Rekomendasi Lipstik untuk Pemula

Monday, December 18, 2017

Aku dulu anti banget sama yang namanya lipstik. I kinda had a weird thought kalau lipstik bisa meracuni kita dan merusak cita rasa makanan yang masuk ke mulut. Selain itu, lipstik seolah-olah membuat bibirku yang cukup tebal ini semakin tebal ha ha ha. Alhasil, di saat ‘‘kids zaman now’’ berlomba-lomba pakai makeup flawless, apa daya aku baru bisa memakai lipstik.

I know it’s kinda too late. Tapi, aku yakin masih banyak orang di luar sana yang mungkin juga baru mengenal makeup dan baru belajar pakai lipstik. Yah, meski usianya sudah nggak setua aku, but here we go, rekomendasi lipstik buat pemula seperti aku.

Lipstik Revlon
Revlon Super Lustrous Lip Cube
Foto: Jessica Swift

My mom is a huge fan of Revlon! Entah berapa banyak lipstik Revlon-nya yang aku rusakkan saat masih kecil. Apalagi, dulu belum ada liquid lipstick (atau ibuku yang tidak tahu ya?). Well, semua lipstik Revlon milik ibuku berbentuk stick. Aku sering memutarnya sampai panjang, lalu menutupnya sambil ditekan. Selain itu, kadang aku memakai lipstik Revlon untuk menggambar di kaca. Mungkin ibu-ibu banyak yang mengalami ini nih. Maafkan anaknya ya, Bu. Sungguh, kami hanya ingin menuangkan kreativitas yang tak terbatas he he.

Dengan banyak koleksi lipstik Revlon di rumah, tentu saja produk ini yang pertama kali aku coba. Sebagai produk lawas yang berdiri sejak 1932, kualitas lipstik Revlon tidak perlu diragukan. Aku suka sekali dengan teksturnya yang padat, tapi tidak membuat bibirku terasa tebal. Sekali poles, warnanya sudah menutupi bibir. Cocok buat bibir yang agak hitam. Saat ini, aku memakai Revlon Matte Lipstick shade In The Red dan Revlon Colorburst Lipstick shade Raspberry (yang baru saja habis). Yang paling enak, lipstik Revlon ini sangat mudah ditemukan di store Matahari manapun.

Lipstik NYX
NYX Lipstick Liquid Lingerie
Foto: Natures Natural Hair

Setelah lulus SMA, teman-teman banyak yang mengelukan liquid lipstick NYX. Semua pakai brand ini. Aku pun penasaran. Setelah menonton beberapa review di YouTube, aku memutuskan membeli NYX Lingerie Lipstick warna Ruffle Trim (rekomendasi Hanggini P. Retto). Ini pertama kalinya aku pakai liquid lipstick lho! Alhasil, aku agak sulit beradaptasi dengan tekstur lembeknya.

Setelah mengering, lipstik NYX ini sebenarnya oke-oke aja kok. Terasa lembut di bibir dan surprisingly tidak membuat bibirku cepat kering. Aku bahkan tidak perlu memakai pelembab bibir terlebih dulu. Lebih light juga dibandingkan lipstik Revlon. Well, mungkin aku hanya belum terbiasa. Dan aku sering sekali salah pilih warna yang terlalu terang. Apa ada rekomendasi blog atau channel YouTube berisi swatch untuk kulit sawo matang? But still, I bought NYX Matte Lipstick just in case aku tidak cocok dengan liquid lipstick.

Lipstik Wet n Wild
Wet n Wild MegaLast Lip Color
Foto: Jessoshii

Sebelum mencoba lipstik NYX, aku sempat membeli Wet n Wild Velvet Matte Lip Color warna Toffee Frappe dan Hickory Smoked. Bisa dibilang dulu lipstik ini paling sering aku pakai karena padat dan ramping sehingga mudah dibawa. Sayangnya, lipstik Wet n Wild ini harus di-apply berkali-kali sebelum warnanya benar-benar meng-cover seluruh bibir. Alhasil, hanya warna Hickory Smoked yang aku pakai.

Dibandingkan dua lipstik sebelumnya, kualitas Wet n Wild hanya b saja. Kalau cuaca Surabaya sangat panas, lipstik ini bahkan membuat bibir cepat kering. Vaseline Petroleum Jelly pun rasanya tidak mampu menutupi kekurangan itu. But oh well, aku terlanjur jatuh cinta. Meskipun stick, aku tidak perlu memutar kembali sebelum menutupnya. Aku pun tidak malu membawa lipstik kemana-mana karena tampilannya tidak mirip lipstik. Sayang sekali, Hickory Smoked hilang sepulangku dari Thailand. Mungkin tertinggal di hostel. Duh, sedihnya.

Lipstik BLP (By Lizzie Parra)
LIP COAT BY LIZZIE PARRA
Foto: ReeSays

Siapa sih yang tidak kenal Lizzie Parra? Beauty blogger ini bukan ‘‘orang baru’’ di dunia blog dan makeup. Gara-gara interview untuk kebutuhan kerja, aku jadi stalking Lizzie dan mem-follow Instagram-nya. Dari situ aku tahu hype lipstik BLP, produk kecantikan pertamanya. It was so challenging to get one of the lipcoat (yap, ini lipcoat, bukan lipstik). Thankfully, aku berhasil mendapatkan shade Persimmon Pie yang paling banyak diincar.

Teksturnya tebal sekali lho! Like, literally lip coat. Aku tidak terlalu paham dengan tujuan pemilihan lip coat instead of lipstick. Tapi, aku agak risih karena keringnya lama. Well, mungkin aku kurang sabar karena banyak sekali orang yang suka lipstik ini. Aplikasinya cukup mudah. Aku hanya memoleskan sedikit di bagian pinggir bibir bawah dan aku ratakan manually dengan bibirku sendiri. And the result is good! Ibuku paling suka mencampur lipstik BLP dengan lipstik NYX yang matte.

Lipstik Wardah
Wardah matte lip cream
Foto: Nabilaputrik

Nah, ini produk lipstik yang aku coba baru-baru ini. Iya, teman-teman yang dulu suka NYX itu sekarang jadi mengelu-elukan lipstik Wardah. Dilihat dari harganya, lipstik Wardah memang juara! Saat ini aku memakai Wardah Intense Matte Lipstick warna Miss Terracotta. Karena agak terang, aku memakainya tipis-tipis aja.

Thank God lipstik ini tidak membuat bibirku kering (yap, bibirku jenis yang mudah sekali kering). Tapi, aku masih mengaplikasikannya dengan Vaseline Petroleum Jelly agar lebih mantap. Bentuknya juga slim sehingga mudah masuk saku. Sayangnya, desainnya kurang anak muda banget nih. Kurang Instagram-able he he he. Kalau baru pertama kali pakai lipstik, aku menyarankan pakai lipstik Wardah agar tidak terlalu menguras uang saku.

Well, itulah lipstik yang pernah aku coba dan so far I love each one of them. Sekarang aku jadi paham kenapa makeup addict punya banyak sekali koleksi lipstik. Sebab, one is never enough. Kadang mood, cuaca, kondisi bibir, dan acara yang akan kita datangi menentukan lipstik yang akan dipakai.

2018 Resolution: Love Myself More

Sunday, December 17, 2017
Foto: Unsplash

Sejak tahun lalu, aku mencoba membuat resolusi yang masuk akal. I mean, membuat resolusi yang memungkinkan dan sudah ada gambaran langkah apa yang harus diambil. Jangan membuat resolusi pergi ke bulan, tapi proses pengerjaan skripsi aja sama sekali tidak berjalan he he he. Here’s a little recap tentang hasil resolusi 2017-ku:

  • Tulisan dimuat di media lain: Alhamdulillah tulisanku sempat dimuat oleh majalah CosmoGirl Indonesia untuk edisi Januari 2017. Tulisan itu tentang bagaimana rasanya punya pacar populer. Meski hanya satu halaman, aku sangat puas karena profilku di-featured pada halaman kontributor. Penasaran? Baca di sini. Thank you @delfania and @zianuari!
  • Menyelesaikan skripsi: Aku sangat sedih karena goal paling besar malah tidak terpenuhi. Aku bahkan sampai ganti dosen pembimbing dan mengambil cuti kerja selama satu bulan. It means gajiku dipotong cukup banyak, tapi hilal sidang tidak terlihat juga. Yah, meski ada progress sedikit, I hope I could do more.
  • Liburan ke luar negeri: Saat menulis resolusi 2017, aku memang sudah dalam proses persiapan menonton konser Coldplay di Bangkok, Thailand. So of course resolusi ini terpenuhi. Surprisingly, kantor juga mengirimku ke Brisbane, Australia, selama satu minggu penuh! Perjalananku itu pun dalam rangka diundang oleh QUT (Queensland University of Technology) sehingga tidak ada kewajiban menulis berita. Too bad aku tidak membawa kamera dan kurang mengabadikan waktuku di sana. Next time maybe?
  • Semakin produktif blogging: I can’t say this goal is not accomplished. Sebab, dibandingkan tahun sebelumnya, aku menulis empat artikel lebih banyak. Tapi, karena rencana awalnya adalah menulis tiap minggu, so yeah, aku gagal. Meski begitu, Alhamdulillah banyak hal baru yang aku pelajari tentang dunia blogging tahun ini.
  • Hidup sehat lahir dan batin: Masih seperti tahun-tahun sebelumnya, aku selalu K.O saat Zetizen-Con berlangsung. Aku juga masih sering izin tidak masuk kerja karena sakit. But thankfully, akhir-akhir ini aku semakin rajin sholat. Yang biasanya hanya sholat subuh dan (kadang) isya, satu bulan terakhir hanya miss satu.

So, those are the result. Namanya manusia ya hanya bisa berencana. Tuhan yang menentukan. Banyak hal yang tanpa diduga terjadi selama 2017. Kadang ingin marah, tapi toh manusia belajar dari berbuat salah. Kali ini, goal utamaku hanya satu: menjadi pribadi yang lebih baik dengan cara lebih mencintai diri sendiri. Egois itu kadang perlu kok. Goal itu akan kucapai dengan melakukan hal-hal berikut ini:

Bisa Makeup & Rajin Merawat Kulit
As I get older, entah kenapa aku ingin bisa memakai makeup dengan benar. Maksudnya, bisa menggambar alis simetris, bisa contouring, berani menjepit bulu mata dan tahu cara memasang fake eyelashes, terbiasa memakai lipstick... Yah, pokoknya bisa makeup natural dan lebih pede setelahnya.

Aku juga semakin aware dengan kondisi kulitku yang butuh perhatian. Awal masuk kuliah, kulitku mulus tanpa bekas jerawat dan entah noda apa. Sejak bekerja sambilan, kulitku sering bermasalah. Terakhir kali ke dokter spesialis kulit didiagnosa terlalu kering. Tapi, setelah mencoba banyak produk yang hydrating, kok kulit masih bermasalah ya. Should I go to beauty clinic? Is it that necessary?

Sejauh ini aku hanya menerapkan 10 step Korean Skincare setiap malam. Yah, meski tidak benar-benar sepuluh produk, kiblatku ke arah sana. Tapi, aku masih sering lupa atau malas karena pekerjaanku selalu selesai malam hari. Alhasil, sesampainya di rumah aku ingin cepat tidur dan hanya mencuci muka. Tahun depan aku harus bisa konsisten nih!


Ingat Kebutuhan, Tidak ‘‘Gila’’ Brand
Aku pernah menulis tentang bagaimana masyarakat memandang barang branded (baca di sini). And I’m still one of those yang merasa barang branded adalah yang terbaik. Padahal, aku sudah sadar bahwa kadang kita ‘‘dihipnotis’’ brand besar. You name it. Zara, Pull &Bear, Stradivarius, H&M...

Mengikuti pemikiran seperti itu ternyata cukup melelahkan. Apalagi kalau sudah tahu bagaimana sulitnya mencari uang. Setiap gajian, ‘‘Ah, sepertinya lebih berguna kalau untuk ini saja.’’ Aku ingin belajar untuk memilah antara kebutuhan dan keinginan. Aku ingin belajar untuk tidak mempedulikan perkataan orang-orang tentang brand pakaian yang kupakai.

Menabung untuk Jalan-Jalan ke Korea
Sebenarnya, aku sangat ingin jalan-jalan ke Korea Selatan tahun depan. Tapi apa daya, selama skripsi belum terselesaikan, Apa dan Ama tidak akan mengizinkan. Jadi, tahun 2018 aku manfaatkan untuk menabung saja. Menabung itu susah lho. Aku bahkan sudah mengakali dengan membuka rekening baru di bank berbeda. Tapi, selama ATM dan internet banking ada, aku akan kesulitan menabung. Kalau ada yang punya post tentang tips dan trik menabung, boleh ditulis di kolom komentar ya.

Rencananya, aku akan ke Korea Selatan dengan Trip Bareng CK (Claudia Kaunang). Dia adalah penulis buku travelling dan membuka trip dengan mayoritas pesertanya perempuan. Jadi, aku akan merasa lebih aman. Iya, jalan-jalan sendiri memang lebih enak dan fleksibel. Tapi, Korea Selatan itu jauh dan bahasa utamanya bukan Bahasa Inggris. Aku prefer ke sana pertama kali dengan travel.


Sidang Skripsi dan Wisuda!
Oh, come on, Ratri. Seharusnya urusan ini bisa selesai tahun ini. Procrastination is killing me. Semakin banyak teman yang bekerja di luar kota. Sedangkan aku masih di sini-sini aja. Setiap ditanya, ‘‘Apa sih masalahnya?’’ Nothing. Seriously. Aku sangat aware kalau skripsiku itu, yah, lebih complicated dari yang lain, tapi sebenarnya aku bisa mengerjakan kok.

Tapi, keinginan memulainya itu lho yang sulit. Setiap membuka laptop untuk mengerjakan skripsi, aku akan mudah ter-distract mengerjakan yang lain. Entah itu blog, pekerjaan, atau bahkan streaming drama Korea. Apa aku harus meninggalkan semua gadget dan menulis manual? Aku mentargetkan wisuda Maret atau maksimal Juli! Bismillah. Kalau lebih dari itu, I don’t know what to say to Ama. Beliau bahkan sudah pernah mengancam tidak akan datang ke wisudaku kalau molor terus. HELP!

Finding ‘‘The One’’
Sorry kalau tahun ini ada resolusi yang agak cheesy. Tapi, aku benar-benar ingin segera menemukan jodohku. Dulu sih aku masih merasa sendirian lebih enak. Toh selama ini memang dituntut mandiri and I’m fine and I’m happy. Oleh karena itu, resolusi ini mungkin untuk jangka panjang karena... Well, who knows? I just broke up with someone dan rasanya masih belum bisa move on seutuhnya.


Hubungan itu membuatku sadar betapa pentingnya kita menemukan seseorang yang willing to support us fully. Hubungan itu membuatku sadar seperti apa emotional abuse in relationship. Hubungan itu juga mengajarkanku untuk tidak tergesa-gesa, khususnya dalam hal memberi kepercayaan. Dan, oh, aku juga jadi tahu how it feels like to date a narcissist seperti yang ditulis seseorang dalam surat terbuka untuk Walikota Bandung.

Tidak Sering Sakit Lagi
Setiap tahun, mungkin dua bulan sekali aku ‘‘tumbang’’. Yah, tidak selalu lama sih. Biasanya sampai izin tidak masuk kantor 3–7 hari. Belum lagi saat pekerjaan semakin intense setiap November. Pada bulan itu, aku harus pindah kantor ke SSCC Supermall Pakuwon untuk acara Zetizen Convention. Berlangsung selama 10 hari, selama itu pula aku harus bekerja di sana mulai pukul 11.00 sampai 12.00 malam atau bahkan lebih!

Mungkin aku adalah kru yang paling sering ‘‘tumbang’’ setiap acara berlangsung. Bagaimana tidak, venue acara itu luas lho. Tanpa terasa, tiap malam kaki terasa pegal. Selain itu, aku harus bekendara dengan sepeda motor, memakai jaket ala kadarnya, dan menerjang ganasnya angin malam. Ah, bayangkan saja.

Oleh karena itu, tahun depan aku harus rajin minum vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan. Dear, Ratri. Kalau sakit jangan lama-lama. Sungkan lho sama teman kerja yang lain karena terlalu sering membolos. Akhirnya, aku mulai mengkonsumsi Theragran-M, vitamin untuk mengembalikan daya tahan tubuh setelah sakit.

*Selalu bawa di dalam tas

And it works! Beberapa hari terakhir aku nekat menerjang hujan deras. Bahkan, aku pernah ganti jas hujan karena air hujan tembus saking derasnya. Alhamdulillah aku masih sehat. Dulu, si mantan sering mengingatkan minum vitamin. Tapi, aku belum menemukan yang cocok. Setelah putus, eh, malah rajin minum vitamin. Tuhan memang selalu mengganti dengan yang lebih baik ya he he.

Theragran-M mengandung multivitamin (Vit A, Vit B, Vit C, Vit D, Vit E) dan mineral esensial (seperti magnesium dan zinc). Kandungan itu berfungsi untuk meningkatkan, mengembalikan, dan menjaga daya tahan tubuh, serta mempercepat proses penyembuhan. Tuh, cocok buat tubuh lemah dan banyak aktivitas sepertiku. Theragran-M mudah ditemukan di apotek terdekat kok. Harganya Rp 20.000. Cukup minum satu kaplet dalam sehari setelah makan.

So, bagaimana resolusi 2018-mu? Bagiku sih resolusi tidak harus banyak dan muluk-muluk. Intinya, tahun depan kita harus hidup lebih baik, lebih sehat, lebih bahagia. Tidak ada yang tidak mungkin sebelum kita mencobanya. May the odd be ever in your favor!


Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M.

Belanja Tanpa Nyampah, Harus Bisa!

Friday, December 8, 2017
Foto: Inhabitat

Sampah, sampah, sampah. Masalah ini terus digaungkan, tapi seolah-olah masyarakat memilih untuk tidak peduli. Khususnya sampah plastik. Bahkan, menurut data milik Profesor Jenna Jambeck dari Teknik Lingkungan Universitas Georgia, Amerika Serikat, Indonesia adalah negara kedua penyumbang sampah plastik terbesar di dunia setelah Tiongkok (Media Indonesia). Wow! Setiap tahun, ternyata Indonesia menghasilkan 65,8 juta ton sampah. Sedih sekali kan?

Well, aku memang bukan aktivis lingkungan. Aku bukan pula seorang influencer yang tingkah lakunya ditiru orang banyak. Tapi untuk hal ini, aku akan tetap mencoba spreading the words betapa Indonesia krisis sampah. Coba diingat-ingat, berapa lama mata kita bebas dari sampah berserakan atau sampah yang dibuang sembarangan? For me, not even a day.

Oleh karena itu, aku sangat tertarik saat mendapat undangan dari Unilever dan Hypermart untuk mendiskusikan tentang Belanja Tanpa Nyampah: Pilah Sampah Itu Mudah. Apakah bisa kita belanja tanpa menghasilkan sampah? Sebenarnya, pemerintah sudah melakukan berbagai cara untuk mengatasi hal ini. Salah satunya dengan aturan pembeli harus membayar Rp 200 untuk kantong plastik. Does it work effectively? I must admit: NO. Buktinya, supermarket di kantorku tidak pernah membebani biaya tambahan untuk kantong plastik yang aku minta. Mungkin cara ini akan lebih efektif kalau harga kantong plastik menjadi Rp 20.000. What do you think?

Nah, kali ini Unilever Indonesia dan Hypermart menawarkan solusi baru. Yaitu, dropbox sampah yang diletakkan di beberapa Hypermart Pakuwon Surabaya, Hypermart Lippo Plaza Sidoarjo, dan Hypermart East Coast Surabaya. Meski masih beberapa, solusi ini patut diapresiasi. Sebab, sebagai salah satu ritel terbesar di Indonesia, Hypermart memang "menjual" banyak calon sampah dan konsumennya adalah orang-orang yang wajib diedukasi tentang cara mengelola sampah dengan tepat.


Mayoritas sampah yang dihasilkan jelas sampah plastik. Oleh karena itu, dropbox sampah ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu paper & carton, plastic bottle, dan pouch & sachet. Semua sampah yang dimasukkan ke dalam dropbox ini pasti didaur ulang kok.

Tapi, yang paling menarik adalah adanya teknologi daur ulang sachet and pouch untuk menjadi kemasan sachet dan pouch baru. Teknologi itu ada di pabrik CreaSolv, pabrik daur ulang sampah kemasan plastik yang dimiliki Unilever di Sidoarjo. Somehow I feel at ease saat tahu sachet dan pouch bisa didaur ulang menjadi bentuk yang sama. At least kedua benda itu tidak akan menciptakan sampah karena siklusnya akan terus sama (hopefully).

Sedangkan jenis sampah plastik yang lain akan menjadi seperti ini:


Yang aku sayangkan dari program ini adalah penempatan dropbox yang kurang banyak. Well, kalau di tiga tempat itu berhasil, Corporate Communications Director & Corporate Secretary PT. Matahari Putra Prima Tbk. Danny Konjongian berharap bisa menyediakan dropbox sampah lebih banyak lagi. Dia pun berharap program ini ditiru oleh ritel-ritel lain. Kalau aku sih berharap dropbox sampah ini diikutkan dalam program pemerintah dan ditempatkan di tiap RT atau RW. Pasti awareness-nya akan lebih besar karena tidak semua masyarakat Surabaya membeli keperluan rumah tangga di supermarket. But still, this is a good idea.

If you do care about our environment, please jangan ragu untuk membawa sampah plastikmu ke PTC, Lippo Plaza, ataupun East Coast. Sebelum hangout atau shopping, drop them on the dropbox. Bakal ada reward dari Hypermart lho! Tapi, aku berharap kita mengumpulkan sampah di dropbox karena kesadaran, bukan iming-iming hadiah semata.

Untuk pertama kalinya bertemu blogger Surabaya lain, Anggraeni Septi dan Florensi Mellia

Review: Because This is My First Life - Drama Korea

Friday, December 1, 2017
Because This is My First Life
Foto: Viki

PERINGATAN: JANGAN DITONTON KALAU MENCARI OPPA GANTENG

Ingin sekali tulisan itu aku tempel di setiap provider streaming drama Korea. Sebab, cukup banyak orang yang terburu-buru men-judge drama Because This is My First Life ini jelek karena pemainnya, khususnya lead male-nya, zonk. Oke, aku rasa it's a little bit harsh. It's okay kalau tidak suka karena tidak kenal pemainnya. Tapi, tolong dikurangi lah men-judge berdasarkan fisik.

So, Because This is My First Life ini adalah drama Korea garapan sutradara Park Joon-hwa dan penulis Yoon Nan-joong. Biasanya sih yang paling diperhitungkan penulis skripnya ya? Tapi, aku belum pernah menonton karya penulis Nan-joong. Sedangkan drama sutradara Joon-hwa yang pernah aku tonton adalah Bring It On, Ghost (tvN) yang saat ini ditayangkan di TV kabel.

Drama Korea dengan jumlah episode 16 ini bercerita tentang tiga kisah cinta orang dewasa. Meski bukan drama anak sekolah, ceritanya tidak terlalu tua kok. Here are those three stories:

Korean Drama - Because This is My First Life
Foto: tofuCube

1st Couple: Yoon Ji-ho & Nam Se-hee
Pintar, tapi nekat dan kekeuh menjadi penulis drama, Ji-ho (Jung So-min) akhirnya hidup pas-pasan. Dia terpaksa keluar dari studio yang dia bayar karena sang adik tiba-tiba membawa cewek yang dihamilinya. Besar di keluarga patriarki, Ji-ho pun harus mengalah.

Se-hee (Lee Min-ki) dikenal sebagai orang super kaku. Bagi dia, hal paling penting dalam hidup adalah rumah, pekerjaan, dan kucing. Dia hidup emotionless. Butuh bantuan untuk menyicil apartemen, dia mencari housemate. Dari situlah dia bertemu Ji-ho.

Berawal dari kesalahpahaman, mereka berdua akhirnya menikah. Ini bukan spoiler ya. Sebab, nanti kalian pasti juga bisa menebak dengan mudah kemana arah pertemuan Ji-ho dan Se-hee.

2nd Couple: Woo Soo-ji & Ma Sang-goo
Soo-ji (Esom) digambarkan sebagai wanita masa kini. Dia berani, tangguh, dan open minded. Bahkan, saking open minded-nya, dia jadi bahan omongan rekan-rekan kantor yang mayoritas cowok karena dia tidak pakai bra. Iya, dia ini perwakilan anak muda yang gaya hidupnya kebarat-baratan dan kadang lupa dengan budaya negaranya.

Di sisi lain, Sang-goo (Park Byung-eun) adalah cowok yang super romantis. Berbeda dengan Soo-ji, dia justru mementingkan hati. Meski begitu, dia tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada Soo-ji. Tapi, Sang-goo selalu menasehati dengan bijaksana setiap cewek keras kepala itu punya masalah.

3rd Couple: Yang Ho-rang & Sim Won-seok
Pacaran selama tujuh tahun dan tinggal satu studio, apa sih ekspektasi orang yang melihat? Of course menikah! Ho-rang (Kim Ga-eun), Soo-ji, dan Ji-ho sudah berteman sejak SMA. Di saat yang lain punya cita-cita menjadi sesuatu, Ho-rang hanya ingin m-e-n-i-k-a-h. Yap, dia tipikal cewek yang sesuai stereotype masyarakat. Dia agak manja, feminin, dan rela berhenti kerja demi rumah tangga.

Sayangnya, start-up Won-seok (Kim Min-suk) tidak kunjung sukses. Sampai akhirnya dia pindah ke start-up Sang-goo agar penghasilannya stabil dan bisa segera menikahi Ho-rang. Tapi, setelah dilamar, hubungan mereka justru makin kacau. Ho-rang berharap segera menikah, sedangkan Won-seok lama-lama kehilangan purpose karena terlalu banyak mengalah.

Because This is My First Life
Foto: Pinterest

Awalnya, aku menonton Because This is My First Life tanpa direncanakan. Well, aku tidak familiar dengan Lee Min-ki dan aku hanya tahu Jung So-min dari Playful Kiss (MBC) yang diputar di TV. Tapi, karena tidak ada drama lain yang bagus (The Package, Revolutionary Love, Black, Witch's Court, 20th Century Boy and Girl serta While You Were Sleeping dan The Temperature of Love yang semakin membosankan), aku akhirnya mencoba menontonnya.

Alur ceritanya memang terkesan sangat lambat. Tapi, entah kenapa, aku sama sekali tidak bosan! Yah, rasanya hampir sama seperti saat menonton Cheese in the Trap (tvN). Keduanya terasa slow, emotionless, tapi membuat ketagihan. Hal inilah yang membuat penonton "pemburu" oppa ganteng mudah berpaling. Sebab, memang tidak ada oppa ganteng yang bisa mereka nikmati lama-lama.

Bagiku, Because This is My First Life ini sudah merangkum lifestyle anak muda zaman sekarang. Ho-rang menggambarkan mereka yang hidupnya sesuai tuntutan masyarakat. Urutannya seperti ini: sekolah, kerja, menikah, dan punya anak. Sedangkan Soo-ji menggambarkan mereka yang mengutamakan karir dan pendidikan. Bagi orang-orang seperti Soo-ji, jodoh tidak akan kemana. Bahkan tidak menikah pun tidak apa-apa asalkan bisa mencukupi orang tua.

Nah, uniknya, kisah Ji-ho mengingatkanku pada taaruf! Sebab, dia dan Se-hee memutuskan menikah bukan karena cinta, melainkan karena benefit yang didapat. Ji-ho butuh tempat tinggal murah. Sedangkan Se-hee butuh tambahan uang untuk mencicil apartemen dan memberi makan kucingnya. Seiring waktu, bunga-bunga cinta mulai bersemi di antara mereka. Mirip taaruf kan?

Foto: 퍼블릭에프알

Meski begitu, drama ini tetap dalam koridor menyenangkan kok. Banyak jokes yang dilemparkan berkat wajah datar Se-hee dan pikirannya yang super aneh. Sang-goo yang merupakan sahabat Se-hee sekaligus CEO start-up yang dikerjakan Se-hee mengambil andil cukup banyak dalam hal ini. Begitu juga dengan teman-teman di kantornya. Kalau semua orang serius seperti lead male itu, mungkin drama ini benar-benar akan zonk.

Meski cinta adalah kisah utama yang diangkat, drama garapan tvN ini sama sekali tidak menye atau receh. Semuanya pas. Tapi hati-hati! Sekalinya ada adegan haru, kita bisa menangis sesenggukan. I swear. Khususnya saat Ji-ho dan Se-hee akan menikah. Adegan apa itu? Find out yourself!

By the way, seolah tahu apa kekurangan drama ini, sang sutradara menggandeng aktor muda Kim Min-kyu. Harus aku akui kalau dia imut dan entah kenapa terlihat "bersinar" saat bermain dalam drama ini. Ternyata, dia pernah bermain dalam Who Are You: School 2015. Well, here's your oppa!

Kim Min-kyu Because This is My First Life
Foto: imbc