Ternyata Beli Lemari Pakaian Tidak Boleh Sembarangan!

Wednesday, July 12, 2017
Beli Lemarin Pakaian di MatahariMall.com
Foto: Pixabay

Dulu, Ama hanya punya satu syarat untuk memilih lemari pakaian: kayu jati pasti bagus. Yap, hanya kualitas saja yang dipertimbangkan. I was still a kid yang selalu manut apa kata orang tua. Dan aku baru menyesali itu sekarang. Di era dimana semua hal harus Instagram-able, lemari pakaian kayu jati yang Ama elu-elukan itu sudah ketinggalan zaman.

I know, mengutamakan kualitas memang tidak ada salahnya. Tapi, bagiku beli lemari pakaian itu juga harus disesuaikan dengan jenis kamar. I've been thinking about this a lot karena kebetulan saat ini kamarku masih kosong, tidak ada perabot sama sekali kecuali kasur. So, of course membeli lemari pakaian is on my to-do list. Nah, inilah 4 cara menentukan lemari pakaian yang pas untuk kamarmu.

Berdasarkan Tipe
Just in case you haven’t notice, orang-orang mulai suka membuat built-in wardrobe. Biasanya, tipe lemari ini diaplikasikan di rumah-rumah besar yang punya space lebih banyak. Karena dibuat berdasarkan permintaan, built-in wardrobe membebaskan pemiliknya berkreasi. Mau dibuat seperti tembok, sebagai sekat antar-ruangan, semuanya bisa. Sayangnya, pembuatan built-in wardrobe memakan banyak waktu dan biaya.

Beli built-in wardrobe
Foto: Homedit

For me, free standing wardrobe is more convenient. Tipe lemari pakaian ini lebih mudah dipindah-pindah. Pas banget buat aku yang mudah bosan dan sering pindah rumah. Sebenarnya, free standing wardrobe juga bisa dibuat sesuai permintaan. But it’ll cost more money.

Berdasarkan Ukuran
Aku pernah berkunjung ke rumah seorang relative. Dengan anggota keluarga yang cukup banyak, she needs a bigger wardrobe. Sayangnya, it ends up with ‘‘asal ada lemari besar’’ which is very annoying karena sebenarnya ruangannya tidak cukup luas. Yap, ukuran lemari pakaian juga harus diperhatikan. Jangan memaksa ukuran besar di ruangan sempit, apalagi sampai mem-blocking cahaya. Aku personally lebih suka lemari pakaian minimalis agar space bergerak lebih luas.

Berdasarkan Style
Sering lihat dekorasi kamar tidur di Tumblr? Anak kekinian pasti punya impian untuk mendekorasi kamar ala Tumblr. Mulai dari pemilihan warna, penataan furnitur, bahkan sampai cahaya lampu. Oleh karena itu, kamar tidur masa kini harus aesthetically pleasing. Pilihlah lemari pakaian yang satu tone dengan dinding kamar. It’s either white or grey for me. Untuk kesan minimalis, lemari pakaian tanpa pintu adalah pilihan paling pas!

Berdasarkan Kapasitas


Beli lemari pakaian
Foto: Zandart

Ini dia issue utama yang sedang aku alami. Surprisingly aku punya banyak pakaian yang harus digantung. Sedangkan lemari pakaianku saat ini punya banyak rak untuk folded clothes. Alhasil, bagian gantungan penuh sesak. Sampai-sampai beberapa baju harus disetrika ulang (T_T) So, make sure memilih desain lemari pakaian yang tepat. Don’t be like me!

Kalau lebih banyak pakaian yang digantung, sebaiknya beli lemari pakaian khusus gantungan. I recommend this trick untuk menghemat tempat. Sedangkan pakaian yang dilipat bisa diletakkan di rak susun. Rak susun ini pun tidak necessarily harus berisi pakaian. I put some notes and books di bagian rak paling bawah karena aku tidak ingin membeli lemari khusus buku he he.

Merasa lemari pakaianmu kurang sesuai? Eits, beli lemari pakaian itu tidak selalu mahal kok. Coba beli lemari pakaian di MatahariMall. Ada banyak pilihan lemari sesuai tipe yang dibutuhkan. Don’t worry, sellers di MatahariMall.com terpercaya kok. Sebelum lebaran kemarin aku membeli beberapa barang di sana. Meski pengiriman harus ditunda karena libur lebaran, pesananku sampai dengan selamat kok. So, who’s going to buy?

FAQ: Kenapa Suka Drama Korea?

Sunday, July 2, 2017
Alasan Suka Nonton Drama Korea
Foto: Charles Michael Photography

Setiap mem-posting sesuatu berbau drakor (drama Korea), pasti ada yang membalas, “Lho, kok suka Korea?” Kalau yang dimaksud negara Korea, who doesn’t like it tho? Tapi kalau K-pop (which is for me refers to Korean pop music), NO, I still don’t like it. Kecintaanku terhadap Korean culture hanya sebatas drama Korea. Itu pun tidak termasuk menghafal nama-nama aktornya.

Kecintaan ini berawal sejak aku masih tinggal di Jember, suatu kota kecil di Jawa Timur yang mungkin lebih dikenal dengan fashion carnaval-nya. Saat TV di kota besar punya channel semacam Lativi dan MTV, di rumahku hanya ada RCTI, SCTV, Indosiar, dan entah apa lagi yang sejenis. Pokoknya total tidak sampai 10 channel. Oleh karena itu, pilihan tontonanku SANGAT terbatas. Kalau tidak ada kartun, ya adanya sinetron atau berita. That’s it.

Sampai akhirnya Indosiar menayangkan drakor. Yang paling aku ingat sih Jewel in the Palace (2003) yang tidak pernah kulewatkan satu kalipun. Bahkan, Ama dan keluarga sepupuku memindahkan aktivitasnya di depan TV. Kami sampai ingat betul lho lirik theme song-nya. “Onara onara aju ona. Gadara Gadara aju gana. Nanari daryeodo mot nonani…” Hayo, siapa yang dulu juga hafal lagu itu?


Jadi, kenapa aku suka drama Korea?

Sebagai Alternatif Tontonan
Aku bersyukur tertarik drakor sejak kecil. Bayangkan saja kalau dulu aku menonton sinetron setiap hari. Waduh, bisa-bisa sekarang aku gampang baper gara-gara Ganteng-Ganteng Serigala (2014). Nah, karena serial TV Amerika juga tidak ada, drakor somehow terkesan keren dibandingkan Tersanjung (1998–2005), Jin dan Jun (1996–2001), dan Bidadari (2005).

Meski kadang cerita drakor juga receh, tapi episode-nya tidak berbelit-belit sampai ribuan. Pemainnya pun of course jauh lebih kece. Dan yang penting adalah sinematografinya yang tidak zoom-in zoom-out ala India :)) Apa sekarang masih ada anak muda yang doyan menonton sinetron?

Sudah Terbiasa dan Ketagihan!
Karena cuma ada di Indosiar, setiap drakor yang ditayangkan pasti ditonton banyak orang. Aku yakin hal itu juga mempengaruhi masuknya hallyu ke Indonesia. Aku mulai kenal Yoon Eun-hye dari Princess Hours (2006) yang sampai sekarang aku mengingatnya sebagai Shin Chae-kyung dan Han Chae-young dari My Sassy Girl Chun-hyang (2005). Kok bagus… Kok seru… Kok ganteng… Akhirnya, lama-lama aku ingin menonton lebih banyak drakor.

Drama Korea Princess Hours
Foto: Photobucket

Tapi, satu hal yang patut diacungi jempol dari drakor adalah cara memotong ending tiap episode. Penikmat drakor pasti sadar akan hal ini. Ending-nya itu selalu membuat kita pengen cepat-cepat menonton episode selanjutnya. Oleh karena itu, bagi mereka yang menonton secara marathon harus siap begadang. I’ve been there. It was tiring yet exciting. Sama lah seperti membaca novel Harry Potter yang baru rilis, tidak akan bisa berhenti sampai habis.

Lebih Mudah Diakses
Akhir 2006, aku mulai mengenal Disney Channel karena TV kabel mulai masuk Jember. Tontonanku dan para sepupu pun berubah, yaitu Hannah Montana (2006) dan High School Musical (2006). I know it was pathetic, tapi dari situlah aku belajar Bahasa Inggris karena harus menonton tanpa subtitle.

Pulang ke Sidoarjo (aku pindah rumah sekitar akhir 2016), aku menonton ulang dengan subtitle, both in English and Indonesia. Karena internet sudah mudah diakses, aku pun rajin mengeksplor serial TV dan film orisinal Disney Channel lain (yeah, I thought DC is kinda cool). Sejak itu aku lebih suka serial TV Amerika. Aku pun sudah bisa menonton Smallville (2001) dan Supernatural (2005) di TV (for free).

Sayangnya, at some point aku mulai malas men-download serial TV. Aku mulai merasa streaming is more convenient. Hemat listrik, hemat tenaga, dan hemat waktu (karena aku streaming di HP). Ah, aku ingin berlangganan Netflix, tapi di rumah sudah ada TV kabel yang sangat jarang aku tonton.

Streaming Drama Korea
Foto: Pixabay

Tontonan yang paling mudah diakses secara streaming adalah drakor. Banyak sekali situs yang menyediakan drakor lengkap ber-subtitle Bahasa Inggris secara gratis! Sebenarnya, ada layanan streaming gratis untuk serial TV Amerika/Inggris. Sayangnya, situs itu tidak menyediakan subtitle which is a little bit difficult for me saat menonton Criminal Minds (2005), Sherlock (2010), dan sejenisnya. Kalau ada yang tahu, please let me know. It’d be very very helpful.

Jadi Bahan Obrolan dan Bermanfaat untuk Pekerjaan
Kids these days suka sekali hal-hal berbau Korea. Lihat saja, boyband dan girlband Korea berbondong-bondong konser di Indonesia. Sedangkan konser musisi internasional bisa dihitung jari. Itu berarti masyarakat kita masih suka hallyu. Bahkan, fan meeting aktor juga ramai lho. Yang datang pun tidak hanya anak muda, tapi juga ibu-ibu yang doyan ahjussi semacam Lee Dong-wook.

Nah, karena pekerjaanku sangat dekat dengan anak muda, khususnya generasi Z, aku dituntut untuk tahu kesukaan mereka. Termasuk drama dan musik Korea. Setiap mem-publish artikel berbau Korea di Zetizen, pasti viewers-nya langsung ribuan dalam hitungan jam! Super sekali kan k-popers ini?


Dan there are some people yang dianggap “aneh” karena obrolannya seputar Korea saja. Dengan mengikuti drakor, aku bisa mudah "klik" dengan mereka. Tapi ya gitu, “Nam Joo-hyuk itu yang main apa ya?” *sambil garuk-garuk kepala* Sampai saat ini aku masih merasa nama-nama Korea itu susah dihafalkan. Is it just me?

Kenapa tidak suka k-pop juga?

Hmmm… Bagiku, musik itu bukan sekadar alunan melodi yang disusun apik. Musik itu cara alternatif untuk mengungkapkan perasaan saat kata-kata tak lagi berguna. Jadi, tentu lirik juga sangat penting bagiku. If I can’t understand the lyric, how can I like the music? As simple as that.

Bukan berarti musik Korea itu jelek lho ya. No. Kadang aku juga terobsesi dengan soundtrack drakor kok. But it lasted only days after the drama has ended. Sebab, a certain soundtrack mengingatkanku pada a certain scene. Kalau sudah lupa adegannya, ya soundtrack-nya jadi kurang gimanaaaa gitu.

So, if you like k-drama too, apa alasannya? Pernah merasa bosan tidak? And yes, aku belum tertarik dengan hal-hal berbau Jepang. Sorry to say, aku agak terganggu dengan intonasi pengisi acara di Waku Waku yang terkesan sok imut padahal ekspresinya datar.

A Year Blogging, What's Next?

Friday, June 30, 2017
First Blog Anniversary
Foto: Pixabay

Selamat tanggal 30 Juni!

Tidak terasa sudah satu tahun domain ini saya miliki. How does it feel? Pathetic. Well, lebih tepatnya melenceng jauh dari rencana. Saya membeli domain dot com dengan harapan lebih semangat blogging. Paling tidak ya menulis meski akhirnya berhenti menjadi draft. Faktanya, hal itu tidak bisa saya penuhi. Bukannya tidak ada ide, tapi tidak ada mood. Apalagi saya ini mudah ter-distract. Duduk di depan laptop, siap menulis, eh ada drama Korea baru. Selesai menonton drama, hilanglah mood menulis tadi. Ada yang punya tips untuk menghilangkan kebiasaan ini?

So, what would I do next?

Tahun depan, saya jelas ingin ada perkembangan signifikan pada blog ini. Salah satu caranya ya dengan rajin menulis at least satu minggu sekali. Agar lebih fokus, saya memutuskan untuk menelantarkan blog buku imawesomenerd.blogspot.com. Saya juga deactivate semua hidden journals agar lebih fokus. Dude, I actually have written a lot! Too bad not everything is for public.

Things you can expect on this blog:

  • Drama Korea: Setelah dipertimbangkan, menulis First Impression dan Review itu tidak efektif. Sebab, kadang saya ingin menulis review drama yang sudah saya tulis first impression-nya. Selain akhirnya menulis hal yang serupa, saya takut pembaca bosan karena blog ini terlalu banyak drama Korea-nya he he. So, I'll only write first impression dan review recap.
  • Movie & Music: I love movies and I'm kinda addicted to Spotify. Sayangnya, saya tidak expert dalam dua hal ini. Referensi saya kurang banyak. Alhasil, saya sering tidak mood menulis review. Blog post tentang film akan fokus pada rekomendasi. Sedangkan untuk kategori musik akan saya isi musician I'm currently obsessed with dan rekomendasi seperti ini.
  • Food & Travel: Saya bukan traveler, tapi tahun ini saya cukup beruntung bisa jalan-jalan lumayan jauh (dan belum saya tulis!). Oleh karena itu, saya semangat jalan-jalan jauh lagi. Who knows kesempatan apa yang diberikan tahun depan. Saya pun ingin belajar menulis ala travel blog. Kalau ada referensi travel blog kece, boleh dong share di kolom komentar :)
  • Opini: Nah, ini jenis tulisan yang sebenarnya sangat saya suka. Tapi, menulis satu post yang memuaskan (bagi saya) butuh waktu lumayan lama. Itulah yang membuat tulisan-tulisan opini saya terbengkalai, berhenti di tengah-tengah.
  • Book: YES! Saya akan mulai menulis review buku di blog ini. Tentu saja review saya tidak akan terbaca di agregator BBI. But well, demi kenyamanan dan demi traffic juga, saya harus melepas salah satu. And of course you can expect book giveaway too!!

Well, memang tidak banyak yang berubah. Tapi saya sangat berharap saya bisa lebih commit menulis tentang 5 kategori di atas. Wish me luck?

First Impression: Ruler: Master of the Mask - Drama Korea

Saturday, May 20, 2017
Ruler: Master of the Mask (군주-가면의 주인) MBC

Sebenarnya, beberapa minggu ini aku mengalami semacam k-drama slump. Rasanya malas sekali menonton drama Korea yang sedang tayang. Tidak ada yang bikin bergairah. Sampai akhirnya Ruler: Master of the Mask ini tayang. Tidak semenggairahkan itu sih, tapi paling tidak drama produksi MBC ini membuat jari tanganku membuka dramacool setiap Kamis dan Jumat pagi he he.

Ruler: Master of the Mask bercerita tentang seorang Putera Mahkota (PM) bernama Lee Sun (Yoo Seung-ho). Dia tampan, pintar, polos, dan baik hati. Sayangnya, tidak semua orang tahu hal itu. Sebab, sejak kecil wajahnya ditutupi topeng. Hanya Raja (Kim Myung-soo), Selir Lee yang merupakan ibu Lee Sun (Choi Ji-na), dan kepala penjaga keamanan yang tahu wajah asli PM. Selain itu, mereka akan langsung dibunuh.

Yoo Seung-Ho in Ruler: Master of the Mask (MBC)

Gara-gara itu, kabar yang beredar pun mengatakan kalau PM Lee Sun penyakitan. Dia jugalah yang membuat rakyat menderita (tidak diridhoi dewa). Padahal, itu semua ulang kelompok Pyunsoo yang diketuai Dae Mok (Heo Jun-ho). Dialah yang meracuni PM saat masih bayi. Demi mendapatkan obat penawar, Raja harus memberikan hak mengatur saluran air kepada Pyunsoo. Alhasil, sumber mata air dimonopoli. Rakyat harus membayar sejumlah uang untuk mendapatkan air.

Dari situlah Han Ga-eun (Kim So-hyun), seorang putri pejabat, Lee Sun (Kim Myung-soo alias L boyband Infinite), seorang rakyat jelata, dan PM Lee Sun bertemu dan saling membantu (kind of). Ditemani sahabat sekaligus pengawalnya, Lee Chung-woon (Shin Hyun-soo), PM Lee Sun keluar istana. Posisinya di kerajaan digantikan oleh Lee Sun si rakyat jelata. Too bad, rencana itu diketahui Dae Mok. Kelompok Pyunsoo pun menyerbu istana dan membunuh Raja.

Kim So-Hyun Yoo Seung-ho Couple

First of all, let's talk about the episode yang awalnya 20, tapi jadi 40 episode. Kenapa sepanjang itu? Tenang, drama ini sama seperti drama 20 episode kok. Kalau biasanya satu episode berdurasi 60 menit, satu episode Ruler: Master of the Mask hanya 30 menit. Sekali tayang langsung dua episode. Jadi, kalau dihitung-hitung ya sama saja. Kenapa di-part? Dengar-dengar sih untuk kebutuhan slot iklan. Well, drama Korea ini memang berpotensi besar sih. Lihat saja rating-nya terus naik.

Karena belum terbiasa, kadang-kadang aku merasa sebal. Lagi enak-enak klimaks, eh to be continued. Rasanya aneh. Sebab, feel penasarannya beda dengan feel penasaran akhir episode. Sistem durasi ini pun juga diterapkan pada Suspicious Partner produksi SBS. I'm not going to write its first impression karena jelek sekali. Tapi, you should know kalau pemotongan part dalam drama yang dibintangi Ji Chang-wook itu sangat aneh! Fortunately, ada beberapa layanan streaming yang menggabungkan dua part yang tayang setiap hari. It might feel better.

L Infinite Ruler Master of the Mask

Now let's talk about the actors.

Pada episode pertama, aku merasa sedikit awkward terhadap karakter yang dimainkan Seung-ho. Maklum, bagiku dia masih Seo Jin-woo dari Remember (SBS-2015) dan bahkan Harry dari I Miss You (MBC-2012). Kedua karakter itu sama-sama melow. Jadi, aku kaget saat mengetahui betapa polos dan bahkan childish-nya PM Lee Sun. Tapi, lama-lama aku bisa menerima kok :) He did a great job karena pada dasarnya dia akan menjadi PM yang pintar dan bijaksana.

Akting yang aku nantikan adalah L Infinite dan Yoon So-hee (pemain Kim Hwa-goon, cucu Dae Mok yang jatuh cinta pada PM Lee Sun). Aku belum familiar dengan kiprah akting mereka dan sepertinya scriptwriter Park Hye-jin akan membuat cerita mereka menarik. Entahlah. Sejauh ini prediksiku tentang alur cerita Ruler: Master of the Mask ini selalu salah. Selalu ada plot twist tak terduga.

Oh, Kim So-hyun? Not a fan. Bagiku dia masih the same old Kim So-hyun. Perannya itu-itu saja. Tapi ya silahkan tidak setuju karena aku memang tidak mengikuti semua drama yang dimainkannya.


I will definitely watch this drama 'til the end. As I said, selalu ada plot twist yang tidak terduga. Selain itu, pada dasarnya aku memang suka historical drama. Aku yakin drama ini jauh lebih baik dari Rebel Thief Who Stole The People.

Review: Defendant - Drama Korea

Sunday, March 26, 2017

Sejak awal, drama Korea Defendant atau Innocent Defendant ini meraih rating cukup tinggi. Nggak heran karena Ji Sung, sang pemeran utama, "bermain-main" dengan kepribadian lagi. In case you haven't heard, Ji Sung dikenal pintar memainkan berbagai kepribadian sekaligus berkat aktingnya dalam Kill Me, Heal Me (2015). Meski aku tidak terlalu suka drama  produksi MBC itu, harus kuakui kalau akting Ji Sung memang mengesankan. Sayangnya, menurutku, Ji Sung justru terlihat meh kalau bermain dalam drama seperti Entertainer (2016). Like, he wasted his skill.

Defendant bercerita tentang Park Jung-woo (Ji Sung), seorang jaksa yang mengejar kriminal Cha Min-ho (Uhm Ki-joon). Sayangnya, pengejaran ini membuat Jung-woo harus kehilangan istri dan anaknya sehingga dia yang dipenjara. Yap, Min-ho menjebak Jung-woo agar seolah-olah dia membunuh keluarganya sendiri. Kenapa sampai seperti itu? Sebab, Jung-woo bersikukuh bahwa Min-ho membunuh kembarannya, Cha Sun-ho. Min-ho pun hidup sebagai Sun-ho dan terus menutupi jejak kejahatannya.

Cha Min-ho dan Cha Sun-ho

To be honest, aku belum banyak menonton drama Korea sejenis ini. Karena Januari lalu penuh drama-drama bergenre thriller/crime, akhirnya aku mencoba menonton Defendant dan Missing Nine (yang ternyata aku tonton separuh jalan). Dibuka dengan flashback, aku semakin tertarik. Entah kenapa aku suka sekali cerita yang rumit. Bagiku, semakin rumit, semakin baik. Dan Defendant mengajak penonton untuk menoleh ke belakang cukup lama. Jadi, make sure you enjoy this kind of drama atau at least menonton tidak setengah-setengah. Kalau tidak, nanti bisa bingung. Apalagi Min-ho dan Sun-ho diperankan oleh orang yang sama.

Setelah cerita kembali ke waktu yang benar, setting cerita fokus di dalam penjara. Setelah melalui berbagai cobaan (termasuk ingatan yang selalu hilang setiap dia bangun tidur), Jung-woo dibantu teman-teman satu selnya untuk kabur dari penjara. Mereka adalah Milyang (Woo Hyeon), Bangjang (Yun Yong-hyeon), Wooruk (Jo Jae-ryong), Moongchi (Oh Dae-hwan), Lee Sung-gyoo (Kim Min-suk), dan Shin Chul-sik (Jo Jae-yun). Enam orang inilah yang membuat drama ini penuh warna

Meski begitu, aku mungkin tidak akan betah menonton dan menanti Defendant tanpa kehadiran sang villain. Uhm Ki-joon berhasil membuatku geregetan setiap dia berulah. Ah, bagaimana ya cara yang tepat untuk menjelaskan karakter Min-ho ini? Sebaiknya ditonton sendiri saja :)

Milyang dan Bangjang

Moongchi, Jung-woo, dan Shin Chul-sik saat kabur dari penjara

Tidak hanya menawarkan ketegangan, Defendant ini juga menceritakan perjuangan sang ayah menyelamatkan putrinya, menyelamatkan kebenaran. He wouldn't mind to stay in prison. Tapi, banyak orang yang tersakiti karena hal itu. Salah satu teman satu selnya, adik iparnya yang juga sipir penjara, ibu mertuanya yang tetap yakin Jung-woo tidak bersalah dan selalu mengirimanya uang, bahkan sahabatnya, Kang Joon-hyuk (Oh Chang-suk), yang berperan cukup penting. Drama ini juga mengajarkan kepada kita untuk berpegang teguh pada keyakinan, terutama janji sebagai jaksa.

Sebenarnya, aku ingin sekali memberi rating sempurna, 5/5 bintang, untuk Defendant. Sayangnya, ada satu hal yang sangat menganggu. Yaitu, kehadiran Seo Eun-hye yang diperankan salah satu anggota girlband SNSD Kwon Yuri. Dia adalah seorang pengacara negara yang menangani kasus Jung-woo. Sure, dia membantu Jung-woo dalam pelarian juga. Tapi, most of the time, perannya SANGAT tidak penting!! Apalagi karakternya juga dipasang dalam poster Defendant, seolah-olah dia memegang peran yang krusial. Dear, SBS. Meskipun tanpa Yuri, aku yakin Defendant tetap bisa meraih rating tinggi. Tidak perlu memaksa ada female lead character kalau memang tidak diperlukan. Malah, menurutku, teman-teman Jung-woo di dalam sel lebih layak dipasang di poster daripada Eun-hye. Oleh karena itulah, Defendant saya kasih 4,5 bintang saja dan aku sangat merekomendasikan drama Korea ini untuk semua pecinta genre crime.

[Week #9] 5 Movies I'll Never Get Tired Of

Tuesday, February 28, 2017
Bagiku, menonton film dan membaca buku itu sama-sama nikmat. Sama-sama menghibur. Sama-sama menyajikan "dunia" baru. Sama-sama memberi pelajaran. Sama-sama membuat kita (kadang) nggak berhenti fangirling. Tapi, beda lagi ceritanya kalau menonton film adaptasi buku yang pernah aku baca ya. Kebanyakan sih malah bikin kesal. Anyway, pernah menonton film yang meski diputar berulang-ulang tidak bikin kita bosan? Pasti pernah, meski nggak sering. Here are 5 movies I'll never get tired of.

#1 Les Choristes / The Chorus
Les Choristes ini pertama kali diputar saat mata kuliah Bahasa Perancis. Eh, aku langsung jatuh cinta! Film berbahasa Perancis bercerita tentang Clement Mathieu (Gerard Jugnot) yang mengajar di sekolah khusus laki-laki. Di sana, banyak anak-anak membangkang karena moto sang kepala sekolah adalah "Action, Reaction." Nakal, kena hukuman setimpal. Tapi, Mathieu berbeda. Dia tipikal wali kelas yang sabar dan penyayang. Di sela-sela pelajaran, dia malah mengajak anak didiknya bernyanyi dan akhirnya bisa tampil sebagai kelompok paduan suara sekolah.

Dengan pengetahuan yang sangat terbatas tentang musik Perancis, apalagi musik klasiknya, I'm impressed dengan soundtrack yang gampang diterima, at least oleh telingaku. Yah, pada dasarnya aku memang suka musik klasik. Tapi tenang, bagi pecinta genre musik lain, film ini tidak akan membuat kalian bosan kok. Sebab, Les Choristes lebih menekankan pada bagaimana musik menjembatani perilaku orang yang berbeda-beda. You'll be touched.

#2 Les Miserables
Aku masih ingat betul temanku berkata, "Duh, bosen ya. Ngantuk," saat kita baru keluar dari bioskop menonton Les Miserables. Waktu itu aku cuma menanggapi dengan angguka. Padahal, deep inside I freakin' love it!!! Mungkin karena aku sudah familiar dengan sebagian besar lagunya. Jadi, meski Hugh Jackman dan Eddie Redmayne nyanyi-nyanyi sambil lompat kesana-kemari, I really don't mind. Selain itu, aku suka sekali akting Anne Hathaway di film ini. Overall, emosi semua pemainnya oke-oke sih. Buat yang suka La La Land, coba nonton ini dulu. Akting Emma Stone pasti lewat deh!

#3 Harry Potter and the Philosopher's Stone
Look at all those cutie faces!! Sebagai pecinta Harry Potter, sampai sekarang pun aku masih tidak menyangka waktu berlalu begitu cepat. Saat ingin bernostalgia, aku selalu menonton ulang film Harry Potter 1-3. Iya, berhenti sampai 3 saja. Aku kurang begitu suka hasil garapan sutradara berikutnya. Dulu, aku dan orang tuaku tidak pernah melewatkan perilisan Harry Potter di bioskop. Karena saat itu kami masih tinggal di Jember, orang tuaku selalu menyempatkan ke Surabaya. Demi Harry Potter lho ini he he he. Meski mulai film ke-5 aku tidak berselera, mama masih setia menemani. Kenapa tidak dengan teman-teman? Feel-nya beda ya. Film Harry Potter ini sudah semacam bagian dari masa kecilku #tsah

#4 The Polar Express
Mungkin ini satu-satunya film kartun yang tidak membuatku bosan sama sekali. Awalnya, aku ragu mau memasukkan The Polar Express atau Rise of the Guardian. Setelah dipikir lebih lama, The Polar Express it is. Aku pun tidak begitu yakin kenapa aku suka film ini. Mungkin, mungkin lho ya, karena film ini mengusung kereta api which is my most favorite transportation. Kakekku bekerja di KAI. Ibuku dibesarkan di rumah yang terletak di seberang stasiun kereta api. Sejak kecil, aku sering bepergian naik kereta api. Mungkin karena itu aku merasa ada koneksi tersendiri dengan film ini. Selain itu, soundtrack-nya enak banget!

#5 17 Again
Oke. Aku suka film ini simply karena my beloved Zac Efron. Sejak High School Musical sampai sekarang, aku masih setia menjadi fansnya. Sayang berjuta sayang, Zac mulai idealis dengan film-film yang dibintanginya. Jadi, lama-lama aku kurang menikmati filmnya. Aku berharap dia segera tobat :)) By the way, 17 Again ini sebenarnya film receh. Yah, film-film ABG yang tidak perlu berpikir saat menontonnya.


First Impression: Tomorrow With You - Drama Korea

Sunday, February 19, 2017

Saat tahu pemeran utama Oh My Venus mau bermain drama baru, aku jelas semangat. Bagiku, drama Korea yang hits pada 2015 itu sangat menyenangkan untuk ditonton. Lucu. Cerita romantisnya pun tidak menye-menye. Tentu saja aku mengharapkan hal yang sama dalam drama terbaru Shin Min-a, Tomorrow with You. Apalagi, menempati slot yang sebelumnya diisi Goblin, drama produksi tvN ini juga digadang-gadang sebagai pengganti drama yang dibintang Gong Yoo itu. What’s not to like, ya kan?

Aku tidak seberapa kenal dengan lawan main Min-a kali ini, Lee Je-han. Apparently, dia pernah menjadi second lead actor drama Korea Fashion King (2012) yang juga aku tonton. Tapi, kok aku tidak ingat ya? He he he. Sepertinya saat itu aktingnya kurang berkesan. Lalu, seorang teman memberitahuku kalau Je-han juga bermain dalam Signal (2015) yang juga mengusung “permainan waktu”. Aku pun tertarik. Well, meski konsep permainan waktunya berbeda, ternyata Je-han memainkan karakter yang tidak terlalu beda. Yah, dia hanya semakin dewasa saja dalam Tomorrow with You. Let me write Signal’s review later.

Tomorrow with You bercerita tentang seorang penjelajah waktu, Yoo So-joon (Lee Je-han). Dia bisa pergi ke masa depan dengan kereta bawah tanah. Sayangnya, tiga tahun lagi, dia meninggal dalam kecelakaan dengan seorang perempuan, Song Ma-rin (Shin Min-a). Di masa kini, So-joon tidak mengenalnya. Penasaran dengan hubungan mereka, So-joon mendekati Ma-rin di masa kini.

Ma-rin adalah seorang fotografer freelance. Saat kecil, dia membintangi drama Korea yang sangat hits sehingga dia dikenal publik sebagai Bap Soon. Sampai dewasa, nama itu masih melekat dan malah menjadi olokan. Sebab, kehidupan Ma-rin tidak seperti yang orang-orang kira. Dia hidup pas-pasan seorang diri. Belum lagi, Lee Gun-sook (Kim Ye-won) terus mengusik hidupnya. Lalu, tiba-tiba So-joon yang juga seorang CEO mendekatinya. Jelas Ma-rin bingung.



Harus kuakui kalau ide cerita Tomorrow with You ini menarik. Meski menjelajah waktu bukan hal baru, tapi drama yang ditulis Heo Sung-hye ini berbeda. Kalau biasanya sang penjelajah waktu kembali ke masa lalu, kali ini So-joon hanya bisa ke masa depan. Dia pun tidak bisa pergi ke waktu setelah dia meninggal. Kalau dia bertemu sosoknya di masa depan, dia akan menghilang. Well, menjelajah waktu ternyata tidak seseru itu ya? Karena pantangan-pantangan itu, drama ini jadi menarik untuk diikuti. Apalagi, semakin bertambahnya episode, bukannya kejelasan, aku malah semakin penasaran. Here are the mysteries we can expect to be explained soon:

1. Kenapa Song Ma-rin?
Ma-rin dan So-joon ternyata sama-sama survivor dari tragedi meledaknya kereta bawah tanah. Karena terlibat cekcok, mereka berdua turun sebelum sampai stasiun tujuan. Jadi, mereka sama-sama merasa lega, sedih, sekaligus bersalah terhadap penumpang lain. Mirip seperti penumpang yang nyaris meninggal dalam film Final Destination. Tapi, apa hanya karena ini mereka jadi terlibat takdir yang sama?

2. Ketulusan Yoo So-joon
Menurutku, semua yang dilakukan So-joon kepada Ma-rin hanyalah ambisi menyelamatkan diri sendiri. That’s how I see it. Saat Doo-sik (Jo Han-chul) menyarankan dia menikahi Ma-rin dan punya anak agar terhindar dari kematian, So-joon menurut. Dalam waktu tiga bulan mereka menikah. Poor Ma-rin. She’s like in the cloud nine karena tiba-tiba menikah dengan CEO muda. Bahkan, So-joon sangat memanjanya karena So-joon di masa depan berkata, ‘‘Why can’t you work things out with her?’’

Sayangnya, dari cara So-joon menanggapi Ma-rin yang masih excited sebagai pengantin baru dan dari keputusannya tidak berbagi rahasia serta masalah dengan istrinya, aku yakin So-joon tidak tulus. Tapi, melihat cara So-joon rela menunggu di depan rumah saat salju turun di masa depan pada episode 6 membuatku merasa he might love her for real. Baru kali ini lho aku mengharapkan happy ending.



3. Gelagat Aneh Doo-sik
Doo-sik adalah mentor So-joon dalam menjelajah waktu. Saat dia pertama kali pergi ke masa depan, Doo-sik sudah menantinya. Belum dijelaskan siapa sebenarnya Doo-sik ini. Aku kira dia hanyalah karakter sebagai problem solver saja. Tapi kok di episode 6 dia malah berkonspirasi dengan rival So-joon. Selain itu, dia tidak pernah membolehkan siapapun masuk ke rumahnya. Beberapa kali penonton diajak melihat isi rumah Doo-sik yang penuh kertas dan sticky notes, seolah-olah dia sudah merencanakan sesuatu terhadap So-joon. Apalagi, dia pernah satu kali terlihat merekam apa yang terjadi. Isn’t he suspicious? Oh ya, aku juga penasaran apakah ada time traveler lain selain mereka?

4. Will They Really Die?
Sejak menikah, masa depan So-joon berubah lagi menjadi semakin rumit. Tiba-tiba rumahnya kosong. Menurut sahabatnya, Kang Ki-doong, So-joon pergi ke luar negeri setelah cerai dari Ma-rin. Kenapa mereka bercerai? Bukankah misi So-joon sejak awal adalah stick together with Ma-rin? So-joon di masa kini saja penasaran, apalagi aku :)) Yang paling aneh adalah jurnal yang hilang. Selain itu, Doo-sik di masa depan mengatakan kalau dia menyesal telah terlibat dalam kehidupan So-joon. Hmm…

*********

Aku jelas semakin suka dengan plot twist seperti ini. Apakah mereka tetap meninggal atau tidak, bagiku bukan masalah. Asalkan ya pada akhirnya So-joon benar-benar mencintai Ma-rin. It would be a bitter-sweet ending seperti 49 Days (2011). Meski drama ini tidak selucu ekspektasi, aku berharap kejutan-kejutan lain terus dimunculkan. Selain itu, aku berharap sang penulis tidak memaksa happy ending seperti yang terjadi pada W Two Worlds dan Goblin.

[Week #7] Best Valentine’s Gift Under 100k

Sunday, February 12, 2017

Dua hari lagi Hari Valentine. I’ve never celebrated it, not even once. Lucunya, setiap tahun pasti heboh tentang apakah umat muslim boleh merayakan Hari Valentine atau tidak. Setiap mendengar hal itu, aku sih woles. Memanfaatkan 14 Februari sebagai hari kasih sayang itu sah-saja saja kok. Isn’t beautiful where all people on earth express their warmest heart in the same day? Kalau tidak mau, ya tidak usah. Tidak perlu membuat keributan di sosial media.

I’ll probably buy sweet cakes for my mom and dad. Belum punya pacar soalnya. Even if I have, I’d still buy them cakes. Bagiku, perayaan seperti ini bisa dijadikan reminder. Reminder bagi mereka yang terlalu sibuk beraktivitas di luar rumah. Reminder bagi mereka yang jarang bertemu keluarga. Bukan masalah keyakinan, tapi kesempatan. If you’re one of those who wants to buy gift for the love ones, here are valentine’s gift under Rp 100k that I might buy too.

Pom-Poms Rug

Kelihatannya sulit. Tapi, membuat pom-pom sebenarnya sangat mudah. Beli benang wol dengan ketebalan medium. Gulungkan di tiga jari tangan sampai ketebalan yang diinginkan. Ikat kencang bagian tengahnya dengan benang jahit yang kuat. Gunting bagian pinggir gulungan wol itu dan ratakan sampai membentuk bola sempurna.

Memory Cards

Eits, bukan memory card untuk HP ya. Memory cards adalah kumpulan kenangan atau quotes tentang orang yang disayangi. Hanya dengan membeli kartu remi seharga Rp 5 ribu, kita bisa memanfaatkan 52 kartu remi sebagai pengganti halaman dalam album foto. It’s better to use only one side of the card agar lebih rapi. Tambah hiasan dengan guntingan majalah.

Pop Sticks Frame
Ini bisa sangat murah kalau mau hunting stik ice cream bekas. Tapi, kalau mau beli di toko, you'll probably need more money. Kita cuma perlu menyusun stik ice cream sebagai frame foto. Hias dengan spidol atau washi tapes.

Colorful Mug
 
Aku suka sekali memberi hadiah yang bermanfaat. Aku sedih melihat hadiah-hadiah yang berakhir sebagai pajangan. It’ll be covered in dust. Oleh karena itu, colorful mug is probably my first choice for gifts. Colorful mug hanya membutuhkan beberapa kuteks murah. Tuangkan di nampan berisi air. Lalu, celupkan mug, angkat, tunggu sampai kering.

Note: Masukkan code html linkytools di postingan masing-masing ya :) Dengan begitu, semua bisa lebih mudah hopping dari blog satu ke blog lain.


First Impression: Saimdang Light’s Diary - Drama Korea

Monday, February 6, 2017

This is a huge comeback for Lee Young-ae!! Bagi generasi 90-an, Young-ae mungkin lebih dikenal sebagai Dae Jang-geum, koki sekaligus tabib istana dalam drama Korea A Jewel in the Palace (2003). Setelah sukses dengan drama produksi MBC itu, Young-ae tidak pernah tampil dalam drama apapun. Oleh karena itu, Saimdang Light’s Diary menandai comeback Lee Young-ae ke dunia drama setelah 14 tahun.

Entah kenapa aktris kelahiran 1971 ini vakum begitu lama. Aku sendiri tidak terlalu mengikuti update dunia entertainment Korea, hanya dramanya saja. Apapun itu, I’m glad she’s back. Karakter Jang-geum sudah menjadi bagian masa kecilku. Waktu itu, aku tinggal di Jember dimana channel TV hanya TPI, RCTI, Indosiar, dan SCTV. Sama sekali tidak doyan sinetron, aku dan sepupuku selalu menonton drama Korea di TV. Salah satu yang kami suka ya A Jewel in the Palace. Sampai hafal theme song-nya lho! Jadi, penggemar drama Korea zaman sekarang kurang excited dengan drama terbaru Young-ae ini. Mayoritas berkata, ‘‘Nggak kenal sama yang main, Mbak.’’

I can’t blame them. Kalau diingat-ingat, aku pun sering begitu. Tiga hal yang aku pertimbangkan sebelum menonton sebuah drama: hype, pemain, hype. Aku tidak punya artis Korea favorit. Aku sering tidak notice siapa sutradara atau penulis skrip drama yang aku anggap bagus. So, yes, I judge Korean drama by its title (seberapa familiar) and its main casts. Kapan-kapan aku akan menulis alasan kenapa aku suka menonton drama Korea which is what this blog mostly about.

Back to Saimdang Light’s Diary…
Drama ini bercerita tentang Seo Ji-yoon (Young-ae) yang ingin membuktikan keaslian sebuah lukisan. Dengan jurnal seorang pelukis ternama bernama Saimdang, dia menelusuri keberadaan lukisan yang asli. Dia pun dibantu Han Sang-hyun (Yang Se-jong), seorang aktivis kampus. Di sisi lain, keadaan finansial keluarga Ji-yoon kacau. Suaminya melarikan diri dan dia harus menyewa apartemen murahan bersama ibu mertua dan anaknya. Dia dikhianati profesor Min Jung-hak yang berjanji menjadikannya profesor tetap.


Dengan ide cerita yang mengusung sejarah Korea Selatan, sepertinya SBS ingin mengajak penonton bernostalgia bersama Young-ae. Reminding us about her glory days. Sebab, dalam Saimdang Light’s Diary, Young-ae berperan ganda. Yaitu, sebagai Ji-yoon di masa kini dan Saimdang di masa lalu. Begitu juga dengan Se-jong yang juga berperan sebagai kekasih Saimdang saat muda, Lee Gyeom. Peran kekasih ini lalu digantikan oleh Song Seung-heon saat dewasa. Sepertinya tahun ini SBS ingin menciptakan tren peran ganda setelah sukses dengan Legend of the Blue Sea dan Defendant yang saat ini masih tayang.

Lalu, apakah Young-ae memang sebagus itu? Well, I have to admit that it’s a little bit awkward. Aku terbiasa dengan Young-ae yang penurut dengan nada bicara yang tidak pernah tinggi. Dulu dia lemah lembut dan sabar. Tapi, sekarang dia berjuang dalam setting modern dimana teriak-teriak di jembatan adalah hal yang lumrah saat stres. Rasanya aneh saja dan Young-ae jadi terlihat tua. Dia pun bisa saja terlibat hubungan rumit dimana sunbae (senior) bisa jatuh cinta dengan juniornya. Kenapa begitu? Sebab, sampai episode 4, diantara dua pemain Lee Gyeom, hanya Se-jong yang ada di masa kini.

Sayangnya, aku merasa alur empat episode awal sangat lambat. Sepertinya karena penonton sedikit-sedikit diajak flashback. Jadi, cerita Saimdang di masa lalu ditampilkan saat Ji-yoon dan Sang-hyun membaca jurnal. Kadang scene akan beralih sebentar ke masa kini untuk memperlihatkan emosi Ji-yoon. Hal yang sebenarnya tidak perlu karena malah membuat penonton bingung. Apalagi, ada saat dimana Ji-yoon benar-benar kembali ke masa lalu sebagai Saimdang! Iya, seperti Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo. Tapi hanya sebentar sekali. Jadi, aku tidak tahu apakah nantinya Ji-yoon benar-benar kembali ke masa lalu. Padahal, saat diajak flashback cukup lama, kisah Saimdang dan Lee Gyeom muda menarik lho.


Sebenarnya, kalau sudah bosan begini, aku tidak akan excited menunggu setiap minggu. Tapi, karena aku masih penasaran, aku akan terus menonton Saimdang Light’s Diary. Aku pun masih penasaran seperti apa jadinya saat Seung-heon terlibat lebih banyak. Well, sepertinya, bukan aku saja yang merasa agak kecewa dengan one of most anticipated Korean Drama in 2017 ini. Menurut ABG Nielsen, rating drama garapan sutradara Yun Sang-ho ini terus menurun. Padahal, drama ini digadang-gadang sebagai pengganti Legend of the Blue Sea lho. Saat ini, Saimdang Light’s Diary berada pada rating 12,3 persen dari rating episode perdana 16,3 persen. Rating sementara dari aku hanya 2,5 out of 5 stars.


Drama Korea lain yang masih/sudah aku tonton
  • Defendant (pengganti Romantic Doctor): Recommended! Setelah gagal dalam Entertainers, Ji-sung kembali memperlihatkan kehebatannya ‘‘bermain’’ personality.
  • Introverted Boss: Berhenti menonton di episode ke-2. Akting Park Hye-soo sangat berlebihan dan terkesan annoying. Selain itu, tidak ada pemain yang istimewa.
  • Missing 9 (pengganti Weightlifting Fairy Kim Bok-joo): Lumayan bagus. I’m expecting more surprising plot twists. Baca first impression-nya di sini.
  • Voice: Sering dibanding-bandingkan dengan Defendant. Genrenya memang hampir sama, yaitu crime. Tapi, Voice mengusung kekuatan seorang operator emergency call center (Lee Ha-na) yang bisa mendengarkan suara-suara dengan frekuensi sangat kecil. Meski banyak adegan bertarung melawan kriminal, entah kenapa drama ini agak membosankan. Aku masih akan menontonnya karena tertarik mengetahui lebih jauh tentang divisi emergency call center.

[Week #6] Top 5 Places to Visit Before You Die

Sunday, February 5, 2017
Keliling dunia mungkin menjadi impian hampir semua manusia. Aku belum pernah tahu ada orang yang mau stuck di sini-sini saja sih, apalagi di Indonesia. Semua orang ingin melihat dunia luar, dunia tanpa FPI dan politik macam negeri ini. Yah, mungkin deep down inside kita semua menganggap the grass is greener on the other side. Belum lagi godaan dari TV yang semakin memperkuat keyakinan kita kalau kehidupan di luar negeri itu lebih keren. Oleh karena itu, inilah 5 tempat yang sangat ingin kudatangi (gara-gara menonton di TV):

#5 Geelong, Australia
Kenapa Geelong? Partly because I have relatives there. Ya hitung-hitung kan bisa menghemat biaya hotel dan (mungkin) beberapa kali makan. Hopefully aku tidak harus berhemat saat benar-benar ke sana. Setahuku prosesnya ribet kalau ada tamu yang menginap. By the way, Australia dikenal dengan pantai-pantainya yang indah. Tentu saat ke sana aku tidak akan stuck di Geelong.

#4 Matama, Selandia Baru
Sebelumnya, aku tidak pernah kepikiran ke Selandia Baru. Tapi, karena tahun lalu media tempatku bekerja mengadakan kompetisi yang berhadiah jalan-jalan ke sana, akhirnya aku jadi tahu sebagus apa Selandia Baru. Pada dasarnya, aku ingin ke sana hanya untuk ke Hobbiton, setting film The Hobbit dan Lord of the Rings, salah satu film favoritku. Selain itu, aku juga ingin sekali bisa berpakaian ala musim dingin ha ha. Receh sekali ya alasannya?

#3 Korea Selatan
Aku yakin banyak yang ingin ke Korea Selatan. Kita memang sering sekali diperlihatkan keindahan negeri ginseng itu lewat drama-dramanya sih. As you can see, I watch many Korean dramas. Jika bisa ke sana, aku akan banyak mengeksplor bangunan-bangunan bersejarahnya. Sebab, aku sangat suka menonton historical drama.

#2 New York, Amerika Serikat
Dibandingkan hiking dan camping, aku lebih suka city tour. Jalan-jalan di jam-jam sibuk layaknya warga lokal, a new yorker. Kota ini mendapat banyak julukan. City of love. City of dream. Ah, aku sangat ingin menyeberang zebra cross di sana sambil mendengarkan lagu Welcome to New York-nya Taylor Swift. Oke, this is probably too weird.

#1 Nashville, TN, Amerika Serikat
Aku suka musik country. Bukan musik country ala Helmi Yahya, tapi ala Rascal Flatts dan Lady Antebellum. Oleh karena itu, aku sangat ingin ke Nashville yang katanya pusat musik country. To be more specific, aku ingin datang ke Blue Bird Cafe. Katanya ini adalah tempat dimana musisi dan songwriter berkumpul. Di sana, mereka sekedar menikmati musik atau bahkan berkolaborasi secara spontan! Ah, membayangkan atmosfirnya saja sudah excited. They're playing for music, not for fame or even money. Selain itu, Blue Bird Cafe juga menjadi setting utama serial TV yang aku ikuti, Nashville. You can check it out.

**************************************

Aku minta maaf karena tidak bisa post weekly blog challenge minggu lalu due to personal issues. Kamu bisa memasukkan link-nya di linky ini juga. FYI, linky yang dipakai baru ya. Linky kali ini disertai thumbnail yang bisa kamu ambil dari blogmu atau upload gambar baru. It takes more time but it's worth it.

Review: Solomon's Perjury - Drama Korea

Wednesday, February 1, 2017
Aku pun tidak menyangka akan betak mengikuti Solomon's Perjury sampai akhir. Drama garapan sutradara Kang Il-soo ini tidak cukup disorot sehingga tidak pernah mencapai rating tiga persen. See? Angka itu bukan rating yang bisa mengundang penonton. Tapi, karena saat itu aku tidak sengaja melihat episode perdananya, aku sama sekali tidak berekspektasi. Masih ada beberapa wajah familiar. Misalnya, Kim Hyun-soo dan Cho Jae-hyun. Itu saja sudah cukup menjadi alasanku mencoba menonton Solomon's Perjury.

Cerita berawal dari kisah Lee So-woo (Seo Young-joo) yang ditemukan meninggal di sekolah. Sebagai yang menemukan jasad So-woo, Ko Seo-yeon (Hyun-soo) dan Bae Joon-young (Seo Ji-hoon) sangat shock. Apalagi, mereka satu kelas. Sebelumnya, So-woo meninggalkan sekolah karena dianggap memicu perkelahian dengan Choi Woo-hyuk (Back Cheol-min). Dengan pihak sekolah yang mencoba menutupi kasus dan polisi yang menganggap So-woo bunuh diri, sekelompok siswa Jeong Guk High School mengadakan sidang untuk mengungkap kebenaran.

Saat itu yang terbersit pertama di pikiranku adalah: "Wah, keren juga ini. Pembunuhan di sekolah. Sepertinya drama bintang-bintang baru." Beberapa teman pecinta drama Korea pun setuju kalau Solomon's Perjury berpotensi. Sayangnya, rating berkata lain. Setiap minggu drama ini seperti tidak pernah dilirik. Bahkan, rating beberapa episode hanya nol koma sekian. Miris ya. Drama ini memang tayang bersamaan dengan Goblin (tvN). Tapi, rasanya keterlaluan kalau rating-nya bahkan tidak mendekati angka tiga.

Perlu diakui, Solomon's Perjury berpotensi besar menjadi drama yang membosankan. Karakternya itu-itu saja. Tidak ada plot twist yang membuat emosi jungkir-balik. Setting-nya pun sebagian besar di aula sekolah. Selain itu, drama ini merupakan adaptasi novel berjudul sama karya Miyuki Miyabe yang sudah difilmkan. Alhasil, para fansnya mungkin terlalu membanding-bandingkan atau melihat Solomon's Perjury sebelah mata. Padahal, akting anak-anak itu sangat bagus. Buktinya, aku sama sekali tidak merasa bosan. Aku tonton menit demi menit sampai episode terakhir, episode 12. Aku pun semakin penasaran saat ada yang bilang, "Sebenarnya nggak mati kok itu. Cuma prank." Meski aku sedikit annoyed karena di-spoiler, aku jadi semakin tertarik menanti sampai akhir.

If you have so many spare times, tidak ada salahnya mengisi waktu sambil menonton drama yang ditayangkan di stasiun TV JTBC ini. Tapi, kalau kamu punya banyak drama Korea yang belum ditonton, I don't recommend this one.

Judul: Solomon's Perjury (솔로몬의 위증) | Sutradara: Kang Il-soo | Penulis: Kim Ho-soo | Pemain: Kim Hyun-soo, Jang Dong-yoon, Seo Ji-hoon, Seo Young-joo, Cho Jae-hyun | Tanggal tayang: 16 Desember 2016-28 Januari 2017 | Jumlah episode: 12 | Durasi: 60 menit | Stasiun TV: JTBC | Produksi: iWill Media | My Rating: ❤❤❤

Movie Review: La La Land

Wednesday, January 25, 2017

It's hard to read praises about movie you've been dying to watch. It's hard to listen to people's excitement about movie that you knew you're gonna like. But it's even harder to accept how easy it (the movie) turns you down.

Seperti itulah yang aku rasakan setelah menonton La La Land, film yang memborong Golden Globes terbanyak sepanjang sejarah. Sudah berkali-kali aku mengingatkan diriku sendiri untuk tidak berekspektasi terlalu tinggi. Tapi itu susah. Ini garapan Damien Chazelle, sutradara di balik Whiplash (2014). Ini film musikal yang dialognya dinyanyikan. Dan ini film bintang lima, yang dipuji kritikus film dimana-dimana. How could I not expect anything??

La La Land bercerita tentang Mia (Emma Stone) dan Sebastian (Ryan Gosling). Mia mengejar impiannya sebagai aktris, Sebastian ingin membuka kafe jazz dimana dia bisa bebas memainkan lagu jazz klasik kesukaannya. Impian itulah yang menyatukan mereka. Tapi, impian itu juga yang membuat mereka harus mencintai dalam duka.


Halah. Aku terlalu mendramatisir. Tidak setragis itu kok kisah cinta mereka. Tidak se-touching itu juga perjuangan mereka mencapai impian. Uh-oh. Kok aku seperti menulis hateful post ya? Tapi, itulah kenyataannya. La La Land menjadi film (yang terasa) panjang dengan plot seadanya. Such a wasteful talent. Gosling dan Stone tidak perlu diragukan lagi skill aktingnya. Their chemistry is perfect. Bahkan, aku yang sebelumnya heran kenapa Gosling dianggap the sexiest man alive, merasa he is indeed sexy. Di film ini saja lho, bukan yang lain he he.

Sayangnya, aku merasa kecewa berat saat Mia menyanyi sendiri di audisi terakhir. It should be the most important moment karena setelah kegagalan di sana-sini, dia akhirnya dipanggil audisi di produksi bergengsi. Tapi, kenapa nyanyiannya terasa hambar ya? Aku bahkan sudah lupa apa yang dia ceritakan. Padahal, aku termasuk orang yang gampang baper (bawa perasaan) saat menonton film musikal lho. Hal ini membuatku membanding-bandingkan Stone dengan Anne Hathaway dalam Les Miserables (2012). Ingat tidak adegan di dalam bathtub saat dia menyanyi I Dreamed A Dream? Wah, itu emosinya luar biasa. Mungkin ini menjadi salah satu faktor dibalik kritik yang menyalahkan Chezelle karena tidak mengusung penyanyi betulan. Well, Hathaway juga bukan penyanyi. Lalu, apakah ini salah Stone?


Film musikal memang tidak populer di Hollywood. Film musikal yang diangkat dari play saja sedikit, apalagi yang orisinal ala modern seperti La La Land ini. Oleh karena itu, masih banyak kontroversi tentang deskripsi film musikal. Kalau para pemain Les Miserables harus menyanyi secara langsung saat syuting. Jadi, kurang lebih sama dengan play. Sedangkan pemain La La Land sudah recording dan tinggal lipsing saat syuting. Tapi, mengkritik film produksi Black Label Media ini dari "standard" film musikal itu tidaklah adil.

Sejak awal, Chazelle memang ingin menghadirkan film musikal modern. Nah, di sinilah aku tidak paham. Modern dalam hal apa? La La Land memang bukan kisah klasik. La La Land memang mengusung lebih banyak warna pop (if you count it as modern). Dan ada yang menganggap cara menyanyi Stone dan Gosling juga termasuk dalam modern yang dimaksud. If it's true, then it's a mistake. It's Chazelle's atau orang-orang Hollywood yang mendanainya. Coba tonton Hairspray (2007). Setting-nya hampir sama, tapi Nikki Blonsky sebagai pemeran utama bisa bernyanyi dengan emosi. Bagiku, itulah esensi film musikal sebenarnya. Emosi.


Tapi, di balik kekecewaanku terhadap emosi yang dibangun dan plot cerita yang dangkal, aku harus mengakui kalau sinematografi La La Land patut diacungi jempol. Adegan flashback di bagian akhir, lebih tepatnya. Perubahan setting-nya sangat luar biasa indah. Aku rekomendasikan untuk menonton La La Land di bioskop atau home theater. Your ear buds won't do it justice. Ah, seandainya saja sejak awal seperti ini, pasti jumlah orang yang merasa bosan saat menontonnya berkurang. Aku sama sekali tidak bisa memprediksi kemenangan La La Land pada Oscar 2017. I hope it won't win that much karena sepertinya masih banyak nominee lain yang lebih berbobot. Misalnya, Hacksaw Ridge, Manchester by the Sea, dan Lion.

[Week #4] Top 5 Troye Sivan's Songs + GIVEAWAY

Sunday, January 22, 2017

I've been wanting to write about him for so long. Troye Sivan pertama kali kukenal bukan dari dunia musik, melainkan dari dunia seni ilustrasi. I know it sounds weird. Jadi, ada seorang ilustrator/digital artist bernama Hsiao-Ron Cheng yang berasal dari Taiper, Taiwan. I really love her works. Karyanya didominasi warna pastel dengan balutan hal-hal aneh nan cantik. Keanehan itu terkadang membuat karya Hsiao terlihat seram lho. Misalnya, ilustrasi suatu desa yang masyarakatnya tidak punya kepala. Atau monster yang mengejar kelinci-kelinci menggemaskan. Benar-benar a child's nightmare, tapi dikemas apik (bagiku sih). Nah, ternyata Hsiao juga membuat ilustrasi untuk cover art EP Troye Sivan yang berjudul Wild. That was how I know his name.
Dari 6 lagu dalam EP Wild, I like all of them. Tapi, yang paling hits sih lagu Wild, Fools, dan Talk Me Down yang ada di album pertamanya, Blue Neighborhood. Sebab, tiga lagu itu dikemas menjadi trilogi di akun YouTube-nya. Unik kan? Tidak heran kalau nama Troye langsung meroket. Not that big, but still mengingat dia adalah orang Australia. Here are top 5 Troye Sivan's songs yang harus kamu dengarkan before judging him or skipping this post:

#1 FOOLS
[Listen: Spotify | YouTube]

This is a really sad song but I'm sure it's related to everyone at some point. Biasanya sih lagu ini aku dengarkan saat sedang down, saat sedang ingin protes, tapi hanya bisa diam. "I am tired of this place. I hope people change. I need time to replace what I gave away." Seharusnya aku mendengarkan lagu-lagu mood booster ya? Well, lagu ini tidak se-miserable itu kok. "And my hopes, they are high, I must keep them small. Though I try to resist, I still want it all." Bait pertama saja sih yang relatable untuk semua situasi. Lagu ini pada dasarnya bercerita tentang seseorang yang mencintai orang yang salah. "Only fools fall for you."

#2 EASE

I'm sorry if I drag you deeper. Masih dengan lagu sedih, Ease menggambarkan mood yang down juga. Bedanya, lagu ini lebih universal, not only about love. "But all this driving is driving me crazy. And all this moving is proving to get the best of me. And I've been trying to hide it. But lately, every time I think I'm better, pickin' my head up, getting nowhere." Tapi, yang aku suka dari lagu-lagu Troye adalah it's sad without being sad. You know, lagu-lagu sedih ala Adele dan Sam Smith pasti dibalut dengan tempo slow dan mengajak pendengar mendalami kata demi kata. Sedangkan Troye membalut kisahnya dengan soft-touch synths dan gebukan drum simpel ala musik Lorde.

#3 LOST BOY
[Listen: Spotify | YouTube]

"Yeah, the truth is that I'm sorry. Though I told you not to worry.
I'm just some dumb kid trying to kid myself. That I got my shit together."

Yeah, I know. This is (still) not a happy song. Lagu ini lebih ke letting (something) go, lebih positif dibandingkan lagu-lagu sebelumnya. Selain itu, mood yang dibangun sejak awal lagu memang lebih menyenangkan. You can even move your body a little. Beat lagu ini cocok untuk playlist bersantai di pantai.

#4 for him.

"You don't have to say 'I love you' to say I love you." True. Bagiku sih ini lagu cinta yang sangat manis tanpa terkesan lebay. Hal lain yang membuatku suka Troye Sivan adalah liriknya yang simpel tapi selalu pas dengan yang dirasakan pendengar. Bagiku, beautiful lyric tidak harus puitis atau menggunakan istilah-istilah atau banyak idiom. Cukup relatable atau istilah zaman sekarang, quotable. Aku suka kok mendengar lirik-lirik seperti itu. Lumayan, sekalian belajar kosakata baru. Tapi, terkadang isi hati ini hanya ingin dikeluarkan tanpa perlu pikir panjang.

#5 YOUTH
[Listen: Spotify | YouTube]

Youth adalah salah satu hit single Troye dari album Blue Neighbourhood. Lagu ini jauh lebih semangat daripada empat lagu yang aku sebutkan sebelumnya. Lagu yang pas buat buat dancing on the floor sambil menonton Troye tampil di atas panggung. Dari judulnya saja sudah terlihat, Youth, masa muda.

****************

Well, it was so hard for me to choose only five songs. Sebenarnya, masih banyak lagu-lagu Troye yang aku suka. Tapi, lima lagu di ataslah yang paling bisa mewakili jenis musik dan cerita yang dia suguhkan. If you like him, you should check out Happy Little Pill, salah satu lagu dalam EP TRXYE (2014). Lagu itu semacam anthem song saat aku sedih dengan nuansa yang sangat dark and deep and probably desperate dengan beat yang tidak slow. Tapi, jangan terlalu mendalami lagu itu ya. Tidak ada unsur positifnya sama sekali.

!!GIVEAWAY!!

January is almost over. Tapi, rasanya belum terlambat untuk memberi hadiah notebook cantik dari Buddy Books. This is not a sponsored giveaway. Secara personal aku memang suka membeli custom notebook di sana. Apalagi, aku termasuk orang yang cerewet dalam hal memilih notebook. Maklum, harus praktis dan meet all my needs selama setahun. Oke, langsung saja. Inilah syarat dan ketentuan mengikuti Giveaway Part 1 Weekly Blog Challenge:

  1. Punya alamat pengiriman di Indonesia. I don't mind you're currently overseas.
  2. Follow blog ini dengan email atau Google+ (on the bottom of this blog). --1 poin (each)
  3. Follow me on Instagram @accordingtoratri or/and Twitter @smilingnath. --1 poin (each)
  4. Buat tulisan sesuai tema minggu ini: 5 songs you like right now. Boleh ditulis di blog, notes Facebook, kompasiana, atau platform sejenis. Please link my blog once. Lalu, jangan lupa untuk memasukkan link-nya di bawah ini. Share your post on any social media you have! --3 poin
  5. Penilaian tidak bedasarkan tulisan. Aku akan memilih dua pemenang secara random. Pemenang boleh memilih cover yang diinginkan.
  6. Giveaway ditutup pada 4 Februari 2016. Good luck!


-----UPDATE 1 MARET 2017-----

Terima kasih sudah berpartisipasi dalam giveaway pertamaku :) I'm very very sorry for the late announcement due to my personal issue. Berikut adalah dua orang yang berhak memilih notebook dari Buddy Books:
  1. @hersyuuu (Twitter submission)
  2. Extraordinary Diary (blog post submission. read here)