[Week #9] 5 Movies I'll Never Get Tired Of

Tuesday, February 28, 2017
Bagiku, menonton film dan membaca buku itu sama-sama nikmat. Sama-sama menghibur. Sama-sama menyajikan "dunia" baru. Sama-sama memberi pelajaran. Sama-sama membuat kita (kadang) nggak berhenti fangirling. Tapi, beda lagi ceritanya kalau menonton film adaptasi buku yang pernah aku baca ya. Kebanyakan sih malah bikin kesal. Anyway, pernah menonton film yang meski diputar berulang-ulang tidak bikin kita bosan? Pasti pernah, meski nggak sering. Here are 5 movies I'll never get tired of.

#1 Les Choristes / The Chorus
Les Choristes ini pertama kali diputar saat mata kuliah Bahasa Perancis. Eh, aku langsung jatuh cinta! Film berbahasa Perancis bercerita tentang Clement Mathieu (Gerard Jugnot) yang mengajar di sekolah khusus laki-laki. Di sana, banyak anak-anak membangkang karena moto sang kepala sekolah adalah "Action, Reaction." Nakal, kena hukuman setimpal. Tapi, Mathieu berbeda. Dia tipikal wali kelas yang sabar dan penyayang. Di sela-sela pelajaran, dia malah mengajak anak didiknya bernyanyi dan akhirnya bisa tampil sebagai kelompok paduan suara sekolah.

Dengan pengetahuan yang sangat terbatas tentang musik Perancis, apalagi musik klasiknya, I'm impressed dengan soundtrack yang gampang diterima, at least oleh telingaku. Yah, pada dasarnya aku memang suka musik klasik. Tapi tenang, bagi pecinta genre musik lain, film ini tidak akan membuat kalian bosan kok. Sebab, Les Choristes lebih menekankan pada bagaimana musik menjembatani perilaku orang yang berbeda-beda. You'll be touched.

#2 Les Miserables
Aku masih ingat betul temanku berkata, "Duh, bosen ya. Ngantuk," saat kita baru keluar dari bioskop menonton Les Miserables. Waktu itu aku cuma menanggapi dengan angguka. Padahal, deep inside I freakin' love it!!! Mungkin karena aku sudah familiar dengan sebagian besar lagunya. Jadi, meski Hugh Jackman dan Eddie Redmayne nyanyi-nyanyi sambil lompat kesana-kemari, I really don't mind. Selain itu, aku suka sekali akting Anne Hathaway di film ini. Overall, emosi semua pemainnya oke-oke sih. Buat yang suka La La Land, coba nonton ini dulu. Akting Emma Stone pasti lewat deh!

#3 Harry Potter and the Philosopher's Stone
Look at all those cutie faces!! Sebagai pecinta Harry Potter, sampai sekarang pun aku masih tidak menyangka waktu berlalu begitu cepat. Saat ingin bernostalgia, aku selalu menonton ulang film Harry Potter 1-3. Iya, berhenti sampai 3 saja. Aku kurang begitu suka hasil garapan sutradara berikutnya. Dulu, aku dan orang tuaku tidak pernah melewatkan perilisan Harry Potter di bioskop. Karena saat itu kami masih tinggal di Jember, orang tuaku selalu menyempatkan ke Surabaya. Demi Harry Potter lho ini he he he. Meski mulai film ke-5 aku tidak berselera, mama masih setia menemani. Kenapa tidak dengan teman-teman? Feel-nya beda ya. Film Harry Potter ini sudah semacam bagian dari masa kecilku #tsah

#4 The Polar Express
Mungkin ini satu-satunya film kartun yang tidak membuatku bosan sama sekali. Awalnya, aku ragu mau memasukkan The Polar Express atau Rise of the Guardian. Setelah dipikir lebih lama, The Polar Express it is. Aku pun tidak begitu yakin kenapa aku suka film ini. Mungkin, mungkin lho ya, karena film ini mengusung kereta api which is my most favorite transportation. Kakekku bekerja di KAI. Ibuku dibesarkan di rumah yang terletak di seberang stasiun kereta api. Sejak kecil, aku sering bepergian naik kereta api. Mungkin karena itu aku merasa ada koneksi tersendiri dengan film ini. Selain itu, soundtrack-nya enak banget!

#5 17 Again
Oke. Aku suka film ini simply karena my beloved Zac Efron. Sejak High School Musical sampai sekarang, aku masih setia menjadi fansnya. Sayang berjuta sayang, Zac mulai idealis dengan film-film yang dibintanginya. Jadi, lama-lama aku kurang menikmati filmnya. Aku berharap dia segera tobat :)) By the way, 17 Again ini sebenarnya film receh. Yah, film-film ABG yang tidak perlu berpikir saat menontonnya.


First Impression: Tomorrow With You - Drama Korea

Sunday, February 19, 2017

Saat tahu pemeran utama Oh My Venus mau bermain drama baru, aku jelas semangat. Bagiku, drama Korea yang hits pada 2015 itu sangat menyenangkan untuk ditonton. Lucu. Cerita romantisnya pun tidak menye-menye. Tentu saja aku mengharapkan hal yang sama dalam drama terbaru Shin Min-a, Tomorrow with You. Apalagi, menempati slot yang sebelumnya diisi Goblin, drama produksi tvN ini juga digadang-gadang sebagai pengganti drama yang dibintang Gong Yoo itu. What’s not to like, ya kan?

Aku tidak seberapa kenal dengan lawan main Min-a kali ini, Lee Je-han. Apparently, dia pernah menjadi second lead actor drama Korea Fashion King (2012) yang juga aku tonton. Tapi, kok aku tidak ingat ya? He he he. Sepertinya saat itu aktingnya kurang berkesan. Lalu, seorang teman memberitahuku kalau Je-han juga bermain dalam Signal (2015) yang juga mengusung “permainan waktu”. Aku pun tertarik. Well, meski konsep permainan waktunya berbeda, ternyata Je-han memainkan karakter yang tidak terlalu beda. Yah, dia hanya semakin dewasa saja dalam Tomorrow with You. Let me write Signal’s review later.

Tomorrow with You bercerita tentang seorang penjelajah waktu, Yoo So-joon (Lee Je-han). Dia bisa pergi ke masa depan dengan kereta bawah tanah. Sayangnya, tiga tahun lagi, dia meninggal dalam kecelakaan dengan seorang perempuan, Song Ma-rin (Shin Min-a). Di masa kini, So-joon tidak mengenalnya. Penasaran dengan hubungan mereka, So-joon mendekati Ma-rin di masa kini.

Ma-rin adalah seorang fotografer freelance. Saat kecil, dia membintangi drama Korea yang sangat hits sehingga dia dikenal publik sebagai Bap Soon. Sampai dewasa, nama itu masih melekat dan malah menjadi olokan. Sebab, kehidupan Ma-rin tidak seperti yang orang-orang kira. Dia hidup pas-pasan seorang diri. Belum lagi, Lee Gun-sook (Kim Ye-won) terus mengusik hidupnya. Lalu, tiba-tiba So-joon yang juga seorang CEO mendekatinya. Jelas Ma-rin bingung.



Harus kuakui kalau ide cerita Tomorrow with You ini menarik. Meski menjelajah waktu bukan hal baru, tapi drama yang ditulis Heo Sung-hye ini berbeda. Kalau biasanya sang penjelajah waktu kembali ke masa lalu, kali ini So-joon hanya bisa ke masa depan. Dia pun tidak bisa pergi ke waktu setelah dia meninggal. Kalau dia bertemu sosoknya di masa depan, dia akan menghilang. Well, menjelajah waktu ternyata tidak seseru itu ya? Karena pantangan-pantangan itu, drama ini jadi menarik untuk diikuti. Apalagi, semakin bertambahnya episode, bukannya kejelasan, aku malah semakin penasaran. Here are the mysteries we can expect to be explained soon:

1. Kenapa Song Ma-rin?
Ma-rin dan So-joon ternyata sama-sama survivor dari tragedi meledaknya kereta bawah tanah. Karena terlibat cekcok, mereka berdua turun sebelum sampai stasiun tujuan. Jadi, mereka sama-sama merasa lega, sedih, sekaligus bersalah terhadap penumpang lain. Mirip seperti penumpang yang nyaris meninggal dalam film Final Destination. Tapi, apa hanya karena ini mereka jadi terlibat takdir yang sama?

2. Ketulusan Yoo So-joon
Menurutku, semua yang dilakukan So-joon kepada Ma-rin hanyalah ambisi menyelamatkan diri sendiri. That’s how I see it. Saat Doo-sik (Jo Han-chul) menyarankan dia menikahi Ma-rin dan punya anak agar terhindar dari kematian, So-joon menurut. Dalam waktu tiga bulan mereka menikah. Poor Ma-rin. She’s like in the cloud nine karena tiba-tiba menikah dengan CEO muda. Bahkan, So-joon sangat memanjanya karena So-joon di masa depan berkata, ‘‘Why can’t you work things out with her?’’

Sayangnya, dari cara So-joon menanggapi Ma-rin yang masih excited sebagai pengantin baru dan dari keputusannya tidak berbagi rahasia serta masalah dengan istrinya, aku yakin So-joon tidak tulus. Tapi, melihat cara So-joon rela menunggu di depan rumah saat salju turun di masa depan pada episode 6 membuatku merasa he might love her for real. Baru kali ini lho aku mengharapkan happy ending.



3. Gelagat Aneh Doo-sik
Doo-sik adalah mentor So-joon dalam menjelajah waktu. Saat dia pertama kali pergi ke masa depan, Doo-sik sudah menantinya. Belum dijelaskan siapa sebenarnya Doo-sik ini. Aku kira dia hanyalah karakter sebagai problem solver saja. Tapi kok di episode 6 dia malah berkonspirasi dengan rival So-joon. Selain itu, dia tidak pernah membolehkan siapapun masuk ke rumahnya. Beberapa kali penonton diajak melihat isi rumah Doo-sik yang penuh kertas dan sticky notes, seolah-olah dia sudah merencanakan sesuatu terhadap So-joon. Apalagi, dia pernah satu kali terlihat merekam apa yang terjadi. Isn’t he suspicious? Oh ya, aku juga penasaran apakah ada time traveler lain selain mereka?

4. Will They Really Die?
Sejak menikah, masa depan So-joon berubah lagi menjadi semakin rumit. Tiba-tiba rumahnya kosong. Menurut sahabatnya, Kang Ki-doong, So-joon pergi ke luar negeri setelah cerai dari Ma-rin. Kenapa mereka bercerai? Bukankah misi So-joon sejak awal adalah stick together with Ma-rin? So-joon di masa kini saja penasaran, apalagi aku :)) Yang paling aneh adalah jurnal yang hilang. Selain itu, Doo-sik di masa depan mengatakan kalau dia menyesal telah terlibat dalam kehidupan So-joon. Hmm…

*********

Aku jelas semakin suka dengan plot twist seperti ini. Apakah mereka tetap meninggal atau tidak, bagiku bukan masalah. Asalkan ya pada akhirnya So-joon benar-benar mencintai Ma-rin. It would be a bitter-sweet ending seperti 49 Days (2011). Meski drama ini tidak selucu ekspektasi, aku berharap kejutan-kejutan lain terus dimunculkan. Selain itu, aku berharap sang penulis tidak memaksa happy ending seperti yang terjadi pada W Two Worlds dan Goblin.

[Week #7] Best Valentine’s Gift Under 100k

Sunday, February 12, 2017

Dua hari lagi Hari Valentine. I’ve never celebrated it, not even once. Lucunya, setiap tahun pasti heboh tentang apakah umat muslim boleh merayakan Hari Valentine atau tidak. Setiap mendengar hal itu, aku sih woles. Memanfaatkan 14 Februari sebagai hari kasih sayang itu sah-saja saja kok. Isn’t beautiful where all people on earth express their warmest heart in the same day? Kalau tidak mau, ya tidak usah. Tidak perlu membuat keributan di sosial media.

I’ll probably buy sweet cakes for my mom and dad. Belum punya pacar soalnya. Even if I have, I’d still buy them cakes. Bagiku, perayaan seperti ini bisa dijadikan reminder. Reminder bagi mereka yang terlalu sibuk beraktivitas di luar rumah. Reminder bagi mereka yang jarang bertemu keluarga. Bukan masalah keyakinan, tapi kesempatan. If you’re one of those who wants to buy gift for the love ones, here are valentine’s gift under Rp 100k that I might buy too.

Pom-Poms Rug

Kelihatannya sulit. Tapi, membuat pom-pom sebenarnya sangat mudah. Beli benang wol dengan ketebalan medium. Gulungkan di tiga jari tangan sampai ketebalan yang diinginkan. Ikat kencang bagian tengahnya dengan benang jahit yang kuat. Gunting bagian pinggir gulungan wol itu dan ratakan sampai membentuk bola sempurna.

Memory Cards

Eits, bukan memory card untuk HP ya. Memory cards adalah kumpulan kenangan atau quotes tentang orang yang disayangi. Hanya dengan membeli kartu remi seharga Rp 5 ribu, kita bisa memanfaatkan 52 kartu remi sebagai pengganti halaman dalam album foto. It’s better to use only one side of the card agar lebih rapi. Tambah hiasan dengan guntingan majalah.

Pop Sticks Frame
Ini bisa sangat murah kalau mau hunting stik ice cream bekas. Tapi, kalau mau beli di toko, you'll probably need more money. Kita cuma perlu menyusun stik ice cream sebagai frame foto. Hias dengan spidol atau washi tapes.

Colorful Mug
 
Aku suka sekali memberi hadiah yang bermanfaat. Aku sedih melihat hadiah-hadiah yang berakhir sebagai pajangan. It’ll be covered in dust. Oleh karena itu, colorful mug is probably my first choice for gifts. Colorful mug hanya membutuhkan beberapa kuteks murah. Tuangkan di nampan berisi air. Lalu, celupkan mug, angkat, tunggu sampai kering.

Note: Masukkan code html linkytools di postingan masing-masing ya :) Dengan begitu, semua bisa lebih mudah hopping dari blog satu ke blog lain.


First Impression: Saimdang Light’s Diary - Drama Korea

Monday, February 6, 2017

This is a huge comeback for Lee Young-ae!! Bagi generasi 90-an, Young-ae mungkin lebih dikenal sebagai Dae Jang-geum, koki sekaligus tabib istana dalam drama Korea A Jewel in the Palace (2003). Setelah sukses dengan drama produksi MBC itu, Young-ae tidak pernah tampil dalam drama apapun. Oleh karena itu, Saimdang Light’s Diary menandai comeback Lee Young-ae ke dunia drama setelah 14 tahun.

Entah kenapa aktris kelahiran 1971 ini vakum begitu lama. Aku sendiri tidak terlalu mengikuti update dunia entertainment Korea, hanya dramanya saja. Apapun itu, I’m glad she’s back. Karakter Jang-geum sudah menjadi bagian masa kecilku. Waktu itu, aku tinggal di Jember dimana channel TV hanya TPI, RCTI, Indosiar, dan SCTV. Sama sekali tidak doyan sinetron, aku dan sepupuku selalu menonton drama Korea di TV. Salah satu yang kami suka ya A Jewel in the Palace. Sampai hafal theme song-nya lho! Jadi, penggemar drama Korea zaman sekarang kurang excited dengan drama terbaru Young-ae ini. Mayoritas berkata, ‘‘Nggak kenal sama yang main, Mbak.’’

I can’t blame them. Kalau diingat-ingat, aku pun sering begitu. Tiga hal yang aku pertimbangkan sebelum menonton sebuah drama: hype, pemain, hype. Aku tidak punya artis Korea favorit. Aku sering tidak notice siapa sutradara atau penulis skrip drama yang aku anggap bagus. So, yes, I judge Korean drama by its title (seberapa familiar) and its main casts. Kapan-kapan aku akan menulis alasan kenapa aku suka menonton drama Korea which is what this blog mostly about.

Back to Saimdang Light’s Diary…
Drama ini bercerita tentang Seo Ji-yoon (Young-ae) yang ingin membuktikan keaslian sebuah lukisan. Dengan jurnal seorang pelukis ternama bernama Saimdang, dia menelusuri keberadaan lukisan yang asli. Dia pun dibantu Han Sang-hyun (Yang Se-jong), seorang aktivis kampus. Di sisi lain, keadaan finansial keluarga Ji-yoon kacau. Suaminya melarikan diri dan dia harus menyewa apartemen murahan bersama ibu mertua dan anaknya. Dia dikhianati profesor Min Jung-hak yang berjanji menjadikannya profesor tetap.


Dengan ide cerita yang mengusung sejarah Korea Selatan, sepertinya SBS ingin mengajak penonton bernostalgia bersama Young-ae. Reminding us about her glory days. Sebab, dalam Saimdang Light’s Diary, Young-ae berperan ganda. Yaitu, sebagai Ji-yoon di masa kini dan Saimdang di masa lalu. Begitu juga dengan Se-jong yang juga berperan sebagai kekasih Saimdang saat muda, Lee Gyeom. Peran kekasih ini lalu digantikan oleh Song Seung-heon saat dewasa. Sepertinya tahun ini SBS ingin menciptakan tren peran ganda setelah sukses dengan Legend of the Blue Sea dan Defendant yang saat ini masih tayang.

Lalu, apakah Young-ae memang sebagus itu? Well, I have to admit that it’s a little bit awkward. Aku terbiasa dengan Young-ae yang penurut dengan nada bicara yang tidak pernah tinggi. Dulu dia lemah lembut dan sabar. Tapi, sekarang dia berjuang dalam setting modern dimana teriak-teriak di jembatan adalah hal yang lumrah saat stres. Rasanya aneh saja dan Young-ae jadi terlihat tua. Dia pun bisa saja terlibat hubungan rumit dimana sunbae (senior) bisa jatuh cinta dengan juniornya. Kenapa begitu? Sebab, sampai episode 4, diantara dua pemain Lee Gyeom, hanya Se-jong yang ada di masa kini.

Sayangnya, aku merasa alur empat episode awal sangat lambat. Sepertinya karena penonton sedikit-sedikit diajak flashback. Jadi, cerita Saimdang di masa lalu ditampilkan saat Ji-yoon dan Sang-hyun membaca jurnal. Kadang scene akan beralih sebentar ke masa kini untuk memperlihatkan emosi Ji-yoon. Hal yang sebenarnya tidak perlu karena malah membuat penonton bingung. Apalagi, ada saat dimana Ji-yoon benar-benar kembali ke masa lalu sebagai Saimdang! Iya, seperti Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo. Tapi hanya sebentar sekali. Jadi, aku tidak tahu apakah nantinya Ji-yoon benar-benar kembali ke masa lalu. Padahal, saat diajak flashback cukup lama, kisah Saimdang dan Lee Gyeom muda menarik lho.


Sebenarnya, kalau sudah bosan begini, aku tidak akan excited menunggu setiap minggu. Tapi, karena aku masih penasaran, aku akan terus menonton Saimdang Light’s Diary. Aku pun masih penasaran seperti apa jadinya saat Seung-heon terlibat lebih banyak. Well, sepertinya, bukan aku saja yang merasa agak kecewa dengan one of most anticipated Korean Drama in 2017 ini. Menurut ABG Nielsen, rating drama garapan sutradara Yun Sang-ho ini terus menurun. Padahal, drama ini digadang-gadang sebagai pengganti Legend of the Blue Sea lho. Saat ini, Saimdang Light’s Diary berada pada rating 12,3 persen dari rating episode perdana 16,3 persen. Rating sementara dari aku hanya 2,5 out of 5 stars.


Drama Korea lain yang masih/sudah aku tonton
  • Defendant (pengganti Romantic Doctor): Recommended! Setelah gagal dalam Entertainers, Ji-sung kembali memperlihatkan kehebatannya ‘‘bermain’’ personality.
  • Introverted Boss: Berhenti menonton di episode ke-2. Akting Park Hye-soo sangat berlebihan dan terkesan annoying. Selain itu, tidak ada pemain yang istimewa.
  • Missing 9 (pengganti Weightlifting Fairy Kim Bok-joo): Lumayan bagus. I’m expecting more surprising plot twists. Baca first impression-nya di sini.
  • Voice: Sering dibanding-bandingkan dengan Defendant. Genrenya memang hampir sama, yaitu crime. Tapi, Voice mengusung kekuatan seorang operator emergency call center (Lee Ha-na) yang bisa mendengarkan suara-suara dengan frekuensi sangat kecil. Meski banyak adegan bertarung melawan kriminal, entah kenapa drama ini agak membosankan. Aku masih akan menontonnya karena tertarik mengetahui lebih jauh tentang divisi emergency call center.

[Week #6] Top 5 Places to Visit Before You Die

Sunday, February 5, 2017
Keliling dunia mungkin menjadi impian hampir semua manusia. Aku belum pernah tahu ada orang yang mau stuck di sini-sini saja sih, apalagi di Indonesia. Semua orang ingin melihat dunia luar, dunia tanpa FPI dan politik macam negeri ini. Yah, mungkin deep down inside kita semua menganggap the grass is greener on the other side. Belum lagi godaan dari TV yang semakin memperkuat keyakinan kita kalau kehidupan di luar negeri itu lebih keren. Oleh karena itu, inilah 5 tempat yang sangat ingin kudatangi (gara-gara menonton di TV):

#5 Geelong, Australia
Kenapa Geelong? Partly because I have relatives there. Ya hitung-hitung kan bisa menghemat biaya hotel dan (mungkin) beberapa kali makan. Hopefully aku tidak harus berhemat saat benar-benar ke sana. Setahuku prosesnya ribet kalau ada tamu yang menginap. By the way, Australia dikenal dengan pantai-pantainya yang indah. Tentu saat ke sana aku tidak akan stuck di Geelong.

#4 Matama, Selandia Baru
Sebelumnya, aku tidak pernah kepikiran ke Selandia Baru. Tapi, karena tahun lalu media tempatku bekerja mengadakan kompetisi yang berhadiah jalan-jalan ke sana, akhirnya aku jadi tahu sebagus apa Selandia Baru. Pada dasarnya, aku ingin ke sana hanya untuk ke Hobbiton, setting film The Hobbit dan Lord of the Rings, salah satu film favoritku. Selain itu, aku juga ingin sekali bisa berpakaian ala musim dingin ha ha. Receh sekali ya alasannya?

#3 Korea Selatan
Aku yakin banyak yang ingin ke Korea Selatan. Kita memang sering sekali diperlihatkan keindahan negeri ginseng itu lewat drama-dramanya sih. As you can see, I watch many Korean dramas. Jika bisa ke sana, aku akan banyak mengeksplor bangunan-bangunan bersejarahnya. Sebab, aku sangat suka menonton historical drama.

#2 New York, Amerika Serikat
Dibandingkan hiking dan camping, aku lebih suka city tour. Jalan-jalan di jam-jam sibuk layaknya warga lokal, a new yorker. Kota ini mendapat banyak julukan. City of love. City of dream. Ah, aku sangat ingin menyeberang zebra cross di sana sambil mendengarkan lagu Welcome to New York-nya Taylor Swift. Oke, this is probably too weird.

#1 Nashville, TN, Amerika Serikat
Aku suka musik country. Bukan musik country ala Helmi Yahya, tapi ala Rascal Flatts dan Lady Antebellum. Oleh karena itu, aku sangat ingin ke Nashville yang katanya pusat musik country. To be more specific, aku ingin datang ke Blue Bird Cafe. Katanya ini adalah tempat dimana musisi dan songwriter berkumpul. Di sana, mereka sekedar menikmati musik atau bahkan berkolaborasi secara spontan! Ah, membayangkan atmosfirnya saja sudah excited. They're playing for music, not for fame or even money. Selain itu, Blue Bird Cafe juga menjadi setting utama serial TV yang aku ikuti, Nashville. You can check it out.

**************************************

Aku minta maaf karena tidak bisa post weekly blog challenge minggu lalu due to personal issues. Kamu bisa memasukkan link-nya di linky ini juga. FYI, linky yang dipakai baru ya. Linky kali ini disertai thumbnail yang bisa kamu ambil dari blogmu atau upload gambar baru. It takes more time but it's worth it.

Review: Solomon's Perjury - Drama Korea

Wednesday, February 1, 2017
Aku pun tidak menyangka akan betak mengikuti Solomon's Perjury sampai akhir. Drama garapan sutradara Kang Il-soo ini tidak cukup disorot sehingga tidak pernah mencapai rating tiga persen. See? Angka itu bukan rating yang bisa mengundang penonton. Tapi, karena saat itu aku tidak sengaja melihat episode perdananya, aku sama sekali tidak berekspektasi. Masih ada beberapa wajah familiar. Misalnya, Kim Hyun-soo dan Cho Jae-hyun. Itu saja sudah cukup menjadi alasanku mencoba menonton Solomon's Perjury.

Cerita berawal dari kisah Lee So-woo (Seo Young-joo) yang ditemukan meninggal di sekolah. Sebagai yang menemukan jasad So-woo, Ko Seo-yeon (Hyun-soo) dan Bae Joon-young (Seo Ji-hoon) sangat shock. Apalagi, mereka satu kelas. Sebelumnya, So-woo meninggalkan sekolah karena dianggap memicu perkelahian dengan Choi Woo-hyuk (Back Cheol-min). Dengan pihak sekolah yang mencoba menutupi kasus dan polisi yang menganggap So-woo bunuh diri, sekelompok siswa Jeong Guk High School mengadakan sidang untuk mengungkap kebenaran.

Saat itu yang terbersit pertama di pikiranku adalah: "Wah, keren juga ini. Pembunuhan di sekolah. Sepertinya drama bintang-bintang baru." Beberapa teman pecinta drama Korea pun setuju kalau Solomon's Perjury berpotensi. Sayangnya, rating berkata lain. Setiap minggu drama ini seperti tidak pernah dilirik. Bahkan, rating beberapa episode hanya nol koma sekian. Miris ya. Drama ini memang tayang bersamaan dengan Goblin (tvN). Tapi, rasanya keterlaluan kalau rating-nya bahkan tidak mendekati angka tiga.

Perlu diakui, Solomon's Perjury berpotensi besar menjadi drama yang membosankan. Karakternya itu-itu saja. Tidak ada plot twist yang membuat emosi jungkir-balik. Setting-nya pun sebagian besar di aula sekolah. Selain itu, drama ini merupakan adaptasi novel berjudul sama karya Miyuki Miyabe yang sudah difilmkan. Alhasil, para fansnya mungkin terlalu membanding-bandingkan atau melihat Solomon's Perjury sebelah mata. Padahal, akting anak-anak itu sangat bagus. Buktinya, aku sama sekali tidak merasa bosan. Aku tonton menit demi menit sampai episode terakhir, episode 12. Aku pun semakin penasaran saat ada yang bilang, "Sebenarnya nggak mati kok itu. Cuma prank." Meski aku sedikit annoyed karena di-spoiler, aku jadi semakin tertarik menanti sampai akhir.

If you have so many spare times, tidak ada salahnya mengisi waktu sambil menonton drama yang ditayangkan di stasiun TV JTBC ini. Tapi, kalau kamu punya banyak drama Korea yang belum ditonton, I don't recommend this one.

Judul: Solomon's Perjury (솔로몬의 위증) | Sutradara: Kang Il-soo | Penulis: Kim Ho-soo | Pemain: Kim Hyun-soo, Jang Dong-yoon, Seo Ji-hoon, Seo Young-joo, Cho Jae-hyun | Tanggal tayang: 16 Desember 2016-28 Januari 2017 | Jumlah episode: 12 | Durasi: 60 menit | Stasiun TV: JTBC | Produksi: iWill Media | My Rating: ❤❤❤