasakan saat “dibuang dan ditinggalkan” di Chicago.

Black Panther T'Challa vs Killmonger
Foto: Houston Public Media

Aduh. Udah seksi, macho, niatnya baik pula. Me love you lah, Bang Kill! (kanan)

Meski tidak sebombastis film-film superhero Marvel sebelumnya, menurutku film garapan sutradara Ryan Coogler ini tetap worth untuk ditonton (daripada Eiffel I’m in Love 2 sih). Meski adegan action-nya tidak seru-seru amat, sinematografinya apik! Mupeng (baca: muka pengen) banget melihat keindahan Benua Afrika (yang sepertinya tidak betulan syuting di sana he he). Unsur budayanya juga kental banget. Suara-suara genderang itu...duh, bikin hati adem. Oh ya, jangan terkejut dengan “baju koko” yang dipakai T’Challa ya. Kabarnya sudah banyak dijual tuh di toko online Indonesia. Gercep banget.


Mungkin sebentar lagi sandalnya juga??

Taylor Swift Tag: The Swiftie

Saturday, January 27, 2018
Foto: The Wallpapers

YAY! Akhirnya aku menemukan topik yang bikin semangat menulis lagi. Thank you, Heryani :) Jadi, saat ini aku sedang dilanda writing slump. Banyak sekali tulisan yang berakhir di draft meski kurang sekitar 5 persen he he he. Sampai suatu malam aku baca tweet tentang Taylor Swift Tag: The Swiftie. "Menarik nih," pikirku saat itu. So, Taylor Swift Tag: The Swiftie ini berisi 13 pertanyaan tentang Taylor Swift. Oke, fangirling mode: ON. Sebenarnya, aku sudah menyiapkan F.A.Q tentang kenapa aku suka Taylor dalam rangka rilisnya album Reputation. But, let me post it later. Without further ado, let's check this out!

***Tulisan ini dibuat sambil mendengarkan Gateaway Car dari album Reputation***

1. What was your first impression of Taylor Swift?

A pretty lady who apparently can write songs.

2. First Taylor Swift song you ever heard?

Waktu itu aku masih kelas VIII. I saw her pretty face on one of teenage magazine (kalau tidak salah majalah Kawanku). Penasaran, aku googling dan lagu pertama yang aku dengarkan adalah Love Story. "Romeo take me somewhere we can be along~" Duh, good old times. Aku yang saat itu pecinta berat Avril Lavigne langsung berubah haluan :)) Thanks to Taylor Swift, aku jadi suka mendengarkan Lady Antebellum dan Rascal Flatts. Ternyata musik country itu bukan seperti acara TV-nya Helmy Yahya *sigh*

3. What's your favorite music video? And what's your least favorite music video?

Hmm... Baru nomor 3 kok sudah susah ya. For me, video klip yang bagus itu harus punya konsep unik, tidak hanya menceritakan isi lagunya secara gamblang. Sedangkan most of Taylor's video seperti itu. Jadi, sebenarnya tidak ada one particular video yang aku suka banget. Sebelum nonton konsernya, aku memutar video Fearless berulang-ulang, bahkan sampai menitikkan air mata, hanya karena ingin sekali merasakan atmosfer konser Taylor Swift.


Konsep rekap konser juga diusung di video klip Red dan New Romantics. But you know, the feeling is different. Video klip lain yang aku suka adalah Wildest Dream. Ya ampun, Taylor ini memang pantes banget dandan vintage. Semua look-nya cantik dan for the first time aku cocok dengan lawan mainnya *uhuk*

Sedangkan video yang paling tidak aku suka adalah Look What You Made Me Do. Maybe because I hate the song on the first place. Jadi, ya bagaimana mau menikmati videonya kalau lagunya aja tidak suka.

4. What's your favorite song? What's your least favorite song? And what song you wish had a video?

I have tons of favorite songs. Rasanya tidak adil kalau hanya memilih satu. Untuk album pertama, Taylor Swift (2006), aku suka semuanya :)) But if I really really have to choose... Tim McGraw then. Aku suka bagaimana Taylor mendapatkan inspirasi untuk lagu itu. Aku juga suka bagaimana label memilih Tim McGraw sebagai single pertama. Strategi bisnisnya udah bagus sejak awal lho.

Di album Fearless (2008), aku mulai pilih-pilih he he. Tidak ada yang jelek, tapi yang paling berkesan dan sering aku dengarkan adalah The Best Day dan Fifteen. I once read kalau ibunya selalu menangis tiap dia menyanyikan The Best Day di atas panggung. Sedangkan di album Speak Now (2010), wah...kacau. Hampir suka semua, cuy! Tapi, Mean yang paling bagus sih karena nilai moral yang pengen disampaikan. Entah bagaimana kabar si kritikus nyinyir itu.

Next. I really love All Too Well. Sebenarnya, mulai album ini Taylor nge-pop banget sih. Tidak heran kalau dia gagal mendapatkan Grammy. All Too Well itu bagiku lagu yang paling bikin baper. Sekalipun aku tidak pernah bosan mendengarkannya. It's so sad and it's so real sampai Taylor butuh bantuan menulisnya. Sedangkan di album pop pertamanya, 1989 (2014), aku paling suka Wildest Dream.

What about Reputation (2017)? To be honest, aku sempat berkata "fix aku bukan Swiftie lagi" hanya karena lagu-lagu dalam Reputation terdengar sangat berbeda. Apalagi single pertamanya, LWYMMD, berhasil membuat ilfeel setengah mati. "Oh, mungkin belum familiar." Kuputar terus-menerus, eh kok tetap tidak suka. Yap, untuk pertama kalinya aku tidak menyukai lagu Taylor Swift :)) Tapi, saat ini aku lagi suka banget Gateway Car dan King of My Heart nih.

5. When did you become an official Swiftie?

Sepertinya sampai sekarang aku juga belum bisa dibilang Swiftie sih. But people like to call me that. Aku tidak pernah membeli album fisiknya. Tapi, aku membeli versi digitalnya secara resmi di Apple Music. Aku juga tidak membeli official merchandise, tapi alhamdulillah aku bisa menonton konsernya di Jakarta empat tahun lalu. So, can I call myself as Swiftie?

6. Have you met Taylor Swift? What's your favorite live performance of her?

YES!! Red Tour Jakarta!! I love the opening. Oh damn I love everything. Sepanjang performance aku sibuk menghapus air mata :)) Rasanya masih tidak percaya melihat Taylor Swift di depan mata.

7. Favorite dress she's worn?


Taylor Swift on Victoria's Secret Fashion Show 2013

8. Favorite lyric?

Don't you worry your pretty little mind. People throw rocks at things that shine. And life makes love looks hard. The Stakes are high, the water's rough. This love is ours.

9. Which song do you relate to the most?

Fix deh ini pertanyaan paling susah. I grow up with her songs and surprisingly selalu ada lagu-lagu yang relatable banget dengan perasaanku saat itu. Entah itu jatuh cinta, patah hati, butuh semangat hidup, rindu orang tua, dll. So I definitely can't name just one song. But as I stated before, saat ini aku sedang related banget dengan lagu Getaway Car di album Reputation (iya, lagu yang buat Tom Hiddleston itu lho!).

10. What do you wish/hope for on her next album?

Aku berharap Taylor tetap menyuguhkan musik-musik yang relevan. I can't blame people who dislike her new image. Awalnya, aku pun tidak setuju. But oh well, we are all grow up. Mungkin karena pada dasarnya aku memang menikmati berbagai genre musik (kecuali cadas), jadi aku lebih mudah menerima image baru Taylor Swift. Kalau dia tetap seperti dulu, ada kemungkinan fansnya bosan, mundur, dan musiknya ketinggalan zaman.

11. What album is your favorite?


 

12. What would you say to her right now?

Dear, Taylor Swift
Thank you for being my number one inspiration. Thank you for being a nice role model. Thank you for accompanying me with your beautiful songs. Thank you for letting me grow up with you.

13. Who should she do a duet with?

Ed Sheeran!!! Aku yakin pasti banyak yang menjawab ini. He's just perfect. Dibandingkan End Game, aku lebih suka Everything Has Changed. Apalagi video klipnya, duh, manis sekali. Tapi, aku mulai suka hasil kolaborasinya dengan Jack Antonoff nih. Hopefully they'll make a duet someday.

THAT'S IT!! 13 questions have been answered. Aku yakin pembaca yang bukan fans Taylor Swift jadi kurang ngeh dengan tulisan ini. But hey, you should make a tag too about your idol. Sepertinya tulisan ini akan bikin mesem-mesem sendiri saat dibaca 10 tahun lagi. If you like Taylor Swift too, don't hesitate to participate and let me know.


Book Review: Sophismata + GIVEAWAY

Monday, January 15, 2018

SOPHISMATA
Penulis: Alanda Kariza | Editor: Anastasia Aemilia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 12 Juni 2017 | Tebal: 272 halaman
Harga: Rp 52.000 [BukaBuku] | Rating: 3/5 stars

AKHIRNYA aku bisa melanjutkan salah satu hobiku, yaitu membaca buku. Kali ini, review pertama jatuh pada Sophismata karya Alanda Kariza. Aku masih ingat jelas betapa banyak teman-teman sesama pecinta buku di Instagram yang mengelu-elukan Sophismata. Thanks to Achintya Widhi, one of my best high school friends, karena sudah memberikan buku ini sebagai hadiah ulang tahun. Lalu, apakah buku ini memang seheboh kelihatannya? Sebelum melanjutkan, harap diingat kalau tulisan ini dibuat berdasarkan pendapat pribadi tanpa ada keinginan untuk menjatuhkan suatu pihak atau sebaliknya.

Cita-cita Sigi tidak muluk. Dia hanya ingin kenaikan jabatan dari posisinya sebagai staf administrasi. Sayangnya, menurut Johar Sancoyo, atasannya, itu cita-cita yang belum pantas Sigi raih, bahkan setelah lebih dari tiga tahun dia bekerja tanpa cela.

Begitulah kisah Sophismata dimulai. Kita langsung dikenalkan kepada sosok Sigi, si wanita masa kini, yang berjuang mengejar karir. Meski menjadi staf administrasi politikus di DPR bukan hal mudah, dia ingin naik jabatan menjadi Tenaga Ahli. Bukan masalah gaji atau kekuasaan, dia hanya ingin terlibat dalam proyek yang mempunyai nilai signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat. Mulia sekali kan?

Dalam mencapai impiannya, Sigi tentu mendapat banyak rintangan. Dan uniknya, Alanda mengusung rintangan yang tanpa disadari dialami banyak perempuan. Yaitu, ketidaksetaraan gender. Johar hanya memperkerjakan dua Tenaga Ahli laki-laki dan satu staf administrasi. Lewat perlakuan dan obrolan dengan rekan kerjanya serta perintah-perintah Johar, Alanda seolah ingin mengedukasi pembacanya tentang perasaan perempuan yang bekerja sebagai minoritas. Hal ini sangat perlu diketahui para fresh graduate dan job seeker. Setelah diterima bekerja, proses penyesuaian diri biasanya tidak boleh disepelekan.

Girl Power
Ilustrasi: Pinterest

Di sela hiruk-pikuk dunia kerja Sigi, datanglah sosok pria mapan bernama Timur. Berbeda dengan Sigi yang benci politik, Timur justru sedang dalam proses membentuk sebuah partai. Bagi dia, terjun ke dunia politik dan menggalang kekuatan adalah cara terbaik untuk membantu masyarakat. Lagi-lagi kita bertemu sosok yang mulia. Well, usut punya usut, Alanda ingin menyampaikan bahwa tidak semua politikus dan orang-orang yang terlibat di dalamnya itu busuk dan korup seperti yang sering kita lihat di televisi. Meski secara pribadi aku agak sanksi, sepertinya Alanda ada benarnya.

Dibalut kisah politik cukup kental, aku menyayangkan highlight moment yang kurang menonjol. Apakah saat Sigi mendapati atasan sekaligus role model-nya bermain uang untuk menyelesaikan masalah? Apakah saat Sigi harus memilih antara Tenaga Ahli dan staf kepresidenan? Kalau iya, berarti feel-nya kurang greget. Sebab, saat membaca, bukannya menggebu-gebu ingin tahu akhir ceritanya, aku justru dibuat tidak sabar dan bingung sebenarnya ceritanya mau dibawa kemana. Oh, bukan berarti Sophismata ini buku yang buruk ya. Banyak kok yang suka.

Bagiku, kekuatan buku ini ada pada sosok Sigi seorang. It's very unfortunate karakter-karakter di sekelilingnya tidak dibuat sama kuatnya. Mungkin, Alanda hanya tidak ingin karakter utamanya seperti cerita-cerita Hollywood yang karakter utama perempuannya tetap butuh sosok laki-laki. Sedangkan dalam Sophismata, Timur bahkan mengembalikan pertanyaan Sigi karena dia yakin sebenarnya wanita itu tahu keputusan apa yang harus diambil. Sungguh, kadang aku merasa sosok Timur ini too good to be true.

 

And here's what you've been waiting for,
GIVEAWAY TIME!!!

Aku akan memilih dua orang pemenang yang akan mendapatkan buku The Hate U Give karangan Angie Thomas versi terjemahan. Sejak buku ini hits di luar negeri, aku sangat ingin membacanya, tapi belum sempat. Oleh karena itu, momen ini akan aku gunakan untuk menge-push diri.

Syarat dan Ketentuan:
  • Berdomisili di Indonesia atau punya alamat kirim di Indonesia.
  • Bersedia membaca dan menulis review (tidak harus di blog, boleh di Instagram, Twitter, Facebook, or just tell me and I'll add your opinion after mine).
  • Giveaway ini berlangsung sampai 4 Februari 2018.
  • Isi form di bawah ini:

Hobi Selfie? Ini Tempat Wisata Instagramable di Surabaya

Thursday, January 11, 2018
Hey, arek Suroboyo... Apakah kalian sadar kalau sektor wisata Surabaya semakin maju? Sebagai Kota Metropolitan terpadat di Indonesia setelah Jakarta dan Medan, sepertinya hal ini sudah wajar terjadi. Setiap tahun mungkin banyak pendatang baru. Entah untuk bekerja ataupun kuliah. Alhasil, pemerintah pun sebisa mungkin mem-provide penduduknya dengan hal-hal yang entertaining. Salah satunya dengan menyediakan tempat wisata unik, menarik, dan pastinya kekinian.

Yap, kekinian sudah seperti kriteria wajib untuk semua hal. Thanks to social media, semua hal yang bertujuan untuk menarik minat anak muda harus Instagram-able. Nah, kalau tempat wisata seperti itu yang dicari, inilah tempat wisata Instagram-able di Surabaya yang recommended.

Taman Mangrove Wonorejo
Taman Mangrove Wonorejo Surabaya
Foto: dinata.my.id

Pernah menyusuri hutan bakau naik perahu motor? It's so exciting lho! Hal itu bisa dicoba di Taman Mangrove Wonorejo, Surabaya. Sensasinya seperti menyusuri hutan-hutan liar Amazon ala Discovery Channel. Selain deretan pohon bakau hijau, di sini ada banyak spot foto Instagram-able yang cocok buat mengisi feed Instagram dan update Insta Stories.

Tapi, yang paling menarik adalah biaya masuknya yang sangat murah. Yaitu, Rp 2.000 saja. Padahal, letak tempat wisata taman mangrove ini ada di pusat kota lho. Nah, kalau pengen mencoba naik perahu motor, akan ada biaya tambahan sekitar Rp 25.000 (dewasa) dan Rp 15.000 (anak-anak).

Pantai Kenjeran
Pantai Kenjeran Surabaya
Foto: KSMTour

Dulu, pantai legendaris ini terkenal sebagai kawasan kumuh yang sering dipakai sebagai lokasi mesum. Tapi, sejak beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kota Surabaya menyulap Pantai Kenjeran menjadi tempat wisata kekinian yang Instagram-able dan Path-able.

Di pantai ini ada banyak spot foto keren. Agar hasil foto lebih cantik, tunggulah sampai sunset tiba. Selfie dengan latar belakang langit merah dan oranye akan membuat feed media sosial lebih artistik dan berwarna. Untuk masuk ke kawasan Pantai Kenjeran, pengunjung harus membayar tiket seharga Rp 15.000. Sedangkan biaya parkirnya sekitar Rp 8.000 (motor) dan Rp 10.000 (mobil).

Kampung Warna-Warni Bulak
Kampung Warna-Warni Bulak Surabaya
Foto: YouTube

Tertarik dengan kampung warna-warni? Eits, bukan cuma Malang, Surabaya juga punya! Masyarakat kawasan Bulak bergotong royong mengubah kampung mereka menjadi kampung warna-warni. Deretan rumah dengan atap dan tembok beraneka warna bisa menjadi background cantik saat kita ber-selfie ria.

Tentu saja kampung ini juga punya spot foto menarik. Meski tergolong baru, Kampung Bulak banyak dikunjungi anak-anak muda yang pengen hunting foto atau sekedar hangout dengan teman.

Tuh kan. Banyak hal yang bisa di-"buru" di Kota Pahlawan ini. Yuk, liburan ke Surabaya! Untuk referensi penginapan yang nyaman, kunjungi website Airy Rooms atau akses dari aplikasi smartphone-nya.


Airy merupakan jaringan hotel terbesar dengan jumlah properti terbanyak di Indonesia. Tidak cuma praktis, memesan hotel melalui aplikasinya juga membuat pilihan tempat menginap murah lebih bervariasi saat berada di Surabaya. Tenang, hotel-hotel yang tergabung dalam jaringan Airy dipastikan punya 7 jaminan fasilitas kamar.

Setiap kamar hotel Airy dilengkapi AC, tempat tidur bersih, flat screen TV, kamar mandi dengan air hangat, serta perlengkapan mandi, Wi-Fi, dan air mineral gratis. Cukup memadai kan? Pilihan pembayarannya pun sangat banyak dan mudah. Mulai dari transfer bank sampai Indomaret terdekat.

8 Best Korean Drama 2017

Wednesday, January 3, 2018
Tidak terlalu banyak drama Korea yang aku tonton tahun lalu. Beberapa judul juga tidak aku tonton sampai habis karena...yah, kurang suka dan kurang menarik (bagiku) saja. So, please note kalau tulisan ini dibuat purely berdasarkan pendapat pribadi. Selera kita mungkin berbeda and it's okay. Toh aku yakin drama Korea terbaik 2017 versiku tidak akan sama dengan versi lain.

By the way, pada tahun 2017, kita dikenalkan untuk pertama kalinya dengan split episode (aku tidak yakin apa sebutannya). Jadi, drama yang berdurasi satu jam untuk satu kali penayangan (satu hari) akan dibagi menjadi dua episode (masing-masing 30 menit). Dengan begitu, beberapa source menulis drama 16 episode menjadi 32 episode. Kabarnya, gap dua episode itu untuk iklan. But well, let's stick to the old rule.

#8 Circle
Korean Drama Circle
Foto: tving

Mungkin banyak yang menganggap drama ini terlalu rumit. Sebab, alur ceritanya maju-mundur dengan dua timeline berbeda yang berjalan bersamaan. Biasanya, 30 menit pertama (Part 1) tentang Kim Woo-jin (Yeo Jin-goo) yang mencari kakaknya, Kim Beom-gyoon (An Woo-yeon). Sang kakak dicap orang gila karena percaya bahwa ayah mereka diculik alien.

Sedangkan pada 30 menit berikutnya (Part 2), penonton dibawa ke masa depan, tepatnya 2037. Kondisi bumi yang semakin buruk membuat beberapa pihak membangun dunia baru. Pada saat itu, Beom-gyoon diperankan Kim Kang-woo. Misinya pun terbalik, yaitu mencari Woo-jin. Well, langsung tonton sendiri saja. Kalau dijelaskan bisa spoiler he he he.

Awalnya, aku menonton Circle karena penasaran dengan Yeo Jin-goo. Aktor muda ini sering menjadi versi muda seorang karakter utama yang ganteng. Nah, kali ini dia menjadi pemeran utamanya. And he's obviously good. Menurutku sih aktingnya tanpa cela. Selain itu, Circle menawarkan kerumitan dan plot twist yang aku suka. You know, I'm a big fan of plot twist. Sayangnya, menjelang ending, ada kesan "tidak masuk akal" yang ditimbulkan. Alur ceritanya seperti agak dipaksakan. I'm not really sure apa yang membuat Circle seperti itu. Tapi, hal itu sangat minor kok. Most of k-drama lovers tidak menonton drama ini sampai habis karena kebingungan sejak awal. Well, you decide.

#7 Romantic Doctor, Teacher Kim
Korean Drama Romantic Doctor Teacher Kim
Foto: joins

Entah kenapa aku sangat menikmati drama Korea tentang dokter. [Baca juga: Review Drama Korea Doctors] Well, belum terlalu banyak yang aku tonton. Tapi, sejauh ini, Romantic Doctor, Teacher Kim adalah drama Korea terbaik. Semua istilah dan kerumitan dunia kedokteran dibawakan dengan ringan, tapi tetap berbobot. Selain itu, drama yang dibintangi aktor senior Han Suk-kyu sebagai Teacher Kim ini menyuguhkan kehidupan para dokter yang benar-benar mengabdi. Para dokter Indonesia yang terlanjur keblinger harta dan para mahasiswa kedokteran harus nonton ini nih.

Drama ini membuatku mendambakan sosok dokter seperti Teacher Kim. Dia adalah dokter yang punya prinsip. Iya, prinsip lah yang membuat dokter ingat tujuannya menjadi dokter. Dia hidup seperti rakyat jelata, sama sekali tidak bergelimang harta. Tapi, tidak ada satu pun penyakit yang tidak bisa dia sembuhkan. Karakter-karakter seperti Kang Dong-joo (Yoo Yeon-seok) dan Do In-bum (Yang Se-jong), para dokter dari rumah sakit besar, bisa kembali ke jalan yang benar berkat Teacher Kim.

#6 Weightlifting Fairy Kim Bok-joo
Korean Drama Weightlifting Fairy Kim Bok Joo

Siapa sih yang tidak mengidolakan Kim Bok-joo (Lee Sung-kyung) dan Joon Jung-hyung (Nam Joo-hyuk)? Hubungan mereka membuatku yakin menjadikan Weightlifting Fairy sebagai salah satu drama Korea terbaik 2017. Kisah cinta mereka memang cheesy. Tapi, entah kenapa tidak terasa "berlebihan". Selain itu, drama ini mengajarkan kita untuk terus memperbaiki diri. Tidak perlu takut jomblo selamanya karena tidak memenuhi standard cantik masyarakat. One day, cowok seperti Jung-hyung akan datang kok. Baca review lengkapnya di sini ya.

#5 Because This is My First Life
Korean Drama Because This is My First Life
Foto: Viki

Masih ingat betapa realistisnya hubungan mereka? Ya, rasanya susah untuk tidak memasukkan drama ini dalam daftar drama Korea terbaik 2017. Aku terlalu suka. Sebab, untuk pertama kalinya ada kisah cinta yang berbeda. Biasanya, drama Korea mengusung konsep si kaya jatuh cinta dengan si miskin dan keluarga si kaya tidak setuju. Kebanyakan pasangan pun menikah karena jatuh cinta.

Padahal, saat ini, pasangan seperti Nam Se-hee (Lee Min-ki) dan Yoon Ji-ho (Jung So-min) lebih masuk akal. Mereka menikah karena butuh. Meski akhirnya mereka benar-benar jatuh cinta, tapi penonton dibawa memahami realita dulu. Alhasil, bapernya sangat terasa! Baca review-nya di sini.

#4 Goblin
Korean Drama Goblin

[Baca dulu: First Impression Drama Korea Goblin] Sebenarnya, Goblin bisa menduduki peringkat ke-2 atau bahkan pertama! Sayangnya, ending drama ini cukup mengecewakan. I'm sure you all have watched this. Jadi, spoiler sedikit tidak apa-apa ya?

Goblin berhasil didapuk sebagai drama Korea terbaik (mungkin) sepanjang masa. Entah itu karena ide ceritanya, alur ceritanya, bumbu-bumbunya, atau para pemainnya yang berhasil membius penonton dan membuat drama ini sangat memorable. Aku pun terbius. Aku bahkan sempat yakin drama ini akan menduduki peringkat pertama drama Korea terbaik 2017 versi ratrianugrah.com. Bagaimana tidak, Gong Yoo dan Lee Dong-wook berhasil menciptakan bromance paling epik. Dengan dua aktor besar, sinar Kim Go-eun juga tidak meredup. Beberapa scene puitis yang berpotensi membosankan ternyata tetap nikmat ditonton. What's not to like kan?

Tapi, aku sangat tidak setuju dengan ending-nya. Later I found out kalau writer Kim Eun-sook memang suka membuat happy ending. Bagiku, ending yang ideal adalah saat Goblin akhirnya bisa pergi dengan tenang. Buatlah Ji Eun-tak sedih dan bangkit lagi seperti film Me Before You (2016). Menurutku, Goblin bisa kembali dan Grim Reaper bertemu lagi dengan Sunny (Yoo In-na) itu tidak masuk akal. Meskipun mereka berdua diceritakan terlahir kembali sebagai manusia biasa, tetap saja terkesan dipaksakan. Dear, Kim Eun-sook. Membuat bitter sweet ending itu boleh kok. Coba lihat 49 Days (SBS).

#3 Queen for Seven Days
Korean Drama Queen for Seven Days
Foto: Pinterest

Berawal dari coba-coba, aku akhirnya jatuh cinta dengan drama ini. Mengusung genre historical drama, Queen for Seven Days atau Seven Days Queen ini bercerita tentang perebutan takhta antarsaudara. King Lee Yoong (Lee Dong-gun) harus menyerahkan mahkotanya kepada Prince Lee Yeok (Yeon Woo-jin) saat dia cukup umur. Tapi, karena kesepian dan iri dengan perhatian orang-orang terhadap Lee Yeok, King Lee Yoong selalu mempersulit hidupnya. Semacam orang yang paranoid, padahal Lee Yeok sangat setia kepadanya.

Sesuai namanya, drama ini fokus pada Shin Chae-kyung (Park Min-young). Dia adalah putri tangan kanan King Lee Yoong. Sang raja menjodohkannya dengan Lee Yeok dan mereka benar-benar jatuh cinta. Sayangnya, suatu hari King Lee Yoong sendiri yang jatuh cinta. Plot twist dan sebenarnya bisa ditebak. Tapi, romance yang disuguhkan sama sekali tidak menye. Justru aku salut karena drama ini tetap mengusung banyak percek-cokan dua bersaudara sesuai sejarahnya, bukan mendramatisir sejarah demi kisah cinta yang akan diidolakan anak muda.

#2 Forest of Secrets
Korean Drama Forest of Secrets
Foto: YouTube

I'm sure most people will disagree drama ini berada di peringkat ke-2. Tapi, kadang menurutku Forest of Secrets ini malah lebih bagus daripada Defendant. Kekuatan utamanya pada karakterisasi dan aktor yang surprisingly bisa membawakannya dengan sangat apik.

Karakter utama drama ini adalah Hwang Shi-mok (Cho Seung-woo), seorang jaksa yang sangat bersih. Saat kecil, dia pernah menjalani operasi yang cukup serius sehingga dia tumbuh tanpa emosi. Jadi, kadang kita dibuat geregetan karena Shi-mok sangat tidak ekspresif. Akting seperti itu pasti banyak godaannya ya. Big applause untuk Seung-woo!

Meski begitu, semua karakter di sekitar Shi-mok sama sekali tidak boleh diremehkan. Semuanya penting. Saking pentingnya, Forest of Secrets membuat penonton galau. Yang tadinya si A diyakini sebagai pelaku, tiba-tiba si B lebih mencurigakan. Begitu seterusnya. Keren kan? Dengan plot seperti itu, drama produksi tvN tetap dibalut sederhana sehingga kualitas ceritanya semakin terbukti mantap.

#1 Defendant
Korean Drama Defendant

Tentu saja Defendant yang berhak berada di peringkat pertama. If you haven't noticed, cerita detektif, kriminal, dan sejenisnya memang my cup of tea. Selain karena drama ini masuk genre favoritku, permainan karakter adalah salah satu hal yang menarik. Ji Sung berperan sebagai seorang jaksa yang dituduh membunuh istri dan anaknya. Kehilangan ingatan, lagi-lagi Ji Sung harus bermain emosi "ganda". Begitu juga dengan karakter villain Uhm Ki-joon. Dia bahkan harus memerankan saudara kembar yang karakternya cukup berbeda. Drama Korea Defendant ini dijamin tidak membosankan. Yuk, baca review-nya di sini.

Itulah 8 drama Korea terbaik 2017 versiku. Luckily, daftar ini cukup bervariasi. Ada genre romantic comedy, fantasi, crime, bahkan historical drama! So you know drama apa yang menurutku paling recommended dari tiap genre. Kalau ada drama bagus yang aku lewatkan, let me know on the comment ya! Saat ini aku sedang mengikuti Hwayugi, Two Cops, dan Black Knights.