Movie Review: La La Land

Wednesday, January 25, 2017

It's hard to read praises about movie you've been dying to watch. It's hard to listen to people's excitement about movie that you knew you're gonna like. But it's even harder to accept how easy it (the movie) turns you down.

Seperti itulah yang aku rasakan setelah menonton La La Land, film yang memborong Golden Globes terbanyak sepanjang sejarah. Sudah berkali-kali aku mengingatkan diriku sendiri untuk tidak berekspektasi terlalu tinggi. Tapi itu susah. Ini garapan Damien Chazelle, sutradara di balik Whiplash (2014). Ini film musikal yang dialognya dinyanyikan. Dan ini film bintang lima, yang dipuji kritikus film dimana-dimana. How could I not expect anything??

La La Land bercerita tentang Mia (Emma Stone) dan Sebastian (Ryan Gosling). Mia mengejar impiannya sebagai aktris, Sebastian ingin membuka kafe jazz dimana dia bisa bebas memainkan lagu jazz klasik kesukaannya. Impian itulah yang menyatukan mereka. Tapi, impian itu juga yang membuat mereka harus mencintai dalam duka.


Halah. Aku terlalu mendramatisir. Tidak setragis itu kok kisah cinta mereka. Tidak se-touching itu juga perjuangan mereka mencapai impian. Uh-oh. Kok aku seperti menulis hateful post ya? Tapi, itulah kenyataannya. La La Land menjadi film (yang terasa) panjang dengan plot seadanya. Such a wasteful talent. Gosling dan Stone tidak perlu diragukan lagi skill aktingnya. Their chemistry is perfect. Bahkan, aku yang sebelumnya heran kenapa Gosling dianggap the sexiest man alive, merasa he is indeed sexy. Di film ini saja lho, bukan yang lain he he.

Sayangnya, aku merasa kecewa berat saat Mia menyanyi sendiri di audisi terakhir. It should be the most important moment karena setelah kegagalan di sana-sini, dia akhirnya dipanggil audisi di produksi bergengsi. Tapi, kenapa nyanyiannya terasa hambar ya? Aku bahkan sudah lupa apa yang dia ceritakan. Padahal, aku termasuk orang yang gampang baper (bawa perasaan) saat menonton film musikal lho. Hal ini membuatku membanding-bandingkan Stone dengan Anne Hathaway dalam Les Miserables (2012). Ingat tidak adegan di dalam bathtub saat dia menyanyi I Dreamed A Dream? Wah, itu emosinya luar biasa. Mungkin ini menjadi salah satu faktor dibalik kritik yang menyalahkan Chezelle karena tidak mengusung penyanyi betulan. Well, Hathaway juga bukan penyanyi. Lalu, apakah ini salah Stone?


Film musikal memang tidak populer di Hollywood. Film musikal yang diangkat dari play saja sedikit, apalagi yang orisinal ala modern seperti La La Land ini. Oleh karena itu, masih banyak kontroversi tentang deskripsi film musikal. Kalau para pemain Les Miserables harus menyanyi secara langsung saat syuting. Jadi, kurang lebih sama dengan play. Sedangkan pemain La La Land sudah recording dan tinggal lipsing saat syuting. Tapi, mengkritik film produksi Black Label Media ini dari "standard" film musikal itu tidaklah adil.

Sejak awal, Chazelle memang ingin menghadirkan film musikal modern. Nah, di sinilah aku tidak paham. Modern dalam hal apa? La La Land memang bukan kisah klasik. La La Land memang mengusung lebih banyak warna pop (if you count it as modern). Dan ada yang menganggap cara menyanyi Stone dan Gosling juga termasuk dalam modern yang dimaksud. If it's true, then it's a mistake. It's Chazelle's atau orang-orang Hollywood yang mendanainya. Coba tonton Hairspray (2007). Setting-nya hampir sama, tapi Nikki Blonsky sebagai pemeran utama bisa bernyanyi dengan emosi. Bagiku, itulah esensi film musikal sebenarnya. Emosi.


Tapi, di balik kekecewaanku terhadap emosi yang dibangun dan plot cerita yang dangkal, aku harus mengakui kalau sinematografi La La Land patut diacungi jempol. Adegan flashback di bagian akhir, lebih tepatnya. Perubahan setting-nya sangat luar biasa indah. Aku rekomendasikan untuk menonton La La Land di bioskop atau home theater. Your ear buds won't do it justice. Ah, seandainya saja sejak awal seperti ini, pasti jumlah orang yang merasa bosan saat menontonnya berkurang. Aku sama sekali tidak bisa memprediksi kemenangan La La Land pada Oscar 2017. I hope it won't win that much karena sepertinya masih banyak nominee lain yang lebih berbobot. Misalnya, Hacksaw Ridge, Manchester by the Sea, dan Lion.

[Week #4] Top 5 Troye Sivan's Songs + GIVEAWAY

Sunday, January 22, 2017

I've been wanting to write about him for so long. Troye Sivan pertama kali kukenal bukan dari dunia musik, melainkan dari dunia seni ilustrasi. I know it sounds weird. Jadi, ada seorang ilustrator/digital artist bernama Hsiao-Ron Cheng yang berasal dari Taiper, Taiwan. I really love her works. Karyanya didominasi warna pastel dengan balutan hal-hal aneh nan cantik. Keanehan itu terkadang membuat karya Hsiao terlihat seram lho. Misalnya, ilustrasi suatu desa yang masyarakatnya tidak punya kepala. Atau monster yang mengejar kelinci-kelinci menggemaskan. Benar-benar a child's nightmare, tapi dikemas apik (bagiku sih). Nah, ternyata Hsiao juga membuat ilustrasi untuk cover art EP Troye Sivan yang berjudul Wild. That was how I know his name.
Dari 6 lagu dalam EP Wild, I like all of them. Tapi, yang paling hits sih lagu Wild, Fools, dan Talk Me Down yang ada di album pertamanya, Blue Neighborhood. Sebab, tiga lagu itu dikemas menjadi trilogi di akun YouTube-nya. Unik kan? Tidak heran kalau nama Troye langsung meroket. Not that big, but still mengingat dia adalah orang Australia. Here are top 5 Troye Sivan's songs yang harus kamu dengarkan before judging him or skipping this post:

#1 FOOLS
[Listen: Spotify | YouTube]

This is a really sad song but I'm sure it's related to everyone at some point. Biasanya sih lagu ini aku dengarkan saat sedang down, saat sedang ingin protes, tapi hanya bisa diam. "I am tired of this place. I hope people change. I need time to replace what I gave away." Seharusnya aku mendengarkan lagu-lagu mood booster ya? Well, lagu ini tidak se-miserable itu kok. "And my hopes, they are high, I must keep them small. Though I try to resist, I still want it all." Bait pertama saja sih yang relatable untuk semua situasi. Lagu ini pada dasarnya bercerita tentang seseorang yang mencintai orang yang salah. "Only fools fall for you."

#2 EASE

I'm sorry if I drag you deeper. Masih dengan lagu sedih, Ease menggambarkan mood yang down juga. Bedanya, lagu ini lebih universal, not only about love. "But all this driving is driving me crazy. And all this moving is proving to get the best of me. And I've been trying to hide it. But lately, every time I think I'm better, pickin' my head up, getting nowhere." Tapi, yang aku suka dari lagu-lagu Troye adalah it's sad without being sad. You know, lagu-lagu sedih ala Adele dan Sam Smith pasti dibalut dengan tempo slow dan mengajak pendengar mendalami kata demi kata. Sedangkan Troye membalut kisahnya dengan soft-touch synths dan gebukan drum simpel ala musik Lorde.

#3 LOST BOY
[Listen: Spotify | YouTube]

"Yeah, the truth is that I'm sorry. Though I told you not to worry.
I'm just some dumb kid trying to kid myself. That I got my shit together."

Yeah, I know. This is (still) not a happy song. Lagu ini lebih ke letting (something) go, lebih positif dibandingkan lagu-lagu sebelumnya. Selain itu, mood yang dibangun sejak awal lagu memang lebih menyenangkan. You can even move your body a little. Beat lagu ini cocok untuk playlist bersantai di pantai.

#4 for him.

"You don't have to say 'I love you' to say I love you." True. Bagiku sih ini lagu cinta yang sangat manis tanpa terkesan lebay. Hal lain yang membuatku suka Troye Sivan adalah liriknya yang simpel tapi selalu pas dengan yang dirasakan pendengar. Bagiku, beautiful lyric tidak harus puitis atau menggunakan istilah-istilah atau banyak idiom. Cukup relatable atau istilah zaman sekarang, quotable. Aku suka kok mendengar lirik-lirik seperti itu. Lumayan, sekalian belajar kosakata baru. Tapi, terkadang isi hati ini hanya ingin dikeluarkan tanpa perlu pikir panjang.

#5 YOUTH
[Listen: Spotify | YouTube]

Youth adalah salah satu hit single Troye dari album Blue Neighbourhood. Lagu ini jauh lebih semangat daripada empat lagu yang aku sebutkan sebelumnya. Lagu yang pas buat buat dancing on the floor sambil menonton Troye tampil di atas panggung. Dari judulnya saja sudah terlihat, Youth, masa muda.

****************

Well, it was so hard for me to choose only five songs. Sebenarnya, masih banyak lagu-lagu Troye yang aku suka. Tapi, lima lagu di ataslah yang paling bisa mewakili jenis musik dan cerita yang dia suguhkan. If you like him, you should check out Happy Little Pill, salah satu lagu dalam EP TRXYE (2014). Lagu itu semacam anthem song saat aku sedih dengan nuansa yang sangat dark and deep and probably desperate dengan beat yang tidak slow. Tapi, jangan terlalu mendalami lagu itu ya. Tidak ada unsur positifnya sama sekali.

!!GIVEAWAY!!

January is almost over. Tapi, rasanya belum terlambat untuk memberi hadiah notebook cantik dari Buddy Books. This is not a sponsored giveaway. Secara personal aku memang suka membeli custom notebook di sana. Apalagi, aku termasuk orang yang cerewet dalam hal memilih notebook. Maklum, harus praktis dan meet all my needs selama setahun. Oke, langsung saja. Inilah syarat dan ketentuan mengikuti Giveaway Part 1 Weekly Blog Challenge:

  1. Punya alamat pengiriman di Indonesia. I don't mind you're currently overseas.
  2. Follow blog ini dengan email atau Google+ (on the bottom of this blog). --1 poin (each)
  3. Follow me on Instagram @accordingtoratri or/and Twitter @smilingnath. --1 poin (each)
  4. Buat tulisan sesuai tema minggu ini: 5 songs you like right now. Boleh ditulis di blog, notes Facebook, kompasiana, atau platform sejenis. Please link my blog once. Lalu, jangan lupa untuk memasukkan link-nya di bawah ini. Share your post on any social media you have! --3 poin
  5. Penilaian tidak bedasarkan tulisan. Aku akan memilih dua pemenang secara random. Pemenang boleh memilih cover yang diinginkan.
  6. Giveaway ditutup pada 4 Februari 2016. Good luck!


-----UPDATE 1 MARET 2017-----

Terima kasih sudah berpartisipasi dalam giveaway pertamaku :) I'm very very sorry for the late announcement due to my personal issue. Berikut adalah dua orang yang berhak memilih notebook dari Buddy Books:
  1. @hersyuuu (Twitter submission)
  2. Extraordinary Diary (blog post submission. read here)

First Impression: Missing 9 - Drama Korea

Friday, January 20, 2017

Akhirnya, drama Korea paling dinanti ini tayang juga. Aku sebenarnya heran kenapa Missing 9 banyak dibicarakan. Kalau melihat drama hits akhir-akhir ini, misalnya Legend of the Blue Sea dan Goblin, keduanya punya point of interest yang sama: pemain kenamaan. Tapi, drama produksi MBC ini beda, khususnya bagiku. Aku sama sekali tidak mengenal Jung Kyoung-ho dan Baek Jin-hee, para pemeran utama. Entah karena aku kurang banyak menonton drama atau mereka memang tidak hits di kalangan penikmat internasional.

Missing 9 bercerita tentang sembilan orang dari Legend Entertainment yang terdampar di sebuah pulau tak bertuan. Pesawat yang mereka tumpangi jatuh. Empat bulan kemudian, salah satu dari mereka kembali ke Korea dan menjadi satu-satunya orang yang selamat. Apa yang telah terjadi selama empat bulan? Apakah hanya dia yang selamat? Sebelum membahas lebih dalam, let me introduce you to those nine who are missing:

  1. Seo Joon-o (Jung Kyoung-ho): Mantan leader boyband Dreamer. Setelah bubar, popularitas Joon-o meredup. Dia bahkan rela melakukan apa saja agar bisa terkenal lagi. Sebenarnya dia punya hati yang baik. Tapi, dia agak gengsi dengan stylist-nya yang serba bisa.
  2. Ra Bong-hee (Baek Jin-hee): Stylist baru Joon-o. Ini adalah pekerjaan pertamanya. Sering diajak menyelam oleh sang ibu, Bong-hee lebih gampang beradaptasi saat terdampar di pulau tak berpenghuni. Dia pun menjadi orang yang paling optimis.
  3. Lee Yeol (Chanyeol EXO): Mantan anggota boyband Dreamer. Dia kalem dan masih menghargai Joo-o meskipun nasibnya sangat berbeda. Pintar menulis lagu, setelah Dreamer bubar, dia debut sebagai penyanyi solo.
  4. Choi Tae-ho (Choi Tae-joon): Mantan anggota boyband Dreamer. Tae-ho sangat tidak akur dengan Joon-o. Dia merasa Joon-o lah yang menyebabkan Dreamer bubar. Saat ini, Tae-ho dikenal sebagai aktor paling populer di Korea. Sejauh ini, dia terlihat paling arogan.
  5. Ha Ji-a (Lee Sun-bin): Aktris paling populer di Korea. She's like the goddess of Korea entertainment. Cantik, seksi, ramah. Dia pun pacaran dengan Tae-ho. Sayangnya, Ji-A punya penyakit yang membuatnya sulit bertahan saat terluka dan dia menyimpan banyak rahasia.
  6. Jung Ki-joon (Oh Jung-se): Manager Joon-o dan satu-satunya orang yang percaya bahwa artis yang dia handle itu bisa tenar lagi. Ki-joon merupakan mantan manager Ji-a yang diam-diam dia cintai. Dia adalah orang baik, sabar, dan pengertian.
  7. Yoon So-hee (Ryu Won): Dia terlihat seperti seorang perfeksionis. Sama seperti Ji-A, dia juga sangat tenar dengan pembawaan yang lebih anggun dan elegan. Sayangnya, saat di pulau, dia sangat depresi dan ingin bunuh diri. Baginya, lebih baik mati daripada hidup tidak jelas.
  8. Hwang Jae-kook (Kim Sang-ho): CEO Legend Entertainment.
  9. Tae Ho-hang (Tae Hang-ho): Tangan kanan Jae-kook yang paling loyal. Dia dan bosnya tidak pernah hidup kekurangan. Jadi, mereka cukup kesulitan bertahan. Tapi, Ho-hang dan Jae-kook akan membuat penonton tergelak dengan tingkah konyol mereka.


Dengan 9 orang terdampar, tentu Missing 9 akan menyuguhkan banyak cerita dan drama. Penulis Han Jung-hoon pun akan membuat kita penasaran, jengkel, marah, menangis, tertawa. Kompleks. Complete. Oleh karena itu, meski tanpa pemain hits masa kini, sepertinya Missing 9 bisa mencapai rating 20 persen seperti yang diharapkan Chanyeol EXO. Yah, asalkan Legend of the Blue Sea sudah tamat dan tidak ada drama aktor Korea hits menyaingi.

Missing 9 diawali dengan kepulangan Bong-hee ke Korea Selatan. Seluruh masyarakat heboh, apalagi ada isu bahwa kecelakaan itu setting-an. Dipimpin Jo Hee-kyung (Song Ok-suk), pemerintah menggali informasi secepat mungkin. Sayangnya, Bong-hee menderita meningitis sehingga dia hanya ingat sedikit demi sedikit. Di sisi lain, kita juga diajak mengikuti kisah Bong-hee sejak pertama kali bekerja dengan Joon-o. Jadi, jangan bingung. Missing 9 akan penuh flashback, baik itu ke masa saat korban terjebak di pulau atau saat Dreamer masih belum bubar.

Banyak yang bilang drama ini mirip Lost, serial TV Amerika. Well, ide cerita korban kecelakaan pesawat yang terdampar memang bukan hal baru. Tapi, Missing 9 dan Lost tidak bisa disamakan. Para karakter dalam Lost menemui rintangan berupa monster-monster mistis. Sedangkan menurutku, Missing 9 akan fokus pada kehidupan para karakter yang saling berhubungan mengingat mereka satu agensi. Konflik masa lalu, saling menyalahkan, loyalitas, dan ego bertahan hidup. Sepertinya hanya itu, tidak akan ada monster mistis ala Supernatural. Apalagi, di "masa kini" pun banyak konflik yang terjadi. Aku curiga pemerintah mau membuat konspirasi.

What is the thing you're supposed to do?
The truth. I will find out the truth. It is my job to make sure the law is never used wrongfully. It's also your duty. As in this case, manipulating the truth isn't our job.
- Yoon Tae-young, episode 2

Pada dua epsiode pertama ini, penonton hanya diajak berkenalan dengan para karakter. Iya, butuh dua episode agar kita paham dan terbiasa dengan alurnya yang cukup sering maju-mundur. Bagi yang menilai drama Korea dari ceritanya, you'll find it pretty exciting. Sedangkan bagi yang menonton karena hype saja, sepertinya mereka akan malas menonton. Sang sutradara pun bekerja dengan baik sehingga aku tidak merasa bosan meski aku sadar bahwa alurnya berjalan sangat lambat. Maklum, sedikit membahas A, sedikit membahas B, sedikit membahas C, kembali membahas A lagi, lalu membahas D. If I may say, dua episode pertama Legend of the Blue Sea lah yang membosankan. Aku berharap Missing 9 akan menyuguhkan cerita yang benar-benar padat, tanpa melebih-lebihkan. It'll break my heart kalau drama seperti W Two Worlds terulang lagi. For its complexity, it's 4,5/5 stars.

MAJOR SPOILER!! Yoon So-hee ditemukan tewas di "masa kini." Menurut hasil autopsi, dia meninggal karena dibunuh. Penasaran kan? Tunggu episode 3 Missing 9 yang tayang setiap Rabu-Kamis pukul 22.00 KST.


[Week #3] My Friends Love Eating with Me!

Sunday, January 15, 2017

Pada dasarnya, aku tidak bisa makan tanpa nasi. Bisa sih, tapi tidak dihitung "makan". Beberapa jam kemudian pasti harus makan lagi sampai bertemu nasi. Yap, bagiku nasi ini semacam pengganjal perut. Kata teman-teman sih aku ini Indonesia banget karena rasanya belum afdol kalau belum makan nasi. True! I'm a nationalist in my own way he he. Sepertinya ini menurun dari ayah yang memang doyan makan. Tapi, kalau diingat-ingat lagi, tubuhku semakin rewel sejak aku menderita magh saat SMA. Ah, I used to have brunch, mixing breakfast and lunch. Untungnya, aku tidak bisa gemuk! Jadi, aku tidak perlu khawatir makan banyak.

Lucunya (so they said), aku selalu menyisakan lauk di piringku. Iya, nasinya jelas habis. Pembelaanku? "Aku kan makan nasi, bukan makan (lauk)." I just realized how weird that sounds. Tapi, ya bagaimana lagi. Biasanya aku makan dengan teman-teman karena memang jam makan. Perut keroncongan. Jadi, aku makan not for pleasure, cuma mengganjal perut. Kalau nasinya sudah habis, berarti perut sudah kenyang, dan mostly I have no room or appetite for the others. Nah, di situlah teman-temanku bahagia. Kebetulan mereka semua doyan makan. An extra chicken or an extra egg won't hurt. I don't mind. Paling tidak aku pernah membahagiakan mereka LOL.

Apa aku pernah melahap habis laukku? Tentu saja! Kalau sedang bertamu ke rumah orang, aku pasti menghabiskan apapun di atas piringku. Kalau tidak, namanya tidak sopan. Tapi, jangan lakukan ini di India. Menurut dosenku, piring bersih menandakan minta lagi. Padahal, makanan-makanan di India kan bikin kenyang dan eneg. Oh no. Aku juga akan menghabiskan lauk when it comes to my favorite food. Ayam lalapan or simply telur ceplok + sambal buatan mama. Ini pun biasanya aku makan saat sedang santai. Jadi, I have time to enjoy every bites. Makan aja kok ribet ya? Tidak juga kok. It comes naturally for me.

By the way, aku mulai membiasakan si perut dengan lontong. Dulu aku tidak suka lontong karena teksturnya. Ternyata, daya penahan lontong lumayan lama. Tapi, aku baru bisa makan lontong dengan bakso, my another favorite food yang pasti tidak akan aku bagi dengan siapapun.


Untuk snacks, aku paling suka cheesecake. Tidak perlu semahal Pablo, cheesecake buatan BreadTalk saja sudah enak kok. Selain karena memang suka keju, cheesecake itu sangat awet. Makan 3-4 sendok kecil saja sudah kenyang, disimpan dalam kulkas, dimakan lagi kalau pengen. Selain keju, aku juga suka anything vanilla dan white chocolate. White ya, bukan cokelat. So, what's your favorite food? Buat yang punya resep cheesecake, boleh share ke aku ya. Dan FYI..... Minggu depan akan ada GIVEAWAY dalam rangkaian Weekly Blog Challenge ini.

5 Soundtrack Drama Korea Goblin Terbaik


Sejak awal aku memang tidak pernah menolak lagu-lagu Korea. Yang jelas, aliranku bukanlah k-pop. Tapi, tidak bisa dipungkiri kalau kadang aku menikmati soundtrack drama Korea, termasuk soundtrack Goblin kali ini. Mungkin karena tidak dinyanyikan oleh boyband dan girlband, otakku pun tidak membayangkan sekelompok orang menari-nari di atas panggung (sorry, k-popers). Harus aku akui kalau soundtrack drama Korea bagus-bagus, bisa membuat penonton semakin baper. Saat ini, aku sering sekali mendengarkan soundtrack Goblin. Inilah 5 lagu terbaik:

#5 Winter is Coming - Han Soo-ji
It's hard for me to find Han Soo-ji on internet. Ada sih, tapi tidak yakin apa benar itu penyanyi lagu ini. Bagiku, Winter is Coming mirip sekali dengan lagu-lagu Perancis yang biasa aku dengarkan. Mungkin karena itu aku tidak bosan mendengarkannya. Sampai sekarang pun aku kesulitan mencari liriknya. Sekilas seperti bahasa Perancis ya :)) Tolong sekali yang tahu, let me know soon. Semoga ini bukan lagu pemujaan umat Kristen ya. Aku muslim nih he he.

#4 Who are You - Sam Kim
Meski cover art-nya Goblin dan Eun-tak, bagiku lagu ini lebih pas menggambarkan hubungan Grim Reaper/Wang Yeo dan Sunny/Kim Sun. Seriously, hubungan mereka lebih heartbreaking. Mungkin karena sejak awal aku hanya tertarik ke Gong Yoo dan merasa dia dan Kim Go-eun kurang cocok. And apparently I'm not the only one. Beberapa teman juga berpendapat sama. Bahkan, mereka bilang, "Nggak usah Eun-tak ya nggak papa." Well, I'm wishing the best for Grim Reaper.

#3 I Miss You - SOYOU

And I miss u miss u
나의 운명인 사람

Masih sama seperti lagu sebelumnya, I Miss You lebih menggambarkan kisah cinta Grim Reaper dan Sunny. Dengan alunan musik akustik, galaunya semakin terasa. Ini sih lagu cewek banget karena ditulis dari sudut pandang Sunny. By the way, aku baru tahu kalau SOYOU adalah anggota girlband Sistar yang dikenal super seksi itu. Suaranya pas banget, serak-serak bikin orang kasihan.

#2 Beautiful - Crush
Ah, lagu ini manis sekali. "Beautiful, my heart. Beautiful your heart. It's beautiful life." Setiap mendengarkannya, aku merasa senang dan somehow tentram. Meski alunan musiknya sama sekali tidak ceria, Beautiful masih dikategorikan happy song kok. Tidak perlu takut terbawa galau. Pada dasarnya, ini adalah soundtrack lagu saat Goblin jatuh cinta kepada Eun-tak. Karena setting-nya sama sekali bukan drama penuh keceriaan, aku pun sangat bersyukur ada lagu enak seperti ini he he.

#1 Stay With Me - Chanyeol
Ini lagu terbaik! Jelas. Khas Goblin sekali. Dengar intronya saja, para pecinta drama pasti langsung ngeh ini soundtrack utama Goblin. Tapi, disamping itu, aku memang suka lagu-lagu rap seperti ini sih. Kalau lagu dengan verse biasa sudah mainstream, lagu rap kadang susah dimengerti, nah, gabungan keduanya is perfection. Ini tidak berlaku bagi lagu Korea saja kok. Dan aku pun bingung sebenarnya ini Chanyeol dan Punch siapa. Jelas-jelas ada suara penyanyi perempuan, tapi menurut Google kedua nama itu cowok! Sepertinya si penyanyi perempuan adalah spesialis soundtrack drama. Sedikit spoiler, lagu ini semakin terasa sedih bagi kalian yang sudah menonton Goblin episode 13. Stay with Me memang lagu yang sangat heartbreaking in a different way.

Baca: First Impression: Goblin (tvN) - Drama Korea

Review: Weightlifting Fairy Kim Bok Joo - Drama Korea

Thursday, January 12, 2017


Weightlifting Fairy Kim Bok Joo harus berakhir tanpa mencicipi rating 10 persen. Sepanjang penayangannya, drama yang dibintangi Lee Sung-kyung dan Nam Joo-hyuk ini hanya meraih 5,4 persen sebagai rating tertinggi. Padahal, dibandingkan "toko sebelah" (Legend of the Blue Sea), Weightlifting Fairy menawarkan cerita yang lebih menyenangkan. Tapi, berdasarkan grafik rating (di bawah pos), Weightlifting Fairy sepertinya punya fans yang cukup loyal. Ah, paling tidak drama Korea ini bersih dari penonton yang cuma ikut-ikutan. [Baca: First Impression Weightlifting Fairy]

"Haters (Lee) Min-ho lu!" No way 😂 Aku pun doyan cowok semampai bak pangeran seperti dia kok. Masalahnya, aku bosan karena dia mengambil peran yang itu-itu aja. Main aman. Tapi, let's talk more about it setelah episode terakhir Legend of the Blue Sea ya. Kurang empat episode lagi nih. Semangat (menyemangati diri sendiri)!

Kim Bok-joo (Sung-kyung) adalah seorang atlet angkat besi cewek. Pemilihan karakter utama inilah yang membuat drama ini punya nilai plus di mataku. Dia tidak kaya, tapi tidak kekurangan uang. Dia tidak cantik, tapi wajahnya enak dipandang. Pas. Begitu juga dengan Jung Joon-hyung (Joo-hyuk) sang atlet renang. Meski diceritakan super ganteng (not for me 'cause he's too beautiful), keluarganya tidak sempurna. Dia pun bukan seorang chaebol. Lagi-lagi karakter yang biasa saja. Tapi, justru itu bagusnya. Weightlifting Fairy seolah tidak mau penontonnya terlalu berandai-andai. Bukannya fokus mencari pria setampan Joon-hyung, tapi penonton diajak fokus mencari hubungan yang semanis dia dan Bok-joo (ups, I hope this isn't spoiler). Bagiku sih itu goal yang beda dan lebih mulia.


Mungkin ini berlebihan atau mungkin karena aku tidak ingat, tapi sepertinya Weightlifting Fairy adalah drama Korea pertama yang membuatku lebih memperhatikan pentingnya karakter-karakter lain. Misalnya, karakter Jung Nan-hee (Cho Hye-jung) yang super centil. Sekilas dia seperti karakter hura-hura, tidak penting untuk keseluruhan cerita. Padahal, dialah kunci first impression Dokter Jung Jae-yi (Lee Jae-yoon) terhadap Bok-joo yang saat itu diam-diam menyukainya. Nan-hee juga membuat persahabatannya dengan Bok-joo dan Lee Sun-ok (Lee Joo-young) semakin erat. Bukankah kita semua punya at least satu teman seperti Nan-hee? We might find her annoying, but she's like a glue that can make a friendship stronger.

What about romance?
Hmmm... Ini sih selera ya. Karena aku kurang suka kisah cinta penuh drama dan tangisan bombay alias lebay, Weightlifting Fairy menyuguhkan kisah cinta terbaik. Manis malah karena mereka ternyata teman SD! Saat pacaran pun seperti anak sekolah yang seharusnya. Tidak mesum, tidak agresif, pokoknya tidak sok dewasa seperti yang terjadi pada generasi muda Indonesia. Tapi, setelah dipikir-pikir, aku pun bingung sebenarnya sekolah atlet ini setara SMA atau kuliah ya?

Overall, aku sangat menyarankan kalian menonton Weightlifting Fairy Kim Bok Joo. Sebab, banyak hal yang bisa kita pelajari dari drama Korea ini. Mulai dari pertemanan, percintaan, keluarga, sampai usaha kita meraih cita-cita. Drama ini sangat pas ditonton saat bersantai. It's super light and it'll give you warm. Selamat menonton!

*****
Judul: Weightlifting Fairy Kim Bok Joo (역도요정 김복주) | Sutradara: Oh Hyun-jong | Penulis: Yang Hee-seung | Pemain: Lee Sung-kyung, Nam Joo-hyuk, Kyung Soo-jin, Lee Jae-yoon | Tanggal tayang: 16 November 2016-11 Januari 2017 | Jumlah episode: 16 | Durasi: 60 menit | Stasiun TV: MBC | Produksi: Chorokbaem Media | Distributor: MBC | My Rating: ❤❤❤❤

Most Anticipated Movie in 2017

Wednesday, January 11, 2017

Setiap awal tahun, aku selalu membuat daftar film yang wajib ditonton. Mulai dari film-film blockbuster sampai film-film yang jauh dari pemberitaan media Indonesia. Jadi, kegiatanku di awal tahun biasanya buka-tutup artikel di Google, mencari tahu film-film rekomendasi. Daftar nominee festival film luar negeri pun tidak luput dari pengamatanku. Sayangnya, setiap tahun rasanya semakin sedikit pula waktu yang aku punya untuk menonton film. Alhasil, masih banyak film dalam folder "belum ditonton" dan "belum direview". Ah, jadi rindu masa-masa SMA. Well, without further ado, here are 8 most anticipated movies in 2017.

[Week #2] I Found Myself and Somehow That was Everything

Sunday, January 8, 2017

Life hasn't been easy for me for sure. Tapi, dari situlah aku belajar banyak hal, termasuk belajar menghargai dan mencintai diriku sendiri. Bukan hal yang mudah, apalagi bagi orang yang (dulu) terlalu memikirkan apa kata orang lain seperti diriku. Society is cruel, people!!

Di usia 23 tahun, 6 bulan, dan 8 hari ini, I thank myself for being independent. Aku tidak lagi harus diikuti orang tua kemana-mana (considering myself as the only child). Aku tidak lagi harus bersama teman saat ke kampus. Aku tidak lagi menggebu diam-diam dalam hati ingin segera punya the-so-called calon suami. Aku tidak lagi merasa iri saat aku menjadi satu-satunya orang yang tidak diberi.

Sayangnya, beberapa orang menganggap perspektif itu sekedar pembenaran. Sebenarnya aku memang tidak punya teman. Sebenarnya aku memang tidak asyik. Sebenarnya aku memang menyebalkan. Whoops! Mungkin mereka benar. Tapi, bukankah dunia ini tidak sesempit telapak tangan mereka? There are too many definitions of fun. There are too many ways to be happy. Hanya karena aku tergabung dalam sebuah society, bukan berarti kita harus sehati. What's the fun then?

[Week #1] Resolusi 2017 Harus Ada Batas

Sunday, January 1, 2017

Harus aku akui kalau tahun 2016 ini bukanlah tahun yang produktif. Kegiatanku terasa seperti hanya rutinitas yang goals-nya seakan tidak ada batas. Kerja, kerja, kerja. Tapi tujuannya apa? Ingin membuat project itu, ingin memulai mengerjakan ini, tapi tidak pernah dieksekusi. Itulah yang ingin aku ubah kali ini. I have to set goals. So here I am, writing for my a-year-older-self, to work harder to complete these goals:

Get Featured on Other Media
Lho, sudah bekerja di surat kabar kok masih pengin menulis di tempat lain? Satu hal yang banyak orang tidak tahu (or refuse my explanation) kalau sebenarnya aku ini belum bekerja, at least that's how I see it). Aku masih kuliah. Aku bukan pegawai tetap. Sejak awal, tujuanku ada di sini adalah untuk belajar. Memang, along the way, prioritasku agak blur antara kuliah dan pekerjaan. But still, aku tidak mau stay di comfort zone. Aku masih pengin tulisanku, namaku, tertulis di media lain. Hopefully media online luar negeri. Sebenarnya, goals ini akan terealisasi bulan ini karena Desember lalu aku terpilih untuk mengambil bagian dalam project majalah CosmoGirl Indonesia. Tapi justru karena project ini aku semakin pengin menulis dan menulis lagi.

Menyelesaikan Skripsi
There you go. Sudah 23 tahun, tapi skripsi belum rampung. Mulai menggarap pun belum karena terhambat judul. I know, dua semester kemana saja? Partly because I was too afraid to face my lecturer (padahal di kantor galak, tapi menghadapi dosen saja tidak berani). Ada apa dengan judul skripsiku? It's good. Topiknya pas dengan hal yang ingin kudalami in real life. Tapi, metode yang dipakai susah sekali.... Bahkan tidak pernah diajarkan di kelas. Melihat teman-teman lain yang bisa lulus hanya dengan menganalisis film, iklan, atau video klip, tentu aku iri. Inilah alasan kenapa selama ini orang-orang menyuruhku untuk tidak idealis.

Aku HARUS wisuda tahun ini!
*Selain karena pengin cepat fokus bekerja, mama sudah capek membayar kuliah dan aku pun capek mendengar omelannya*

Liburan ke Luar Negeri
Biasanya, setiap tahun aku diberangkatkan liputan. Entah ke luar kota, luar pulau, atau luar negeri. Tapi, tahun ini aku harus legowo dengan Solo dan Semarang selama satu minggu penuh. It was a great experience karena aku tidak liputan, melainkan hahahihi dengan kru di sana. I wish I had more days in Semarang (kru dan suasananya enak banget!). Sebenarnya, ada tawaran ke Yogya dan Bali. Sayangnya, si skripsi bikin aku tidak bisa pergi. Tahun ini, insyaAllah bisa ke Thailand. I had a reason why I must go! Jadi, kalau tidak ada force major, seharusnya berangkat. Yayyy!! Semoga izin dan prosesnya lancar ya :)


Semakin Produktif Blogging
Instead of personal life, blogku ini (seharusnya) banyak berisi review film, serial TV (termasuk drama Korea), dan musik. Tapi buktinya, banyak film yang on hold karena aku terlalu sibuk mengerjakan hal yang tidak penting. Seharusnya bisa. Keinginannya saja yang kurang kuat. Aku berharap Weekly Blog Challenge yang aku buat bisa menjadi trigger. Goal tahun ini: menulis blog satu minggu sekali.

Hidup Sehat Lahir dan Batin
Ini sudah menjadi goals tahun lalu. Lagi-lagi aku bermasalah dengan eksekusi. Niat ada, tapi godaan setannya lebih banyak. But at least I've mad progress. Thanks to my mom, hampir setiap pagi aku minum jus wortel. Sebab, aku sering mengeluh mata cepat panas (maklum, sering di depan laptop dan smartphone). And it works! Agar rasa wortelnya tidak terlalu strong, mama mencampur sedikit nanas. Silahkan dicoba juga :) Tapi, goal utama tahun ini masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya: rajin sholat lima waktu dan membaca al-Quran setiap sebelum tidur.

Have A Great Year for All of You!!