What Was It Like To Be 22

Thursday, June 30, 2016
Picture by Flickr

Happy birthday to me!

Menginjak umur ke-23, rasanya semakin kecil keinginan untuk mendapat kejutan, ucapan selamat, dan kue-kue manis itu. Beberapa hari sebelumnya, I've made sure all the reminders were set to off. Entahlah. Bagiku, percuma dapat banyak ucapan yang belum tentu berangkat dari hati. Aku nggak bermaksud menyindir siapapun ya karena aku sendiri pernah melakukannya, especially on Facebook. "XXX berulang tahun hari ini." Klik profilnya, tulis "happy birthday, wish you all the best," klik send. That's it. Sepertinya ini salah satu sisi negatif teknologi. Bahkan ada yang menulis ucapan hasil copy-paste karena hari itu ada lebih dari dua orang yang berulang tahun. Daebak! Tapi, aku menghargai sekali mereka yang at least menambahkan satu-dua kata yang terkesan personal ;)

Pada tulisan kali ini, let me recall my last year as 22 years-old girl. Tahun lalu, aku masih ingat betapa excited-nya diriku karena akhirnya berumur 22 tahun. Can't you guess? "I don't know about you, but I'm feeling twenty twooooo..." Iya, gara-gara lagu itu. Keburu basi. Was it that exciting? Ternyata nggak juga. Age is just a number. Nge-judge seseorang berdasarkan umurnya itu udah nggak zaman. Selamat berlabel "umur 22 tahun," aku nggak merasakan perbedaan yang signifikan sih sama umur-umur sebelumnya. I still had no boyfriend yang berarti aku nggak belajar hal baru dalam hal love life. Aku masih sibuk berkutat dengan pekerjaanku sebagai editor yang bikin hari-hari berlalu sangat cepat. Aku masih mengerjakan proposal di saat teman-teman lain sudah sibuk menulis skripsi. See? Perbedaan yang paling terasa ya pekerjaan. But I'll tell you about it on another post.

Yang jelas, there are a lot of things I'm grateful for. Aku bersyukur sekali Ama (sebutanku untuk ibu) sangat open minded mengingat aku harus mengulang proposal dan Apa (sebutanku untuk ayah) yang pekerja keras. Aku senang punya teman-teman yang masih selalu ada buatku. Aku beruntung punya teman-teman yang masih reaching out for me meski aku yang paling susah mengatur jadwal. Thank you. Thank you. Thank you. Semoga pada post tahun depan akan ada a real exciting thing yang bisa aku tulis.