Popular Posts

Movie Review: Nerve

Thursday, October 27, 2016


Sejak awal, saya memang berencana menonton film ini. Bagus atau tidak, booming atau tidak, saya akan tetap menonton. Sebab, sudah lama saya tidak menonton film Emma Roberts sejak Nancy Drew (2007). Saya penasaran bagaimana aktingnya sekarang. Selain itu, saya sedikit naksir Dave Franco nih gara-gara akting minornya yang agak misterius dalam Now You See Me (2013). Meski, as predicted, Nerve tidak banyak digembar-gemborkan, it's surprisingly good. Tontonan ringan yang ternyata pelajarannya penting.

Nerve dibuka oleh Vee (Emma Roberts) yang dikenalkan pada permainan Nerve oleh sahabatnya, Sydney (Emily Meade). Pada dasarnya, Nerve seperti permainan truth or dare. Tapi, kategori dalam Nerve adalah watcher dan player. Yang memilih player akan diberi tantangan oleh watchers. Jika tantangan berhasil dilakukan, players mendapat reward berupa uang. Iya, iming-iming uanglah yang membuat Vee tertarik. Selain itu, dia telah disepelekan oleh sahabatnya yang lebih gaul, pemberani, dan seksi. Tipikal teenage life.



Vee bertemu Ian (Dave Franco) pada tantangan pertamanya. It turns out Vee juga salah satu target tantangan Ian. Sejak itulah watchers sering "memasangkan" mereka. Mulai dari bersepeda ke New York, mencoba pakaian mahal, sampai tantangan dimana mereka harus merenggut nyawa satu sama lain. Iya, kehidupan mereka dikontrol permainan. Nerve ingin menguak akibat jika orang-orang terlalu percaya pada teknologi. Internet remembers, begitulah saya menyebutnya. Sesuatu yang di-post online tidak akan bisa hilang secara permanen (mungkin hanya hackers atau ahli IT yang bisa).

Di saat tantangan yang diberikan semakin tidak masuk akal, Vee ingin berhenti. Tapi, konsekuensinya adalah dia kehilangan semua uang yang dia dapat. Termasuk uang tabungannya karena Nerve telah diberi akses akun banknya. Di sisi lain, Ian butuh bantuan Vee untuk mengakhiri permainan. Sebab, dia telah menjadi prisoner, kategori ke-3 dalam Nerve, yang tidak diketahui orang-orang. Apakah Vee bisa menyelamatkan Ian? Atau dia justru menjadi prisoner juga?


Tidak banyak yang bisa dikomentari dari film garapan sutradara Henry Joost dan Ariel Schulman ini. It's just good. Mungkin posternya ya yang agak mengganggu karena terlihat "murah." Sedangkan dari segi pemain, akting Emma Roberts bagus kok. Setahu saya film ini menjadi pembuktian Emma kalau dia juga bisa berakting rebel, tidak menjadi karakter innocent seperti biasanya. Sayangnya, saya sedikit "ilfil" dengan Dave. Suaranya kan memang tidak se-macho penampilannya. Dan dalam film ini, he's talking too much.

Well, Nerve bukan film yang akan disukai para penikmat yang suka berekspektasi tinggi. Tapi, film yang diangkat dari novel berjudul sama karangan Jeanne Ryan ini cocok ditonton untuk mengisi waktu luang. Baik sendiri, maupun dengan teman-teman. Sebab, Henry dan Ariel bisa mengemas tantangan-tantangannya dengan seru. Pasti ada perasaan "ah, seandainya game Nerve benar ada." Be careful what you wish for.

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca artikelku. Semoga bermanfaat ya :)
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar di bawah ini.
If you own a blog, don't forget to link it. I will visit you later. x

Ratri Anugrah © . QUINN CREATIVES .