Nggak Heran kalau Semua Orang Suka Via Vallen

Thursday, March 28, 2019
via vallen konser spesial slank bersama shopee
Foto: wap.mi.baca.co.id

To be honest, aku bukan pecinta musik dangdut. Yang bikin aku nggak suka bukanlah gendangannya, melainkan lirik vulgar yang nggak mendidik beserta penyanyinya yang kadang cukup erotis. Memang sih lagu-lagu Top 40 juga banyak yang explicit sampai dibatasi jam pemutarannya oleh pemerintah Jawa Barat. Tapi, musik dangdut itu didengarkan oleh orang dewasa sampai anak kecil dari berbagai kalangan, cuy! And they know the meaning!

Tapi, waktu sosok Via Vallen mulai muncul, aku mulai bingung. Aku tetap nggak suka lagu-lagunya (yang kebanyakan merupakan hasil cover lagu dangdut popular), tapi image Via Vallen ini mengubah pandanganku terhadap penyanyi dangdut. Yes, she’s so far away from those blings and erotic choreography. Bahkan, sebagai pecinta K-pop, dia sering mengusung gaya Korea dan justru dari situ dia semakin merangkul pasar lebih besar. Nice move, Via!

Meski bukan fans beratnya, aku sering banget mendengar lagu Via Vallen diputar. Lama-lama kan ya kepo dong siapa sosok penyanyi dangdut muda ini. Bahkan, sebelum menulis postingan ini, aku melempar pertanyaan di media sosial and I’m surprised bahwa banyak temanku yang suka Via Vallen :””) Ternyata, ini lho yang bikin banyak orang suka dia.

Penampilan Via Vallen Mengubah Image Penyanyi Dangdut


As I stated before, Via Vallen ini beda level dengan penyanyi dangdut yang sering kita lihat disawer bapak-bapak di acara kampung. Dia juga beda dari penyanyi dangdut yang sering diputar di DVD bus-bus antarkota. She has a class! Meskipun berasal dari Sidoarjo, Jawa Timur, dan sudah berkecimpung di dunia dangdut sejak kelas 5 SD, aku bersyukur dia sudah mengubah image erotis dari penyanyi dangdut Indonesia.

via vallen penyanyi dangdut indonesia
Foto: instragram.com/viavallen

Lagu Via Vallen Selalu bikin Earworm


Aku tuh jarang banget kepo siapa penyanyi di balik lagu-lagu hits di Indonesia. Tapi suatu hari, aku naik motor dan menunggu lampu merah. Di sisi kanan dan kiriku ada bemo yang sepertinya disewa oleh rombongan anak sekolah. Eh, mereka semua menyanyi, ‘‘Sayang…. Opo kowe krungu…’’ And I was like, lagu ini seheboh itu ya sampai anak SMP (dilihat dari seragamnya) hafal semua liriknya dan terlihat happy banget menyanyikannya.

Sejak itu, aku jadi earworm dengan lagu Via Vallen yang berjudul Sayang. Don’t tell anyone, kadang aku ikut menyanyikannya dalam hati. Gengsi ah. He he he.

She Nailed Asian Games 2018 Opening Song!


Waktu tahu lagu opening Asian Games 2018 dibawakan Via Vallen, aku agak skeptis sih. Menurutku, opening anthem (apalagi ini acara olahraga) seharusnya dibawakan oleh musisi yang pembawaannya lebih ‘‘strong and bold’’. Misalnya, Slank, Kotak, dan Gigi. Tapi, waktu Ketua Inasgoc Erick Thohir menjelaskan bahwa mereka memilih musisi yang lebih mewakili Indonesia, aku paham kenapa Via Vallen yang ditunjuk. Dan lagi-lagi, lagunya berhasil bikin earworm!

Dia Berani Mengungkap Pelecehan Seksual yang Menimpanya


Masih ingat saat Instagram story Via Vallen viral karena menguak DM dari seseorang yang terkenal? DM tersebut berisi pelecehan seksual yang nggak seharusnya dilakukan meskipun kamu orang terkenal, pejabat, maupun crazy rich Surabaya. Aku ingat betapa besar kontroversinya karena di satu sisi ada yang mengapresiasi keberaniannya, sedangkan di sisi lain mengecam karena menyebarluaskan screenshot chat (yang dilarang undang-undang).

Oh well, terlepas dari penyebarluasan private message, menurutku apa yang dilakukan Via patut diapresiasi. Sebab, nggak gampang lho memberitahu orang lain tentang pelecehan yang kita terima. Butuh keberanian tinggi!

Konser Spesial SLANK bersama Shopee


Nah, buat yang suka Via Vallen, ada kabar bagus nih! Penyanyi dangdut kelahiran 1990 ini akan tampil eksklusif di Konser Spesial SLANK bersama Shopee. Kamu bisa menontonnya pada 31 Maret 2019 pukul 19.00 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD, dan ditayangkan di SCTV serta Indosiar. Yay, nggak perlu takut TV kabel gangguan nih kalau hujan! Buat yang masih nggak percaya dengan keistimewaan Via, tonton juga ya. Buktikan sendiri he he he.

Acara Konser Spesial SLANK bersama Shopee juga akan dimeriahkan oleh Syahrini, The Princess yang baru saja menikah di Jepang dan bikin heboh dimana-mana. I’m sure she’s going to perform her newest single, Restu, sih. Kalau aku pasti kepo baju yang dipakai Syahrini karena selalu heboh, tapi tetap elegan. Nggak gampang lho menciptakan look seperti itu.

Selain Via Vallen, SLANK, dan Syahrini, akan ada penampilan dari Marion Jola, Iwa K, DJ Yasmin, Ariel Tatum, Pamela Safitri Duo Serigala, dan Andi /Rif. Ada juga sesi Kuis Shopee dan Goyang Shopee yang lebih spesial dari biasanya. Wah, pemburu diskonan jangan sampai ketinggalan!! Semua Pasti Ada di Shopee! Jadi, mari kita nonton Konser Spesial SLANK bersama Shopee demi mengosongkan keranjang yang sudah penuh itu ;)

5 Film Maret 2019 yang Wajib Ditonton Selain Captain Marvel

Wednesday, February 20, 2019
Foto: Dailymotion

Wah, sudah lama nggak bahas film ya. Sebenarnya, aku masih ke bioskop kok setiap minggu untuk menonton film-film terbaru (lebih sering streaming film Netflix). Sayangnya, aku sering mager menuliskan review-nya he he he. Tapi, terlalu banyak film Maret 2019 yang menarik sehingga membuatku ingin menuliskan daftarnya. Sekalian jadi ‘‘to-be-watched list’’ gitu. Apa saja 5 film rilisan Maret 2019 yang nggak boleh dilewatkan?

GRETA

Rilis: 1 Maret 2019 (USA)

film maret 2019 greta chloe grace moretz
Foto: Focus Features

Film garapan Neil Jordan ini sempat diputar di Toronto International Film Festival September lalu. Meski nggak mendapat cukup banyak apresiasi, ini adalah film comeback sutradara yang pernah mendapat Piala Oscar untuk The Crying Game (1992) itu sejak 2012.

Berdurasi 98 menit, Greta bercerita tentang Frances McCullen (Chloe Grace Moretz), seorang wanita muda yang ingin mengubah nasib di New York City. Menemukan sebuah handbag tak bertuan, France nggak segan-segan mengembalikan ke pemiliknya. Nah, dari situlah dia bertemu Greta Hideg (Isabelle Huppert). Pemilik handbag yang juga seorang guru piano itu ternyata seorang janda kesepian yang hidupnya menyimpan banyak misteri.

Dengan genre horror drama, film ini seharusnya memuat banyak disturbing images. Meski bukan my cup of tea, aku nggak pernah melewatkan satupun film Moretz. So yeah, aku rela menontonnya di bioskop meski Greta hanya mendapat rating 6,8 di IMDB.

CAPTAIN MARVEL

Rilis: 6 Maret 2019 (Indonesia)

film maret 2019 captain marvel brie larson
Foto: Screen Rant

Siapa sih yang belum tahu tentang Captain Marvel? Sejak awal pembuatannya selalu ramai dibicarakan di media sosial. Mulai dari pemilihan Brie Larson sebagai sang kapten sampai teori-teori tentang alur karena ternyata cerita dalam komik Captain Marvel banyak mengalami perubahan. Dikutip dari comicbook, Marvel Studios akan menggabungkan semuanya sehingga menjadi formula cerita baru. Hmm… Ini nih yang bikin menarik.

Sebenarnya, aku sedang dalam masa bosan-bosannya nonton superheroes. Lama-lama ya mereka terlihat sama, baik produksi Marvel maupun DC. Tapi, sebagai superhero Marvel cewek yang pertama dibuatkan film tunggalnya, aku nggak boleh ketinggalan dong.

WOMAN AT WAR

Rilis: 1 Maret 2019 (USA)

film maret 2019 woman at war
Film: nziff

Beberapa bulan terakhir aku mulai doyan menonton film-film festival. Oleh karena itu, aku semangat sekali menunggu Woman at War tayang di bioskop Indonesia. Diputar pertama kali di Cannes Film Festival 2018, Woman at War benar-benar powerful. Karakter utamanya, Halla, adalah seorang konduktor paduan suara yang ingin menggagalkan operasi Rio Tinto aluminium plant. Banyak cara yang dia lakukan demi mencapai tujuannya. Uniknya, dia sendirian!

Bagi penikmat film blockbuster, film berbahasa Islandia, Spanyol, dan Ukraina ini mungkin terlihat membosankan dan berat. Aku agak ragu sih kalau Woman at War bakal ditayangkan di bioskop. Tapi, mungkin CGV atau Cinemaxx bakal menayangkannya. Beberapa kali ada film antimainstream diputar di sana.

Sebagai film bukan produksi Amerika maupun Inggris, akan banyak wajah aktor dan aktris yang nggak familiar bagi kita. But oh well, harusnya itu bukan masalah. Film ini sudah terbukti mendapat rating cukup tinggi di Rotten Tomatoes dan Metacritic (aku nggak percaya IMDB he he). Kalau kamu suka film-film yang biasanya masuk Oscar, film ini WAJIB kamu tonton juga.

FIVE FEET APART

Rilis: 15 Maret 2019 (USA)

film maret 2019 five feet apart cole sprouse
Foto: Hollywood News Source

COLE SPROUSE EVERYONE!! *screaming excitedly* Aku yakin Five Feet Apart bakal ditunggu-tunggu oleh anak-anak muda Indonesia. Film garapan sutradara Justin Baldoni ini bakal bikin kita senyum-senyum sendiri, ikut baper, dan bahkan menangis bombay. Yap, dua karakter utamanya, Stella Grant (Haley Lu) dan Will (Cole Sprouse), mengidap penyakit yang membuat mereka harus menjaga jarak sebesar lima kaki atau sekitar 1,5 meter.

Sepintas Five Feet Apart terdengar seperti The Fault in Our Star. And yes, penonton yang suka TFiOS wajib menonton film ini. Kalau dilihat dari trailernya, Five Feet Apart nggak terlalu mellow dan gloomy sih. Sosok Stella membuat film produksi CBS ini terlihat menyenangkan. Mengingat setting-nya banyak di rumah sakit, sedikit harapan kan bagus ya biar kita yang menonton nggak depresi-depresi amat he he he.

--

Nah, biar nggak ketinggalan satu pun film di atas, aku selalu rajin mengecek jadwal tayang bioskop lewat traveloka movies. Yang aku suka dari Traveloka movies adalah layanannya yang nggak cuma meng-cover XXI, tapi juga CGV dan Cinemaxx. Seperti yang sudah aku sebutkan tadi, CGV banyak memutar film-film antimainstream, guys. Sedangkan kalau pulang kampung ke Jember, aku pasti nonton di Cinemaxx.

Sejak tiket bioskop bisa dibeli secara online, aku merasa jauh lebih tenang karena nggak perlu takut kehabisan tiket. Aku pun nggak perlu membuka akun di banyak tempat (biasanya layanan bioskop punya website pembelian tiket masing-masing). Bayangkan berapa saldo yang menumpuk kalau tiap top-up minimal Rp 100 ribu padahal harga tiketnya cuma Rp 30–40 ribu #mahasiswaperhitungan #demimasadepansejahtera.

Kalau kamu lebih suka nonton dimana? Pernah antre panjang di bioskop dan mendapat kursi paling depan nggak? Jangan kapok nonton film di bioskop ya!

Resolusi 2019: Thank You, Next

Tuesday, January 1, 2019
Resolusi 2019 Thank You Next
Foto: Unsplash

Pinjam judul lagu terbarunya Ariana Grande ya. Thank You, Next sepertinya paling pas untuk menggambarkan perasaanku menyambut tahun baru. Sebab, banyak hal baru yang terjadi tahun lalu meski nggak bisa disebutkan satu-satu dan nggak selalu terpampang di Instagram-ku. Nggak semua berakhir bahagia, aku mengucapkan thank you (and let’s get to the) next (chapter in life).

Sebelum itu, berikut rekap singkat dari resolusi 2018-ku.
  • Bisa make-up dan rajin merawat kulit: CHECKED! Gara-gara sabun JF Sulfur nggak mempan menghadang timbulnya jerawat di wajah, aku pun mencoba berbagai macam skincare dan melakukan 10 step Korean skincare. Produk terfavorit sih Hada Labo yang berhasil mencerahkan kulit meski akhirnya tetap kusam setelah seharian naik motor. Setelah rajin melakukan steps yang naudzubillah banyak itu, aku sadar kalau kebutuhan kulit orang berbeda. Kulitku ternyata cukup double cleanser, memakai toner, serum, essence, moisturizer, dan (kadang) sheet mask. Kalau pakai peeling dan banyak serum malah beruntusan dan nggak ada pengaruhnya. Sedangkan satu hal yang belum bisa aku lakukan dari applying make-up adalah menjepit bulu mata!! Ya ampun aku parno banget gara-gara pernah terjepit :(
  • Ingat Kebutuhan, Nggak ‘‘Gila’’ Brand: Tanpa aku sadari, ternyata aku masih ‘‘gila’’ brand. Rasanya aku lebih rela bertemu orang yang memakai baju atau tas sama sepertiku asalkan branded, jelas nggak murahan. Aku sempat beli sling bag Zara yang nggak murah-murah amat hanya untuk dipakai satu minggu. Bukan, bukan karena mumpung diskon. Tapi, aku cuma ingin punya tas Zara :"") Nggak penting kan? Fortunately, hal ini nggak berlangsung lama. Entah bagaimana aku merasa terlalu banyak barang yang nggak dipakai dan ingin berhenti membeli barang yang nggak perlu. Aku pun jadi sering menghindari mall he he.
  • Menabung untuk Jalan-Jalan ke Korea: Ya ampun! Aku bahkan baru ingat kalau pernah menulis resolusi ini :)))) I’m following Claudia Kaunang di Instagram. Tapi entah kenapa, bukannya ingin ikut trip bareng dia, aku justru ingin trip sendiri bareng keluarga.
  • Sidang Skripsi dan Wisuda: Aduh. Skip aja ya. Bikin stress banget.
  • Finding ‘‘The One’’: Tahun 2018 kulewati tanpa punya pacar! Antara sedih dan bangga sih karena akhirnya aku sadar kalau nggak perlu punya pacar buat membahagiakan diri sendiri. Bukan berarti aku nggak ingin segera bertemu jodoh ya. Tahun lalu, orang-orang sekitarku ngebet punya pacar dan berharap segera menikah. B-A-N-Y-A-K B-A-N-G-E-T. Jadi, tahu kan pressure-nya bagaimana. Belum lagi orang-orang tua (termasuk orang tuaku) yang selalu bertanya dan memberi kode kapan aku segera naik pelaminan. Wisuda aja belum :"") One thing at a time, please. Situ nggak ikut bayarin nikah kan?
  • Nggak Sering Sakit Lagi: YES! Meski sempat ada sakit-sakit nggak penting (biasanya karena telat makan dan kecapekan), semua masih bisa diatasi!

Yah, nilai rapotnya turun nih. Dari 40 persen (resolusi 2017) menjadi 33,3 persen. Yuk, semangat menghijaukan angka resolusi 2019! *Macam saham aja, Bu.* Without further ado, inilah resolusi 2019-ku. Wish me luck!

Foto: Unsplash

Wisuda, Wisuda, Wisuda

Nggak perlu dibahas panjang. Pokoknya HARUS!

Perbanyak Investasi

Berawal dari pikiran ‘‘bagaimana cara mendapat uang lebih banyak’’, aku kenal secara nggak sengaja dengan saham. Sebenarnya, aku sudah tertarik dengan saham sejak orang-orang ramai main bitcoin. Tapi, sama seperti kebanyakan orang Indonesia, aku masih berpikir bahwa investasi saham hanya untuk orang kaya. Padahal, membuka akun RDI (Rekening Dana Investor) cukup dengan Rp 100 ribu yang langsung bisa dibelanjakan saham.

Setelah beberapa lama mencari info sana-sini, ikut grup saham pemula, dan lain-lain, aku akhirnya memutuskan investasi reksa dana dulu. Aku juga sudah lama mendengar tentang jenis investasi ini. Tapi, waktu aku bertanya ke Bank Mandiri, katanya minimal investasi Rp 1 juta. Entah benar atau nggak, yang jelas reksa dana sebenarnya sudah bisa dilakukan hanya dengan Rp 100 ribu, bahkan Rp 10 ribu lewat Tokopedia.

Nah, tahun ini aku ingin memperbanyak jumlah investasiku. At least rutin investasi setiap bulan. Kapan-kapan aku bakal share caraku mengatur budget ya. Aku juga ingin segera mencoba investasi saham! Sistem dan cara kerja dasarnya sih sudah paham, hanya saja aku merasa belum mampu menganalisa dan memantau pergerakan saham setiap waktu. Menulis blog secara konsisten aja belum bisa, ya kan?

Menerapkan Gaya Hidup Minimalis

Masih ingat tulisanku tentang capsule wardrobe? Nah, itu salah satu cara hidup minimalis. Aku belum terlalu menerapkan capsule wardrobe sih. Tapi, kok kebetulan kantor menerapkan dresscode per hari. Jadi, aku nggak pernah bingung lagi mau pakai baju apa. Biru dongker-putih-biru muda/hijau/merah-biru dongker lagi-batik-libur-bebas! Cycle-nya seperti itu dalam satu minggu.

Gara-gara peraturan baru ini, tiap masuk H&M, Uniqlo, dan sejenisnya, aku hanya memperhatikan warna-warna baju yang bisa dipakai ke kantor. Lumayan, cukup mensortir banyak baju. Kalau melihat warna yang pas, otak langsung berpikir, ‘‘Baju yang biasanya masih bagus kok.’’ Nggak jadi beli deh :)))) Hemat banget! Budget beli baju bisa dialihkan untuk mentraktir ortu makan enak.

Cukup sukses dalam hal baju, aku jadi melirik tumpukan buku di kamar mandi yang entah kapan dirampungkan itu (iya, kamar mandi di dalam kamarku masih seperti gudang he he). Aku berencana menjual dan mendonasikan sebagian. Masih rencana, entah kapan bergeraknya. Aku perlu banyak membaca tulisan tentang gaya hidup minimalis nih dan menonton film dokumenternya di Netflix. Katanya, Raditya Dika menjual semua koleksi jam tangan mahalnya setelah nonton film itu lho! Mau mencoba gaya hidup minimalis juga?


Jalan-Jalan ke Luar Negeri Lagi

Too many unexpected things happened in 2018. Sepertinya aku butuh liburan yang proper. Meski sempat short escape ke Bali beberapa kali, belum lega rasanya kalau masih ‘‘dihantui’’ pekerjaan. Oleh karena itu, setelah suatu target besar berhasil tercapai, aku akan liburan ke luar negeri lagi. Bismillah. Sudah mulai dicicil sih budget dan persiapan untuk di sana. Kemana kah itu? Rahasia!

Kali ini aku ingin mendokumentasikan perjalananku nggak cuma di blog, melainkan juga vlog! Ha ha ha ha. Membayangkannya saja sudah cringe sendiri. Sebenarnya, aku sudah lama ingin membuat channel YouTube. Katanya cari adsense di sana kan lebih gampang. Selain itu, kalau kita perhatikan video-video yang viral, kebanyakan hanya diedit sekedarnya, source comot sana-sini, dan dikasih judul bombastis. Kualitas? Jangan berharap.

Lalu, kenapa belum buat? Pertama, ini sudah era advance technology. Semua orang bikin video yang keren-keren. At least, kualitasnya kece lah. Aku yang skill fotografinya pas-pasan dan punya laptop super lemot ini mana bisa menyuguhkan video yang sesuai standard. Kedua, aku tuh nggak terlalu lancar berbicara di depan kamera. I’m more like someone-behind-curtain kind of girl. Project dikerjakan bareng, tapi yang berdiri di spotlight malah si dia… Ah, sudah biasa. Terakhir, suaraku cempreng banget!!! :)))) Bikin nggak pede nih. When I sing, I can make my voice sounds prettier. Tapi, kalau berbicara, bagaimana cara mengontrolnya ya :”) Semoga aku segera bisa menemukan konsep video yang nggak terlalu menonjolkan selfie dan suara he he.

Blog Harus Maju ke Jenjang Berikutnya

‘‘Jenjang’’ yang dimaksud ya mulai dari jumlah posting-an, angka DA dan PA, kecepatan blog, sampai lebih banyak tawaran content placement (lagi). Selama ini, kedua blogku hanya dijadikan sebagai wadah menampung unek-unek di kepala sih. Maklum, menulis secara konsisten itu sulitnya luar biasa. Membuat blogging planner? Jelas sudah dilakukan! Eksekusinya itu lho yang nggak gampang. Apa saja yang akan aku hadirkan di blog ratrianugrah.com dan missratri.com? Tunggu ya.

resolusi 2019 happy new year
Foto: Unsplash

Oke. Lima aja ya target hidup tahun depan. I’m going to turn 26 next year dan semoga pada saat itu sudah mengantongi jodoh. Nggak jadi nikah umur 25 nggak papa deh. Mungkin memang belum waktunya. God knows I’m trying, that’s what matters. Apa resolusimu untuk 2019?

Rekomendasi Hotel Murah di Nusa Dua Bali

Monday, September 3, 2018
Mahogany Boutique Hotel Rekomendasi Hotel Nusa Dua Bali
 Foto: Traveloka
‘‘Bulan ini masih bisa cuti?’’ tanya Bapak pagi ini.
‘‘Kenapa?’’
‘‘Yuk, liburan ke Bali,’’ jawabnya.
Entah kenapa akhir-akhir ini si bapak pengen banget liburan ke Bali. Selain mengunjungi rumah baru kakak di Denpasar, sepertinya beliau iri April lalu aku dan ibu liburan berdua ke sana. Nah, rencananya kami ingin explore Nusa Dua dan mencoba hotel-hotel di sana (yap, keluargaku suka sekali pindah-pindah hotel demi mencari tahu mana hotel terbaik).

Setelah mengubek-ubek hotel Traveloka, aku memutuskan ada lima hotel paling recommended yang wajib aku coba tiap liburan ke Nusa Dua, Bali. Harga menginap semalam di hotel-hotel berikut ini nggak lebih dari Rp 500 ribu kok dan pastinya ada kolam renang yang mana jadi fasilitas favorit orangtuaku. Let’s check this out!

Avisara Villa and Guesthouse
Avisara Villa and Guesthouse Hotel Murah Nusa Dua Bali
Foto: Traveloka

Terletak di dekat Puja Mandala dan Veteran’s Monument, guesthouse ini terbilang sangat murah. Harga per malamnya hanya sekitar Rp 350 ribu dan Rp 400 ribu untuk kamar pool view dengan sarapan. Yang aku suka dari Avisara Villa and Guesthouse ini adalah suasananya yang asri menentramkan hati. Kolam renangnya pun cukup luas dan bersih. Most recommended kalau nggak datang saat peak season sih.

Imah Kita Homestay
Imah Kita Homestay Hotel Murah Nusa Dua Bali
Foto: Traveloka

Hampir mirip dengan Avisara Villa. Imah Kita Homestay didesain seperti rumah sendiri. Space taman yang cukup banyak dan luas bikin homestay ini cocok buat menginap dengan keluarga besar. Sebenarnya, harga satu kamar Imah Kita Homestay sekitar Rp 500 ribu-an. Tapi, selalu ada diskon dong di Traveloka sehingga rate per kamar hanya Rp 400 ribu! Oh iya, homestay ini berjarak tiga kilometer dari GWK (Garuda Wisnu Kencana) lho. Siapa yang belum ke sana?

The Lerina Hotel Nusa Dua
The Lerina Hotel Nusa Dua Hotel Murah Nusa Dua Bali
Foto: Traveloka

Mewah! Itu first impression-ku dari hotel ini. But don’t worry, harga per malamnya nggak sampai Rp 500 ribu kok. Yang paling aku suka dari The Lerina Hotel Nusa Dua adalah lokasinya yang berada di Jalan Bypass Ngurah Rai. Gampang dicari, cuy! Dibanding tempat-tempat sebelumnya, kolam renang di sini lebih luas dan sepertinya ada area untuk anak-anak. And I really love its outdoor restaurant. Waktu sarapan, bisa sambil menghirup udara segar. Ah, jadi nggak sabar!

Mahogany Hotel
Mahogany Hotel Bar Cafe and Lounge Hotel Murah Nusa Dua Bali
Foto: Traveloka

Hotel yang satu ini juga nggak jauh dari Bypass Ngurah Rai. Dengan desain interior mewah minimal, rasanya aku nggak bakal bisa berhenti berburu foto Instagram-able deh he he. Kolam renangnya cukup simpel, tapi tetap bikin geregetan pengen nyebur. Kalau menginap di Mahogany Hotel, jangan lupa foto-foto di area rooftop-nya ya. Mirip café hotel hits di Malang itu lho. Cantik banget pemandangannya!

Langon Bali Resort
Langon Bali Resort Hotel Murah Nusa Dua Bali
Foto: Traveloka

Pengen renang sambil lihat pemandangan alam? Coba menginap di sini deh! I really love the pool meski kelihatannya dingin banget dan berharap mereka pakai air panas aja ha ha. Hotel ini paling banyak direkomendasikan gara-gara pemandangannya sih. Suasananya juga cukup sepi sehingga cocok buat yang nggak suka keramaian. Harga kamar per malamnya cuma Rp 470 ribu dan tinggal tambah Rp 100 ribu buat kamar dengan pool view. Favorit deh!

Nah, when the time comes aku bakal booking salah satu hotel di atas lewat Traveloka. Yap, harga hotel-hotel tersebut bisa lebih dari Rp 500 ribu per malam di luar Traveloka. As always, Traveloka gives you the best deal. Mulai dari hostel, guesthouse, hotel, dan bahkan apartemen pun ada di sana!

  

Yang aku suka dari fitur aplikasi Traveloka adalah cheapest dates to stay. Jadi, tanggal yang dilingkari warna hijau adalah harga termurah dari hotel-hotel di Nusa Dua, Bali. Hal ini membantu banget buat menentukan tanggal liburan. And please see the latest picture, superior room di The Lerina Hotel Nusa Dua diskon lebih dari 50 persen! Beda dengan aplikasi booking hotel lain, harga yang tertera di Traveloka sudah termasuk pajak dan bisa bayar tanpa kartu kredit. Itu sih keunggulan yang bikin aku akhirnya selalu booking hotel di Traveloka.

Well, hotel mana nih yang bikin pengen liburan ke Nusa Dua? My mom would go to Langon Bali Resort. Tapi, si bapak lebih suka suasana homey seperti Avisara Villa and Guesthouse. Sedangkan aku lebih suka Mahogany Hotel buat foto-foto he he. Let’s see keinginan siapa yang bakal terwujud nanti ya.

Movie Review: Pacific Rim Uprising Mengecewakan

Friday, March 23, 2018
Foto: WallpaperSite

PACIFIC RIM: UPRISING adalah salah satu film yang paling aku tunggu tahun ini. Sebab, aku merupakan fans film pertamanya, Pacific Rim, yang dirilis lima tahun lalu. It was cool, emotional, and awesome. Pemain utamanya ganteng pula (faktor ini tetap diperhitungkan ya he he). Sayangnya, penantianku seperti nggak terbayar. Sia-sia lah aku menonton di hari pertama penayangan Pacific Rim: Uprising di Indonesia. Why? Keep on reading!


Important Characters
  • Jake Pantecost (John Boyega): Putra Stacker Pantecost, ranger yang mengorbankan dirinya untuk menutup Breach pada film pertama. Hidup dalam bayang-bayang sang ayah yang dianggap pahlawan dunia, Jake justru memilih menjadi pemburu suku cadang jaeger ilegal.
  • Amara Namani (Cailee Spaeny): Seorang anak yatim yang kehilangan keluarganya karena serangan kaiju. Percaya bahwa suatu hari kaiju akan menyerang lagi, dia mengumpulkan rongsokan jaeger untuk membuat jaeger mini baru bernama Scrapper.
  • Liwen Shao (Tian Jing): Pengusaha ambisius di balik Shao Industries. Dia membuat jaeger baru yang dilengkapi drone untuk dikendalikan jarak jauh. Dr Newton Geiszler (Charlie Day) alias Newt, researcher berjasa di film pertama, menjadi penasehatnya.
***********

Setelah ketahuan mencuri suku cadang jaeger dan menjalankannya secara ilegal, Jake dan Amara dibawa ke Pan Pacific Defense Corps (PPDC) di Hong Kong. Jake kembali menjadi ranger (pilot jaeger) sedangkan Amara menjadi kadet (calon pilot jaeger). Di sana, Jake bertemu Nate Lambert (Scott Eastwood), mantan co-pilot-nya sekaligus teman satu tim saat masa training. Meski kurang akur, mereka akhirnya tetap menjalankan jaeger yang sama, Gipsy Avenger.

Pada suatu hari di Sydney, Australia, sebuah jaeger tak bertuan menyerang. Sejak itu keadaan semakin chaos. Drone milik Liwen yang akhirnya disetujui untuk disebar ke seluruh dunia menjadi senjata makan tuan. Yap, drone itu berisi kaiju! Bagaimana bisa kaiju berkembang sebanyak itu padahal Breach (jalur di dasar laut yang menghubungkan dunia manusia dan kaiju) sudah ditutup?

Foto: Comingsoon

Dilihat dari segi cerita, bagiku Pacific Rim: Uprising ini biasa saja. Nggak ada yang spesial. Nggak ada yang membuatku ingin merekomendasikannya. Sutradara Steven S. DeKnight terkesan hanya ingin menyuguhkan pertarungan jaeger dan kaiju. Katanya ‘‘bigger is better’’. Oleh karena itu, kaiju-nya lebih besar dan jaeger yang menyerang lebih banyak.

Ya kali. Aku tuh suka Pacific Rim karena film tersebut nggak sekedar tentang adu jotos melawan monsternya Ultraman. Sutradara Guillermo del Toro banyak menyuguhkan hal-hal emosional. Mulai dari Stacker yang super protektif terhadap Mako Mori (Rinko Kikuchi), Raleigh Becket (Charlie Hunnam) yang ikut merasakan ketakutan kakaknya, Yancy, saat diserang kaiju, sampai hubungan ayah dan anak antara Herc dan Chuck Hansen.

Sungguh disayangkan. Pacific Rim: Uprising sebenarnya bisa membahas lebih dalam kenapa Jake terbebani dengan nama sang ayah. Scene emosional antara dia dan Mako, kakak angkatnya, pun terasa ala kadarnya. Yap, Mako hadir lagi di film ini dengan jabatan cukup tinggi di PPDC. Apparently, dia hanya berfungsi sebagai pengirim clue lokasi jaeger tak bertuan. Sedih.

Benar-benar nggak ada pesan moralnya nih? Ada. Pacific Rim: Uprising lebih menekankan pada ‘‘berbeda itu nggak masalah’’. Buktinya, pemilihan John Boyega sebagai tokoh utama menunjukkan kalau film ini ingin seperti Black Panther, dipuja karena menampilkan aksi heroik karakter kulit hitam. Selain itu, Amara juga diceritakan berbeda dari kadet lain karena dia ‘‘dipungut’’ dari tempat kumuh. It’s good tho. Tapi kok pesannya nggak sampai ke hati ya?

Ternyata bukan hanya aku yang kecewa dengan film berdurasi 100 menit ini.
Perlu digaris bawahi: ‘‘lacked of heart”. Aku bahkan menonton ulang Pacific Rim sebelum menulis review ini hanya untuk memastikan.

Well, aku nggak mau mengomentari CGI-nya sih. Selama itu nggak terlalu kentara dan mengganggu my experience in watching the movie, bagiku masih bisa ditoleransi (dasarnya memang nggak terlalu paham dan memperhatikan he he). And yes, no more sequels please!!!

Hal lain yang membuatku cukup kecewa dengan Pacific Rim: Uprising adalah absennya my beloved Raleigh. Aku paham kok kalau film kedua ini sudah beda generasi. Tapi, bisakah dia muncul meski hanya menjadi Marshall seperti Stacker? Kok malah semua serba orang Asia ya? "Ah, mungkin DeKnight benar-benar ingin menonjolkan diversity," pikirku. But still...


Aku cukup excited saat melihat karakter Newt dan partner research-nya, Herman Gottlieb (Burn Gorman), ada lagi. Aku sangat mengharapkan aksi eksentrik dan love-hate relationship di antara mereka yang entertaining itu. Eh, kok malah kerja sendiri-sendiri. Kecewa lagi deh. Bahkan, mereka nggak lucu lagi! Can we just forget this movie and ask del Toro to do it?

Anehnya lagi, John Boyega kan sudah punya nama besar since he is well-known for playing Finn di film Star Wars. Lalu, kenapa harus ada Scott Eastwood yang karakternya sangat kurang greget sehingga terkesan hanya untuk ‘‘sokongan’’ nama dan penampilan? Sebagai co-pilot sekaligus ranger yang melatih tim kadet yang sama, hubungannya dengan Jake sebenarnya bisa dikemas lebih emosional. ...or at least bikin penonton rooting for their bromance. Lha ini, nggak sama sekali. Dear, Steven S. DeKnight, apakah anda kurang yakin Boyega bisa mengangkat Pacific Rim: Uprising?

Ah, kenapa tulisan ini jadi panjang ya ha ha. Pokoknya, bagi yang menanti film ini karena suka dengan Pacific Rim (2013), siap-siap dikecewakan. Silahkan menonton, tapi sebaiknya menunggu Ready Player One yang akan rilis di Indonesia minggu depan (28 Maret 2018). Buat yang penasaran dan mungkin penikmat film Transformer, film ini bakal menghibur kok. Tapi ingat, jangan berekspektasi terlalu tinggi!

Book Review: Resign by Almira Bastari (Metropop)

Wednesday, February 21, 2018

RESIGN
Penulis: Almira Bastari | Editor: Claudia Von Nasution
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 29 Januari 2018| Tebal: 288 halaman
Harga: Rp 44.250 (Google Play Book) | Rating: 3,5/5 stars

OH MY GOD! Buku ini benar-benar bikin baper dan membuatku tidak rela bangun padahal ada janji jam 09.00. Yap, pagi itu aku membaca tweet @fiksimetropop tentang Resign yang katanya banyak diborong. Jelas aja, Google Play Book sedang mengadakan diskon buku 90% spesial imlek (berlaku sampai 22 Februari lho! Yuk, buruan!). Penasaran dengan koleksi buku di sana dan sudah lama pengin membaca Resign, aku pun ikut mencoba beli. Lha kok harga Rp 44.250 setelah diskon jadi cuma Rp 4.425! Dibayar pakai memotong pulsa pula. Praktis!

Jam menunjukkan pukul 06.30. Daripada scrolling timeline yang entah kenapa sedang tidak ada topik menarik, aku memutuskan membaca Resign. Hitung-hitung mencoba baca e-book dari aplikasi Play Books (so far belum menemukan aplikasi sekece iBook he he, any idea?). Eh, tidak terasa, aku sudah membaca lebih dari separuh halaman! Gercep banget. Tumben lho. Posisiku pun masih gulung-gulung di atas kasur, ketawa-ketiwi menyimak tingkah para cungpret bergosip tentang Si Bos Tigran. "Kok tumben suka baca buku beginian, Rat?" Well, I don't know. I love fantasy and crime for sure. Tapi tidak bisa kupungkiri kalau otakku kadang butuh light reading seperti ini.


Resign universe ini banyak mengambil setting di kantor konsultan di Jakarta. Ada empat orang karyawan yang menyebut diri mereka The Cungpret. Mereka adalah Carlo, Mbak Karen, Mas Andre, dan Alranita alisa Rara. Selain kerja sampai lembur, sebenarnya kerjaan mereka paling banyak bergosip tentang si bos, Tigran. Dalam bayanganku sih dia seperti Mr. Grey di Fifty Shades of Grey. Ganteng, stylish, sikapnya dingin, dan memang tajir melintir. Ah, sungguh, Resign ini mirip drama Korea yang membuat pembacanya hanya bisa berharap dalam mimpi.
"Mungkin kita harus nyariin Tigran cewek. Biar dia beristri lalu punya anak, terus dia jadi punya sedikit rasa perikemanusiaan dan perikeadilan." (halaman 192)
Sayang, tidak cuma dingin, Tigran ini super duper menyebalkan. Sebagai bos, dia sering terkesan semena-mena dan bikin karyawannya banyak lembur. And of course yang diceritakan banyak sial sih si Alranita. Buku ini pun dibuka dengan adegan KZL Rara yang dibuat bingung Tigran. Serius deh, adegan itu dikemas lucu banget. Bikin aku ikut geregetan dengan sosok Tigran.

Kejadian-kejadian serupa terus terjadi. Yah, mirip hubungan Miiko dan Tapei gitu deh. Tigran perhatian tapi salah kaprah, Rara sering dibikin sebal tapi tidak peka. Sederhana, yes I know. Tapi penulis Almira Bastari sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk merasa bosan. "Bikin ulah apa lagi nih, Tigran." "Duh, Alranita ini apes banget." Kata-kata seperti itulah yang selalu ada di pikiranku selama membaca Resign. Terus, kenapa diberi judul Resign?
Setelah Mbak Karen dan Rara presentasi.
  • Karen: "Lo tahu nggak sih, tiap kali Tigran nyebut 'saya tanya sekali lagi', rasanya gue pengin jambak dia!"
  • Rara: "Gue mau nangis."
  • Karen: "Lo itu sekarang kayak zombi! Resign deh! Perempuan seumur lo itu harusnya cantik, haha-hihi, bergaul di mal. Bukannya rambut digulung dan muka pucat kecapekan nggak jelas gini."
  • Rara: "Gue merasa idiot tiap kali dia ngomong gitu. Gue lama-lama tertekan, terus jadi berasa kok kayaknya gue nggak ada bagusnya jadi analis. Intonasi dia itu lho... ngeremehin banget! Kepercayaan gue sudah drop ke level basemen."
Pintu ruangan terbuka, Tigran kembali ke ruang rapat.
  • Tigran: "Handphone gue ketinggalan nggak?"
  • ....
  • Tigran: "Gue pikir mati, gelap gitu, tapi ternyata terekam video. Kepencet kali ya pas duduk tadi?" *Sambil berjalan keluar*

SIAPA YANG TIDAK PENGIN RESIGN KALAU KEPERGOK NGOMONGIN BOS?

Duh, tingkah The Cungpret memang selalu bikin gedek kepala. Jadi, empat orang dengan karakter yang berbeda-beda itu taruhan siapa yang akan resign lebih dulu. Apakah Mas Andre, satu-satunya orang yang disegani Tigran, yang ingin pekerjaan santai demi fokus mengurus anak? Apakah Mbak Karen yang paling tua dan sering merasa kurang dihargai? Apakah Carlo yang sebenarnya anggota tim Bu Sinta tapi kadang dibutuhkan tim Tigran? Atau apakah Alranita yang sering dijadikan sasaran perintah si bos dan sesi interview-nya dengan perusahaan lain selalu ketahuan? The result is pretty UNEXPECTED!! Sudah, beli aja mumpung diskon 90%.

Satu hal yang aku sayangkan adalah absennya karakter kuat dalam buku ini. Misalnya, Sigi di Sophismata yang sama-sama struggling bekerja tapi cukup menonjol sisi feminismenya. Semua karakter dalam buku ini rasanya seperti dikenalkan seperlunya, B aja. Bisa dimaklumi sih karena ini bacaan ringan dan tidak tebal. But still, I want to know Alranita di mata keluarganya. Jadi analis ternyata tidak gampang lho! Aku pengin tahu lebih banyak tentang kehidupan The Cungpret lain di luar kantor. Bahkan aku pengin tahu tuh Tigran kenapa putus sama mantannya #kecewa.

But overall ini bacaan yang sangat sangat menyenangkan. Aku merekomendasikan beli versi e-book sih karena selain lebih murah, bacaan seperti ini cocok buat menghabiskan waktu di jalan saat macet, komuter, atau mungkin menunggu kedatangan sang dosen pembimbing huehe.

Review: Just Between Lovers - Korean Drama

Sunday, February 18, 2018
Just Between Lovers Korean Drama
Foto: AsianWiki

Drama Korea Just Between Lovers menyuguhkan cerita yang realistis (selain Because This is My First Life yang berhasil mencuri hatiku #tsah). Uniknya lagi, drama yang dibintangi para pendatang baru ini tidak mengikuti konsep Cinderella. Tidak ada tuh cerita cewek atau cowok miskin yang sangat malang dan jatuh cinta dengan orang kaya. Inilah 5 hal menarik dari Just Between Lovers.

Status Ekonomi yang Seimbang

Biasanya, drama Korea menampilkan sosok pemeran utama lemah tak berdaya yang akhirnya jatuh cinta dengan seseorang kaya raya. Bagiku, karakterisasi seperti itu sudah so yesterday. Berbeda dengan Just Between Lovers. Lee Gang-doo (Lee Joon-ho) dan Ha Moon-soo (Won Jin-a) digambarkan sebagai golongan ekonomi menengah. Ayah Gang-doo bekerja di kontraktor bangunan (dengan jabatan jelas). Sedangkan ayah Moon-soo adalah supir yang selalu jauh dari rumah. Adiknya adalah bintang cilik dan ibunya membuka usaha salon plus pemandian air panas di rumah.

Status ekonomi itulah yang membuat drama ini terkesan lebih realistis. Coba bayangkan, ada berapa orang sekaya Kim Tan (Lee Min-ho) dan Choi Young-do (Kim Woo-bin) yang memperebutkan orang seperti Cha Eun-sang (Park Shin-hye) di kehidupan nyata? Meski tidak menutup kemungkinan, biasanya kita cenderung bergaul dan bertemu orang-orang satu kelas. Terlalu sering berkhayal itu tidak baik, guys.

Saat sudah dewasa pun status ekonomi mereka tidak banyak berubah. Moon-soo bekerja di kantor arsitektur milik Seo Joo-won (Lee Ki-woo) yang lama-lama menyukainya. Pemandian air panas dan salon ibunya masih buka, tapi sepi. Sang ayah tinggal terpisah dan membuka restauran mie kecil tidak jauh dari rumah. Sedangkan Gang-doo bekerja serabutan, tapi cukup untuk menghidupi dirinya dengan layak, membayar hutang orang tuanya, dan uang saku adiknya yang seorang dokter.

Just Between Lovers Korean Drama - 2PM Junho Lee Ki-woo
Foto: Soompi

Mengusung Dunia Arsitektur

Di awal episode, penonton disuguhi kejadian runtuhnya S Mall dari kaca mata Moon-soo kecil. Saat itu, dia diutus sang ibu untuk mengantar adiknya syuting. Namanya masih remaja, dia kabur sebentar untuk menemui gebetannya. Nah, saat itulah S Mall runtuh dan merenggut nyawa sang adik. Di sisi lain, Gang-doo remaja menunggu ayahnya yang terlibat dalam pembangunan S Mall selesai bekerja. Saat menunggu itulah dia melihat Moon-soo. Semacam takdir yang agak tragis ya?

Runtuhnya S Mall menjadi core cerita Just Between Lovers. Bagaimana nasib keluarga korban. Bagaimana perasaan traumatis mereka yang selamat. Bahkan bagaimana anak sang penanggungjawab berusaha tidak mengulang kesalahan yang sama. Iya, kesannya mbulet karena semua karakter tampak saling berhubungan. But trust me, drama ini sama sekali tidak membosankan.

To be honest, ini pertama kalinya aku menonton drama Korea tentang arsitektur. Yah, biasanya ada kejadian bangunan runtuh and that's it. Kalau di sini, kita benar-benar diajak mengulik dari penyebabnya, apa yang harus dilakukan agar tidak terjadi lagi, sampai sisi bisnis dari proyek pembangunan.

The Struggle is REAL!

Just Between Lovers Korea Drama Lee Joon-Ho 2PM
Foto: DramaPanda

Baru kali ini aku merasa benar-benar kasihan terhadap suatu karakter. Mungkin karena ini menimpa lead male ya, bukan karakter-karakter macam Park Shin-hye #nyinyirmodeON. Dan masalah-masalah itu dimunculkan dengan pas, tanpa "drama" (meskipun ini juga drama ya :"")) ). Mulai dari kerja serabutan dan dealing with preman, trauma tempat tertutup dan gelap karena sempat terjebak di reruntuhan S Mall, sampai penyakit mematikan yang diderita.

Iya, awalnya aku merasa masalah yang terakhir ini cliche. Tapi, thankfully, penulis Yoo Bo-ra tidak menjadikannya just-like-another-story-tentang-pemeran-utama-yang-terserang-penyakit-kronis. Percayalah, inti ceritanya bukan di situ. Pay attention to the others karena drama ini sebenarnya kompleks dengan tampilan sederhana nan manis.

Cowok Butuh Dukungan Cewek

Nggak bermaksud membanding-bandingkan. Tapi, kebanyakan drama Korea memposisikan karakter cewek sebagai tokoh yang lemah, menunggu diselamatkan seorang pangeran nan tajir melintir. Nah, Just Between Lovers malah kebalikannya. Bukan kebalikan juga sih karena taraf ekonomi mereka tidak jauh berbeda. Sejak awal, penonton dibuat kasihan dengan nasib Gang Doo (as stated on my previous point). Orang-orang yang akan menolongnya justru cewek-cewek!

Sebut saja Grandma penjual obat-obatan, Ma-ri si pemilik klub malam, Jung Yoo-jin (Kang Han-na), Lee Jae-young (Kim Hye-jun) sang adik, dan of course Moon-soo. Gara-gara drama ini, aku semakin yakin kalau cowok (in general) tidak akan bisa hidup tanpa dukungan cewek. Eits, bukan berarti Gang Doo adalah cowok lemah ya. Dia justru digambarkan sebagai seorang gentleman. Meski miskin, dia punya pride yang tidak kebablasan.

Yoon Se-ah Just Between Lovers Korean Drama

Na Moon-hee Just Between Lovers Korean Drama

Bikin Kita Lebih Bersyukur

Kalau biasanya drama Korea membuat kita "berkhayal", Just Between Lovers malah menarik kita ke realita. Apakah hidup kita sesulit Gang Doo? Apakah kita punya kisah traumatis seperti dia dan Moon-soo? Apakah kita pernah disalahkan akan sesuatu yang di luar kendala kita? Lalu, apakah karena masalah-masalah itu lantas kita terpuruk dan ingin mengakhiri hidup?

Aku percaya kalau Tuhan tidak akan memberi cobaan yang di luar kemampuan hamba-Nya. Dan aku percaya kalau kebaikan akan dibalas kebaikan juga. Hal itu persis seperti apa yang ingin disampaikan drama ini. Gang-doo bukanlah siapa-siapa. Uang aja tidak punya. Tapi kebaikannya membuat orang lain rela berkorban untuk dia. Carilah suami seperti Gang-doo. Jangan cari seperti Dilan. Hidup itu berat. Tidak cukup dibayar gombalan.

P.S. Entah kenapa oppa ini ada lagi setelah aku lihat dia di Because This is My First Life. The thing is, kesannya seperti diada-adakan :)) Jadi annoying juga lama-lama.
Kim Min-gyu Just Between Lovers Korean Drama
Foto: AHJUMMAMSHIES

Movie Review: Black Panther

Wednesday, February 14, 2018
Black Panther Killmonger Michael B Jordan
Foto: Screenrant

BLACK PANTHER. Oh. My. God. It’s so deep.

Seharusnya hari ini aku mau nonton The Greatest Showman untuk terakhir kalinya. Waktu ngecek website Cinema21 pagi tadi masih ada di Ciputra World. Lumayan lah, deket rumah. Sesampainya di sana... Lha kok studionya (hampir) Black Panther semua euy! Terlanjur di TKP, aku pun memutuskan nonton Black Panther. Was it great? I’d say good, not great.

Overall, film Black Panther terasa flat. Membosankan. Tidak heboh. Dan ternyata hal ini banyak dirasakan teman-temanku yang keluar studio menggerutu karena Black Panther tidak sesuai ekspektasi mereka. Personally, mereka ada benarnya. Film-film superhero Marvel biasanya penuh boom boom boom dan hal bombastis lain. Bahkan Thor: Ragnarok kemarin sukses mengguncang perut penonton. Sedangkan ini... Guyonannya garing -___-

For some people, guyonan antara T’Challa a.k.a Black Panther (Chadwick Boseman) dan adiknya, Shuri (Letitia Wright), dianggap lebih pas. Bikin tertawa, tapi tidak kebablasan (mengingat mereka adalah kakak-beradik keluarga kerajaan). Sayangnya, guyonan itu cuma berhasil membuatku tertawa kecil. Kalau tidak salah, hanya 1-2 kali saja penonton di Studio 1 Ciputra World tertawa terbahak-bahak. Itu pun karena ulah Okoye (Danai Gurira) dan Nakia (Lupita Nyong’o).

Movie Review Black Panther
Foto: SuperHeroHype

Siapakah Okoye dan Nakia? Okoye adalah jendral yang memimpin pasukan wanita. Sedangkan Nakia adalah petinggi salah satu suku di Wakanda. Wah, karakter mereka berdua patut mendapat standing ovation. Kuat banget! Saking kuatnya, aku merasa Black Panther ini bukan tentang T’Challa, melainkan Okoye dan Nakia (dan mungkin Shuri). Yap, girl power, baby. Aku yang awalnya menilai Black Panther tidak sesuai ekspektasi malah dibuat kagum.

Nakia (yang juga mantan T’Challa) digambarkan sebagai wanita yang punya jiwa sosial tinggi. Di awal film dia diperlihatkan sedang menyamar sebagai refugee untuk menolong mereka. Ternyata, selama ini dia ingin Wakanda open up to the world. Vibranium (yang diklaim sebagai the strongest metal on earth) yang berlimpah di sana bisa membantu perdamaian dunia. Sayangnya, para raja sebelum T’Challa menentang karena khawatir keselamatan masyarakatnya terancam.


Well, tanpa membuka diri pun, vibranium ternyata diselundupkan ke luar oleh keluarga kerajaan sendiri. Dari sinilah masalah muncul. Klaue (Andy Serkis) yang dikenal sebagai pedagang senjata ilegal akan menjual sebongkah vibranium kepada CIA (diwakili Agent Ross yang diperankan Martin Freeman). T’Challa, Okoye, dan Nakia mengetahui transaksi itu dan berniat menangkap Klaue. Penangkapan tersebut mempertemukan T’Challa dengan Erik Killmonger (Michael B Jordan), the soon-to-be villain.

Long story short, Killmonger merebut takhta Wakanda dan berencana mengirim vibranium ke dunia luar agar menjadi senjata perang. Maksudnya sih baik, yaitu mempersenjatai mereka yang lemah. Sayangnya, Killmonger dibutakan amarah. Dia tidak bijak seperti T’Challa. But surprisingly, aku suka Killmonger. Aku suka villain ini. Baru kali ini ada karakter villain yang membuatku bersimpati. Dia tidak menjadi monster karena serakah. Dia tidak menjadi monster karena ingin kekuasaan. Dia hanya ingin keadilan. Keadilan bagi mereka yang tidak punya suara seperti yang selama ini dia rasakan saat “dibuang dan ditinggalkan” di Chicago.

Black Panther T'Challa vs Killmonger
Foto: Houston Public Media

Aduh. Udah seksi, macho, niatnya baik pula. Me love you lah, Bang Kill! (kanan)

Meski tidak sebombastis film-film superhero Marvel sebelumnya, menurutku film garapan sutradara Ryan Coogler ini tetap worth untuk ditonton (daripada Eiffel I’m in Love 2 sih). Meski adegan action-nya tidak seru-seru amat, sinematografinya apik! Mupeng (baca: muka pengen) banget melihat keindahan Benua Afrika (yang sepertinya tidak betulan syuting di sana he he). Unsur budayanya juga kental banget. Suara-suara genderang itu...duh, bikin hati adem. Oh ya, jangan terkejut dengan “baju koko” yang dipakai T’Challa ya. Kabarnya sudah banyak dijual tuh di toko online Indonesia. Gercep banget.


Mungkin sebentar lagi sandalnya juga??

Taylor Swift Tag: The Swiftie

Saturday, January 27, 2018
Foto: The Wallpapers

YAY! Akhirnya aku menemukan topik yang bikin semangat menulis lagi. Thank you, Heryani :) Jadi, saat ini aku sedang dilanda writing slump. Banyak sekali tulisan yang berakhir di draft meski kurang sekitar 5 persen he he he. Sampai suatu malam aku baca tweet tentang Taylor Swift Tag: The Swiftie. "Menarik nih," pikirku saat itu. So, Taylor Swift Tag: The Swiftie ini berisi 13 pertanyaan tentang Taylor Swift. Oke, fangirling mode: ON. Sebenarnya, aku sudah menyiapkan F.A.Q tentang kenapa aku suka Taylor dalam rangka rilisnya album Reputation. But, let me post it later. Without further ado, let's check this out!

***Tulisan ini dibuat sambil mendengarkan Gateaway Car dari album Reputation***

1. What was your first impression of Taylor Swift?

A pretty lady who apparently can write songs.

2. First Taylor Swift song you ever heard?

Waktu itu aku masih kelas VIII. I saw her pretty face on one of teenage magazine (kalau tidak salah majalah Kawanku). Penasaran, aku googling dan lagu pertama yang aku dengarkan adalah Love Story. "Romeo take me somewhere we can be along~" Duh, good old times. Aku yang saat itu pecinta berat Avril Lavigne langsung berubah haluan :)) Thanks to Taylor Swift, aku jadi suka mendengarkan Lady Antebellum dan Rascal Flatts. Ternyata musik country itu bukan seperti acara TV-nya Helmy Yahya *sigh*

3. What's your favorite music video? And what's your least favorite music video?

Hmm... Baru nomor 3 kok sudah susah ya. For me, video klip yang bagus itu harus punya konsep unik, tidak hanya menceritakan isi lagunya secara gamblang. Sedangkan most of Taylor's video seperti itu. Jadi, sebenarnya tidak ada one particular video yang aku suka banget. Sebelum nonton konsernya, aku memutar video Fearless berulang-ulang, bahkan sampai menitikkan air mata, hanya karena ingin sekali merasakan atmosfer konser Taylor Swift.


Konsep rekap konser juga diusung di video klip Red dan New Romantics. But you know, the feeling is different. Video klip lain yang aku suka adalah Wildest Dream. Ya ampun, Taylor ini memang pantes banget dandan vintage. Semua look-nya cantik dan for the first time aku cocok dengan lawan mainnya *uhuk*

Sedangkan video yang paling tidak aku suka adalah Look What You Made Me Do. Maybe because I hate the song on the first place. Jadi, ya bagaimana mau menikmati videonya kalau lagunya aja tidak suka.

4. What's your favorite song? What's your least favorite song? And what song you wish had a video?

I have tons of favorite songs. Rasanya tidak adil kalau hanya memilih satu. Untuk album pertama, Taylor Swift (2006), aku suka semuanya :)) But if I really really have to choose... Tim McGraw then. Aku suka bagaimana Taylor mendapatkan inspirasi untuk lagu itu. Aku juga suka bagaimana label memilih Tim McGraw sebagai single pertama. Strategi bisnisnya udah bagus sejak awal lho.

Di album Fearless (2008), aku mulai pilih-pilih he he. Tidak ada yang jelek, tapi yang paling berkesan dan sering aku dengarkan adalah The Best Day dan Fifteen. I once read kalau ibunya selalu menangis tiap dia menyanyikan The Best Day di atas panggung. Sedangkan di album Speak Now (2010), wah...kacau. Hampir suka semua, cuy! Tapi, Mean yang paling bagus sih karena nilai moral yang pengen disampaikan. Entah bagaimana kabar si kritikus nyinyir itu.

Next. I really love All Too Well. Sebenarnya, mulai album ini Taylor nge-pop banget sih. Tidak heran kalau dia gagal mendapatkan Grammy. All Too Well itu bagiku lagu yang paling bikin baper. Sekalipun aku tidak pernah bosan mendengarkannya. It's so sad and it's so real sampai Taylor butuh bantuan menulisnya. Sedangkan di album pop pertamanya, 1989 (2014), aku paling suka Wildest Dream.

What about Reputation (2017)? To be honest, aku sempat berkata "fix aku bukan Swiftie lagi" hanya karena lagu-lagu dalam Reputation terdengar sangat berbeda. Apalagi single pertamanya, LWYMMD, berhasil membuat ilfeel setengah mati. "Oh, mungkin belum familiar." Kuputar terus-menerus, eh kok tetap tidak suka. Yap, untuk pertama kalinya aku tidak menyukai lagu Taylor Swift :)) Tapi, saat ini aku lagi suka banget Gateway Car dan King of My Heart nih.

5. When did you become an official Swiftie?

Sepertinya sampai sekarang aku juga belum bisa dibilang Swiftie sih. But people like to call me that. Aku tidak pernah membeli album fisiknya. Tapi, aku membeli versi digitalnya secara resmi di Apple Music. Aku juga tidak membeli official merchandise, tapi alhamdulillah aku bisa menonton konsernya di Jakarta empat tahun lalu. So, can I call myself as Swiftie?

6. Have you met Taylor Swift? What's your favorite live performance of her?

YES!! Red Tour Jakarta!! I love the opening. Oh damn I love everything. Sepanjang performance aku sibuk menghapus air mata :)) Rasanya masih tidak percaya melihat Taylor Swift di depan mata.

7. Favorite dress she's worn?


Taylor Swift on Victoria's Secret Fashion Show 2013

8. Favorite lyric?

Don't you worry your pretty little mind. People throw rocks at things that shine. And life makes love looks hard. The Stakes are high, the water's rough. This love is ours.

9. Which song do you relate to the most?

Fix deh ini pertanyaan paling susah. I grow up with her songs and surprisingly selalu ada lagu-lagu yang relatable banget dengan perasaanku saat itu. Entah itu jatuh cinta, patah hati, butuh semangat hidup, rindu orang tua, dll. So I definitely can't name just one song. But as I stated before, saat ini aku sedang related banget dengan lagu Getaway Car di album Reputation (iya, lagu yang buat Tom Hiddleston itu lho!).

10. What do you wish/hope for on her next album?

Aku berharap Taylor tetap menyuguhkan musik-musik yang relevan. I can't blame people who dislike her new image. Awalnya, aku pun tidak setuju. But oh well, we are all grow up. Mungkin karena pada dasarnya aku memang menikmati berbagai genre musik (kecuali cadas), jadi aku lebih mudah menerima image baru Taylor Swift. Kalau dia tetap seperti dulu, ada kemungkinan fansnya bosan, mundur, dan musiknya ketinggalan zaman.

11. What album is your favorite?


 

12. What would you say to her right now?

Dear, Taylor Swift
Thank you for being my number one inspiration. Thank you for being a nice role model. Thank you for accompanying me with your beautiful songs. Thank you for letting me grow up with you.

13. Who should she do a duet with?

Ed Sheeran!!! Aku yakin pasti banyak yang menjawab ini. He's just perfect. Dibandingkan End Game, aku lebih suka Everything Has Changed. Apalagi video klipnya, duh, manis sekali. Tapi, aku mulai suka hasil kolaborasinya dengan Jack Antonoff nih. Hopefully they'll make a duet someday.

THAT'S IT!! 13 questions have been answered. Aku yakin pembaca yang bukan fans Taylor Swift jadi kurang ngeh dengan tulisan ini. But hey, you should make a tag too about your idol. Sepertinya tulisan ini akan bikin mesem-mesem sendiri saat dibaca 10 tahun lagi. If you like Taylor Swift too, don't hesitate to participate and let me know.