Dosen: ‘‘Siapa yang pernah beli barang KW?’’
*seorang perempuan mengangkat tangannya.*
Dosen: ‘‘Kenapa mau beli, Mbak?’’
Si Mbak: ‘‘Saya ngincar logonya, Mam.’’
I burst out laughing (inside) and respectfully pity her at the same time. Ya itulah realitasnya. Aku yakin tidak hanya dia yang seperti itu, khususnya di dalam kelas. The others were just being cowards. Mana ada sih yang mau mengaku kalau barang branded yang dia bawa itu KW atau palsu? It hurts their pride. Sebab, unfortunately, people have set this in mind: barang branded menentukan ‘‘kelas’’ dalam society.

Sebelum membahas lebih jauh, sebenarnya apa itu barang branded? (Note that this is purely an opinion without any scientific resource) Barang branded itu simply barang yang dikeluarkan sebuah brand. Tidak peduli apakah itu brand sekelas Prada atau brand baru seperti Olin’s Closet. All of them are branded stuffs. Tapi, entah kenapa barang branded ditempelkan pada barang-barang mahal saja. ‘‘Barang branded ini,” sambil menunjuk-nunjuk baju Zara yang dipakai. ‘‘Aku juga branded. Beli selusin cuma setengah harga.’’ Memang tidak salah sih. Meski murah, bajunya memang keluaran sebuah brand kok.

It used to be not in my concern. Perdebatan tentang perlunya barang branded itu selalu ada. Tapi, dulu aku cuma kenal barang branded di Matahari Department Store (it was the biggest apparel store in my hometown). Pindah ke Surabaya, ternyata barang branded pun ada kelasnya. Anak orang kaya belanja baju di Zara, anak hits beli baju di Pull & Bear atau Stradivarius. Anak yang biasa aja belanja baju di Matahari. Kurang lebih seperti itu hasil pengamatanku. How do I know it? Because I was one of them. ‘‘Them’’ who believe that society divides people based on the stuffs they have. Buktinya, semakin banyak anak muda pakai iPhone instead of Samsung meski tahu spesifikasinya tidak lebih bagus. ‘‘Nggak masalah iPhone 4, yang penting iPhone.’’


‘‘Yek, sepatune Zalora.’’ Suatu hari seorang cowok berkata dengan nada merendahkan tentang sepatu seorang model muda. Miris ya? Padahal, si model bersekolah di sekolah mahal lho. Cantik pula. Tapi dia direndahkan gara-gara sepatu! Aku pun pernah dibanding-bandingkan karena sepatuku bukan Nike, Adidas, Converse, atau New Balance. What a wonderful world! Mungkin gara-gara perlakukan seperti itu, pendirianku runtuh. But like any other young adult, aku bisa tobat. Tobat bukan berarti anti barang branded ya. It’s more like kembali ke jalan dimana kenyamanan adalah hal utama.

I always keep this in mind:
Do I need this? Or do I want this?

Kalau cuma pengin, baru aku membeli barang branded itu. Sebab, the heart wants what it wants, dude. Daripada nanti galau gara-gara tidak jadi beli atau barang itu habis. I’m avoiding things I’d regret later. Nah, kalau butuh, berarti aku bisa mempertimbangkan untuk beli barang sejenis dari brand lain. Biasanya sih buat masalah baju, aku memilih beli di Zalora. Situs e-commerce ini juga semakin besar, banyak brand-brand besar di sana (in case you’re a branded stuff oriented person).

Buat kenyamanan, beli barang online itu cocok-cocokan. This decision indeed needs trials and errors. Misalnya, aku butuh slip-on shoes. Waktu itu yang lagi hits sepatu slip-on Wakai dengan harga rata-rata > Rp 400 ribu. Eh, berhubung lagi Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional), aku menemukan slip-on shoes Zalora seharga Rp 150 ribu! Surprisingly, banyak yang tanya sepatu itu beli dimana dan mengira itu produk Wakai. Dari situ aku sadar kalau untuk tampil stylish tidak perlu barang-barang the-so-called-branded. Asalkan mix and match-nya pas, they won’t know (kecuali memang kepo).

Sayangnya, slip-on shoes itu tidak tahan banting. Aku yang sehari-hari naik motor dan selalu terjebak macet ternyata butuh sepatu yang super awet. Dari situ aku memutuskan tidak membeli sepatu keluaran Zalora lagi. It doesn’t meet my needs. Setelah pakai Wakai, wah, ternyata awet cukup lama. Kehujanan, kepanasan, Wakai terbukti cocok buat dipakai sehari-hari.

Foto kiriman Wakai ライフスタイル (@wakaishoes) pada

Iya, aku tidak bisa memungkiri kalau mayoritas barang- mahal itu berkualitas. Tapi, if you buy it for pride, menurutku itu salah. Salah banget. Trust me, I’ve been there. Mungkin sekarang masih bisa ‘‘bergaya’’ pakai uang orang tua. Nanti kalau sudah punya uang sendiri, pasti mikir lagi. Buat yang memang cocoknya sama hal-hal mahal, I don’t blame you. Mungkin memang garis hidupnya seperti itu. Ada kok teman-temanku yang sangat sensitif. Bahkan, dia tidak bisa naik bemo, harus minimal taksi, if she doesn’t want to puke. Itu karena butuh, bukan sok tidak mau naik bemo. Think smart, okay?