4 Alasan Harus Belanja di ADA Store Grand City Surabaya

Friday, October 27, 2017
Tadi siang, aku dan temanku mampir ke grand opening ada Store di Grand City, Surabaya. Thanks to Yuniari Nukti yang mengundangku beberapa hari lalu, akhirnya aku punya pengalaman datang ke sebuah acara as a blogger. Yah, meskipun dulu cukup sering meliput acara seperti ini, ternyata tadi malam aku cukup grogi. Untungnya, sesampai di lokasi, aku terhibur dengan koleksi baju ada Store. Maklum, aku memang doyan belanja baju he he he. Apalagi ada program gratis baju tanpa bayar.


Too bad, kami kurang beruntung. Tapi, ketidakberuntungan kami membuatku memperhatikan kenapa ada Store patut dijadikan tujuan belanja warga Surabaya. Here are whys:

Lokasi Strategis Banget!
Lama-lama sepertinya Surabaya akan mendapat julukan baru: Kota Sejuta Mall. Di setiap wilayah pasti ada. Paling ujung timur ada Pakuwon City (East Coast) dan bahkan di Surabaya barat ada dua mall bertetangga, PTC dan Lenmarc! Wah, kurang kenyang apa? Tapi, mall paling startegis ya Grand City. Lokasinya tepat di tengah kota. Dekat stasiun, komplek sekolah, kampus, dan gedung pemerintahan. Oleh karena itu, acara-acara besar pun berlangsung di sini. Sebut saja Jatim Fair dan pameran otomotif GIIAS. Jadi, meski rumahmu di pinggiran, you'll have a reason to come here dan sekaligus belanja di ada Store.

Desain Interior yang Kekinian
Waktu pertama masuk, yang terbersit di kepalaku adalah: "Wah, Instagram-able nih." Bagi yang gampang bosan sepertiku sih desain interior itu mempengaruhi kenyamanan belanja. Belum lagi kalau penjaga tokonya menempel seperti perangko, Aduh, bawaannya pengin cepet keluar. Thanks God hal itu tidak terjadi di ada Store. Semoga bukan karena grand opening aja yaa...

Eh, ternyata Artha Retail Indo Perkasa memang sengaja membuat suasana ada Store di Grand City lantai 2, unit 30-32 (tepat di atas Miniso), ini cozy, comfortable, dan homey. For that purpose, you did it!


Harga Dijamin Terjangkau
Bisa dibilang Grand City (GC) adalah salah satu mall yang didominasi masyarakat kalangan menengah ke atas. Hal ini pun membuat GC identik dengan barang-barang mahal. Tapi, hal itu tidak berlaku lagi. Sebab, harga-harga baju di ada Store cukup terjangkau. Range harganya sekitar Rp 69 ribu sampai Rp 350 ribu saja! Bagi anak sekolah dan mahasiswa, harga ini dijamin tidak akan membuat dompet cepat kering.

Koleksi Lengkap & Fashionable
FYI, ada Store juga punya koleksi untuk cowok. Yah, space-nya memang lebih sempit dibandingkan space cewek sih. Tapi, menurutku koleksinya sudah cukup banyak dan penataannya enak sehingga space kecil itu bisa memuat banyak koleksi. Kalau koleksi cewek, puas-puasin belanja deh. Mulai dari t-shirt, blouse, berbagai jenis bottoms, sampai jumpsuit pun ada! Sesuai namanya nih, ada, serba ada he he he.

Tapi, yang paling penting adalah koleksinya up to date. Misalnya, floral short pants dan floral tops seperti yang pernah dipakai Nabila Gardena ada di sana. Koleksinya pun sesuai season saat ini. Aduh, aku paling suka fall season. Silahkan memborong knitwear deh sebelum hujan deras melanda Surabaya (amin!).

*Thanks, Mirtha!

So, tertarik belanja di ada Store? Dengar-dengar sih koleksinya produksi dalam negeri which is another reason why we should shop here. ada Store juga buka di Tunjungan Plaza Surabaya dan Marvell City Mall Surabaya. Happy shopping, fashionista Surabaya!

Cara Mencegah Buku Menguning

Tuesday, October 24, 2017
Foto: Bruce Dixon

Weekend kemarin akhirnya aku punya waktu luang dan niat yang cukup untuk menata ulang koleksi bukuku. Yah, meski akhirnya tetap belum bisa berjajar rapi di rak buku, at least mereka tidak menumpuk penuh debu di sudut kamarku. Satu demi satu aku catat just in case ada yang terlewat. Dan benar saja, beberapa buku yang dipinjam sejak zaman dulu belum dikembalikan! Ah, sedihnya. Tapi yang paling menyedihkan adalah halaman-halaman buku kesayangan yang mulai memperlihatkan bercak kekuningan. Oh, God. I do love old books, but I hate to see the process.

Kenapa buku menguning?
Bahan dasar pembuatan kertas adalah kayu. Sayangnya, meski lebih murah ternyata bahan dasar ini lebih mudah bereaksi dengan oksigen dan cahaya matahari. Kayu mengandung dua zat polimer utama, yaitu selulosa dan lignin. Secara teknis, selulosa ini colorless dan sangat mudah menyerap cahaya sehingga membuatnya buram. Oksidasi selulosalah yang membuat kertas jadi terlihat dull, rapuh, dan less white. Tapi, bukan ini penyebab kertas menguning.

Zat lain dalam kayu adalah lignin yang paling banyak terkandung dalam kertas koran. Bisa dibilang lignin adalah "glue" bagi kayu. Dia berfungsi untuk menguatkan dan mengeraskan kayu. Berbeda dengan selulosa, warna zat ini lebih gelap seperti paper bag cokelat atau kardus Indomie. Tapi, oksidasi lignin lebih tinggi. Oksigen mengubah struktur molekul lignin sehingga warnanya berubah menjadi yellow-brown.

Nah, kertas koran yang biaya produksinya lebih murah mengandung lebih banyak lignin. Sehingga, kertas koran lebih mudah menguning. Sedangkan kertas buku banyak yang di-bleeching sehingga kandungan ligninnya berkurang. Oleh karena itu, saat ini banyak dokumen penting yang ditulis pada kertas acid-free dengan kandungan lignin yang sangat terbatas.

Foto: Sonoma Valley Museum of Art

Cara Mencegah Buku Menguning

  1. Jauhkan dari paparan sinar matahari secara langsung. Ternyata, hal ini yang membuat bukuku menguning di bagian pinggir. Tanpa aku sadari, pada siang hari sudut kamarku tersorot sinar matahari meski jendela tertutup.
  2. Sampul semua buku! I don't know if this really help, tapi ternyata sinar UV bisa membuat cover buku memudar dan (sepertinya) cepat rapuh. Beberapa buku lamaku yang lupa disampul sudah menunjukkan tanda-tandanya.
  3. Jangan ditaruh di tempat lembab. Beberapa orang mungkin ada yang menyimpan koleksi buku lama di gudang atau langit-langit kamar. Biasanya ini juga dilakukan orang yang pernah pindah rumah dan belum sempat unpacking. Padahal, high humidity bisa merusak kertas. Begitu juga dengan low humidity yang membuat kertas kering, menguning, dan rapuh. So, lebih baik letakkan buku di udara normal saja.
  4. Beri jeda "bernapas"! Meski diletakkan berdiri (posisi yang paling direkomendasikan agar tidak merusak jilid buku), berilah sedikit jarak (kira-kira 3cm) dari dinding atau bagian belakang rak agar sirkulasi udara lancar.
  5. Bungkus dengan plastik wrap atau plastik klip. Oke, bagiku ini agak ekstrim sih. Sebab, kadang aku masih ingin membaca koleksi lamaku. Jadi, cara ini jelas tidak akan aku praktekkan dalam waktu dekat. Tapi, bagi kolektor sih silahkan dicoba.

Untungnya, aku adalah tipe pembaca yang lebih suka meminjam atau membeli e-book terlebih dulu. Kalau bagus dan worth untuk dikoleksi, baru aku membeli versi cetaknya. Maklum, aku ini tipe pembaca yang judge the book by its cover tanpa membaca sinopsis maupun review. Jadi, yaaa...sering ketipu. Oleh karena itu, banyak koleksi bukuku yang masih tersegel sehingga aman dari bercak-bercak kuning.

Movie Review: Geostorm

Wednesday, October 18, 2017
Movie Review Geostrom: Starring Gerard Butler
Foto: Warner Bros

Geostorm bercerita tentang perjuangan kakak-adik menyelamatkan bumi dari bencana alam. Sang kakak, Jake Lawson (Gerard Butler) adalah inisiator alat pengontrol cuaca bumi yang diberi nama Dutch Boy. Alat itu terletak di satelit luar angkasa. Sedangkan sang adik, Max Lawson (Jim Sturgess), adalah karyawan di White House. Karena "tingkah" sang kakak yang dianggap (pemerintah) tidak bisa diatur, Max pun in charge terhadap Dutch Boy dan terpaksa memecat sang kakak.

Sayangnya, beberapa tahun kemudian, Dutch Boy bermasalah. Tiba-tiba sebuah desa di Afghanistan membeku. Kejadian itu disusul oleh meledaknya lapisan bumi di Hong Kong. Usut punya usut, alat buatan Jake ternyata disabotase untuk kepentingan sebuah kelompok yang tidak bertanggung jawab. Tapi anehnya, hal itu hanya bisa dilakukan oleh sang presiden. Lalu, bagaimana Jake dan Max menghentikannya?

Jim Sturgess in Geostorm (2017)
Foto: Warner Bros

Trailer Geostorm sudah berkali-kali aku tonton karena diputar di bioskop sebelum It dan Kingsman: The Golden Circle. Tertarik? Sudah pasti. Film ini adalah garapan sutradara Dean Devlin yang merupakan "otak" di balik Independence Day (1996). Sebenarnya, aku bukan fans berat film-film seperti itu. Tapi, ibarat dunia buku, bagiku film-film tentang bencana alam (misalnya, The Day After Tomorrow, War of the Worlds, dan 2012) itu semacam light reading. Enak dinikmati, tapi tidak menciptakan kesan yang berarti. Oleh karena itu, you should know kalau aku sama sekali tidak punya ekspektasi terhadap film ini. Aku menontonnya di bioskop untuk mengisi waktu luang.

Hasilnya? Kalau kata kids jaman now ya "B aja". Dalam film seperti ini we can't expect for plot twist. Akhir ceritanya pasti bisa ditebak. Apalagi kalau sejak awal yang dijadikan "senjata" adalah sang pemeran utama. Bodohnya, aku sempat berharap ada tragic ending di menit-menit terakhir. Ah, seorang Gerard Butler jelas tidak mudah "dimatikan". Bahkan, bagiku karakternya tidak jauh berbeda dengan Mike Banning dalam London has Fallen (2016). Jika bencana demi bencana tidak dibuat semenggelegar itu, mungkin aku akan merasa seperti menonton London has Fallen.

Yap, speaking of effect, sepertinya itu yang membuatku berhasil terjaga selama menonton Geostorm. Mirip dengan film 2012 (2009), bencana demi bencana disuguhkan. Ada sapuan ombak yang membeku di Brazil. Ada banyak tornado berpasir di India. Ada juga gulungan ombak besar di Abu Dhabi. Hampir semua negara mengalami bencana dengan skala "gila". Semua itu terjadi hampir di saat yang bersamaan menjelang badai bumi alias geostorm. Karena aku menonton di studio biasa, efeknya pun masih terasa biasa saja. I'm sure film ini akan sedikit lebih "wow" kalau ditonton di IMAX 3D. Kalau kamu punya banyak waktu dan lagi banyak rezeki, you should try the 3D version. "Kalau" ya. I'm still thinking this movie isn't that worth it.

Abbie Cornish as Secret Service Agent in Geostorm Movie (2017)
Foto: Warner Bros

Eits, ada satu karakter yang cukup menarik perhatianku nih. Dia adalah Sarah Wilson (Abbie Cornish), secret service agent di Gedung Putih. Diam-diam dia berkencan dengan Max, which againsts the rule, dan dialah "kunci" kesuksesan Max. To be honest, sosok perempuan seperti dia sangat jarang terlihat dalam film-film Hollywood. Biasanya, karakter perempuan kuat selalu mendapat bantuan dari laki-laki (meski karakter sang laki-laki sangat tidak penting). Tapi, Sarah proves otherwise. Max malah digambarkan sebagai laki-laki kantoran yang "tidak sempurna". Secara fisik dia tidak sekuat kakaknya. Eh, secara jabatan pun dia masih butuh bantuan kekasihnya. You'll see how cool she is. Bahkan, adegan action-nya pun patut diacungi jempol.

Overall, film ini biasa saja. Gerard Butler terbukti kurang bisa menciptakan kesan tersendiri. Wajah ganteng Jim Sturgess pun tidak terlalu membantu. Tapi, dibandingkan dengan One Fine Day, Mereka yang Tak Terlihat, dan film-film lain yang saat ini tayang di bioskop, Geostrom jelas lebih patut dipilih setelah Blade Runner 2049 dan mungkin The Foreigner.

Foto: Warner Bros

First Impression: While You Were Sleeping - Drama Korea

Tuesday, October 10, 2017
Foto: SBS

Oh I'm so glad to be back writing another Korean drama!

Yap, thanks to While You Were Sleeping yang apparently sudah digembar-gemborkan sejak lama. It was all thanks to Bae Suzy dan Lee Jong-suk yang sama-sama punya banyak fans. To be honest, aku selalu tertarik dengan drama yang dimainkan Suzy. Meski aku biasanya berakhir kecewa, somehow aku tetap optimis dengan drama garapan sutradara Oh Choong-hwan ini. Selain itu, sejak berperan dalam W (MBC), I keep my eyes on Jong-suk. Hopefully drama ini akan menjadi salah satu drama terbaik 2017.

While You Were Sleeping bercerita tentang Nam Hong-joo (Suzy), seorang putri tunggal dari keluarga biasa saja. Sejak kecil dia selalu bermimpi tentang hal-hal buruk yang menjadi kenyataan. Salah satunya adalah kematian sang ayah. Memiliki ibu yang sangat menyayanginya, Hong-joo selalu berusaha menghindari bahaya di dalam mimpinya. Tapi, takdir selalu punya caranya sendiri.

Sampai suatu hari, datanglah Jung Jae-chan (Jong-suk) dan adiknya, Jung Seung-won (Shin Jae-ha), yang pindah di seberang rumah Hong-joo. Sang jaksa ternyata menjadi sosok yang berhasil menghentikan maut di dalam mimpi Hong-joo. Yap, he dreams too. Meski memimpikan maut yang sama, sudut pandang yang ditampilkan selalu berubah. Oleh karena itu, mereka berdua bekerja sama untuk menghentikan semua musibah.

Foto: 배꽃마을

Selain pemain, sebenarnya aku cukup tertarik dengan ide ceritanya. Yah, entah kenapa akhir-akhir ini "bermain-main dengan waktu" menarik perhatianku. Sejauh yang kuingat, belum ada sih drama Korea bagus yang mengusung mimpi. So, this should be it.

Sayangnya, ada sesuatu yang salah dengan While You Were Sleeping. Aku tidak yakin, tapi somehow drama ini terkesan biasa saja. Bahkan, chemistry Suzy dan Jong-suk kurang greget. Koneksi di antara mereka memang diceritakan dengan cukup enak. Playful, natural, tidak menye, pokoknya nikmat diikuti. Tapi, sebagai penonton, aku merasa hampa #tsah Aku tidak bisa ikut tersenyum malu saat mereka flirting. Aku tidak bisa ikut sedih saat Hong-joo kehilangan ibunya dan memutuskan untuk bunuh diri. I just can't.


Foto: IMBC

Thankfully, ada wajah segar nih! Oke, sebenarnya aku bukan tipe penikmat drama Korea yang "gila" pemain. Aku lebih mengutamakan cerita daripada pemain. Tapi, I can't fool myself by saying that this guy is not cute. Eits, bukan hanya penampilan. Sosok Han Woo-tak (Jung Hae-in) ini ternyata cukup misterius. Di episode awal, dia seharusnya meninggal ditabrak mobil Hong-joo di malam Valentine. Memprediksi hal itu, Jae-chan menabrakkan mobilnya sehingga tabrakan sama sekali tidak mengenai Woo-tak.

Ternyata, Woo-tak juga bisa bermimpi! Somehow mimpi-mimpinya selalu tentang sang jaksa dan Hong-joo. Karena penasaran, Woo-tak pun mendekati para "pemimpi" lain. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa tiga orang yang sama sekali tidak mengenal sebelumnya memimpikan hal yang serupa? It's another mystery to solve.