Movie Review: Pacific Rim Uprising Mengecewakan

Friday, March 23, 2018
Foto: WallpaperSite

PACIFIC RIM: UPRISING adalah salah satu film yang paling aku tunggu tahun ini. Sebab, aku merupakan fans film pertamanya, Pacific Rim, yang dirilis lima tahun lalu. It was cool, emotional, and awesome. Pemain utamanya ganteng pula (faktor ini tetap diperhitungkan ya he he). Sayangnya, penantianku seperti nggak terbayar. Sia-sia lah aku menonton di hari pertama penayangan Pacific Rim: Uprising di Indonesia. Why? Keep on reading!


Important Characters
  • Jake Pantecost (John Boyega): Putra Stacker Pantecost, ranger yang mengorbankan dirinya untuk menutup Breach pada film pertama. Hidup dalam bayang-bayang sang ayah yang dianggap pahlawan dunia, Jake justru memilih menjadi pemburu suku cadang jaeger ilegal.
  • Amara Namani (Cailee Spaeny): Seorang anak yatim yang kehilangan keluarganya karena serangan kaiju. Percaya bahwa suatu hari kaiju akan menyerang lagi, dia mengumpulkan rongsokan jaeger untuk membuat jaeger mini baru bernama Scrapper.
  • Liwen Shao (Tian Jing): Pengusaha ambisius di balik Shao Industries. Dia membuat jaeger baru yang dilengkapi drone untuk dikendalikan jarak jauh. Dr Newton Geiszler (Charlie Day) alias Newt, researcher berjasa di film pertama, menjadi penasehatnya.
***********

Setelah ketahuan mencuri suku cadang jaeger dan menjalankannya secara ilegal, Jake dan Amara dibawa ke Pan Pacific Defense Corps (PPDC) di Hong Kong. Jake kembali menjadi ranger (pilot jaeger) sedangkan Amara menjadi kadet (calon pilot jaeger). Di sana, Jake bertemu Nate Lambert (Scott Eastwood), mantan co-pilot-nya sekaligus teman satu tim saat masa training. Meski kurang akur, mereka akhirnya tetap menjalankan jaeger yang sama, Gipsy Avenger.

Pada suatu hari di Sydney, Australia, sebuah jaeger tak bertuan menyerang. Sejak itu keadaan semakin chaos. Drone milik Liwen yang akhirnya disetujui untuk disebar ke seluruh dunia menjadi senjata makan tuan. Yap, drone itu berisi kaiju! Bagaimana bisa kaiju berkembang sebanyak itu padahal Breach (jalur di dasar laut yang menghubungkan dunia manusia dan kaiju) sudah ditutup?

Foto: Comingsoon

Dilihat dari segi cerita, bagiku Pacific Rim: Uprising ini biasa saja. Nggak ada yang spesial. Nggak ada yang membuatku ingin merekomendasikannya. Sutradara Steven S. DeKnight terkesan hanya ingin menyuguhkan pertarungan jaeger dan kaiju. Katanya ‘‘bigger is better’’. Oleh karena itu, kaiju-nya lebih besar dan jaeger yang menyerang lebih banyak.

Ya kali. Aku tuh suka Pacific Rim karena film tersebut nggak sekedar tentang adu jotos melawan monsternya Ultraman. Sutradara Guillermo del Toro banyak menyuguhkan hal-hal emosional. Mulai dari Stacker yang super protektif terhadap Mako Mori (Rinko Kikuchi), Raleigh Becket (Charlie Hunnam) yang ikut merasakan ketakutan kakaknya, Yancy, saat diserang kaiju, sampai hubungan ayah dan anak antara Herc dan Chuck Hansen.

Sungguh disayangkan. Pacific Rim: Uprising sebenarnya bisa membahas lebih dalam kenapa Jake terbebani dengan nama sang ayah. Scene emosional antara dia dan Mako, kakak angkatnya, pun terasa ala kadarnya. Yap, Mako hadir lagi di film ini dengan jabatan cukup tinggi di PPDC. Apparently, dia hanya berfungsi sebagai pengirim clue lokasi jaeger tak bertuan. Sedih.

Benar-benar nggak ada pesan moralnya nih? Ada. Pacific Rim: Uprising lebih menekankan pada ‘‘berbeda itu nggak masalah’’. Buktinya, pemilihan John Boyega sebagai tokoh utama menunjukkan kalau film ini ingin seperti Black Panther, dipuja karena menampilkan aksi heroik karakter kulit hitam. Selain itu, Amara juga diceritakan berbeda dari kadet lain karena dia ‘‘dipungut’’ dari tempat kumuh. It’s good tho. Tapi kok pesannya nggak sampai ke hati ya?

Ternyata bukan hanya aku yang kecewa dengan film berdurasi 100 menit ini.
Perlu digaris bawahi: ‘‘lacked of heart”. Aku bahkan menonton ulang Pacific Rim sebelum menulis review ini hanya untuk memastikan.

Well, aku nggak mau mengomentari CGI-nya sih. Selama itu nggak terlalu kentara dan mengganggu my experience in watching the movie, bagiku masih bisa ditoleransi (dasarnya memang nggak terlalu paham dan memperhatikan he he). And yes, no more sequels please!!!

Hal lain yang membuatku cukup kecewa dengan Pacific Rim: Uprising adalah absennya my beloved Raleigh. Aku paham kok kalau film kedua ini sudah beda generasi. Tapi, bisakah dia muncul meski hanya menjadi Marshall seperti Stacker? Kok malah semua serba orang Asia ya? "Ah, mungkin DeKnight benar-benar ingin menonjolkan diversity," pikirku. But still...


Aku cukup excited saat melihat karakter Newt dan partner research-nya, Herman Gottlieb (Burn Gorman), ada lagi. Aku sangat mengharapkan aksi eksentrik dan love-hate relationship di antara mereka yang entertaining itu. Eh, kok malah kerja sendiri-sendiri. Kecewa lagi deh. Bahkan, mereka nggak lucu lagi! Can we just forget this movie and ask del Toro to do it?

Anehnya lagi, John Boyega kan sudah punya nama besar since he is well-known for playing Finn di film Star Wars. Lalu, kenapa harus ada Scott Eastwood yang karakternya sangat kurang greget sehingga terkesan hanya untuk ‘‘sokongan’’ nama dan penampilan? Sebagai co-pilot sekaligus ranger yang melatih tim kadet yang sama, hubungannya dengan Jake sebenarnya bisa dikemas lebih emosional. ...or at least bikin penonton rooting for their bromance. Lha ini, nggak sama sekali. Dear, Steven S. DeKnight, apakah anda kurang yakin Boyega bisa mengangkat Pacific Rim: Uprising?

Ah, kenapa tulisan ini jadi panjang ya ha ha. Pokoknya, bagi yang menanti film ini karena suka dengan Pacific Rim (2013), siap-siap dikecewakan. Silahkan menonton, tapi sebaiknya menunggu Ready Player One yang akan rilis di Indonesia minggu depan (28 Maret 2018). Buat yang penasaran dan mungkin penikmat film Transformer, film ini bakal menghibur kok. Tapi ingat, jangan berekspektasi terlalu tinggi!