4 Alasan Harus Belanja di ADA Store Grand City Surabaya

Friday, October 27, 2017
Tadi siang, aku dan temanku mampir ke grand opening ada Store di Grand City, Surabaya. Thanks to Yuniari Nukti yang mengundangku beberapa hari lalu, akhirnya aku punya pengalaman datang ke sebuah acara as a blogger. Yah, meskipun dulu cukup sering meliput acara seperti ini, ternyata tadi malam aku cukup grogi. Untungnya, sesampai di lokasi, aku terhibur dengan koleksi baju ada Store. Maklum, aku memang doyan belanja baju he he he. Apalagi ada program gratis baju tanpa bayar.


Too bad, kami kurang beruntung. Tapi, ketidakberuntungan kami membuatku memperhatikan kenapa ada Store patut dijadikan tujuan belanja warga Surabaya. Here are whys:

Lokasi Strategis Banget!
Lama-lama sepertinya Surabaya akan mendapat julukan baru: Kota Sejuta Mall. Di setiap wilayah pasti ada. Paling ujung timur ada Pakuwon City (East Coast) dan bahkan di Surabaya barat ada dua mall bertetangga, PTC dan Lenmarc! Wah, kurang kenyang apa? Tapi, mall paling startegis ya Grand City. Lokasinya tepat di tengah kota. Dekat stasiun, komplek sekolah, kampus, dan gedung pemerintahan. Oleh karena itu, acara-acara besar pun berlangsung di sini. Sebut saja Jatim Fair dan pameran otomotif GIIAS. Jadi, meski rumahmu di pinggiran, you'll have a reason to come here dan sekaligus belanja di ada Store.

Desain Interior yang Kekinian
Waktu pertama masuk, yang terbersit di kepalaku adalah: "Wah, Instagram-able nih." Bagi yang gampang bosan sepertiku sih desain interior itu mempengaruhi kenyamanan belanja. Belum lagi kalau penjaga tokonya menempel seperti perangko, Aduh, bawaannya pengin cepet keluar. Thanks God hal itu tidak terjadi di ada Store. Semoga bukan karena grand opening aja yaa...

Eh, ternyata Artha Retail Indo Perkasa memang sengaja membuat suasana ada Store di Grand City lantai 2, unit 30-32 (tepat di atas Miniso), ini cozy, comfortable, dan homey. For that purpose, you did it!


Harga Dijamin Terjangkau
Bisa dibilang Grand City (GC) adalah salah satu mall yang didominasi masyarakat kalangan menengah ke atas. Hal ini pun membuat GC identik dengan barang-barang mahal. Tapi, hal itu tidak berlaku lagi. Sebab, harga-harga baju di ada Store cukup terjangkau. Range harganya sekitar Rp 69 ribu sampai Rp 350 ribu saja! Bagi anak sekolah dan mahasiswa, harga ini dijamin tidak akan membuat dompet cepat kering.

Koleksi Lengkap & Fashionable
FYI, ada Store juga punya koleksi untuk cowok. Yah, space-nya memang lebih sempit dibandingkan space cewek sih. Tapi, menurutku koleksinya sudah cukup banyak dan penataannya enak sehingga space kecil itu bisa memuat banyak koleksi. Kalau koleksi cewek, puas-puasin belanja deh. Mulai dari t-shirt, blouse, berbagai jenis bottoms, sampai jumpsuit pun ada! Sesuai namanya nih, ada, serba ada he he he.

Tapi, yang paling penting adalah koleksinya up to date. Misalnya, floral short pants dan floral tops seperti yang pernah dipakai Nabila Gardena ada di sana. Koleksinya pun sesuai season saat ini. Aduh, aku paling suka fall season. Silahkan memborong knitwear deh sebelum hujan deras melanda Surabaya (amin!).

*Thanks, Mirtha!

So, tertarik belanja di ada Store? Dengar-dengar sih koleksinya produksi dalam negeri which is another reason why we should shop here. ada Store juga buka di Tunjungan Plaza Surabaya dan Marvell City Mall Surabaya. Happy shopping, fashionista Surabaya!

Cara Mencegah Buku Menguning

Tuesday, October 24, 2017
Foto: Bruce Dixon

Weekend kemarin akhirnya aku punya waktu luang dan niat yang cukup untuk menata ulang koleksi bukuku. Yah, meski akhirnya tetap belum bisa berjajar rapi di rak buku, at least mereka tidak menumpuk penuh debu di sudut kamarku. Satu demi satu aku catat just in case ada yang terlewat. Dan benar saja, beberapa buku yang dipinjam sejak zaman dulu belum dikembalikan! Ah, sedihnya. Tapi yang paling menyedihkan adalah halaman-halaman buku kesayangan yang mulai memperlihatkan bercak kekuningan. Oh, God. I do love old books, but I hate to see the process.

Kenapa buku menguning?
Bahan dasar pembuatan kertas adalah kayu. Sayangnya, meski lebih murah ternyata bahan dasar ini lebih mudah bereaksi dengan oksigen dan cahaya matahari. Kayu mengandung dua zat polimer utama, yaitu selulosa dan lignin. Secara teknis, selulosa ini colorless dan sangat mudah menyerap cahaya sehingga membuatnya buram. Oksidasi selulosalah yang membuat kertas jadi terlihat dull, rapuh, dan less white. Tapi, bukan ini penyebab kertas menguning.

Zat lain dalam kayu adalah lignin yang paling banyak terkandung dalam kertas koran. Bisa dibilang lignin adalah "glue" bagi kayu. Dia berfungsi untuk menguatkan dan mengeraskan kayu. Berbeda dengan selulosa, warna zat ini lebih gelap seperti paper bag cokelat atau kardus Indomie. Tapi, oksidasi lignin lebih tinggi. Oksigen mengubah struktur molekul lignin sehingga warnanya berubah menjadi yellow-brown.

Nah, kertas koran yang biaya produksinya lebih murah mengandung lebih banyak lignin. Sehingga, kertas koran lebih mudah menguning. Sedangkan kertas buku banyak yang di-bleeching sehingga kandungan ligninnya berkurang. Oleh karena itu, saat ini banyak dokumen penting yang ditulis pada kertas acid-free dengan kandungan lignin yang sangat terbatas.

Foto: Sonoma Valley Museum of Art

Cara Mencegah Buku Menguning

  1. Jauhkan dari paparan sinar matahari secara langsung. Ternyata, hal ini yang membuat bukuku menguning di bagian pinggir. Tanpa aku sadari, pada siang hari sudut kamarku tersorot sinar matahari meski jendela tertutup.
  2. Sampul semua buku! I don't know if this really help, tapi ternyata sinar UV bisa membuat cover buku memudar dan (sepertinya) cepat rapuh. Beberapa buku lamaku yang lupa disampul sudah menunjukkan tanda-tandanya.
  3. Jangan ditaruh di tempat lembab. Beberapa orang mungkin ada yang menyimpan koleksi buku lama di gudang atau langit-langit kamar. Biasanya ini juga dilakukan orang yang pernah pindah rumah dan belum sempat unpacking. Padahal, high humidity bisa merusak kertas. Begitu juga dengan low humidity yang membuat kertas kering, menguning, dan rapuh. So, lebih baik letakkan buku di udara normal saja.
  4. Beri jeda "bernapas"! Meski diletakkan berdiri (posisi yang paling direkomendasikan agar tidak merusak jilid buku), berilah sedikit jarak (kira-kira 3cm) dari dinding atau bagian belakang rak agar sirkulasi udara lancar.
  5. Bungkus dengan plastik wrap atau plastik klip. Oke, bagiku ini agak ekstrim sih. Sebab, kadang aku masih ingin membaca koleksi lamaku. Jadi, cara ini jelas tidak akan aku praktekkan dalam waktu dekat. Tapi, bagi kolektor sih silahkan dicoba.

Untungnya, aku adalah tipe pembaca yang lebih suka meminjam atau membeli e-book terlebih dulu. Kalau bagus dan worth untuk dikoleksi, baru aku membeli versi cetaknya. Maklum, aku ini tipe pembaca yang judge the book by its cover tanpa membaca sinopsis maupun review. Jadi, yaaa...sering ketipu. Oleh karena itu, banyak koleksi bukuku yang masih tersegel sehingga aman dari bercak-bercak kuning.

Movie Review: Geostorm

Wednesday, October 18, 2017
Movie Review Geostrom: Starring Gerard Butler
Foto: Warner Bros

Geostorm bercerita tentang perjuangan kakak-adik menyelamatkan bumi dari bencana alam. Sang kakak, Jake Lawson (Gerard Butler) adalah inisiator alat pengontrol cuaca bumi yang diberi nama Dutch Boy. Alat itu terletak di satelit luar angkasa. Sedangkan sang adik, Max Lawson (Jim Sturgess), adalah karyawan di White House. Karena "tingkah" sang kakak yang dianggap (pemerintah) tidak bisa diatur, Max pun in charge terhadap Dutch Boy dan terpaksa memecat sang kakak.

Sayangnya, beberapa tahun kemudian, Dutch Boy bermasalah. Tiba-tiba sebuah desa di Afghanistan membeku. Kejadian itu disusul oleh meledaknya lapisan bumi di Hong Kong. Usut punya usut, alat buatan Jake ternyata disabotase untuk kepentingan sebuah kelompok yang tidak bertanggung jawab. Tapi anehnya, hal itu hanya bisa dilakukan oleh sang presiden. Lalu, bagaimana Jake dan Max menghentikannya?

Jim Sturgess in Geostorm (2017)
Foto: Warner Bros

Trailer Geostorm sudah berkali-kali aku tonton karena diputar di bioskop sebelum It dan Kingsman: The Golden Circle. Tertarik? Sudah pasti. Film ini adalah garapan sutradara Dean Devlin yang merupakan "otak" di balik Independence Day (1996). Sebenarnya, aku bukan fans berat film-film seperti itu. Tapi, ibarat dunia buku, bagiku film-film tentang bencana alam (misalnya, The Day After Tomorrow, War of the Worlds, dan 2012) itu semacam light reading. Enak dinikmati, tapi tidak menciptakan kesan yang berarti. Oleh karena itu, you should know kalau aku sama sekali tidak punya ekspektasi terhadap film ini. Aku menontonnya di bioskop untuk mengisi waktu luang.

Hasilnya? Kalau kata kids jaman now ya "B aja". Dalam film seperti ini we can't expect for plot twist. Akhir ceritanya pasti bisa ditebak. Apalagi kalau sejak awal yang dijadikan "senjata" adalah sang pemeran utama. Bodohnya, aku sempat berharap ada tragic ending di menit-menit terakhir. Ah, seorang Gerard Butler jelas tidak mudah "dimatikan". Bahkan, bagiku karakternya tidak jauh berbeda dengan Mike Banning dalam London has Fallen (2016). Jika bencana demi bencana tidak dibuat semenggelegar itu, mungkin aku akan merasa seperti menonton London has Fallen.

Yap, speaking of effect, sepertinya itu yang membuatku berhasil terjaga selama menonton Geostorm. Mirip dengan film 2012 (2009), bencana demi bencana disuguhkan. Ada sapuan ombak yang membeku di Brazil. Ada banyak tornado berpasir di India. Ada juga gulungan ombak besar di Abu Dhabi. Hampir semua negara mengalami bencana dengan skala "gila". Semua itu terjadi hampir di saat yang bersamaan menjelang badai bumi alias geostorm. Karena aku menonton di studio biasa, efeknya pun masih terasa biasa saja. I'm sure film ini akan sedikit lebih "wow" kalau ditonton di IMAX 3D. Kalau kamu punya banyak waktu dan lagi banyak rezeki, you should try the 3D version. "Kalau" ya. I'm still thinking this movie isn't that worth it.

Abbie Cornish as Secret Service Agent in Geostorm Movie (2017)
Foto: Warner Bros

Eits, ada satu karakter yang cukup menarik perhatianku nih. Dia adalah Sarah Wilson (Abbie Cornish), secret service agent di Gedung Putih. Diam-diam dia berkencan dengan Max, which againsts the rule, dan dialah "kunci" kesuksesan Max. To be honest, sosok perempuan seperti dia sangat jarang terlihat dalam film-film Hollywood. Biasanya, karakter perempuan kuat selalu mendapat bantuan dari laki-laki (meski karakter sang laki-laki sangat tidak penting). Tapi, Sarah proves otherwise. Max malah digambarkan sebagai laki-laki kantoran yang "tidak sempurna". Secara fisik dia tidak sekuat kakaknya. Eh, secara jabatan pun dia masih butuh bantuan kekasihnya. You'll see how cool she is. Bahkan, adegan action-nya pun patut diacungi jempol.

Overall, film ini biasa saja. Gerard Butler terbukti kurang bisa menciptakan kesan tersendiri. Wajah ganteng Jim Sturgess pun tidak terlalu membantu. Tapi, dibandingkan dengan One Fine Day, Mereka yang Tak Terlihat, dan film-film lain yang saat ini tayang di bioskop, Geostrom jelas lebih patut dipilih setelah Blade Runner 2049 dan mungkin The Foreigner.

Foto: Warner Bros

First Impression: While You Were Sleeping - Drama Korea

Tuesday, October 10, 2017
Foto: SBS

Oh I'm so glad to be back writing another Korean drama!

Yap, thanks to While You Were Sleeping yang apparently sudah digembar-gemborkan sejak lama. It was all thanks to Bae Suzy dan Lee Jong-suk yang sama-sama punya banyak fans. To be honest, aku selalu tertarik dengan drama yang dimainkan Suzy. Meski aku biasanya berakhir kecewa, somehow aku tetap optimis dengan drama garapan sutradara Oh Choong-hwan ini. Selain itu, sejak berperan dalam W (MBC), I keep my eyes on Jong-suk. Hopefully drama ini akan menjadi salah satu drama terbaik 2017.

While You Were Sleeping bercerita tentang Nam Hong-joo (Suzy), seorang putri tunggal dari keluarga biasa saja. Sejak kecil dia selalu bermimpi tentang hal-hal buruk yang menjadi kenyataan. Salah satunya adalah kematian sang ayah. Memiliki ibu yang sangat menyayanginya, Hong-joo selalu berusaha menghindari bahaya di dalam mimpinya. Tapi, takdir selalu punya caranya sendiri.

Sampai suatu hari, datanglah Jung Jae-chan (Jong-suk) dan adiknya, Jung Seung-won (Shin Jae-ha), yang pindah di seberang rumah Hong-joo. Sang jaksa ternyata menjadi sosok yang berhasil menghentikan maut di dalam mimpi Hong-joo. Yap, he dreams too. Meski memimpikan maut yang sama, sudut pandang yang ditampilkan selalu berubah. Oleh karena itu, mereka berdua bekerja sama untuk menghentikan semua musibah.

Foto: 배꽃마을

Selain pemain, sebenarnya aku cukup tertarik dengan ide ceritanya. Yah, entah kenapa akhir-akhir ini "bermain-main dengan waktu" menarik perhatianku. Sejauh yang kuingat, belum ada sih drama Korea bagus yang mengusung mimpi. So, this should be it.

Sayangnya, ada sesuatu yang salah dengan While You Were Sleeping. Aku tidak yakin, tapi somehow drama ini terkesan biasa saja. Bahkan, chemistry Suzy dan Jong-suk kurang greget. Koneksi di antara mereka memang diceritakan dengan cukup enak. Playful, natural, tidak menye, pokoknya nikmat diikuti. Tapi, sebagai penonton, aku merasa hampa #tsah Aku tidak bisa ikut tersenyum malu saat mereka flirting. Aku tidak bisa ikut sedih saat Hong-joo kehilangan ibunya dan memutuskan untuk bunuh diri. I just can't.


Foto: IMBC

Thankfully, ada wajah segar nih! Oke, sebenarnya aku bukan tipe penikmat drama Korea yang "gila" pemain. Aku lebih mengutamakan cerita daripada pemain. Tapi, I can't fool myself by saying that this guy is not cute. Eits, bukan hanya penampilan. Sosok Han Woo-tak (Jung Hae-in) ini ternyata cukup misterius. Di episode awal, dia seharusnya meninggal ditabrak mobil Hong-joo di malam Valentine. Memprediksi hal itu, Jae-chan menabrakkan mobilnya sehingga tabrakan sama sekali tidak mengenai Woo-tak.

Ternyata, Woo-tak juga bisa bermimpi! Somehow mimpi-mimpinya selalu tentang sang jaksa dan Hong-joo. Karena penasaran, Woo-tak pun mendekati para "pemimpi" lain. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa tiga orang yang sama sekali tidak mengenal sebelumnya memimpikan hal yang serupa? It's another mystery to solve.

4 Wisata Kuliner Kediri yang Wajib Dicicipi

Tuesday, August 22, 2017
Foto: Bola dan Kelana

Kediri. Ah, jadi ingat masa-masa KKN dua tahun lalu. Waktu itu aku ditempatkan di Nganjuk yang sangat sepi. Karena Kediri hanya berjarak 1,5 jam naik sepeda motor lewat jalan tembus, kelompok KKN-ku pun sering hangout di sana. Ada bioskop, ada TransMart, dan yang penting ada McDonald! He he he.

You might know Kediri only for bangunan ala Perancis ini. Tapi, jangan salah. Sebenarnya ada banyak hal yang wajib dicoba saat berkunjung ke Kediri. Salah satunya adalah kulinernya! If you travel with my family, culinary is always on the top of our to-do list. Apa saja kuliner Kediri yang wajib dicicipi?

Tahu Takwa

Foto: rokerkediri

The thing that I remember the most about Kediri is tahu takwa. Waktu kecil, aku selalu membawa pulang tahu ini sebagai oleh-oleh khas Kediri. Meski bentuknya mirip tahu kuning biasa, taste-nya berbeda lho. Apalagi, tahu takwa sudah melegenda sejak 1912. See, kurang bikin penasaran apa coba?

Tahu takwa pertama kali diproduksi oleh perusahaan Bah Kacung. Teksturnya kenyal dan lembut. Setelah digoreng, tahu terasa renyah di luar dan gurih tanpa rasa asam di lidah. Saking enaknya, aku yang tidak suka tahu ini doyan nyemil tahu takwa kok. Hal ini tidak lepas dari cara pembuatannya yang masih tradisional. Yaitu, dengan tangan dan sangat memperhatikan kondisi air yang digunakan. If you want to try, langsung datang saja ke pabriknya di Jalan Trunojoyo No. 59, Kediri.

Nasi Pecel Tumpang
To be honest, I don’t really like pecel. Tapi, sebagai penikmat makanan sehat dan pemakan segala, ayah dan ibuku menjadikan nasi pecel tumpang sebagai makanan wajib saat ke Kediri. Yah, semacam nasi gudeg di Yogyakarta. Rasanya tidak afdol kalau belum makan. But I have to admit kalau nasi pecel di Kediri beda dari tempat lain. Cara penyajiannya pun langsung di atas ‘‘picuk’’ daun pisang.

Nasi pecel yang paling terkenal di Kediri adalah Nasi Pecel Tumpang Bu Ani. Rumah makannya berada di dekat beberapa hotel di Kediri. Salah satunya Hotel Merdeka Kediri yang selalu ramai dan buka selama 24 jam. Nasi pecel ini disajikan saat nasi masih mengepul hangat. Lalu, di atasnya ditambahkan sayuran seperti daun pepaya, daun kenikir, daun ketela pohon, kacang panjang, buah pepaya muda, dan kecambah. Setelah itu, sambal pecel dan sambal tumpang disiramkan.

Sate Emprit

Foto: kulinerkita18

Sate ayam? Ah, sudah biasa. Sate kambing? Ah, sebentar lagi dapat banyak. Kalau mau sate anti mainstream, cobalah sate emprit di Kediri. Sate ini unik karena berbahan dasar daging burung emprit yang ternyata termasuk hewan pengganggu (hama) yang merusak tanaman petani.

Sebelum dihidangkan, daging burung emprit diberi air yang sudah dicampuri asam, gula merah, dan bawang putih sebagai penyedap rasa. Setelah itu, daging dibakar dan diolah dengan bumbu sate atau kecap yang dicampur sambal kacang. Biasanya, dalam satu sunduk terdapat dua daging burung emprit yang dipadukan dengan bumbu sate lengkap, lalapan ketimun, dan irisan bawang merah.

Sate Bekicot
This one sounds a little extreme. Tapi sebenarnya tidak kok. Buktinya, budheku suka sekali nyemil sate bekicot sambil bergosip dengan saudara-saudaranya. When she looked at my weird expression, she scolded me saying, ‘‘Sehat ini.’’ Well, oke. Ternyata sate bekicot ini cukup popular dan bahkan jadi makanan khas Kediri. Pusat pembuatannya ada di Desa Djengkol, Kecamatan Plosoklaten, Kota Kediri, atau tepatnya 10 kilometer dari kawasan Monumen Simpang Lima Gumul.

Sate ini disajikan dengan bumbu kacang dan irisan bawang merah. Bagaimana rasanya? Enak sih. Teksturnya kenyal dan bisa membuat tubuh terasa hangat. Kalau ditanya apa tidak jijik, well, setelah matang sih biasa saja. Mungkin malah lebih ekstrim escargot di Perancis yang berbahan dasar siput.

Nah, dari empat makanan khas Kediri itu, sudah pernah mencoba yang mana? Sebenarnya, masih banyak makanan lain yang tidak kalah enak. Sebut saja tahu poo dan gethuk pisang yang sangat pas dijadikan cemilan. Yuk, sekali-sekali datang dan liburan ke Kediri! It won’t disappoint you!


Bonus! Kelompok KKN-ku saat liburan tipis-tipis di Simpang Lima Gumul, Kediri

Ternyata Beli Lemari Pakaian Tidak Boleh Sembarangan!

Wednesday, July 12, 2017
Beli Lemarin Pakaian di MatahariMall.com
Foto: Pixabay

Dulu, Ama hanya punya satu syarat untuk memilih lemari pakaian: kayu jati pasti bagus. Yap, hanya kualitas saja yang dipertimbangkan. I was still a kid yang selalu manut apa kata orang tua. Dan aku baru menyesali itu sekarang. Di era dimana semua hal harus Instagram-able, lemari pakaian kayu jati yang Ama elu-elukan itu sudah ketinggalan zaman.

I know, mengutamakan kualitas memang tidak ada salahnya. Tapi, bagiku beli lemari pakaian itu juga harus disesuaikan dengan jenis kamar. I've been thinking about this a lot karena kebetulan saat ini kamarku masih kosong, tidak ada perabot sama sekali kecuali kasur. So, of course membeli lemari pakaian is on my to-do list. Nah, inilah 4 cara menentukan lemari pakaian yang pas untuk kamarmu.

Berdasarkan Tipe
Just in case you haven’t notice, orang-orang mulai suka membuat built-in wardrobe. Biasanya, tipe lemari ini diaplikasikan di rumah-rumah besar yang punya space lebih banyak. Karena dibuat berdasarkan permintaan, built-in wardrobe membebaskan pemiliknya berkreasi. Mau dibuat seperti tembok, sebagai sekat antar-ruangan, semuanya bisa. Sayangnya, pembuatan built-in wardrobe memakan banyak waktu dan biaya.

Beli built-in wardrobe
Foto: Homedit

For me, free standing wardrobe is more convenient. Tipe lemari pakaian ini lebih mudah dipindah-pindah. Pas banget buat aku yang mudah bosan dan sering pindah rumah. Sebenarnya, free standing wardrobe juga bisa dibuat sesuai permintaan. But it’ll cost more money.

Berdasarkan Ukuran
Aku pernah berkunjung ke rumah seorang relative. Dengan anggota keluarga yang cukup banyak, she needs a bigger wardrobe. Sayangnya, it ends up with ‘‘asal ada lemari besar’’ which is very annoying karena sebenarnya ruangannya tidak cukup luas. Yap, ukuran lemari pakaian juga harus diperhatikan. Jangan memaksa ukuran besar di ruangan sempit, apalagi sampai mem-blocking cahaya. Aku personally lebih suka lemari pakaian minimalis agar space bergerak lebih luas.

Berdasarkan Style
Sering lihat dekorasi kamar tidur di Tumblr? Anak kekinian pasti punya impian untuk mendekorasi kamar ala Tumblr. Mulai dari pemilihan warna, penataan furnitur, bahkan sampai cahaya lampu. Oleh karena itu, kamar tidur masa kini harus aesthetically pleasing. Pilihlah lemari pakaian yang satu tone dengan dinding kamar. It’s either white or grey for me. Untuk kesan minimalis, lemari pakaian tanpa pintu adalah pilihan paling pas!

Berdasarkan Kapasitas


Beli lemari pakaian
Foto: Zandart

Ini dia issue utama yang sedang aku alami. Surprisingly aku punya banyak pakaian yang harus digantung. Sedangkan lemari pakaianku saat ini punya banyak rak untuk folded clothes. Alhasil, bagian gantungan penuh sesak. Sampai-sampai beberapa baju harus disetrika ulang (T_T) So, make sure memilih desain lemari pakaian yang tepat. Don’t be like me!

Kalau lebih banyak pakaian yang digantung, sebaiknya beli lemari pakaian khusus gantungan. I recommend this trick untuk menghemat tempat. Sedangkan pakaian yang dilipat bisa diletakkan di rak susun. Rak susun ini pun tidak necessarily harus berisi pakaian. I put some notes and books di bagian rak paling bawah karena aku tidak ingin membeli lemari khusus buku he he.

Merasa lemari pakaianmu kurang sesuai? Eits, beli lemari pakaian itu tidak selalu mahal kok. Coba beli lemari pakaian di MatahariMall. Ada banyak pilihan lemari sesuai tipe yang dibutuhkan. Don’t worry, sellers di MatahariMall.com terpercaya kok. Sebelum lebaran kemarin aku membeli beberapa barang di sana. Meski pengiriman harus ditunda karena libur lebaran, pesananku sampai dengan selamat kok. So, who’s going to buy?

FAQ: Kenapa Suka Drama Korea?

Sunday, July 2, 2017
Foto: Charles Michael Photography

Setiap mem-posting sesuatu berbau drakor (drama Korea), pasti ada yang membalas, “Lho, kok suka Korea?” Kalau yang dimaksud negara Korea, who doesn’t like it tho? Tapi kalau K-pop (which is for me refers to Korean pop music), NO, I still don’t like it. Kecintaanku terhadap Korean culture hanya sebatas drama Korea. Itu pun tidak termasuk menghafal nama-nama aktornya.

Kecintaan ini berawal sejak aku masih tinggal di Jember, suatu kota kecil di Jawa Timur yang mungkin lebih dikenal dengan fashion carnaval-nya. Saat TV di kota besar punya channel semacam Lativi dan MTV, di rumahku hanya ada RCTI, SCTV, Indosiar, dan entah apa lagi yang sejenis. Pokoknya total tidak sampai 10 channel. Oleh karena itu, pilihan tontonanku SANGAT terbatas. Kalau tidak ada kartun, ya adanya sinetron atau berita. That’s it.

Sampai akhirnya Indosiar menayangkan drakor. Yang paling aku ingat sih Jewel in the Palace (2003) yang tidak pernah kulewatkan satu kalipun. Bahkan, Ama dan keluarga sepupuku memindahkan aktivitasnya di depan TV. Kami sampai ingat betul lho lirik theme song-nya. “Onara onara aju ona. Gadara Gadara aju gana. Nanari daryeodo mot nonani…” Hayo, siapa yang dulu juga hafal lagu itu?


Jadi, kenapa aku suka drama Korea?

Sebagai Alternatif Tontonan
Aku bersyukur tertarik drakor sejak kecil. Bayangkan saja kalau dulu aku menonton sinetron setiap hari. Waduh, bisa-bisa sekarang aku gampang baper gara-gara Ganteng-Ganteng Serigala (2014). Nah, karena serial TV Amerika juga tidak ada, drakor somehow terkesan keren dibandingkan Tersanjung (1998–2005), Jin dan Jun (1996–2001), dan Bidadari (2005).

Meski kadang cerita drakor juga receh, tapi episode-nya tidak berbelit-belit sampai ribuan. Pemainnya pun of course jauh lebih kece. Dan yang penting adalah sinematografinya yang tidak zoom-in zoom-out ala India :)) Apa sekarang masih ada anak muda yang doyan menonton sinetron?

Sudah Terbiasa dan Ketagihan!
Karena cuma ada di Indosiar, setiap drakor yang ditayangkan pasti ditonton banyak orang. Aku yakin hal itu juga mempengaruhi masuknya hallyu ke Indonesia. Aku mulai kenal Yoon Eun-hye dari Princess Hours (2006) yang sampai sekarang aku mengingatnya sebagai Shin Chae-kyung dan Han Chae-young dari My Sassy Girl Chun-hyang (2005). Kok bagus… Kok seru… Kok ganteng… Akhirnya, lama-lama aku ingin menonton lebih banyak drakor.

Foto: Cadi Cazani

Tapi, satu hal yang patut diacungi jempol dari drakor adalah cara memotong ending tiap episode. Penikmat drakor pasti sadar akan hal ini. Ending-nya itu selalu membuat kita pengen cepat-cepat menonton episode selanjutnya. Oleh karena itu, bagi mereka yang menonton secara marathon harus siap begadang. I’ve been there. It was tiring yet exciting. Sama lah seperti membaca novel Harry Potter yang baru rilis, tidak akan bisa berhenti sampai habis.

Lebih Mudah Diakses
Akhir 2006, aku mulai mengenal Disney Channel karena TV kabel mulai masuk Jember. Tontonanku dan para sepupu pun berubah, yaitu Hannah Montana (2006) dan High School Musical (2006). I know it was pathetic, tapi dari situlah aku belajar Bahasa Inggris karena harus menonton tanpa subtitle.

Pulang ke Sidoarjo (aku pindah rumah sekitar akhir 2016), aku menonton ulang dengan subtitle, both in English and Indonesia. Karena internet sudah mudah diakses, aku pun rajin mengeksplor serial TV dan film orisinal Disney Channel lain (yeah, I thought DC is kinda cool). Sejak itu aku lebih suka serial TV Amerika. Aku pun sudah bisa menonton Smallville (2001) dan Supernatural (2005) di TV (for free).

Sayangnya, at some point aku mulai malas men-download serial TV. Aku mulai merasa streaming is more convenient. Hemat listrik, hemat tenaga, dan hemat waktu (karena aku streaming di HP). Ah, aku ingin berlangganan Netflix, tapi di rumah sudah ada TV kabel yang sangat jarang aku tonton.

Streaming Drama Korea
Foto: Pixabay

Tontonan yang paling mudah diakses secara streaming adalah drakor. Banyak sekali situs yang menyediakan drakor lengkap ber-subtitle Bahasa Inggris secara gratis! Sebenarnya, ada layanan streaming gratis untuk serial TV Amerika/Inggris. Sayangnya, situs itu tidak menyediakan subtitle which is a little bit difficult for me saat menonton Criminal Minds (2005), Sherlock (2010), dan sejenisnya. Kalau ada yang tahu, please let me know. It’d be very very helpful.

Jadi Bahan Obrolan dan Bermanfaat untuk Pekerjaan
Kids these days suka sekali hal-hal berbau Korea. Lihat saja, boyband dan girlband Korea berbondong-bondong konser di Indonesia. Sedangkan konser musisi internasional bisa dihitung jari. Itu berarti masyarakat kita masih suka hallyu. Bahkan, fan meeting aktor juga ramai lho. Yang datang pun tidak hanya anak muda, tapi juga ibu-ibu yang doyan ahjussi semacam Lee Dong-wook.

Nah, karena pekerjaanku sangat dekat dengan anak muda, khususnya generasi Z, aku dituntut untuk tahu kesukaan mereka. Termasuk drama dan musik Korea. Setiap mem-publish artikel berbau Korea di Zetizen, pasti viewers-nya langsung ribuan dalam hitungan jam! Super sekali kan k-popers ini?


Dan there are some people yang dianggap “aneh” karena obrolannya seputar Korea saja. Dengan mengikuti drakor, aku bisa mudah "klik" dengan mereka. Tapi ya gitu, “Nam Joo-hyuk itu yang main apa ya?” *sambil garuk-garuk kepala* Sampai saat ini aku masih merasa nama-nama Korea itu susah dihafalkan. Is it just me?

Kenapa tidak suka k-pop juga?

Hmmm… Bagiku, musik itu bukan sekadar alunan melodi yang disusun apik. Musik itu cara alternatif untuk mengungkapkan perasaan saat kata-kata tak lagi berguna. Jadi, tentu lirik juga sangat penting bagiku. If I can’t understand the lyric, how can I like the music? As simple as that.

Bukan berarti musik Korea itu jelek lho ya. No. Kadang aku juga terobsesi dengan soundtrack drakor kok. But it lasted only days after the drama has ended. Sebab, a certain soundtrack mengingatkanku pada a certain scene. Kalau sudah lupa adegannya, ya soundtrack-nya jadi kurang gimanaaaa gitu.

So, if you like k-drama too, apa alasannya? Pernah merasa bosan tidak? And yes, aku belum tertarik dengan hal-hal berbau Jepang. Sorry to say, aku agak terganggu dengan intonasi pengisi acara di Waku Waku yang terkesan sok imut padahal ekspresinya datar.

A Year Blogging, What's Next?

Friday, June 30, 2017
First Blog Anniversary
Foto: Pixabay

Selamat tanggal 30 Juni!

Tidak terasa sudah satu tahun domain ini saya miliki. How does it feel? Pathetic. Well, lebih tepatnya melenceng jauh dari rencana. Saya membeli domain dot com dengan harapan lebih semangat blogging. Paling tidak ya menulis meski akhirnya berhenti menjadi draft. Faktanya, hal itu tidak bisa saya penuhi. Bukannya tidak ada ide, tapi tidak ada mood. Apalagi saya ini mudah ter-distract. Duduk di depan laptop, siap menulis, eh ada drama Korea baru. Selesai menonton drama, hilanglah mood menulis tadi. Ada yang punya tips untuk menghilangkan kebiasaan ini?

So, what would I do next?

Tahun depan, saya jelas ingin ada perkembangan signifikan pada blog ini. Salah satu caranya ya dengan rajin menulis at least satu minggu sekali. Agar lebih fokus, saya memutuskan untuk menelantarkan blog buku imawesomenerd.blogspot.com. Saya juga deactivate semua hidden journals agar lebih fokus. Dude, I actually have written a lot! Too bad not everything is for public.

Things you can expect on this blog:

  • Drama Korea: Setelah dipertimbangkan, menulis First Impression dan Review itu tidak efektif. Sebab, kadang saya ingin menulis review drama yang sudah saya tulis first impression-nya. Selain akhirnya menulis hal yang serupa, saya takut pembaca bosan karena blog ini terlalu banyak drama Korea-nya he he. So, I'll only write first impression dan review recap.
  • Movie & Music: I love movies and I'm kinda addicted to Spotify. Sayangnya, saya tidak expert dalam dua hal ini. Referensi saya kurang banyak. Alhasil, saya sering tidak mood menulis review. Blog post tentang film akan fokus pada rekomendasi. Sedangkan untuk kategori musik akan saya isi musician I'm currently obsessed with dan rekomendasi seperti ini.
  • Food & Travel: Saya bukan traveler, tapi tahun ini saya cukup beruntung bisa jalan-jalan lumayan jauh (dan belum saya tulis!). Oleh karena itu, saya semangat jalan-jalan jauh lagi. Who knows kesempatan apa yang diberikan tahun depan. Saya pun ingin belajar menulis ala travel blog. Kalau ada referensi travel blog kece, boleh dong share di kolom komentar :)
  • Opini: Nah, ini jenis tulisan yang sebenarnya sangat saya suka. Tapi, menulis satu post yang memuaskan (bagi saya) butuh waktu lumayan lama. Itulah yang membuat tulisan-tulisan opini saya terbengkalai, berhenti di tengah-tengah.
  • Book: YES! Saya akan mulai menulis review buku di blog ini. Tentu saja review saya tidak akan terbaca di agregator BBI. But well, demi kenyamanan dan demi traffic juga, saya harus melepas salah satu. And of course you can expect book giveaway too!!

Well, memang tidak banyak yang berubah. Tapi saya sangat berharap saya bisa lebih commit menulis tentang 5 kategori di atas. Wish me luck?

First Impression: Ruler: Master of the Mask - Drama Korea

Saturday, May 20, 2017

Sebenarnya, beberapa minggu ini aku mengalami semacam k-drama slump. Rasanya malas sekali menonton drama Korea yang sedang tayang. Tidak ada yang bikin bergairah. Sampai akhirnya Ruler: Master of the Mask ini tayang. Tidak semenggairahkan itu sih, tapi paling tidak drama produksi MBC ini membuat jari tanganku membuka dramacool setiap Kamis dan Jumat pagi he he.

Ruler: Master of the Mask bercerita tentang seorang Putera Mahkota (PM) bernama Lee Sun (Yoo Seung-ho). Dia tampan, pintar, polos, dan baik hati. Sayangnya, tidak semua orang tahu hal itu. Sebab, sejak kecil wajahnya ditutupi topeng. Hanya Raja (Kim Myung-soo), Selir Lee yang merupakan ibu Lee Sun (Choi Ji-na), dan kepala penjaga keamanan yang tahu wajah asli PM. Selain itu, mereka akan langsung dibunuh.

Yoo Seung-Ho in Ruler: Master of the Mask (MBC)

Gara-gara itu, kabar yang beredar pun mengatakan kalau PM Lee Sun penyakitan. Dia jugalah yang membuat rakyat menderita (tidak diridhoi dewa). Padahal, itu semua ulang kelompok Pyunsoo yang diketuai Dae Mok (Heo Jun-ho). Dialah yang meracuni PM saat masih bayi. Demi mendapatkan obat penawar, Raja harus memberikan hak mengatur saluran air kepada Pyunsoo. Alhasil, sumber mata air dimonopoli. Rakyat harus membayar sejumlah uang untuk mendapatkan air.

Dari situlah Han Ga-eun (Kim So-hyun), seorang putri pejabat, Lee Sun (Kim Myung-soo alias L boyband Infinite), seorang rakyat jelata, dan PM Lee Sun bertemu dan saling membantu (kind of). Ditemani sahabat sekaligus pengawalnya, Lee Chung-woon (Shin Hyun-soo), PM Lee Sun keluar istana. Posisinya di kerajaan digantikan oleh Lee Sun si rakyat jelata. Too bad, rencana itu diketahui Dae Mok. Kelompok Pyunsoo pun menyerbu istana dan membunuh Raja.

Kim So-Hyun Yoo Seung-ho Couple

First of all, let's talk about the episode yang awalnya 20, tapi jadi 40 episode. Kenapa sepanjang itu? Tenang, drama ini sama seperti drama 20 episode kok. Kalau biasanya satu episode berdurasi 60 menit, satu episode Ruler: Master of the Mask hanya 30 menit. Sekali tayang langsung dua episode. Jadi, kalau dihitung-hitung ya sama saja. Kenapa di-part? Dengar-dengar sih untuk kebutuhan slot iklan. Well, drama Korea ini memang berpotensi besar sih. Lihat saja rating-nya terus naik.

Karena belum terbiasa, kadang-kadang aku merasa sebal. Lagi enak-enak klimaks, eh to be continued. Rasanya aneh. Sebab, feel penasarannya beda dengan feel penasaran akhir episode. Sistem durasi ini pun juga diterapkan pada Suspicious Partner produksi SBS. I'm not going to write its first impression karena jelek sekali. Tapi, you should know kalau pemotongan part dalam drama yang dibintangi Ji Chang-wook itu sangat aneh! Fortunately, ada beberapa layanan streaming yang menggabungkan dua part yang tayang setiap hari. It might feel better.

L Infinite Ruler Master of the Mask

Now let's talk about the actors.

Pada episode pertama, aku merasa sedikit awkward terhadap karakter yang dimainkan Seung-ho. Maklum, bagiku dia masih Seo Jin-woo dari Remember (SBS-2015) dan bahkan Harry dari I Miss You (MBC-2012). Kedua karakter itu sama-sama melow. Jadi, aku kaget saat mengetahui betapa polos dan bahkan childish-nya PM Lee Sun. Tapi, lama-lama aku bisa menerima kok :) He did a great job karena pada dasarnya dia akan menjadi PM yang pintar dan bijaksana.

Akting yang aku nantikan adalah L Infinite dan Yoon So-hee (pemain Kim Hwa-goon, cucu Dae Mok yang jatuh cinta pada PM Lee Sun). Aku belum familiar dengan kiprah akting mereka dan sepertinya scriptwriter Park Hye-jin akan membuat cerita mereka menarik. Entahlah. Sejauh ini prediksiku tentang alur cerita Ruler: Master of the Mask ini selalu salah. Selalu ada plot twist tak terduga.

Oh, Kim So-hyun? Not a fan. Bagiku dia masih the same old Kim So-hyun. Perannya itu-itu saja. Tapi ya silahkan tidak setuju karena aku memang tidak mengikuti semua drama yang dimainkannya.


I will definitely watch this drama 'til the end. As I said, selalu ada plot twist yang tidak terduga. Selain itu, pada dasarnya aku memang suka historical drama. Aku yakin drama ini jauh lebih baik dari Rebel Thief Who Stole The People.

Review: Defendant - Drama Korea

Sunday, March 26, 2017

Sejak awal, drama Korea Defendant atau Innocent Defendant ini meraih rating cukup tinggi. Nggak heran karena Ji Sung, sang pemeran utama, "bermain-main" dengan kepribadian lagi. In case you haven't heard, Ji Sung dikenal pintar memainkan berbagai kepribadian sekaligus berkat aktingnya dalam Kill Me, Heal Me (2015). Meski aku tidak terlalu suka drama  produksi MBC itu, harus kuakui kalau akting Ji Sung memang mengesankan. Sayangnya, menurutku, Ji Sung justru terlihat meh kalau bermain dalam drama seperti Entertainer (2016). Like, he wasted his skill.

Defendant bercerita tentang Park Jung-woo (Ji Sung), seorang jaksa yang mengejar kriminal Cha Min-ho (Uhm Ki-joon). Sayangnya, pengejaran ini membuat Jung-woo harus kehilangan istri dan anaknya sehingga dia yang dipenjara. Yap, Min-ho menjebak Jung-woo agar seolah-olah dia membunuh keluarganya sendiri. Kenapa sampai seperti itu? Sebab, Jung-woo bersikukuh bahwa Min-ho membunuh kembarannya, Cha Sun-ho. Min-ho pun hidup sebagai Sun-ho dan terus menutupi jejak kejahatannya.

Cha Min-ho dan Cha Sun-ho

To be honest, aku belum banyak menonton drama Korea sejenis ini. Karena Januari lalu penuh drama-drama bergenre thriller/crime, akhirnya aku mencoba menonton Defendant dan Missing Nine (yang ternyata aku tonton separuh jalan). Dibuka dengan flashback, aku semakin tertarik. Entah kenapa aku suka sekali cerita yang rumit. Bagiku, semakin rumit, semakin baik. Dan Defendant mengajak penonton untuk menoleh ke belakang cukup lama. Jadi, make sure you enjoy this kind of drama atau at least menonton tidak setengah-setengah. Kalau tidak, nanti bisa bingung. Apalagi Min-ho dan Sun-ho diperankan oleh orang yang sama.

Setelah cerita kembali ke waktu yang benar, setting cerita fokus di dalam penjara. Setelah melalui berbagai cobaan (termasuk ingatan yang selalu hilang setiap dia bangun tidur), Jung-woo dibantu teman-teman satu selnya untuk kabur dari penjara. Mereka adalah Milyang (Woo Hyeon), Bangjang (Yun Yong-hyeon), Wooruk (Jo Jae-ryong), Moongchi (Oh Dae-hwan), Lee Sung-gyoo (Kim Min-suk), dan Shin Chul-sik (Jo Jae-yun). Enam orang inilah yang membuat drama ini penuh warna

Meski begitu, aku mungkin tidak akan betah menonton dan menanti Defendant tanpa kehadiran sang villain. Uhm Ki-joon berhasil membuatku geregetan setiap dia berulah. Ah, bagaimana ya cara yang tepat untuk menjelaskan karakter Min-ho ini? Sebaiknya ditonton sendiri saja :)

Milyang dan Bangjang

Moongchi, Jung-woo, dan Shin Chul-sik saat kabur dari penjara

Tidak hanya menawarkan ketegangan, Defendant ini juga menceritakan perjuangan sang ayah menyelamatkan putrinya, menyelamatkan kebenaran. He wouldn't mind to stay in prison. Tapi, banyak orang yang tersakiti karena hal itu. Salah satu teman satu selnya, adik iparnya yang juga sipir penjara, ibu mertuanya yang tetap yakin Jung-woo tidak bersalah dan selalu mengirimanya uang, bahkan sahabatnya, Kang Joon-hyuk (Oh Chang-suk), yang berperan cukup penting. Drama ini juga mengajarkan kepada kita untuk berpegang teguh pada keyakinan, terutama janji sebagai jaksa.

Sebenarnya, aku ingin sekali memberi rating sempurna, 5/5 bintang, untuk Defendant. Sayangnya, ada satu hal yang sangat menganggu. Yaitu, kehadiran Seo Eun-hye yang diperankan salah satu anggota girlband SNSD Kwon Yuri. Dia adalah seorang pengacara negara yang menangani kasus Jung-woo. Sure, dia membantu Jung-woo dalam pelarian juga. Tapi, most of the time, perannya SANGAT tidak penting!! Apalagi karakternya juga dipasang dalam poster Defendant, seolah-olah dia memegang peran yang krusial. Dear, SBS. Meskipun tanpa Yuri, aku yakin Defendant tetap bisa meraih rating tinggi. Tidak perlu memaksa ada female lead character kalau memang tidak diperlukan. Malah, menurutku, teman-teman Jung-woo di dalam sel lebih layak dipasang di poster daripada Eun-hye. Oleh karena itulah, Defendant saya kasih 4,5 bintang saja dan aku sangat merekomendasikan drama Korea ini untuk semua pecinta genre crime.

[Week #9] 5 Movies I'll Never Get Tired Of

Tuesday, February 28, 2017
Bagiku, menonton film dan membaca buku itu sama-sama nikmat. Sama-sama menghibur. Sama-sama menyajikan "dunia" baru. Sama-sama memberi pelajaran. Sama-sama membuat kita (kadang) nggak berhenti fangirling. Tapi, beda lagi ceritanya kalau menonton film adaptasi buku yang pernah aku baca ya. Kebanyakan sih malah bikin kesal. Anyway, pernah menonton film yang meski diputar berulang-ulang tidak bikin kita bosan? Pasti pernah, meski nggak sering. Here are 5 movies I'll never get tired of.

#1 Les Choristes / The Chorus
Musical Movie Les Choristes The Chorus

Les Choristes ini pertama kali diputar saat mata kuliah Bahasa Perancis. Eh, aku langsung jatuh cinta! Film berbahasa Perancis bercerita tentang Clement Mathieu (Gerard Jugnot) yang mengajar di sekolah khusus laki-laki. Di sana, banyak anak-anak membangkang karena moto sang kepala sekolah adalah "Action, Reaction." Nakal, kena hukuman setimpal. Tapi, Mathieu berbeda. Dia tipikal wali kelas yang sabar dan penyayang. Di sela-sela pelajaran, dia malah mengajak anak didiknya bernyanyi dan akhirnya bisa tampil sebagai kelompok paduan suara sekolah.

Dengan pengetahuan yang sangat terbatas tentang musik Perancis, apalagi musik klasiknya, I'm impressed dengan soundtrack yang gampang diterima, at least oleh telingaku. Yah, pada dasarnya aku memang suka musik klasik. Tapi tenang, bagi pecinta genre musik lain, film ini tidak akan membuat kalian bosan kok. Sebab, Les Choristes lebih menekankan pada bagaimana musik menjembatani perilaku orang yang berbeda-beda. You'll be touched.

#2 Les Miserables
Aku masih ingat betul temanku berkata, "Duh, bosen ya. Ngantuk," saat kita baru keluar dari bioskop menonton Les Miserables. Waktu itu aku cuma menanggapi dengan angguka. Padahal, deep inside I freakin' love it!!! Mungkin karena aku sudah familiar dengan sebagian besar lagunya. Jadi, meski Hugh Jackman dan Eddie Redmayne nyanyi-nyanyi sambil lompat kesana-kemari, I really don't mind. Selain itu, aku suka sekali akting Anne Hathaway di film ini. Overall, emosi semua pemainnya oke-oke sih. Buat yang suka La La Land, coba nonton ini dulu. Akting Emma Stone pasti lewat deh!

#3 Harry Potter and the Philosopher's Stone
Look at all those cutie faces!! Sebagai pecinta Harry Potter, sampai sekarang pun aku masih tidak menyangka waktu berlalu begitu cepat. Saat ingin bernostalgia, aku selalu menonton ulang film Harry Potter 1-3. Iya, berhenti sampai 3 saja. Aku kurang begitu suka hasil garapan sutradara berikutnya. Dulu, aku dan orang tuaku tidak pernah melewatkan perilisan Harry Potter di bioskop. Karena saat itu kami masih tinggal di Jember, orang tuaku selalu menyempatkan ke Surabaya. Demi Harry Potter lho ini he he he. Meski mulai film ke-5 aku tidak berselera, mama masih setia menemani. Kenapa tidak dengan teman-teman? Feel-nya beda ya. Film Harry Potter ini sudah semacam bagian dari masa kecilku #tsah

#4 The Polar Express
Mungkin ini satu-satunya film kartun yang tidak membuatku bosan sama sekali. Awalnya, aku ragu mau memasukkan The Polar Express atau Rise of the Guardian. Setelah dipikir lebih lama, The Polar Express it is. Aku pun tidak begitu yakin kenapa aku suka film ini. Mungkin, mungkin lho ya, karena film ini mengusung kereta api which is my most favorite transportation. Kakekku bekerja di KAI. Ibuku dibesarkan di rumah yang terletak di seberang stasiun kereta api. Sejak kecil, aku sering bepergian naik kereta api. Mungkin karena itu aku merasa ada koneksi tersendiri dengan film ini. Selain itu, soundtrack-nya enak banget!

#5 17 Again
Oke. Aku suka film ini simply karena my beloved Zac Efron. Sejak High School Musical sampai sekarang, aku masih setia menjadi fansnya. Sayang berjuta sayang, Zac mulai idealis dengan film-film yang dibintanginya. Jadi, lama-lama aku kurang menikmati filmnya. Aku berharap dia segera tobat :)) By the way, 17 Again ini sebenarnya film receh. Yah, film-film ABG yang tidak perlu berpikir saat menontonnya.


First Impression: Tomorrow With You - Drama Korea

Sunday, February 19, 2017
Drama Korea Tomorrow with You tvN Shin Min-A Lee Je-Hoon

Saat tahu pemeran utama Oh My Venus mau bermain drama baru, aku jelas semangat. Bagiku, drama Korea yang hits pada 2015 itu sangat menyenangkan untuk ditonton. Lucu. Cerita romantisnya pun tidak menye-menye. Tentu saja aku mengharapkan hal yang sama dalam drama terbaru Shin Min-a, Tomorrow with You. Apalagi, menempati slot yang sebelumnya diisi Goblin, drama produksi tvN ini juga digadang-gadang sebagai pengganti drama yang dibintang Gong Yoo itu. What’s not to like, ya kan?

Aku tidak seberapa kenal dengan lawan main Min-a kali ini, Lee Je-han. Apparently, dia pernah menjadi second lead actor drama Korea Fashion King (2012) yang juga aku tonton. Tapi, kok aku tidak ingat ya? He he he. Sepertinya saat itu aktingnya kurang berkesan. Lalu, seorang teman memberitahuku kalau Je-han juga bermain dalam Signal (2015) yang juga mengusung “permainan waktu”. Aku pun tertarik. Well, meski konsep permainan waktunya berbeda, ternyata Je-han memainkan karakter yang tidak terlalu beda. Yah, dia hanya semakin dewasa saja dalam Tomorrow with You. Let me write Signal’s review later.

Tomorrow with You bercerita tentang seorang penjelajah waktu, Yoo So-joon (Lee Je-han). Dia bisa pergi ke masa depan dengan kereta bawah tanah. Sayangnya, tiga tahun lagi, dia meninggal dalam kecelakaan dengan seorang perempuan, Song Ma-rin (Shin Min-a). Di masa kini, So-joon tidak mengenalnya. Penasaran dengan hubungan mereka, So-joon mendekati Ma-rin di masa kini.

Ma-rin adalah seorang fotografer freelance. Saat kecil, dia membintangi drama Korea yang sangat hits sehingga dia dikenal publik sebagai Bap Soon. Sampai dewasa, nama itu masih melekat dan malah menjadi olokan. Sebab, kehidupan Ma-rin tidak seperti yang orang-orang kira. Dia hidup pas-pasan seorang diri. Belum lagi, Lee Gun-sook (Kim Ye-won) terus mengusik hidupnya. Lalu, tiba-tiba So-joon yang juga seorang CEO mendekatinya. Jelas Ma-rin bingung.



Harus kuakui kalau ide cerita Tomorrow with You ini menarik. Meski menjelajah waktu bukan hal baru, tapi drama yang ditulis Heo Sung-hye ini berbeda. Kalau biasanya sang penjelajah waktu kembali ke masa lalu, kali ini So-joon hanya bisa ke masa depan. Dia pun tidak bisa pergi ke waktu setelah dia meninggal. Kalau dia bertemu sosoknya di masa depan, dia akan menghilang. Well, menjelajah waktu ternyata tidak seseru itu ya? Karena pantangan-pantangan itu, drama ini jadi menarik untuk diikuti. Apalagi, semakin bertambahnya episode, bukannya kejelasan, aku malah semakin penasaran. Here are the mysteries we can expect to be explained soon:

1. Kenapa Song Ma-rin?
Ma-rin dan So-joon ternyata sama-sama survivor dari tragedi meledaknya kereta bawah tanah. Karena terlibat cekcok, mereka berdua turun sebelum sampai stasiun tujuan. Jadi, mereka sama-sama merasa lega, sedih, sekaligus bersalah terhadap penumpang lain. Mirip seperti penumpang yang nyaris meninggal dalam film Final Destination. Tapi, apa hanya karena ini mereka jadi terlibat takdir yang sama?

2. Ketulusan Yoo So-joon
Menurutku, semua yang dilakukan So-joon kepada Ma-rin hanyalah ambisi menyelamatkan diri sendiri. That’s how I see it. Saat Doo-sik (Jo Han-chul) menyarankan dia menikahi Ma-rin dan punya anak agar terhindar dari kematian, So-joon menurut. Dalam waktu tiga bulan mereka menikah. Poor Ma-rin. She’s like in the cloud nine karena tiba-tiba menikah dengan CEO muda. Bahkan, So-joon sangat memanjanya karena So-joon di masa depan berkata, ‘‘Why can’t you work things out with her?’’

Sayangnya, dari cara So-joon menanggapi Ma-rin yang masih excited sebagai pengantin baru dan dari keputusannya tidak berbagi rahasia serta masalah dengan istrinya, aku yakin So-joon tidak tulus. Tapi, melihat cara So-joon rela menunggu di depan rumah saat salju turun di masa depan pada episode 6 membuatku merasa he might love her for real. Baru kali ini lho aku mengharapkan happy ending.



3. Gelagat Aneh Doo-sik
Doo-sik adalah mentor So-joon dalam menjelajah waktu. Saat dia pertama kali pergi ke masa depan, Doo-sik sudah menantinya. Belum dijelaskan siapa sebenarnya Doo-sik ini. Aku kira dia hanyalah karakter sebagai problem solver saja. Tapi kok di episode 6 dia malah berkonspirasi dengan rival So-joon. Selain itu, dia tidak pernah membolehkan siapapun masuk ke rumahnya. Beberapa kali penonton diajak melihat isi rumah Doo-sik yang penuh kertas dan sticky notes, seolah-olah dia sudah merencanakan sesuatu terhadap So-joon. Apalagi, dia pernah satu kali terlihat merekam apa yang terjadi. Isn’t he suspicious? Oh ya, aku juga penasaran apakah ada time traveler lain selain mereka?

4. Will They Really Die?
Sejak menikah, masa depan So-joon berubah lagi menjadi semakin rumit. Tiba-tiba rumahnya kosong. Menurut sahabatnya, Kang Ki-doong, So-joon pergi ke luar negeri setelah cerai dari Ma-rin. Kenapa mereka bercerai? Bukankah misi So-joon sejak awal adalah stick together with Ma-rin? So-joon di masa kini saja penasaran, apalagi aku :)) Yang paling aneh adalah jurnal yang hilang. Selain itu, Doo-sik di masa depan mengatakan kalau dia menyesal telah terlibat dalam kehidupan So-joon. Hmm…

*********

Aku jelas semakin suka dengan plot twist seperti ini. Apakah mereka tetap meninggal atau tidak, bagiku bukan masalah. Asalkan ya pada akhirnya So-joon benar-benar mencintai Ma-rin. It would be a bitter-sweet ending seperti 49 Days (2011). Meski drama ini tidak selucu ekspektasi, aku berharap kejutan-kejutan lain terus dimunculkan. Selain itu, aku berharap sang penulis tidak memaksa happy ending seperti yang terjadi pada W Two Worlds dan Goblin.

[Week #7] Best Valentine’s Gift Under 100k

Sunday, February 12, 2017
Best Valentine’s Gift Under 100k

Dua hari lagi Hari Valentine. I’ve never celebrated it, not even once. Lucunya, setiap tahun pasti heboh tentang apakah umat muslim boleh merayakan Hari Valentine atau tidak. Setiap mendengar hal itu, aku sih woles. Memanfaatkan 14 Februari sebagai hari kasih sayang itu sah-saja saja kok. Isn’t beautiful where all people on earth express their warmest heart in the same day? Kalau tidak mau, ya tidak usah. Tidak perlu membuat keributan di sosial media.

I’ll probably buy sweet cakes for my mom and dad. Belum punya pacar soalnya. Even if I have, I’d still buy them cakes. Bagiku, perayaan seperti ini bisa dijadikan reminder. Reminder bagi mereka yang terlalu sibuk beraktivitas di luar rumah. Reminder bagi mereka yang jarang bertemu keluarga. Bukan masalah keyakinan, tapi kesempatan. If you’re one of those who wants to buy gift for the love ones, here are valentine’s gift under Rp 100k that I might buy too.

Pom-Poms Rug

Kelihatannya sulit. Tapi, membuat pom-pom sebenarnya sangat mudah. Beli benang wol dengan ketebalan medium. Gulungkan di tiga jari tangan sampai ketebalan yang diinginkan. Ikat kencang bagian tengahnya dengan benang jahit yang kuat. Gunting bagian pinggir gulungan wol itu dan ratakan sampai membentuk bola sempurna.

Memory Cards

Eits, bukan memory card untuk HP ya. Memory cards adalah kumpulan kenangan atau quotes tentang orang yang disayangi. Hanya dengan membeli kartu remi seharga Rp 5 ribu, kita bisa memanfaatkan 52 kartu remi sebagai pengganti halaman dalam album foto. It’s better to use only one side of the card agar lebih rapi. Tambah hiasan dengan guntingan majalah.

Pop Sticks Frame
Ini bisa sangat murah kalau mau hunting stik ice cream bekas. Tapi, kalau mau beli di toko, you'll probably need more money. Kita cuma perlu menyusun stik ice cream sebagai frame foto. Hias dengan spidol atau washi tapes.

Colorful Mug
 
Aku suka sekali memberi hadiah yang bermanfaat. Aku sedih melihat hadiah-hadiah yang berakhir sebagai pajangan. It’ll be covered in dust. Oleh karena itu, colorful mug is probably my first choice for gifts. Colorful mug hanya membutuhkan beberapa kuteks murah. Tuangkan di nampan berisi air. Lalu, celupkan mug, angkat, tunggu sampai kering.

Note: Masukkan code html linkytools di postingan masing-masing ya :) Dengan begitu, semua bisa lebih mudah hopping dari blog satu ke blog lain.


First Impression: Saimdang Light’s Diary - Drama Korea

Monday, February 6, 2017

This is a huge comeback for Lee Young-ae!! Bagi generasi 90-an, Young-ae mungkin lebih dikenal sebagai Dae Jang-geum, koki sekaligus tabib istana dalam drama Korea A Jewel in the Palace (2003). Setelah sukses dengan drama produksi MBC itu, Young-ae tidak pernah tampil dalam drama apapun. Oleh karena itu, Saimdang Light’s Diary menandai comeback Lee Young-ae ke dunia drama setelah 14 tahun.

Entah kenapa aktris kelahiran 1971 ini vakum begitu lama. Aku sendiri tidak terlalu mengikuti update dunia entertainment Korea, hanya dramanya saja. Apapun itu, I’m glad she’s back. Karakter Jang-geum sudah menjadi bagian masa kecilku. Waktu itu, aku tinggal di Jember dimana channel TV hanya TPI, RCTI, Indosiar, dan SCTV. Sama sekali tidak doyan sinetron, aku dan sepupuku selalu menonton drama Korea di TV. Salah satu yang kami suka ya A Jewel in the Palace. Sampai hafal theme song-nya lho! Jadi, penggemar drama Korea zaman sekarang kurang excited dengan drama terbaru Young-ae ini. Mayoritas berkata, ‘‘Nggak kenal sama yang main, Mbak.’’

I can’t blame them. Kalau diingat-ingat, aku pun sering begitu. Tiga hal yang aku pertimbangkan sebelum menonton sebuah drama: hype, pemain, hype. Aku tidak punya artis Korea favorit. Aku sering tidak notice siapa sutradara atau penulis skrip drama yang aku anggap bagus. So, yes, I judge Korean drama by its title (seberapa familiar) and its main casts. Kapan-kapan aku akan menulis alasan kenapa aku suka menonton drama Korea which is what this blog mostly about.

Back to Saimdang Light’s Diary…
Drama ini bercerita tentang Seo Ji-yoon (Young-ae) yang ingin membuktikan keaslian sebuah lukisan. Dengan jurnal seorang pelukis ternama bernama Saimdang, dia menelusuri keberadaan lukisan yang asli. Dia pun dibantu Han Sang-hyun (Yang Se-jong), seorang aktivis kampus. Di sisi lain, keadaan finansial keluarga Ji-yoon kacau. Suaminya melarikan diri dan dia harus menyewa apartemen murahan bersama ibu mertua dan anaknya. Dia dikhianati profesor Min Jung-hak yang berjanji menjadikannya profesor tetap.


Dengan ide cerita yang mengusung sejarah Korea Selatan, sepertinya SBS ingin mengajak penonton bernostalgia bersama Young-ae. Reminding us about her glory days. Sebab, dalam Saimdang Light’s Diary, Young-ae berperan ganda. Yaitu, sebagai Ji-yoon di masa kini dan Saimdang di masa lalu. Begitu juga dengan Se-jong yang juga berperan sebagai kekasih Saimdang saat muda, Lee Gyeom. Peran kekasih ini lalu digantikan oleh Song Seung-heon saat dewasa. Sepertinya tahun ini SBS ingin menciptakan tren peran ganda setelah sukses dengan Legend of the Blue Sea dan Defendant yang saat ini masih tayang.

Lalu, apakah Young-ae memang sebagus itu? Well, I have to admit that it’s a little bit awkward. Aku terbiasa dengan Young-ae yang penurut dengan nada bicara yang tidak pernah tinggi. Dulu dia lemah lembut dan sabar. Tapi, sekarang dia berjuang dalam setting modern dimana teriak-teriak di jembatan adalah hal yang lumrah saat stres. Rasanya aneh saja dan Young-ae jadi terlihat tua. Dia pun bisa saja terlibat hubungan rumit dimana sunbae (senior) bisa jatuh cinta dengan juniornya. Kenapa begitu? Sebab, sampai episode 4, diantara dua pemain Lee Gyeom, hanya Se-jong yang ada di masa kini.

Sayangnya, aku merasa alur empat episode awal sangat lambat. Sepertinya karena penonton sedikit-sedikit diajak flashback. Jadi, cerita Saimdang di masa lalu ditampilkan saat Ji-yoon dan Sang-hyun membaca jurnal. Kadang scene akan beralih sebentar ke masa kini untuk memperlihatkan emosi Ji-yoon. Hal yang sebenarnya tidak perlu karena malah membuat penonton bingung. Apalagi, ada saat dimana Ji-yoon benar-benar kembali ke masa lalu sebagai Saimdang! Iya, seperti Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo. Tapi hanya sebentar sekali. Jadi, aku tidak tahu apakah nantinya Ji-yoon benar-benar kembali ke masa lalu. Padahal, saat diajak flashback cukup lama, kisah Saimdang dan Lee Gyeom muda menarik lho.


Sebenarnya, kalau sudah bosan begini, aku tidak akan excited menunggu setiap minggu. Tapi, karena aku masih penasaran, aku akan terus menonton Saimdang Light’s Diary. Aku pun masih penasaran seperti apa jadinya saat Seung-heon terlibat lebih banyak. Well, sepertinya, bukan aku saja yang merasa agak kecewa dengan one of most anticipated Korean Drama in 2017 ini. Menurut ABG Nielsen, rating drama garapan sutradara Yun Sang-ho ini terus menurun. Padahal, drama ini digadang-gadang sebagai pengganti Legend of the Blue Sea lho. Saat ini, Saimdang Light’s Diary berada pada rating 12,3 persen dari rating episode perdana 16,3 persen. Rating sementara dari aku hanya 2,5 out of 5 stars.


Drama Korea lain yang masih/sudah aku tonton
  • Defendant (pengganti Romantic Doctor): Recommended! Setelah gagal dalam Entertainers, Ji-sung kembali memperlihatkan kehebatannya ‘‘bermain’’ personality.
  • Introverted Boss: Berhenti menonton di episode ke-2. Akting Park Hye-soo sangat berlebihan dan terkesan annoying. Selain itu, tidak ada pemain yang istimewa.
  • Missing 9 (pengganti Weightlifting Fairy Kim Bok-joo): Lumayan bagus. I’m expecting more surprising plot twists. Baca first impression-nya di sini.
  • Voice: Sering dibanding-bandingkan dengan Defendant. Genrenya memang hampir sama, yaitu crime. Tapi, Voice mengusung kekuatan seorang operator emergency call center (Lee Ha-na) yang bisa mendengarkan suara-suara dengan frekuensi sangat kecil. Meski banyak adegan bertarung melawan kriminal, entah kenapa drama ini agak membosankan. Aku masih akan menontonnya karena tertarik mengetahui lebih jauh tentang divisi emergency call center.