Life hasn't been easy for me for sure. Tapi, dari situlah aku belajar banyak hal, termasuk belajar menghargai dan mencintai diriku sendiri. Bukan hal yang mudah, apalagi bagi orang yang (dulu) terlalu memikirkan apa kata orang lain seperti diriku. Society is cruel, people!!

Di usia 23 tahun, 6 bulan, dan 8 hari ini, I thank myself for being independent. Aku tidak lagi harus diikuti orang tua kemana-mana (considering myself as the only child). Aku tidak lagi harus bersama teman saat ke kampus. Aku tidak lagi menggebu diam-diam dalam hati ingin segera punya the-so-called calon suami. Aku tidak lagi merasa iri saat aku menjadi satu-satunya orang yang tidak diberi.

Sayangnya, beberapa orang menganggap perspektif itu sekedar pembenaran. Sebenarnya aku memang tidak punya teman. Sebenarnya aku memang tidak asyik. Sebenarnya aku memang menyebalkan. Whoops! Mungkin mereka benar. Tapi, bukankah dunia ini tidak sesempit telapak tangan mereka? There are too many definitions of fun. There are too many ways to be happy. Hanya karena aku tergabung dalam sebuah society, bukan berarti kita harus sehati. What's the fun then?

"Many definitions of funMany ways to be happy. Hanya karena aku tergabung dalam society, bukan berarti kita harus sehati."


Ah, ada satu cerita yang menurutku sangat absurd. Suatu hari, aku menikmati makan siang seorang diri di pujasera. It was my decision, bukan karena tidak ada yang mau diajak makan. Seorang kawan lama datang. It's a he. "Kok makan sendiri? Sakno e rek (kasihan sekali)." Pada saat itu, aku berkata dalam hati, "Dude, how old are you?" Tidak lama, aku membaca sebuah artikel tentang pengalaman serupa. Sepertinya mengkasihani seseorang yang sendirian itu hal umum. Bagi pembaca yang pernah melakukan hal itu, please stop. Tidak semua orang yang sendiri merasa lonely. Terkadang kami memang butuh waktu sendiri, tidak perlu mendengarkan seseorang yang komplain tentang kehidupannya, tidak perlu mendengarkan seseorang menceritakan seseuatu yang sudah kita tahu. Our brain needs to relax!

Tidak banyak yang tahu apa yang kupikirkan. How I see things. Semakin bertambah umur, ternyata semakin tinggi pula dinding yang kubangun. Inilah salah satu kekuranganku. Mungkin karena ini banyak yang mengira aku tidak punya teman. Tapi, paling tidak hidupku bebas fake friends kan? Aku tidak perlu mencari makna tersembunyi dari setiap caption Instagram teman-temaku. Aku pun tidak perlu mengalami drama macam Awkarin. Dear, me. You live a good life. Good job. Oh ya, ada satu pertanyaan yang agak menggelitik telingaku, "Kamu nggak pernah ngerasa kesepian?" I think I do! Once in a while... I'm only human after all.

On the picture:
Zetizen Team saat liburan ke Tretes bulan lalu. Hayo, tebak aku yang mana?
[Read more about me here]