Taylor Swift Tag: The Swiftie

Saturday, January 27, 2018
Foto: The Wallpapers

YAY! Akhirnya aku menemukan topik yang bikin semangat menulis lagi. Thank you, Heryani :) Jadi, saat ini aku sedang dilanda writing slump. Banyak sekali tulisan yang berakhir di draft meski kurang sekitar 5 persen he he he. Sampai suatu malam aku baca tweet tentang Taylor Swift Tag: The Swiftie. "Menarik nih," pikirku saat itu. So, Taylor Swift Tag: The Swiftie ini berisi 13 pertanyaan tentang Taylor Swift. Oke, fangirling mode: ON. Sebenarnya, aku sudah menyiapkan F.A.Q tentang kenapa aku suka Taylor dalam rangka rilisnya album Reputation. But, let me post it later. Without further ado, let's check this out!

***Tulisan ini dibuat sambil mendengarkan Gateaway Car dari album Reputation***

1. What was your first impression of Taylor Swift?

A pretty lady who apparently can write songs.

2. First Taylor Swift song you ever heard?

Waktu itu aku masih kelas VIII. I saw her pretty face on one of teenage magazine (kalau tidak salah majalah Kawanku). Penasaran, aku googling dan lagu pertama yang aku dengarkan adalah Love Story. "Romeo take me somewhere we can be along~" Duh, good old times. Aku yang saat itu pecinta berat Avril Lavigne langsung berubah haluan :)) Thanks to Taylor Swift, aku jadi suka mendengarkan Lady Antebellum dan Rascal Flatts. Ternyata musik country itu bukan seperti acara TV-nya Helmy Yahya *sigh*

3. What's your favorite music video? And what's your least favorite music video?

Hmm... Baru nomor 3 kok sudah susah ya. For me, video klip yang bagus itu harus punya konsep unik, tidak hanya menceritakan isi lagunya secara gamblang. Sedangkan most of Taylor's video seperti itu. Jadi, sebenarnya tidak ada one particular video yang aku suka banget. Sebelum nonton konsernya, aku memutar video Fearless berulang-ulang, bahkan sampai menitikkan air mata, hanya karena ingin sekali merasakan atmosfer konser Taylor Swift.


Konsep rekap konser juga diusung di video klip Red dan New Romantics. But you know, the feeling is different. Video klip lain yang aku suka adalah Wildest Dream. Ya ampun, Taylor ini memang pantes banget dandan vintage. Semua look-nya cantik dan for the first time aku cocok dengan lawan mainnya *uhuk*

Sedangkan video yang paling tidak aku suka adalah Look What You Made Me Do. Maybe because I hate the song on the first place. Jadi, ya bagaimana mau menikmati videonya kalau lagunya aja tidak suka.

4. What's your favorite song? What's your least favorite song? And what song you wish had a video?

I have tons of favorite songs. Rasanya tidak adil kalau hanya memilih satu. Untuk album pertama, Taylor Swift (2006), aku suka semuanya :)) But if I really really have to choose... Tim McGraw then. Aku suka bagaimana Taylor mendapatkan inspirasi untuk lagu itu. Aku juga suka bagaimana label memilih Tim McGraw sebagai single pertama. Strategi bisnisnya udah bagus sejak awal lho.

Di album Fearless (2008), aku mulai pilih-pilih he he. Tidak ada yang jelek, tapi yang paling berkesan dan sering aku dengarkan adalah The Best Day dan Fifteen. I once read kalau ibunya selalu menangis tiap dia menyanyikan The Best Day di atas panggung. Sedangkan di album Speak Now (2010), wah...kacau. Hampir suka semua, cuy! Tapi, Mean yang paling bagus sih karena nilai moral yang pengen disampaikan. Entah bagaimana kabar si kritikus nyinyir itu.

Next. I really love All Too Well. Sebenarnya, mulai album ini Taylor nge-pop banget sih. Tidak heran kalau dia gagal mendapatkan Grammy. All Too Well itu bagiku lagu yang paling bikin baper. Sekalipun aku tidak pernah bosan mendengarkannya. It's so sad and it's so real sampai Taylor butuh bantuan menulisnya. Sedangkan di album pop pertamanya, 1989 (2014), aku paling suka Wildest Dream.

What about Reputation (2017)? To be honest, aku sempat berkata "fix aku bukan Swiftie lagi" hanya karena lagu-lagu dalam Reputation terdengar sangat berbeda. Apalagi single pertamanya, LWYMMD, berhasil membuat ilfeel setengah mati. "Oh, mungkin belum familiar." Kuputar terus-menerus, eh kok tetap tidak suka. Yap, untuk pertama kalinya aku tidak menyukai lagu Taylor Swift :)) Tapi, saat ini aku lagi suka banget Gateway Car dan King of My Heart nih.

5. When did you become an official Swiftie?

Sepertinya sampai sekarang aku juga belum bisa dibilang Swiftie sih. But people like to call me that. Aku tidak pernah membeli album fisiknya. Tapi, aku membeli versi digitalnya secara resmi di Apple Music. Aku juga tidak membeli official merchandise, tapi alhamdulillah aku bisa menonton konsernya di Jakarta empat tahun lalu. So, can I call myself as Swiftie?

6. Have you met Taylor Swift? What's your favorite live performance of her?

YES!! Red Tour Jakarta!! I love the opening. Oh damn I love everything. Sepanjang performance aku sibuk menghapus air mata :)) Rasanya masih tidak percaya melihat Taylor Swift di depan mata.

7. Favorite dress she's worn?


Taylor Swift on Victoria's Secret Fashion Show 2013

8. Favorite lyric?

Don't you worry your pretty little mind. People throw rocks at things that shine. And life makes love looks hard. The Stakes are high, the water's rough. This love is ours.

9. Which song do you relate to the most?

Fix deh ini pertanyaan paling susah. I grow up with her songs and surprisingly selalu ada lagu-lagu yang relatable banget dengan perasaanku saat itu. Entah itu jatuh cinta, patah hati, butuh semangat hidup, rindu orang tua, dll. So I definitely can't name just one song. But as I stated before, saat ini aku sedang related banget dengan lagu Getaway Car di album Reputation (iya, lagu yang buat Tom Hiddleston itu lho!).

10. What do you wish/hope for on her next album?

Aku berharap Taylor tetap menyuguhkan musik-musik yang relevan. I can't blame people who dislike her new image. Awalnya, aku pun tidak setuju. But oh well, we are all grow up. Mungkin karena pada dasarnya aku memang menikmati berbagai genre musik (kecuali cadas), jadi aku lebih mudah menerima image baru Taylor Swift. Kalau dia tetap seperti dulu, ada kemungkinan fansnya bosan, mundur, dan musiknya ketinggalan zaman.

11. What album is your favorite?


 

12. What would you say to her right now?

Dear, Taylor Swift
Thank you for being my number one inspiration. Thank you for being a nice role model. Thank you for accompanying me with your beautiful songs. Thank you for letting me grow up with you.

13. Who should she do a duet with?

Ed Sheeran!!! Aku yakin pasti banyak yang menjawab ini. He's just perfect. Dibandingkan End Game, aku lebih suka Everything Has Changed. Apalagi video klipnya, duh, manis sekali. Tapi, aku mulai suka hasil kolaborasinya dengan Jack Antonoff nih. Hopefully they'll make a duet someday.

THAT'S IT!! 13 questions have been answered. Aku yakin pembaca yang bukan fans Taylor Swift jadi kurang ngeh dengan tulisan ini. But hey, you should make a tag too about your idol. Sepertinya tulisan ini akan bikin mesem-mesem sendiri saat dibaca 10 tahun lagi. If you like Taylor Swift too, don't hesitate to participate and let me know.


Book Review: Sophismata + GIVEAWAY

Monday, January 15, 2018

SOPHISMATA
Penulis: Alanda Kariza | Editor: Anastasia Aemilia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 12 Juni 2017 | Tebal: 272 halaman
Harga: Rp 52.000 [BukaBuku] | Rating: 3/5 stars

AKHIRNYA aku bisa melanjutkan salah satu hobiku, yaitu membaca buku. Kali ini, review pertama jatuh pada Sophismata karya Alanda Kariza. Aku masih ingat jelas betapa banyak teman-teman sesama pecinta buku di Instagram yang mengelu-elukan Sophismata. Thanks to Achintya Widhi, one of my best high school friends, karena sudah memberikan buku ini sebagai hadiah ulang tahun. Lalu, apakah buku ini memang seheboh kelihatannya? Sebelum melanjutkan, harap diingat kalau tulisan ini dibuat berdasarkan pendapat pribadi tanpa ada keinginan untuk menjatuhkan suatu pihak atau sebaliknya.

Cita-cita Sigi tidak muluk. Dia hanya ingin kenaikan jabatan dari posisinya sebagai staf administrasi. Sayangnya, menurut Johar Sancoyo, atasannya, itu cita-cita yang belum pantas Sigi raih, bahkan setelah lebih dari tiga tahun dia bekerja tanpa cela.

Begitulah kisah Sophismata dimulai. Kita langsung dikenalkan kepada sosok Sigi, si wanita masa kini, yang berjuang mengejar karir. Meski menjadi staf administrasi politikus di DPR bukan hal mudah, dia ingin naik jabatan menjadi Tenaga Ahli. Bukan masalah gaji atau kekuasaan, dia hanya ingin terlibat dalam proyek yang mempunyai nilai signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat. Mulia sekali kan?

Dalam mencapai impiannya, Sigi tentu mendapat banyak rintangan. Dan uniknya, Alanda mengusung rintangan yang tanpa disadari dialami banyak perempuan. Yaitu, ketidaksetaraan gender. Johar hanya memperkerjakan dua Tenaga Ahli laki-laki dan satu staf administrasi. Lewat perlakuan dan obrolan dengan rekan kerjanya serta perintah-perintah Johar, Alanda seolah ingin mengedukasi pembacanya tentang perasaan perempuan yang bekerja sebagai minoritas. Hal ini sangat perlu diketahui para fresh graduate dan job seeker. Setelah diterima bekerja, proses penyesuaian diri biasanya tidak boleh disepelekan.

Girl Power
Ilustrasi: Pinterest

Di sela hiruk-pikuk dunia kerja Sigi, datanglah sosok pria mapan bernama Timur. Berbeda dengan Sigi yang benci politik, Timur justru sedang dalam proses membentuk sebuah partai. Bagi dia, terjun ke dunia politik dan menggalang kekuatan adalah cara terbaik untuk membantu masyarakat. Lagi-lagi kita bertemu sosok yang mulia. Well, usut punya usut, Alanda ingin menyampaikan bahwa tidak semua politikus dan orang-orang yang terlibat di dalamnya itu busuk dan korup seperti yang sering kita lihat di televisi. Meski secara pribadi aku agak sanksi, sepertinya Alanda ada benarnya.

Dibalut kisah politik cukup kental, aku menyayangkan highlight moment yang kurang menonjol. Apakah saat Sigi mendapati atasan sekaligus role model-nya bermain uang untuk menyelesaikan masalah? Apakah saat Sigi harus memilih antara Tenaga Ahli dan staf kepresidenan? Kalau iya, berarti feel-nya kurang greget. Sebab, saat membaca, bukannya menggebu-gebu ingin tahu akhir ceritanya, aku justru dibuat tidak sabar dan bingung sebenarnya ceritanya mau dibawa kemana. Oh, bukan berarti Sophismata ini buku yang buruk ya. Banyak kok yang suka.

Bagiku, kekuatan buku ini ada pada sosok Sigi seorang. It's very unfortunate karakter-karakter di sekelilingnya tidak dibuat sama kuatnya. Mungkin, Alanda hanya tidak ingin karakter utamanya seperti cerita-cerita Hollywood yang karakter utama perempuannya tetap butuh sosok laki-laki. Sedangkan dalam Sophismata, Timur bahkan mengembalikan pertanyaan Sigi karena dia yakin sebenarnya wanita itu tahu keputusan apa yang harus diambil. Sungguh, kadang aku merasa sosok Timur ini too good to be true.

 

And here's what you've been waiting for,
GIVEAWAY TIME!!!

Aku akan memilih dua orang pemenang yang akan mendapatkan buku The Hate U Give karangan Angie Thomas versi terjemahan. Sejak buku ini hits di luar negeri, aku sangat ingin membacanya, tapi belum sempat. Oleh karena itu, momen ini akan aku gunakan untuk menge-push diri.

Syarat dan Ketentuan:
  • Berdomisili di Indonesia atau punya alamat kirim di Indonesia.
  • Bersedia membaca dan menulis review (tidak harus di blog, boleh di Instagram, Twitter, Facebook, or just tell me and I'll add your opinion after mine).
  • Giveaway ini berlangsung sampai 4 Februari 2018.
  • Isi form di bawah ini:

Hobi Selfie? Ini Tempat Wisata Instagramable di Surabaya

Thursday, January 11, 2018
Hey, arek Suroboyo... Apakah kalian sadar kalau sektor wisata Surabaya semakin maju? Sebagai Kota Metropolitan terpadat di Indonesia setelah Jakarta dan Medan, sepertinya hal ini sudah wajar terjadi. Setiap tahun mungkin banyak pendatang baru. Entah untuk bekerja ataupun kuliah. Alhasil, pemerintah pun sebisa mungkin mem-provide penduduknya dengan hal-hal yang entertaining. Salah satunya dengan menyediakan tempat wisata unik, menarik, dan pastinya kekinian.

Yap, kekinian sudah seperti kriteria wajib untuk semua hal. Thanks to social media, semua hal yang bertujuan untuk menarik minat anak muda harus Instagram-able. Nah, kalau tempat wisata seperti itu yang dicari, inilah tempat wisata Instagram-able di Surabaya yang recommended.

Taman Mangrove Wonorejo
Taman Mangrove Wonorejo Surabaya
Foto: dinata.my.id

Pernah menyusuri hutan bakau naik perahu motor? It's so exciting lho! Hal itu bisa dicoba di Taman Mangrove Wonorejo, Surabaya. Sensasinya seperti menyusuri hutan-hutan liar Amazon ala Discovery Channel. Selain deretan pohon bakau hijau, di sini ada banyak spot foto Instagram-able yang cocok buat mengisi feed Instagram dan update Insta Stories.

Tapi, yang paling menarik adalah biaya masuknya yang sangat murah. Yaitu, Rp 2.000 saja. Padahal, letak tempat wisata taman mangrove ini ada di pusat kota lho. Nah, kalau pengen mencoba naik perahu motor, akan ada biaya tambahan sekitar Rp 25.000 (dewasa) dan Rp 15.000 (anak-anak).

Pantai Kenjeran
Pantai Kenjeran Surabaya
Foto: KSMTour

Dulu, pantai legendaris ini terkenal sebagai kawasan kumuh yang sering dipakai sebagai lokasi mesum. Tapi, sejak beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kota Surabaya menyulap Pantai Kenjeran menjadi tempat wisata kekinian yang Instagram-able dan Path-able.

Di pantai ini ada banyak spot foto keren. Agar hasil foto lebih cantik, tunggulah sampai sunset tiba. Selfie dengan latar belakang langit merah dan oranye akan membuat feed media sosial lebih artistik dan berwarna. Untuk masuk ke kawasan Pantai Kenjeran, pengunjung harus membayar tiket seharga Rp 15.000. Sedangkan biaya parkirnya sekitar Rp 8.000 (motor) dan Rp 10.000 (mobil).

Kampung Warna-Warni Bulak
Kampung Warna-Warni Bulak Surabaya
Foto: YouTube

Tertarik dengan kampung warna-warni? Eits, bukan cuma Malang, Surabaya juga punya! Masyarakat kawasan Bulak bergotong royong mengubah kampung mereka menjadi kampung warna-warni. Deretan rumah dengan atap dan tembok beraneka warna bisa menjadi background cantik saat kita ber-selfie ria.

Tentu saja kampung ini juga punya spot foto menarik. Meski tergolong baru, Kampung Bulak banyak dikunjungi anak-anak muda yang pengen hunting foto atau sekedar hangout dengan teman.

Tuh kan. Banyak hal yang bisa di-"buru" di Kota Pahlawan ini. Yuk, liburan ke Surabaya! Untuk referensi penginapan yang nyaman, kunjungi website Airy Rooms atau akses dari aplikasi smartphone-nya.


Airy merupakan jaringan hotel terbesar dengan jumlah properti terbanyak di Indonesia. Tidak cuma praktis, memesan hotel melalui aplikasinya juga membuat pilihan tempat menginap murah lebih bervariasi saat berada di Surabaya. Tenang, hotel-hotel yang tergabung dalam jaringan Airy dipastikan punya 7 jaminan fasilitas kamar.

Setiap kamar hotel Airy dilengkapi AC, tempat tidur bersih, flat screen TV, kamar mandi dengan air hangat, serta perlengkapan mandi, Wi-Fi, dan air mineral gratis. Cukup memadai kan? Pilihan pembayarannya pun sangat banyak dan mudah. Mulai dari transfer bank sampai Indomaret terdekat.

8 Best Korean Drama 2017

Wednesday, January 3, 2018
Tidak terlalu banyak drama Korea yang aku tonton tahun lalu. Beberapa judul juga tidak aku tonton sampai habis karena...yah, kurang suka dan kurang menarik (bagiku) saja. So, please note kalau tulisan ini dibuat purely berdasarkan pendapat pribadi. Selera kita mungkin berbeda and it's okay. Toh aku yakin drama Korea terbaik 2017 versiku tidak akan sama dengan versi lain.

By the way, pada tahun 2017, kita dikenalkan untuk pertama kalinya dengan split episode (aku tidak yakin apa sebutannya). Jadi, drama yang berdurasi satu jam untuk satu kali penayangan (satu hari) akan dibagi menjadi dua episode (masing-masing 30 menit). Dengan begitu, beberapa source menulis drama 16 episode menjadi 32 episode. Kabarnya, gap dua episode itu untuk iklan. But well, let's stick to the old rule.

#8 Circle
Korean Drama Circle
Foto: tving

Mungkin banyak yang menganggap drama ini terlalu rumit. Sebab, alur ceritanya maju-mundur dengan dua timeline berbeda yang berjalan bersamaan. Biasanya, 30 menit pertama (Part 1) tentang Kim Woo-jin (Yeo Jin-goo) yang mencari kakaknya, Kim Beom-gyoon (An Woo-yeon). Sang kakak dicap orang gila karena percaya bahwa ayah mereka diculik alien.

Sedangkan pada 30 menit berikutnya (Part 2), penonton dibawa ke masa depan, tepatnya 2037. Kondisi bumi yang semakin buruk membuat beberapa pihak membangun dunia baru. Pada saat itu, Beom-gyoon diperankan Kim Kang-woo. Misinya pun terbalik, yaitu mencari Woo-jin. Well, langsung tonton sendiri saja. Kalau dijelaskan bisa spoiler he he he.

Awalnya, aku menonton Circle karena penasaran dengan Yeo Jin-goo. Aktor muda ini sering menjadi versi muda seorang karakter utama yang ganteng. Nah, kali ini dia menjadi pemeran utamanya. And he's obviously good. Menurutku sih aktingnya tanpa cela. Selain itu, Circle menawarkan kerumitan dan plot twist yang aku suka. You know, I'm a big fan of plot twist. Sayangnya, menjelang ending, ada kesan "tidak masuk akal" yang ditimbulkan. Alur ceritanya seperti agak dipaksakan. I'm not really sure apa yang membuat Circle seperti itu. Tapi, hal itu sangat minor kok. Most of k-drama lovers tidak menonton drama ini sampai habis karena kebingungan sejak awal. Well, you decide.

#7 Romantic Doctor, Teacher Kim
Korean Drama Romantic Doctor Teacher Kim
Foto: joins

Entah kenapa aku sangat menikmati drama Korea tentang dokter. [Baca juga: Review Drama Korea Doctors] Well, belum terlalu banyak yang aku tonton. Tapi, sejauh ini, Romantic Doctor, Teacher Kim adalah drama Korea terbaik. Semua istilah dan kerumitan dunia kedokteran dibawakan dengan ringan, tapi tetap berbobot. Selain itu, drama yang dibintangi aktor senior Han Suk-kyu sebagai Teacher Kim ini menyuguhkan kehidupan para dokter yang benar-benar mengabdi. Para dokter Indonesia yang terlanjur keblinger harta dan para mahasiswa kedokteran harus nonton ini nih.

Drama ini membuatku mendambakan sosok dokter seperti Teacher Kim. Dia adalah dokter yang punya prinsip. Iya, prinsip lah yang membuat dokter ingat tujuannya menjadi dokter. Dia hidup seperti rakyat jelata, sama sekali tidak bergelimang harta. Tapi, tidak ada satu pun penyakit yang tidak bisa dia sembuhkan. Karakter-karakter seperti Kang Dong-joo (Yoo Yeon-seok) dan Do In-bum (Yang Se-jong), para dokter dari rumah sakit besar, bisa kembali ke jalan yang benar berkat Teacher Kim.

#6 Weightlifting Fairy Kim Bok-joo
Korean Drama Weightlifting Fairy Kim Bok Joo

Siapa sih yang tidak mengidolakan Kim Bok-joo (Lee Sung-kyung) dan Joon Jung-hyung (Nam Joo-hyuk)? Hubungan mereka membuatku yakin menjadikan Weightlifting Fairy sebagai salah satu drama Korea terbaik 2017. Kisah cinta mereka memang cheesy. Tapi, entah kenapa tidak terasa "berlebihan". Selain itu, drama ini mengajarkan kita untuk terus memperbaiki diri. Tidak perlu takut jomblo selamanya karena tidak memenuhi standard cantik masyarakat. One day, cowok seperti Jung-hyung akan datang kok. Baca review lengkapnya di sini ya.

#5 Because This is My First Life
Korean Drama Because This is My First Life
Foto: Viki

Masih ingat betapa realistisnya hubungan mereka? Ya, rasanya susah untuk tidak memasukkan drama ini dalam daftar drama Korea terbaik 2017. Aku terlalu suka. Sebab, untuk pertama kalinya ada kisah cinta yang berbeda. Biasanya, drama Korea mengusung konsep si kaya jatuh cinta dengan si miskin dan keluarga si kaya tidak setuju. Kebanyakan pasangan pun menikah karena jatuh cinta.

Padahal, saat ini, pasangan seperti Nam Se-hee (Lee Min-ki) dan Yoon Ji-ho (Jung So-min) lebih masuk akal. Mereka menikah karena butuh. Meski akhirnya mereka benar-benar jatuh cinta, tapi penonton dibawa memahami realita dulu. Alhasil, bapernya sangat terasa! Baca review-nya di sini.

#4 Goblin
Korean Drama Goblin

[Baca dulu: First Impression Drama Korea Goblin] Sebenarnya, Goblin bisa menduduki peringkat ke-2 atau bahkan pertama! Sayangnya, ending drama ini cukup mengecewakan. I'm sure you all have watched this. Jadi, spoiler sedikit tidak apa-apa ya?

Goblin berhasil didapuk sebagai drama Korea terbaik (mungkin) sepanjang masa. Entah itu karena ide ceritanya, alur ceritanya, bumbu-bumbunya, atau para pemainnya yang berhasil membius penonton dan membuat drama ini sangat memorable. Aku pun terbius. Aku bahkan sempat yakin drama ini akan menduduki peringkat pertama drama Korea terbaik 2017 versi ratrianugrah.com. Bagaimana tidak, Gong Yoo dan Lee Dong-wook berhasil menciptakan bromance paling epik. Dengan dua aktor besar, sinar Kim Go-eun juga tidak meredup. Beberapa scene puitis yang berpotensi membosankan ternyata tetap nikmat ditonton. What's not to like kan?

Tapi, aku sangat tidak setuju dengan ending-nya. Later I found out kalau writer Kim Eun-sook memang suka membuat happy ending. Bagiku, ending yang ideal adalah saat Goblin akhirnya bisa pergi dengan tenang. Buatlah Ji Eun-tak sedih dan bangkit lagi seperti film Me Before You (2016). Menurutku, Goblin bisa kembali dan Grim Reaper bertemu lagi dengan Sunny (Yoo In-na) itu tidak masuk akal. Meskipun mereka berdua diceritakan terlahir kembali sebagai manusia biasa, tetap saja terkesan dipaksakan. Dear, Kim Eun-sook. Membuat bitter sweet ending itu boleh kok. Coba lihat 49 Days (SBS).

#3 Queen for Seven Days
Korean Drama Queen for Seven Days
Foto: Pinterest

Berawal dari coba-coba, aku akhirnya jatuh cinta dengan drama ini. Mengusung genre historical drama, Queen for Seven Days atau Seven Days Queen ini bercerita tentang perebutan takhta antarsaudara. King Lee Yoong (Lee Dong-gun) harus menyerahkan mahkotanya kepada Prince Lee Yeok (Yeon Woo-jin) saat dia cukup umur. Tapi, karena kesepian dan iri dengan perhatian orang-orang terhadap Lee Yeok, King Lee Yoong selalu mempersulit hidupnya. Semacam orang yang paranoid, padahal Lee Yeok sangat setia kepadanya.

Sesuai namanya, drama ini fokus pada Shin Chae-kyung (Park Min-young). Dia adalah putri tangan kanan King Lee Yoong. Sang raja menjodohkannya dengan Lee Yeok dan mereka benar-benar jatuh cinta. Sayangnya, suatu hari King Lee Yoong sendiri yang jatuh cinta. Plot twist dan sebenarnya bisa ditebak. Tapi, romance yang disuguhkan sama sekali tidak menye. Justru aku salut karena drama ini tetap mengusung banyak percek-cokan dua bersaudara sesuai sejarahnya, bukan mendramatisir sejarah demi kisah cinta yang akan diidolakan anak muda.

#2 Forest of Secrets
Korean Drama Forest of Secrets
Foto: YouTube

I'm sure most people will disagree drama ini berada di peringkat ke-2. Tapi, kadang menurutku Forest of Secrets ini malah lebih bagus daripada Defendant. Kekuatan utamanya pada karakterisasi dan aktor yang surprisingly bisa membawakannya dengan sangat apik.

Karakter utama drama ini adalah Hwang Shi-mok (Cho Seung-woo), seorang jaksa yang sangat bersih. Saat kecil, dia pernah menjalani operasi yang cukup serius sehingga dia tumbuh tanpa emosi. Jadi, kadang kita dibuat geregetan karena Shi-mok sangat tidak ekspresif. Akting seperti itu pasti banyak godaannya ya. Big applause untuk Seung-woo!

Meski begitu, semua karakter di sekitar Shi-mok sama sekali tidak boleh diremehkan. Semuanya penting. Saking pentingnya, Forest of Secrets membuat penonton galau. Yang tadinya si A diyakini sebagai pelaku, tiba-tiba si B lebih mencurigakan. Begitu seterusnya. Keren kan? Dengan plot seperti itu, drama produksi tvN tetap dibalut sederhana sehingga kualitas ceritanya semakin terbukti mantap.

#1 Defendant
Korean Drama Defendant

Tentu saja Defendant yang berhak berada di peringkat pertama. If you haven't noticed, cerita detektif, kriminal, dan sejenisnya memang my cup of tea. Selain karena drama ini masuk genre favoritku, permainan karakter adalah salah satu hal yang menarik. Ji Sung berperan sebagai seorang jaksa yang dituduh membunuh istri dan anaknya. Kehilangan ingatan, lagi-lagi Ji Sung harus bermain emosi "ganda". Begitu juga dengan karakter villain Uhm Ki-joon. Dia bahkan harus memerankan saudara kembar yang karakternya cukup berbeda. Drama Korea Defendant ini dijamin tidak membosankan. Yuk, baca review-nya di sini.

Itulah 8 drama Korea terbaik 2017 versiku. Luckily, daftar ini cukup bervariasi. Ada genre romantic comedy, fantasi, crime, bahkan historical drama! So you know drama apa yang menurutku paling recommended dari tiap genre. Kalau ada drama bagus yang aku lewatkan, let me know on the comment ya! Saat ini aku sedang mengikuti Hwayugi, Two Cops, dan Black Knights.