Weekly Blog Challenge

Sunday, December 11, 2016

Menulis itu sebenarnya tidak sulit. Ide bisa datang dari mana saja. Social media gives you million things to write. Sebagai penulis, I don't think finding idea is the main issue. For me personally, hal yang paling sulit adalah mengumpulkan niat untuk menyelesaikan satu tulisan. Selalu ada saja excuses untuk menunda tulisan yang kebanyakan berakhir hanya sebagai draft.

Oleh karena itu, aku berencana membuat weekly blog challenge. This challenge is simply for pushing reminding me to write something at least once a week. Tapi, nggak seru rasanya kalau melakukan challenge sendirian. So, this me proposing you, my fellow blogger/writer friends, to join me on board. Kira-kira seperti ini cara mainnya:

  • - Challenge berlangsung pada 1 Januari-25 Juni 2017. Hopefully it will be extended.
  • - Tulisan (sebaiknya) dipos serentak tiap hari Minggu dan harus menyertakan linky list di setiap akhir tulisan. Linky list dibuka sampai H+2. Dipos lebih dari itu is still okay. Tapi, link tulisan tidak akan muncul di blog blogger lain.
  • - Blogger boleh mengajukan satu topik challenge. Nantinya, blogger lain harus mem-follow pemilik topik tersebut. Yap, you'll gain more friends! Dengan begitu, aku berharap topiknya akan lebih bervariasi :) Isn't it fun to learn something new?

What do you think? Please don't hesitate to give more comments about this challenge.

First Impression: Goblin (tvN) - Drama Korea

Tuesday, December 6, 2016

Oke. Sebenarnya, drama Korea ini bukan tentang bromance. But I can't help to adore those two, Lee Dong-wook dan Gong Yoo. Karakter yang mereka mainkan membuatku sangat menikmati drama Korea Goblin atau yang juga disebut Guardian: The Lonely and Great God ini. Mirip kisah cinta anak sekolah, sampai episode ke-2, mereka masih belum akur. Tapi, somehow aku yakin pada akhirnya mereka akan saling membantu.

Baca: 5 Soundtrack Drama Korea Goblin Terbaik

Goblin bercerita tentang seorang goblin bernama Kim Shin (Gong Yoo). Sebelum dikutuk sebagai goblin, dia adalah seorang jenderal yang dikhianati rajanya sendiri. Dicap sebagai pengkhianat, demi menyelamatkan keluarganya, Kim Shin bunuh diri. Karena sudah membunuh banyak nyawa, dia dikutuk untuk hidup selamanya dan melihat orang-orang terdekatnya meninggal. Oleh karena itu, dia harus menemukan Goblin's Bride. Penonton pun akan diajak kembali ke masa lalu saat Kim Shin masih seorang manusia biasa.

Belanja Online Banjir Diskon Saat Black Friday

Thursday, November 24, 2016

Akhir-akhir ini, tulisan Black Friday terlihat dimana-mana. Black Friday adalah sebutan hari Jumat setelah Thanksgiving, tepatnya 25 November 2016. Hari ini dikenal sebagai hari shopping karena toko-toko mengobral barangnya dalam rangka perayaan Hari Natal. Katanya, diskon Black Friday lebih besar daripada diskon last minute natal lho. Barang yang banyak diburu adalah elektronik dan mainan. Tapi, furniture dan pakaian juga tidak luput dari diskon kok.

Dulu, saat Black Friday, orang-orang di Amerika sampai rela mengantre sejak pagi di depan toko. Pemilik toko pun membuka tokonya lebih awal agar bisa menampung banyak pelanggan. Kenapa disebut "black"? Sebab, saat seperti inilah toko-toko bisa mengubah tinta merah (kerugian) menjadi tinta hitam (keuntungan). Sekarang, kebiasaan itu berubah. Orang lebih suka belanja online agar bisa mengetahui stok barang incarannya. Serunya lagi, di Indonesia pun ada beberapa toko online yang ikut mengadakan Black Friday. Yuk, cari tahu diskon apa saja yang ditawarkan untuk Black Friday besok!

5 Lagu Mood Booster Ampuh Saat Kamu Merasa Dunia Tidak Bisa Memahamimu


Baru-baru saja aku mengalami sedikit mental breakdown. Beberapa kali aku berobat ke rumah sakit, baik itu masalah kulit atau THT, ujung-ujungnya dokter selalu bilang, "Gara-gara stres ini, Mbak." It left me speechless karena sepengetahuanku, aku sama sekali tidak merasa stres. Aku bahkan tidak pernah memikirkan sesuatu sampai mogok makan atau membuat mood-ku berantakan. Tapi, harus aku akui, otakku tidak pernah berhenti berpikir. Aktif, kalau aku boleh bilang.

People don't see this coming. Aku ini dikenal galak, blak-blakan, dan suka "menggampangkan". Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan stres pada diriku. Setiap ada anggapan salah tentangku, I don't even bother to justify myself. Aku punya pemikiran seperti ini: Mereka tidak mengenalku, jadi wajar kalau mereka salah paham. Kalaupun dijelaskan, percuma karena pemikiran kami tidak sejalan. Jika dipaksakan, ceritaku mungkin cuma dijadikan bahan baru pembicaraan. Aku kira aku benar-benar tidak peduli. I didn't see this coming.

First Impression: The Legend of the Blue Sea vs Weightlifting Fairy Kim Bok-Joo - Drama Korea

Friday, November 18, 2016

Minggu ini benar-benar luar biasa. The Legend of the Blue Sea (SBS), Weightlifting Fairy Kim Bok-Joo (MBC), dan Oh My Geum Bi (KBS) tayang perdana bersamaan, bahkan pada waktu yang sama! Ketiganya pun tayang di stasiun-stasiun TV ternama. Waduh. Jelas saja perebutan rating jadi terasa panas. Tapi, berhubung Oh My Geum Bi wasn't on the buzz, kali ini saya membuat First Impression The Legend of the Blue Sea () dan Weightlifting Fairy Kim Bok-Joo saja ya. Let's start!

*******************************

The Legend of the Blue Sea
Rating sementara: 

Sudah jelas kan kenapa drama garapan sutradara Jin Hyeok ini sangat dinanti? Yap, apalagi kalau bukan karena pemain utamanya, Lee Min-ho dan Gianna Jun. Bisa dibilang Min-ho ini seperti Rain atau Jerry Yan bagi generasi 90-an. Drama yang dimainkannya pasti setia ditonton oleh ribuan gadis muda. Apalagi, sejak dikenal melalui Boys Before Flowers (2009), dia selalu mendapatkan karakter idaman. Muda, kaya, tampan. Sedangkan Jun dikenal (especially for me) berkat akting lucunya dalam My Love from the Stars (2013). Drama ini merupakan comeback mereka berdua setelah tiga tahun tidak bermain dalam drama korea.

Barang Branded (Unfortunately) Menjadi Penentu Kelas di Masyarakat

Wednesday, November 9, 2016
 
Dosen: ‘‘Siapa yang pernah beli barang KW?’’
*seorang perempuan mengangkat tangannya.*
Dosen: ‘‘Kenapa mau beli, Mbak?’’
Si Mbak: ‘‘Saya ngincar logonya, Mam.’’
I burst out laughing (inside) and respectfully pity her at the same time. Ya itulah realitasnya. Aku yakin tidak hanya dia yang seperti itu, khususnya di dalam kelas. The others were just being cowards. Mana ada sih yang mau mengaku kalau barang branded yang dia bawa itu KW atau palsu? It hurts their pride. Sebab, unfortunately, people have set this in mind: barang branded menentukan ‘‘kelas’’ dalam society.

Sebelum membahas lebih jauh, sebenarnya apa itu barang branded? (Note that this is purely an opinion without any scientific resource) Barang branded itu simply barang yang dikeluarkan sebuah brand. Tidak peduli apakah itu brand sekelas Prada atau brand baru seperti Olin’s Closet. All of them are branded stuffs. Tapi, entah kenapa barang branded ditempelkan pada barang-barang mahal saja. ‘‘Barang branded ini,” sambil menunjuk-nunjuk baju Zara yang dipakai. ‘‘Aku juga branded. Beli selusin cuma setengah harga.’’ Memang tidak salah sih. Meski murah, bajunya memang keluaran sebuah brand kok.

It used to be not in my concern. Perdebatan tentang perlunya barang branded itu selalu ada. Tapi, dulu aku cuma kenal barang branded di Matahari Department Store (it was the biggest apparel store in my hometown). Pindah ke Surabaya, ternyata barang branded pun ada kelasnya. Anak orang kaya belanja baju di Zara, anak hits beli baju di Pull & Bear atau Stradivarius. Anak yang biasa aja belanja baju di Matahari. Kurang lebih seperti itu hasil pengamatanku. How do I know it? Because I was one of them. ‘‘Them’’ who believe that society divides people based on the stuffs they have. Buktinya, semakin banyak anak muda pakai iPhone instead of Samsung meski tahu spesifikasinya tidak lebih bagus. ‘‘Nggak masalah iPhone 4, yang penting iPhone.’’

Movie Review: Nerve

Thursday, October 27, 2016

Sejak awal, saya memang berencana menonton film ini. Bagus atau tidak, booming atau tidak, saya akan tetap menonton. Sebab, sudah lama saya tidak menonton film Emma Roberts sejak Nancy Drew (2007). Saya penasaran bagaimana aktingnya sekarang. Selain itu, saya sedikit naksir Dave Franco nih gara-gara akting minornya yang agak misterius dalam Now You See Me (2013). Meski, as predicted, Nerve tidak banyak digembar-gemborkan, it's surprisingly good. Tontonan ringan yang ternyata pelajarannya penting.

Nerve dibuka oleh Vee (Emma Roberts) yang dikenalkan pada permainan Nerve oleh sahabatnya, Sydney (Emily Meade). Pada dasarnya, Nerve seperti permainan truth or dare. Tapi, kategori dalam Nerve adalah watcher dan player. Yang memilih player akan diberi tantangan oleh watchers. Jika tantangan berhasil dilakukan, players mendapat reward berupa uang. Iya, iming-iming uanglah yang membuat Vee tertarik. Selain itu, dia telah disepelekan oleh sahabatnya yang lebih gaul, pemberani, dan seksi. Tipikal teenage life.

Dear KPAI, Biarkan Awkarin Berkreasi

Saturday, October 1, 2016

Awkarin lagi, Awkarin lagi.

Remaja yang satu ini memang terus menuai sensasi. Setelah dicaci karena menangisi sang mantan kekasih, Gaga Muhammad, kali ini dia malah diburu KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia).

Sedikit tentang Awkarin alias Karin Novilda. Sebenarnya, dia hanyalah remaja biasa di Jakarta. Dia kebetulan pintar memanfaatkan social media sehingga bisa kaya raya. "Memanfaatkan" di sini tidak ada batasannya ya. Yang jelas, generasi muda menjadikannya idola, sedangkan generasi tua menganggapnya berbahaya.

Perbedaan. Hal itulah yang akan terus membayangi langkah Karin ke depan. Tidak peduli seberapa banyak dia mendapat dukungan, makian akan terus berdatangan. Sungguh menyedihkan. Padahal, dia hanyalah gadis berusia belasan. Kenapa kita memberi makian, bukannya arahan?

Movie Review: XOXO - A Netflix Original Movie

Monday, September 19, 2016

Rooster mengklaim XOXO sebagai tandingan We Are Your Friends (2015) [Baca di sini]. Sebagai penikmat EDM dan fans Zac Efron, tentu aku tidak bisa melewatkannya. Mengetahui film garapan sutradara Christopher Louie ini adalah film orisinal Netflix (alias FTV kalau di Indonesia), aku tidak berharap banyak. Tapi, aku tetap berekspektasi tinggi terhadap musik yang disuguhkan. Apalagi, aku tidak pernah mendengar tentang para pemainnya. Waktu itu, pikir saya, mungkin mereka lebih ekspert. Toh bisa dibilang ini film indie. Seharusnya mereka tidak punya keharusan untuk membawa nama-nama besar.

Film berdurasi 92 menit ini dibuka dengan adegan Ethan Shaw (Graham Phillips) berkutat dengan DJ kit-nya. Dia hanyalah seorang bocah dari keluarga biasa yang kebetulan mencintai dunia musik. Dia punya seorang manager bernama Tariq (Brett DelBuono). Manager yang juga teman dekat Ethan itu berhasil memasukkan nama Ethan Shaw dalam line up festival musik terbesar. Dari situlah penonton akan diajak memasuki dunia festival musik ala Choachella yang sebenarnya.

TV Series Review: Doctors - Drama Korea

Wednesday, September 14, 2016

Wow. Sampai sekarang aku masih tidak menyangka bisa menghabiskan seluruh episode Doctors. Sebab, seperti yang sudah aku tulis pada First Impression: Uncontrollably Fond vs Doctors, aku tidak suka akting Park Shin-hye. Tapi, entah kenapa, aku tidak pernah sekalipun mempercepat episode Doctors yang aku tonton (seperti yang biasa aku lakukan saat ada episode yang sangat membosankan). Setelah dipikir cukup lama sehingga tulisan ini baru di-post, inilah alasan Doctors menjadi drama Korea yang wajib ditonton pada 2016.

Current Obsession: A Great Big World

Monday, September 12, 2016
Picture by artsfon
This is a bit surprising for me. Sebab, jujur saja, aku baru mengenal A Great Big World saat single Say Something ramai diputar. Selain melodinya yang indah dan menyentuh, perlu diakui kalau lagu itu sukses berkat Christina Aguilera yang turut menyanyikannya. Sejak lagu itu mulai dilupakan, aku pun turut lupa dengan duo asal New York ini. Tapi, entah kenapa, baru-baru saja aku iseng mencari nama mereka di Spotify. Surprise surprise, album When the Morning Comes tidak bisa berhenti aku dengarkan.


Duo yang digawangi Chad King dan Ian Axel ini mengusung musik pop yang kental dengan musik akustik. Suara dentingan piano dan petikan gitar sering terdengar dan hampir mendominasi semua lagu. Tidak heran, Ian memang jago bermain piano. Hentakan drumnya pun cukup simpel. Bagiku, musik seperti ini semacam a sweet escape di tengah EDM dan R&B yang merajalela.

Selain genre, bagiku, When the Morning Comes menonjol dalam hal lirik. Sebab, kalau diperhatikan, semuanya berisi pesan-pesan positif. Meski beberapa lagu mengusung tempo yang cukup lambat dan ide ceritanya sedih, tidak ada perasaan galau yang ditimbulkan. Jadi, jika Anda adalah "generasi galau," tidak perlu memaksakan diri mendengarkan album ini. So, here are my top 5 favorite songs:
Sunday, September 4, 2016
image by gottastudyffs || edited by me

Halo! Senang sekali akhirnya bisa menulis sesuatu di blog. Sedih sekali melihat peringkat blog setiap hari semakin turun :( Tapi, bagaimana lagi. Agustus ternyata menjadi bulan paling sibuk sepanjang 2016. Aku pindah divisi dari on print ke off print. Tentu saja aku harus beradaptasi dengan job desc dan rutinitas baru. Selain itu, ayah mendadak mengajak berlibur ke Bali. Otomatis akulah yang harus menyiapkan segala keperluan sebelum perjalanan. Masih dadakan, aku tiba-tiba dikirim dinas ke Semarang dan Solo selama sembilan hari menjelang hari pertama kuliah *sigh*

Tapi, tentu semua kesibukan itu akan menjadi materi untuk blogku sebulan ke depan. Just keep waiting ya! Aku bakal share banyak tentang dunia penulisan yang aku geluti. Aku juga bakal share tips untuk kalian yang pengin bekerja sambil kuliah. I know it too well. Selain itu, banyak drama Korea yang harus aku tulis review-nya segera dan of course, first impression!! See you soon.

Love,
Ratri Anugrah

Movie Review: Sing Street

Thursday, August 4, 2016
Picture by singstreetmovie

Sayang sekali film sebagus ini nggak ditayangkan di bioskop Indonesia. Padahal, Sing Street (2016) banyak mendapat pujian loh. Film garapan sutradara John Carney ini diputar pertama kali di Sundance Film Festival pada Januari 2016. Sing Street baru dirilis di Amerika pada April dan di Inggris pada Mei. Pada 26 Juli, akhirnya Sing Street bisa dinikmati dalam bentuk DVD. Sepertinya kurun waktu enam bulan itu cukup singkat ya untuk merilis DVD suatu film (kalau dibandingkan dengan film blockbuster)? Well, tetap saja, bagiku, penantianku untuk menonton film ini sangatlah lama.

Genre musikal adalah genre film yang paling aku suka. Setelah musikal, baru aku memilih action. Tapi, karena film musikal sangat jarang, aku lebih sering menonton film action. Meski begitu, aku yakin masih banyak sekali film-film musikal yang belum aku tonton. Jadi, kalau kamu cukup expert di bidang ini, spare me a little ya. Mungkin review-ku bakal terkesan dangkal. But I'll do my best.

Booking Hotel Paling Murah

Sunday, July 31, 2016
Picture by touristmeetstraveler

I'm not a traveler. Dulu, mau menginap di hotel mana, terserah. Seringnya sih baru mencari hotel waktu sudah di tempat tujuan. Alhasil, waktu ke Pacitan, kami kehabisan hotel. Susah banget mencari hotel di tengah kota meskipun saat itu bukan musim liburan. Meski akhirnya bisa menemukan hotel, fasilitasnya nggak sebagus yang diharapkan. Kalau saja waktu itu tahu tentang booking hotel secara online, pasti beda lagi ceritanya.

Bekerja sebagai reporter membuatku harus sering melakukan reservasi. Well, nggak sering-sering amat sih. Diberangkatkan ke Bali, mencari hotel sendiri. Diberangkatkan ke Jakarta, mencari hotel sendiri. Nah, dari situlah aku mulai kenal dan betah memakai jasa online booking hotel. Yaitu, Booking, Traveloka, dan Agoda. Meski sitem pencarian dan reservasinya sama-sama gampang, aku lebih merekomendasikan Agoda.

First Impression: W Two Worlds - Drama Korea

Friday, July 29, 2016

Another k-drama! To be honest, W (더블유) mungkin bakal menjadi drama Korea paling menarik yang pernah aku tonton. Awalnya, aku sama sekali nggak punya rencana untuk menonton drama ini. Aku familiar dengan aktor utamanya, yaitu Lee Jong-suk. Tapi, he doesn't have a strong impression. Jadi, aku nggak punya alasan untuk mencoba menonton W. Sayangnya, banyak yang mulai membanding-bandingkan W dan Uncontrollably Fond. Aku pun penasaran dan baru menontonnya tadi malam. Nah, meski seharusnya hari ini sudah ada episode ke-4, aku review sampai episode ke-3 aja ya :) I have to go work early dan sejak tadi malam aku pengin banget menulis tentang ini. So check out Dramacool kalau kalian pengin nonton episode terbarunya.


W diawali dengan kisah Kang Chul (Jong-suk), seorang atlet tembak muda. Masih berusia 17 tahun, dia sudah memenangkan olimpiade dan terus mencetak prestasi setelah itu. Kang Chul tinggal dengan orang tuanya, satu adik cewek, dan satu adik cowok. Suatu hari, mereka dibunuh dengan pistol yang digunakan Kang Chul saat olimpiade. Alhasil, Kang Chul pun menjadi tersangka utama. Karena kurang bukti, dia pun dibebaskan (setelah menjalani persidangan yang alot). Menjalani hidup dengan masih dianggap sebagai pembunuh oleh masyarakat membuat Kang Chul depresi. Dia pun berniat terjun ke Sungai Han. Tapi, on the last minute, dia berubah pikiran. Dia bertekad mencari siapa yang membunuh keluarganya. But things got complicated...

REMINDER: Cokelat Berbahaya Bagi Anjing dan Kucing !!

Wednesday, July 27, 2016
Bahaya Cokelat Bagi Anjing dan Kucing
Foto: NY Post

Selamat ulang tahun, Prince George! Pada 22 Juli lalu, putra pertama Prince William, Duke of Cambridge, dan Catherine, Duchess of Cambridge ini berulang tahun yang ke-3. Sayangnya, foto yang dirilis untuk merayakan ulang tahunnya justru menuai kontroversi. Hayo, apa yang salah dari foto si pangeran imut itu? Yap, the ice cream he's handing to the dog!! Kalau yang nggak concern (banget) sama binatang, mungkin menganggapnya lucu-lucu aja. Justru, Prince George of Cambridge itu dipuji karena mau berbagi makanan kesukannya dengan sang anjing. Tapi, aktivis pecinta hewan nggak berpikir seperti itu.

It is lovely that Prince George is trying to help keep his family dog, Lupo, cool in these high temperatures. We would advise people to be cautious when giving their dogs food meant for human consumption as some items, like chocolate, can be highly toxic to dogs." - RSPCA

Cokelat memang dikenal berbahaya bagi binatang, khususnya anjing dan kucing. Kok bisa sih?

Must Have Items in Your Capsule Wardrobe

Sunday, July 24, 2016
Must Have Items in Your Capsule Wardrobe

Pernah nggak sih merasa bingung mau pakai baju apa meskipun masih banyak baju di dalam lemari? Iya, hal itu sering aku rasakan. Sampai-sampai Ama selalu mengomel tiap mendengarku bilang, "Duh, pakai baju apa lagi ya?" Nah, untuk mengatasi hal seperti itu, orang-orang mulai beralih ke capsule wardrobe.

Apa itu capsule wardrobe?

Istilah ini diciptakan Susie Faux, pemilik butik Wardrobe di London, pada 1970. Capsule wardrobe dia tujukan untuk essential fashion items yang nggak bakal out of style. Misalnya, jeans, rok, dan coats. Lalu, pada 1985, istilah itu dipopulerkan oleh desainer Amerika, Donna Karan, sambil merilis koleksi baju kerjanya. Baca sejarah lengkap, kelebihan, dan tips memulainya di Zetizen.

Capsule wardrobe ini mulai banyak diterapkan para fashion blogger internasional. Selain menyingkat waktu buat memikirkan apa yang harus dipakai, capsule wardrobe juga menantang kita untuk mix and match baju dengan pilihan terbatas. Biasanya sih isi lemari dibatasi sampai 33 pieces aja (sudah termasuk atasan, bawahan, outerwear, sepatu, dan tas). Mau sampai kapan koleksinya diganti? Karena di luar negeri ada empat musim, jadi mereka mengganti isi capsule wardrobe-nya tiga bulan sekali. It saves more money loh. Kan meski kita jalan-jalan di mal, kita bakal berpikir dua kali. Cocok nggak ya sama tema capsule wardrobe kali ini? Atau mending nunggu season berikutnya? Kalau dibeli, bisa di-mix and match jadi berapa look? Kayaknya sih ribet, tapi waktu belanja aja kok. Capsule wardrobe juga menghemat tempat. Lihat aja capsule wardrobe di gambar atas. Cuma segitu bisa buat sebulan loh!

Nah, karena di Indonesia cuma ada dua musim, pemilihan fashion items-nya nggak terlalu ribet. Bahkan, banyak baju yang bisa dipakai buat segala cuaca. Well, inilah fashion items yang menurutku wajib ada dalam capsule wardrobe orang Indonesia.

Movie Review: Me Before You

Monday, July 18, 2016
Movie Review Me Before You
Foto: Refinery29

Film Me Before You ini masuk dalam daftar wajib ditonton milikku. Sebab, aku selalu menonton film-film adaptasi novel populer. Jelas saja novel Jojo Moyes yang diadaptasi kali nggak bisa dilewatkan karena sering lalu-lalang di blog-blog buku internasional. Tapi, aku nggak berekspektasi tinggi. Aku cuma berharap film ini cukup menghibur selama liburan. Awalnya, aku yakin aku nggak bakal punya komentar apapun tentang akting para pemainnya. The lovely Sam Claflin kan aktingnya selalu oke sebagai cowok charming di franchise Hunger Games dan Love, Rosie (2014). Sedangkan Emilia Clarke tampil bagus sebagai Khaleesi dalam serial TV Game of Thrones. So, what's not to like?

Me Before You bercerita tentang Louisa Clark (Emilia Clarke) atau yang sering dipanggil Lou. Penonton pertama kali disuguhi kisah Lou saat dia dipecat sebagai pelayan sebuah restauran. Hidup dalam rumah dengan lima anggota keluarga membuat Lou harus punya pekerjaan. Apalagi, saat itu sang ayah nggak punya pekerjaan juga. Lou dan sang kakak, Katrina (Jenna Coleman), pun menjadi tulang punggung keluarga. Tapi, suatu hari Lou berhasil mendapat pekerjaan di sebuah kastil milik keluarga Traynor. Dia bertugas mengasuh putra satu-satunya keluarga itu, William "Will" Traynor (Sam Claflin). Iya, dari situ memang sudah bisa ditebak kalau kisah ini bakal tentang cinta lokasi. But there is more...

STOP IT CALVIN!

Saturday, July 16, 2016
Calvin Harris Taylor Swift Break Up

Sebelumnya, aku mau minta maaf dulu karena menulis post yang lebih mengarah ke gosip instead of music as I label this. Tapi, setelah tweet Calvin Harris pagi tadi, aku pengin mengutarakan pendapatku. Baik itu tentang hubungan mereka dulu, hubungan mereka setelah putus, sampai hubungan Taylor Swift dengan pacar barunya, Tom Hiddleston. Perlu diingat, aku sama sekali nggak memihak siapapun. As I state on my about page, aku suka Taylor bukan karena kehidupan pribadinya. I'll say she's wrong when she is. Aku pun sama sekali nggak punya hatred toward the DJ. So, let's get this straight.

Pacaran selama 15 bulan itu menurutku sudah record bagi Taylor. Kalau dia selalu bisa pacaran selama itu, mungkin lagu Blank Space (dengarkan di Spotify) nggak bakal tercipta. Oleh karena itu, aku suka banget Taylor dan Calvin alias Tayvin. Apalagi, setelah pacaran dengan Harry Styles, dia akhirnya jatuh cinta dengan seseorang yang lebih tua! Yap, sue me, I don't fancy "brondong"-relationship. Dilihat dari foto-foto mereka di internet sih Calvin terlihat dewasa banget. Dia tipe orang yang nggak banyak bicara. Seolah-olah dia pinter ngemong Taylor yang probably suka bertingkah childish kalau di rumah. I respect him. I adore him as a man. Aku semakin suka dengan dia setelah membaca his break up tweet.

First Impression: Uncontrollably Fond vs Doctors - Drama Korea

Tuesday, July 12, 2016
korean drama uncontrollably fond kbs doctors sbs poster
Foto: Soompi

Annyeong haseyo! Akhirnya, setelah pulang mudik aku bisa catch up sama drama korea. It broke my heart waktu tahu Uncontrollably Fond sudah tayang dan aku nggak bisa streaming karena miskin koneksi internet selama di kampung halaman. I found out later kalau drama itu juga ditayangkan di KBS World dan aku terlewat episode pertama. Well, in case you're not aware, aku biasanya mem-posting review film dan serial TV di sebuah blog bernama think-movie. Tapi, managing more than two blogs is exhausting. Oleh karena itu, aku menjadikan satu di blog ini. I'll write a first impression post setelah menonton dua episode pertama (atau lebih, yang jelas belum tamat). Setelah itu, aku akan menulis review lengkap setelah semua episode ditayangkan. Yap, first impression post cuma berlaku buat serial TV ya ;) So, let's go!

Current Obsession: Alessia Cara

Saturday, July 2, 2016
Alessia Cara Music
Foto: WeHeartIt

I'm sure you know her. Just in case you don't, dia adalah Alessia Cara. Aku pertama kali tahu dia dari MTV Push. Setiap nonton channel MTV Live, 15 menit sekali pasti diputerin cuplikan lagu Here dan profil Alessia. Waktu itu sih aku nggak seberapa memperhatikan profilnya he he. But the song sure stuck in my head. Melodinya tenang banget karena musiknya R&B. Sedikit mengingatkanku sama musiknya Lorde yang setiap hari aku dengarkan selama KKN tahun lalu (lagu Lorde favoritku: Team dan Yellow Flicker Beat; klik untuk mendengarkan di Spotify) Selain itu, liriknya juga agak nge-rap. Aku lumayan suka lagu-lagu rap sih. Aku senang sekali setiap sukses menyanyikan suatu lagu rap. Especially lagu Superbass-nya Nicki Minaj. Yap, I can sing every word.

Back to Alessia, dari situ aku mendengarkan albumnya, Know-It-All, yang dirilis pada 13 November 2015. Thanks to Spotify, aku bisa mendengarkannya kapan saja. Satu demi satu, mulai dari track pertama, Seventeen, sampai My Song sebagai track terakhir versi deluxe. I love every single of them! Musiknya konsisten banget, tetap bisa menciptakan feel yang sama tanpa bikin pendengar bosan. Bukannya memang harus seperti itu? I don't know. Tapi, waktu aku mendengarkan album pertama Meghan Trainor yang bertajuk Title (2015), aku bosan banget. Perbedaan satu lagu dengan lagu lain nggak terasa. Meski enak didengar, tiap lagu jadi kehilangan ciri khasnya.

What Was It Like To Be 22

Thursday, June 30, 2016
Cat in bedroom Tumblr
Foto: Flickr
Happy birthday to me!

Menginjak umur ke-23, rasanya semakin kecil keinginan untuk mendapat kejutan, ucapan selamat, dan kue-kue manis itu. Beberapa hari sebelumnya, I've made sure all the reminders were set to off. Entahlah. Bagiku, percuma dapat banyak ucapan yang belum tentu berangkat dari hati. Aku nggak bermaksud menyindir siapapun ya karena aku sendiri pernah melakukannya, especially on Facebook. "XXX berulang tahun hari ini." Klik profilnya, tulis "happy birthday, wish you all the best," klik send. That's it.

Sepertinya ini salah satu sisi negatif teknologi. Bahkan ada yang menulis ucapan hasil copy-paste karena hari itu ada lebih dari dua orang yang berulang tahun. Daebak! Tapi, aku menghargai sekali mereka yang at least menambahkan satu-dua kata yang terkesan personal ;)

Pada tulisan kali ini, let me recall my last year as 22 years-old girl. Tahun lalu, aku masih ingat betapa excited-nya diriku karena akhirnya berumur 22 tahun. Can't you guess? "I don't know about you, but I'm feeling twenty twooooo..." Iya, gara-gara lagu itu. Keburu basi. Was it that exciting? Ternyata nggak juga. Age is just a number. Nge-judge seseorang berdasarkan umurnya itu udah nggak zaman.

Selama berlabel "umur 22 tahun," aku nggak merasakan perbedaan yang signifikan sih sama umur-umur sebelumnya. I still had no boyfriend yang berarti aku nggak belajar hal baru dalam hal love life. Aku masih sibuk berkutat dengan pekerjaanku sebagai editor yang bikin hari-hari berlalu sangat cepat. Aku masih mengerjakan proposal di saat teman-teman lain sudah sibuk menulis skripsi. See? Perbedaan yang paling terasa ya pekerjaan. But I'll tell you about it on another post.

Yang jelas, there are a lot of things I'm grateful for. Aku bersyukur Ama (sebutanku untuk ibu) sangat open minded mengingat aku harus mengulang proposal dan Apa (sebutanku untuk ayah) yang pekerja keras. Aku senang punya teman-teman yang masih selalu ada buatku. Aku beruntung punya teman-teman yang masih reaching out for me meski aku yang paling susah mengatur jadwal. Thank you. Thank you. Thank you. Semoga pada post tahun depan ada a real exciting thing yang bisa aku tulis.